
Esok harinya, Lara ditemani Anna sekretarisnya diantar Gavin ke hotel Rosevelt untuk menghadiri meeting.
"Nona hati-hati ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku," ucap Gavin menunggu Lara di dalam mobil.
"Iya, kalau begitu aku masuk dulu," pungkas Lara yang kemudian bergegas pergi masuk ke hotel ditemani sekretarisnya.
Lara yang tampak anggun mengenakan setelah berwarna biru tosca dan scraft motif floral berjalan dengan sepatu heels memasuki lift, yang akan membawanya ke lantai dimana aula tempat diadakannya meeting berada. Di dalam lift Lara mengatur nafas dan penampilannya.
Takut penampilannya tidak rapi Lara pun bertanya kepada sekretarisnya. "Anna bagaimana penampilanku?"
"Nona sangat berkelas dan cantik!" Ungkap Anna sambil mengacungkan ibu jarinya.
Keluar dari lift, wanita berbaju tosca itu langsung bergegas menuju aula. Dan setibanya di aula Lara langsung duduk dan menunggu tuan Ohara selaku pemilik project utamannya datang. Dengan sabar Lara dan klien lainnya menunggu, namun sudah hampir satu jam menunggu tuan Ohara tak kunjung datang juga. Para hadirin dari berbagai perusahaan pun jadi gusar dan saling bertanya-tanya, kemana sebenarnya tuan Ohara saat ini?
Tak lama kemudian, seorang utusan dari tuan Ohara datang memasuki ruang aula dan memberitahukan kalau tuan Ohara tiba-tiba saja harus dilarikan ke rumah sakit, kerena mengalami serangan jantung secara tiba-tiba di perjalan. Semuanya yang ada di aula pun jadi khawatir, termasuk Lara yang merasa turut prihatin mendengar berita tersebut. Tapi yang disebut musibah siapa yang tau.
Akhirnya para hadirin dari berbagai perusahaan itu pun sepakat untuk menunda pertemuan hari ini, dan memutuskan kembali pulang. Namun saat Lara bersama hadirin lain ingin meninggalkan aula tersebut, tiba-tiba saja seseorang mendapati informasi kalau ada bom yang terpasang di lantai lima ini. Alhasil semuanya pun panik dan bergegas untuk menyelamatakan diri keluar aula. Sialnya, disaat panik begitu pintu aula malah tidak bisa dibuka.
"Sial! Bagaimana ini kenapa tidak bisa dibuka pintunya?!" Pekik salah seorang dari perusahaan lain.
"Mungkin macet, coba lagi!" Ujar Lara yang juga mulai cemas.
"Tidak bisa!" Serunya.
Semuanya jadi semakin panik, mereka yang di dalam aula pun beramai-ramai menggedor pintu aula dan berteriak minta tolong.
"Nona Lara bagaimana ini?" Tanya Anna yang juga tampak panik sekali saat ini.
Lara kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas dan segera menelepon Gavin.
Lara : Halo Gavin cepat ke aula pertemuan lantai lima, disini aku terkunci dan ada bom aktif yang terpasang di area lantai ini!
Gavin : Apa? Ba- baik kak aku segera kesana!
Gavin pun langsung bergegas menuju ke lantai lima untuk menemui Lara. Namun sialnya pintu lift tiba-tiba macet, alhasil Gavin jadi harus lewat tangga!
"Sial! Aku yakin pasti ada orang yang mensabotase hotel ini!" Gavin lalu mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Vander soal ini.
**
Vander yang sedang menyetir tiba-tiba mendapati telepon dari Gavin pun langsung mengangkatnya lewat earphone wireless.
"Ya halo?"
....
"Apa?! Lalu dimana bomnya?"
....
"Baik aku akan secepat mungkin pergi kesana!"
"Sialan! Ini pasti ulah para baj¡ngan itu! Arghh...!" Vander yang sudah setengah perjalanan menuju ke kota RK terpaksa putar balik ke ZR.
"Semoga Lara baik-baik saja!" Dengan kecepatan tinggi Vander ngebut menuju hotel Rosevelt.
Sementara itu Lara di dalam aula masih menunggu bala bantuan datang. Dari luar sendiri pegawai hotel juga tengah berusaha membuka pintu aula tersebut, dan dari laporan terbaru bom yang terpasang di lantai lima salah satunya ada di ruangan aula. Sontak kepanikan pun semakin menjadi-jadi, semu yang ada di dalam langsung berteriak ketakutan tak terkecuali Anna.
