
Saat sedang sibuk mengecek proposal yang masuk, tiba-tiba saja ada yang mengetuk ruangan Lara. Ia pun langsung menyuruh orang tersebut masuk ke dalam.
Dan ternyata orang itu adalah Jeden. Entah ada angin apa, tiba-tiba Jeden datang dan langsung menemui Lara diruangannya.
Tanpa menunggu dipersilakan, Jeden langsung duduk di kursi menghadap Lara dan bertanya dengan raut wajah serius. "Lara apa benar kau akan menjual tiga puluh persen saham milikmu?"
Wanita itu terlihat sama sekali tidak kaget melihat Jeden mengetahui rencananya, mengingat dia sendiri adalah CEO yang setiap jam pasti memantau pergolakan indeks saham, sudah pasti hal seperti ini sangat mudah ia ketahui.
"Iya aku akan menjualnya, aku rasa lebih baik aku lakukan hal itu saat ini."
"Tapi kenapa?" Jeden tidak paham dengan pemikiran Lara. Mengingat, beberapa bulan lalu gadis itu ngotot tidak mau dirinya melengserkan posisinya. Tapi kenapa sekarang malah mau menjual sahamnya?
"Aku tidak perlu menjelaskannya secara detail bukan, sebab itu hak diriku secara personal. Lagipula apa yang aku lakukan ini tidak akan mengganggu kedudukanmu sebagai CEO."
"Kau benar."
"Lalu apa masalahnya?"
Suasana sejenak sepi sampai akhirnya Jeden molontarkan ucapan, "Lara jujur padaku, apa suamimu yang brengsek itu menyakitimu?"
Lara langsung tertegun mendengar pertanyaan Jeden itu secara tiba-tiba. Tapi kenyataannya memang Van sudah menyakitinya, ia pergi meninggalakan Lara tanpa alasan dan menghilang begitu saja tanpa kabar.
"Itu bukan urusanmu Jed!" Tegas Lara yang kemudian meminta Jeden keluar dari ruangannya. Namun bukan Jeden namanya jika tidak mamaksa. Pria itu tiba-tiba saja malah memohon di depan Lara, memintanya agar ia meninggalkan Vander dan perpaling padanya.
"Jeden apa kau ini gila! Cepat bangun!"
"Tidak mau! Aku bisa lihat dirimu sekarang ini sering tampak lesu dan pucat, aku yakin pria busuk itu pasti tidak bisa menjagamu. Jadi Lara, kumohon ceraikan saja dia dan jadilah istriku."
"Kau sudah tidak waras Jed!" Kesal karena Jeden tak mau juga pergi dari hadapannya. Lara akhirnya yang terpaksa mengalah dan memilih pergi dari ruangannya.
"Lara jangan pergi! Lara!"
__ADS_1
Dengan perasaan kacau Lara pergi ke toilet lalu membasuh wajahnya agar lebih tenang. Namun bukannya semakin tenang setelah membasuh wajah, Lara malah makin dibuat kacau saat tidak sengaja mendengar ada dua orang karyawati sedang bergosip membicarakan tentang dirinya di toilet.
Kau lihat tadi, Nona Lara diantar pria asing ke kantor.
Wanita itu, apa dia itu tidak tau malu ya, kemana-mana dengan pria berbeda. Tuan Vander, tuan gavin, tuan Jeden, lalu pria tadi. Gila! Sudah berapa kali dia digilir pria-pria itu.
Entahlah, ya begitulah kalau punya wajah dan fisik bagus malah dibuat untuk hal memalukan! Pantas saja dia kena karma. Mulai dari turun jabatan, rumahnya terbakar, mungkin sebentar lagi dia akan jatuh miskin! Benar-benar wanita pembawa sial dalam keluarga Hazel. Hahaha...
Batas kesabaran Lara sungguh tak bisa ditoleransi lagi. Ia pun langsung menghampiri dua karyawan wanita itu dan menampar mereka secara bergantian.
"Mulut kalian apa memang sebusuk itu!" Pekik Lara yang sudah murka.
Kedua wanita itu pun ketakutan, mereka lalu minta ampun dan memohon kepada Lara untuk dimaafkan. Sayangnya Lara sungguh sakit mendengar ucapan mereka hingga memilih tidak peduli dan malah pergi meninggalakan mereka.
