Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Partner Pesta.


__ADS_3

Setibanya di kafe Oliver Van menemui Karina yang sudah menunggunya di salah satu sudut meja. Pria itu berjalan menghampiri meja dimana Karina duduk sambil menikmati secangkir kopi.


Melihat Van datang Karina pun dengan sumringah menyambut pria itu. "Akhirnya kau datang juga, silakan duduk. Kau mau pesan minuman?" ucap Karina basa basi.


"Aku kesini bukan untuk minum."


"Oke..."


"Sebenarnya apa yang mau kau katakan Nona Karina?"


Wanita itu menyibakan rambutnya dengan satu tangan, seraya tebar pesona dihadapan Vander. Sayangnya Van malah bereaksi datar.


Pria ini kenapa sih cuek sekali padaku? Bahkan memperhatikanku sebentar saja tidak, sial! Tahan Karina, kau harus sabar.


"Oh iya aku mau memberimu undangan ini." Karina memberikan kartu undangan ulang tahunnya yang akan diadakan lusa di ballroom hotel Rosevelt kepada Vander.


Pria itu memicingkan matanya. "Untuk apa Nona memberikan undangan ini padaku, aku kan bukan kolegamu?"


"Ini undangan khusus dariku, dan secara pribadi aku mengundangmu datang sebagai partnerku disana."


"Partner?" Van mengerutkan alisnya.


"Aku memang mewajibkan tamuku membawa pasangan lawan jenisnya, jadi siapapun yang datang entah punya pacar suami atau istri atau bahkan lajang sekalipun harus membawa pasangan, jadi l tidak bisa jika datang sendiri. Lara juga tau hal itu kok," pungkas Karina mulai memprovokasi Van dengan menyebut nama Lara.


Nona tidak mengatakan apapun padaku soal pesta ini?


"Lalu apa hubungannya denganku?" Ucap Van.


"Hubungannya adalah kau harus jadi pasanganku di pesta nanti, karna disana kau juga akan jadi partnerku berdansa. Kau tenang saja, khusus dirimu aku akan memberikanmu ini untuk menutupi identitasmu." Karina mengeluaran sebuah topeng masquerade berwarna hitam dengan  garis silver gold dan meletakannya di hadapan Van.


Van tersenyum geli "Maaf Nona Karina, sayangnya aku sama sekali tidak tertarik hadir dipestamu yang penuh kehedonan itu, jadi tidak perlu repot-repot menyiapkannya."


"Kau yakin tidak mau hadir ke pestaku?"


"Aku tidak cocok berada disana, aku tau dimana level strata sosialku."


"Sekalipun Lara datang kesana kau juga tidak mau ikut?" Karina mencoba terus memprovokasi Vander.


Van tentu saja akan langsung jadi serius tiap kali mendengar nama Lara disebut. "Nona Karina, kenapa kau selalu menggunakan Nona Lara untuk menekanku?"


"Karena cuma itu caranya."


Van yang tidak mau disetir oleh Karina pun memilih untuk tetap tidak mau mengindahkan permintaannya.


"Kau mau kemana Vander?" Tanya Karina melihat Van beranjak dari kursinya.


"Pergi, karena sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."


"Tunggu!" Karina menghampiri Van dan memberikan topeng masquerade itu kepadanya.


"Kau bisa bawa topeng ini sambil mempertimbangkannya, dan kalau kau berubah pikiran segera hubungi aku."


Van awalnya ragu tapi pada akhirnya ia menerimanya dan membawa topeng itu. "Aku pergi!"

__ADS_1


"Vander... Eh?" Karina ingin menyentuh wajah Van namun pria itu langsung sigap dan menghindar.


"Wajahku berdebu, tangan Nona Karina yang cantik itu akan ikut kotor juga kalau memegangnya," ucap Vander. "Aku permisi!" Van pun pergi.


Wanita itu pun terpana mendengar Van mengatakan tangannya cantik. Hal itu tentu saja membuat keinginan Karina untuk mendapatkan Van semakin menggebu-gebu. "Van mungkin memang tidak kaya raya, tapi dia mempunyai daya pikat dan pesona yang sangat jarang dimiliki pria manapun." Lirikan mata Karina seolah mengatakan betapa ia sangat menginginkan Vander untuk jadi miliknya. "Bagaimanapun caranya dia harus jadi milikku!"


**


Di ruangannya Jeden mondar mandir menunggu dengan penuh emosi panggilan dari Karina.


"Kenapa wanita itu lama sekali mengabariku!" Ujar Jeden geram. Tak lama panggilan Karina pun masuk, pria itu langsung cepat-cepat menjawabnya.


Jeden : Halo, jadi bagaimana?