"Nona Lara bagaimana ini, aku takut sekali!" Ujar gadis itu hampir menangis. Lara sendiri juga takut, tapi mengingat ia beberapa bulan ini sudah sering terjebak di suasana mencekam seperti ini, dirinya jadi sudah lumayan lebih tenang menghadapinya.
Tak lama ponsel Lara pun berdering. Ia langsung mengangkat teleponnya tatkala tau panggilan itu dari suaminya.
Lara : Halo—
Vander : Sayang kau baik-baik saja kan? (Terdengar khawatir)
Lara : Ya, aku baik-baik saja.
__ADS_1
Vander : Syukurlah... kau tidak terdengar panik.
Lara : Tapi Vander masalahnya...
Vander : Apa masalahnya?
Lara : Bomnya-, bomnya ada diruangan tempatku sekarang berada bersama yang lainnya, dan kami masih terkunci disini.
Vander : Apa! Lalu dimana bom itu berada?
Lara : Aku juga tidak tahu, aku—
Vander : Lara, bisakah kau mencari dimana bom itu berada dan kemudian tunjukan padaku?
Lara : Aku, aku mau, tapi aku takut!
Vander : Sayang apa kau percaya padaku?
Melihat orang-orang didekatnya panik. Lara berpikir kalau dirinya tidak boleh jadi pengecut dan mengandalkan yang lain, karena Lara sendiri juga tidak ingin mati konyol ditempat ini.
Lara : Vander aku percaya padamu, aku akan cari dimana bomnya berada.
Lara pun bergegas untuk mencari bom itu berada sekarang.
"Nona Lara kau sedang apa?" Ujar Anna melihat Lara celingak celinguk mencari sesuatu.
"Aku sedang mencari bomnya, setidaknya kita tidak bisa diam saja disini menunggunya meledak bukan?!"
Karena ucapan Lara barusan, semua orng pun iikut membantu mencari dimana bom itu berada.
"Ketemu! Bomnya ada di bawah kursi ini!" Seru seorang pria yang menemukan bomnya. Lara pun bergegas kesana dan kemudian menelepon Vander.
Lara : Halo Van aku sudah menemukan bomnya.
Van : Cepat kirim fotonya padaku!
Vander yang sibuk menyetir membuka gambar di ponselnya. "Ternyata benar bom ini! Tidak salah lagi ini pasti perbuatan para utusan Gauren baj¡ngan terkutuk itu!"
Lara : Vander halo, halo!
Van : Ya?
Lara : Aku harus bagaimana sekarang! (Terdengar mulai panik)
Van : Berapa lama waktunya sebelum meledak?
Lara : Kurang dari tiga menit!
Van : Lara, bisakah kau percaya padaku?
Lara : Pe- percaya apa maksudmu?
Sementara itu Gavin yang dengan susah payah akhirnya tiba di depan aula lantai lima. Disana ia melihat pegawai teknisi sedang mencoba membuka pintu aula dari luar.
"Bagaimana apa belum bisa dibuka juga?!" Gavin tampak cemas. Ia pun mengusulkan agar merusak saja pintunya agar segera terbuka, sebab didalam ada bom yang mau meledak. Sontak semua orang yang ada di lantai lima pun panik tak karuan, mereka berlarian berdesakan menuju tangga darurat melarikan diri.
"Kau jangan bercanda!" Kata petugas.
"Aku tidak bercanda, aku dan pihak manajer hotel sudah menghubungi tim penjinak bom dan mereka sedang dalam perjalanan kemari. "
Sementara di dalam Lara masih terpaku dalam keraguannya, saat Vander meminta Lara mengikuti instruksinya untuk menjinakan bom itu.
Lara : Vander ta- tapi ku takut, bagaimana kalau gagal?
Vander : Lara sayang dengar, aku tidak mau memaksamu tapi kau harus tau waktu di bom itu akan terus berjalan jika tidak dihentikan. Sementara menunggu tim penjinak bom kita tidak bisa berharap sepenuhnya pada mereka dengan waktu sesingkat itu.
Lara menghela nafas. Vander benar, disini aku tidak bisa menggantungkan nyawa semua orang disini pada orang lain!
__ADS_1
Lara : Van, tolong beritahu aku kabel yang mana yang harus dipotong!