Lara berjalan cepat menuju ke luar kantor. Kini ia tidak lagi bisa berpikir jernih, yang ia rasa saat ini hanya merasa lelah dengan hidupnya. Sejatinya gadis itu tidak tau apa yang salah pada dirinya. Jikalau memang dirinya ditakdirkan untuk selalu mengalami kesialan, Lara hanya berharap anaknya nanti tidak mengalami nasib buruk juga karena dirinya.
Sambil menangis Lara pergi keluar kantor. Ia berjalan sendirian dan terus berjalan hingga tidak tau akan kemana. Ia bahkan hanya bisa mendekap tubuhnya yang merasa kedinginan karena tidak memgenakan mantel ataupun jaket hangat sama sekali, padahal ini musim dingin.
Dan lagi, disaat aku mulai yakin akan memiliki harapan keluarga baru bersama Dia. Kenapa dia malah menghilang pergi? Apa aku sudah bersalah padanya makanya dia marah? Apa aku menyakitinya sehingga dia meninggalakanku?
Atau mungkin dari awal dia memang hanya menipuku.
Saat ini, mungkin dia sedang tertawa puas karena sudah berhasil mempermainkanku.
Kenapa semua janjinya dan kata-kata manisnya harus aku percaya? Kenapa aku terlalu mudah terjerat oleh pesonanya yang hampir membuatku gila! Kenapa kau tega Vander! Kau kejam! Kau baj¡ngan! Kau pembohong!
Dan lucunya aku tetap saja bodoh, tetap saja dengan tololnya malah mencintaimu...
Air mata Lara mengalir deras bersamaan dengan luka dihatinya yang makin terbuka. Berdiri sendirian di cuaca yang sangat dingin, seketika tubuh Lara yang gemetar seperti mulai mati rasa karena sudah tak kuat lagi menahan dingin. Nafasnya mulai tak beratura, padangan matanya mulai kabur dan akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
**
__ADS_1
Lara membuka matanya perlahan, ia yang tidak sadarkan diri pada akhirnya tersadar juga. Lara yang berada terbaring diatas tempat tidur besar itu bangun dari tidurnya dan berkata, "Dimana ini?" Lara tidak tau dimana ia berada sekarang, tapi dilihat dari ruangan dan tempat tidurnya sepertinya ini sebuah apartemen mewah.
"Lara kau sudah sadar?" Ujar seorang pria berpakaian santai, berjalan kearah Lara sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Kak Eiji? Bagaimana aku bisa di tempatmu?" Lara tidak. menyangka dirinya kini berada di apartemen Eiji.
"Kau minumlah dulu." Eiji memberikan segelas air putih untuk Lara minum. Setelah minum air, pria itupun memintanya untuk memakan sup ayam kacang polong yang ia sudah masak untuknya. Sambil Lara menyantap sup itu, Eiji pun menceritakan kronologi kenapa Lara kini bisa ada di apartemennya.
Pria itu mengatakan kalau, saat dirinya keluar dari toko buku, tak sengaja ia melihat orang berkerumun di jalan karena ada yang pingsa., dan saat tau kalau Lara yang pingsan, Eiji pun langsung membawanya ke apartemen miliknya.
"Dan pertanyaanku adalah, kenapa dimusim sedingin ini kau keluar tidak pakai baju hangat!?" Eiji mengomel mengkhawatirkan Lara.
"Maaf," balas Lara sambil tersenyum agak menyesal. "Tapi terima kasih sudah menolongku dan juga memberiku makan, kau tau supnya enak sekali, apa kau yang masak?"
"Iya, kalau kurang nanti aku akan buatkan lagi."
"Kakak pandai memasak ternyata, supnya enak sekali! " puji Lara dan kembali dengan lahap menyantap sup buatan Eiji.
"Lara..." Eiji tiba-tiba saja memasang wajah serius dan nada suaranya pun lebih rendah. "Dimana ayah anak yang kau kandung?"
Sontak pertanyaan Eiji langsung membuat Lara terkesiap dan mematung. Lara pun seketika berhenti memakan supnya dan suana pun jadi hening.
"Melihat jari manismu aku tau kau sudah menikah, tapi aku tidak tahu kalau kau juga tengah mengandung, sampai akhirnya aku tau dari dokter yang tadi memeriksamu. Lara jawab aku, dimana suami dan ayah dari anakmu?" Eiji emosi dan ingin memaki suami Lara karena telah tega membiarkan istrinya yang tengah hamil sendirian kedinginan.
"Jawab Lara, dimana dia!?" Ujar Eiji.
"Suamiku, di- dia..."
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜
__ADS_1