Karina : Tenang saja soal Van aku sudah urus, aku pastikan dia akan jadi pasanganku di pestaku nanti. Sekarang giliranmu yakinkan Lara agar dia datang kepesta bersamamu sebagai pasangannya.


Jeden : Soal itu serahkan padaku. Aku akan pastikan Lara pergi bersamaku ke pesta.


Karina : Bagus, kalau begitu nanti aku kabari lagi.


Jeden : Oke!


"Lara kau akan jadi milikku sebentar lagi, dan gelandangan busuk itu akan segera jauh-jauh darimu!" Jeden tertawa senang.


*


Diperjalanan menuju Miracle Tiba-tiba Lara menelepon. Van pun langsung mengangkatnya.


Lara : Van apa kau masih diluar?


Van : Iya aku sedang dijalan.


Lara : Cepat kembali ya... (dengan nada manja)


Van : Apa kau merindukanku?


Lara : Kalau pasangan merindukan kekasihnya bolehkan?


Van : Tentu saja boleh.


Lara : Yasudah cepat kembali dan langsung temui aku.


Van : Baik tuan putri aku akan segera menemuimu.


Lara : Van, i love you


Van : (Tersenyum) I love you too.


Setelah mengakhiri percakapannya, Van mendadak tertawa hambar.


"Pasangan ya? Aku dan Nona, kami adalah pasangan tapi sayangnya kami tidak bisa menjadi pasangan seutuhnya di depan publik, benar-benar menyedihkan!"


**

__ADS_1


Lara yang baru saja habis dari toilet di tengah jalan berpapasan dengan Jeden.


"Lara, eum maksudku Nona Lara bisa kita berbicara sebentar?" Ungkap Jeden tiba-tiba.


"Yasudah, bicara saja."


"Apa kau sibuk?" Tanya Jeden.


"Kenapa memangnya?"


"Aku ingin ngobrol denganmu sebentar bisa kan?"


Lara diam sejenak menerka apa yang ingin dibicaran Jeden sebenarnya. "Yasudah bicara saja," ucap Lara.


"Bisakah kita tidak bicara disini?" Jeden mengajak ke kantin Miracle untuk jadi tempat bicara.


Lara menghela nafas, "Baiklah, kalau cuma sebentar."


**


Di kantin Lara dan Jeden duduk di meja yang ada diujung kantin.


"Jadi mau bicara apa? Waktuku tidak banyak jadi tolong langsung intinya saja."


"Aku ingin membicarakan soal pesta ulang tahun Karina Foster lusa nanti, kau akan pergi juga kan?"


"Iya aku pergi, lalu?"


"Apa kau sudah tau akan pergi dengan siapa?"


Lara terkesiap. "Kenapa kau tanya itu?"


"Aku bertanya karena aku ingin kita pergi bersama disana sebagai partner, kau pasti taukan kalau pesta itu mewajibkanmu membawa pasangan lawan jenis?"


Lara menatap Jeden penuh curiga.


"Kau tidak perlu curiga berlebihan padaku Lara, aku bicara begini bermaksud baik. Karena aku tau kau tidak mungkin mengajak pengawalmu itu kan? Karena kalau kau ajak dia kau sama saja akan mempermalukan harga dirinya dihadapan tamu lain," ungkap Jeden penuh maksud tertentu.


Lara memikirkan perkataan Jeden. Aku memang tidak mungkin membawa Van karena itu berbahaya. Tapi pergi dengan Jeden apa tidak masalah?


"Begini saja, aku tidak akan memaksamu tapi jika kau bersedia pergi denganku segera hubungi aku oke Lara?" Jeden kemudian beranjak dari kursi dan langsung pamit pergi.


Lara memperhatikan Jeden yang baru saja pergi. "Tumben sekali dia tidak memaksaku? Tapi... apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Kalau cuma sebatas syarat dan partner kerja sepertinya tidak apa-apa aku terima tawarannya Jeden."


**


Sekembalinya Van ke Miracle pria itu langsung menuju ke ruangan Lara. Didalam lift Van masih memegangi topeng yang diberikan Karina tadi. "Kalau Nona berangkat ke pesta itu, dia pasti akan bersama pria lain. Sedangkan aku, hanya bisa diluar untuk menjaganya. "Tidak bisa!" Ujar Vander.


Pria itu tiba-tiba menempelkan topeng pesta yang ditangannya itu ke wajahnya, Van bisa melihat bagaimana dirinya dengan topeng itu dari pantulan dinding cermin di dalam lift. Pria itu menyeringai licik layaknya seekor serigala "Kalau pakai ini aku tidak akan ketahuan bukan?"


Bersambung...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2