Vander : Oke, tolong nyalakan video call dan arahkan kameramu ke bom itu dan dengarkan instruksi dariku.
Vander pun memberikan arahan pada Lara lewat video call. Dengan kurun waktu tersisa Vander pun sejenak memperhatikan bom itu hingga akhirnya yakin.
Van : Lara kau percaya kan padaku?
Lara : Aku percaya padamu.
Van : Baiklah, kalau begitu potong kabel yang warnanya biru.
Lara tampaknya ragu, namun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri meski tak bisa dipungkiri kalau ia juga merasa takut.
Van : Lara kau harus yakin, dan tenang. Sekarang abaikan semua suara apapun yang mengganggu, fokus dan yakinkan dirimu.
Sementara semua yang ada di aula berdiri menjauh. Lara yang dengan segala keberanian yang telah ia kumpulkan, datang mendekati bom itu dan mengarahkan gunting untuk memotong kabelnya. Tangannya yang ramping tampak gemetar ketakutan, tapi disisi lain Lara berpikir kalau suaminya tidak mungkin mencelakainya.
Lewat video call Vander menenangakan Lara. "Lara, aku yakin kau bisa sayang."
Lara pun sekuat hati meyakinkan dirinya dan dengan yakin ia pun akhirnya memotong kabel biru tersebut. Lara melihat ke arah timer-nya, dan ternya berhasil berhenti. Senyuman lega pun seraya mengembang di bibir gadis itu.
"Berehenti! Vander aku berhasil menjinakannya!" Ujar Lara sesenang itu! Semua yang di aula pun bersorak lega.
Vander yang menyaksikannya dari layar pun merasa senang dan lega mendengarnya. Tak lama pintu aula akhirnya berhasil didobrak bersamaan para penjinak bom yang datang. Gavin yang akhirnya masuk ke aula pun menghampiri Lara dan menanyakan keadaannya.
"Kak Lara kau baik-baik saja kan? Lalu dimana bomnya?" Ujar Gavin panik.
Lara tersenyum lalu berkata pada Gavin kalau semua sudah baik-baik saja, dan bomnya sudah berhasil dijinakan.
"Nona Lara anda hebat sekali!" Puji Anna dan para hadirin yang terjebak bersama Lara. Mereka semua memuji dan berterima kasih kepada Lara karena sudah menjinakan bomnya.
"Sama-sama, tapi yang seharusnya mendapatkan pujian kalian adalah suamiku tercinta, dia yang mengendalikan semuanya," ungkap Lara seraya bangga.
"Ah kalau begitu ucapakan rasa terima kasih kami untuk suami anda Nona," ucap orang-orang itu.
Setelah semua keadaan mulai kondusif, kepolisian penjinak bom itu pun mengamankan bom tersebut, dan berterima kasih kepada Lara karena sudah menbantunya.
"Kalau begitu kami minta anda juga tinggalkan tempat ini karena kami ingin melakukan penyisiran terkait teror bom ini, kami khawatir masih ada bom lain yang ternyata masih tersisa."
Lara, Gavin, dan Anna pun meninggalkan hotel tersebut.
**
"Tadi itu benar-benar menakutkan sekali!" Ucap Anna yang masih syok dengan kejadian tadi.
"Kak Lara baik-baik saja kan?" Gavin sekali lagi memastikan kalau Lara baik-baik saja.
Setibanya di luar hotel, tiba-tiba saja Lara dihampiri oleh sang suami yang langsung memeluknya.
"Van kau datang kesini?" Ucap Lara seolah tak menyangka.
"Aku khawatir padamu makanya aku langsung putar balik, dan syukurlah kau selamat." Pelukan Vander sangat erat seolah menunjukan betapa leganya ia istrinya itu baik-baik saja.
Sementara Anna satu-satunya orang yang kaget melihat Lara dan Vander berpelukan mesra. "No- na dan tuan Vander, kalian...?" Anna sendiri memang belum tau kalau Lara dan Vander nyatanya sudah menikah.
"Anna perkenalkan ini Vander suamiku," ungkap Lara.
"Astaga! Jadi kalian...?"
"Iya, aku sudah dua minggu jadi suami istri," balas Vander.
Dan karena Van sudah datang, Lara pun meminta Gavin untuk mengantar Anna kembali ke kantor sementara dirinya memutuskan akan pergi bersama Vander.
......🌿🌿🌿......
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜
__ADS_1