Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Seratus ribu dollar semalam


__ADS_3

Vander menemui Aron yang tengah berdiri di jembatan kecil diatas sungai


"Ah kau akhirnya datang," ucap Aron melihat sosok Vander datang mengenakan setelan jas semi formal. "Kau semakin tampan dan gagah kalau pakai setelan jas begitu. Bahkan orang awam pun pasti akan mengira kau CEO muda dibanding pengawal," kelakar pria itu.


"Langsung saja ada apa?" Ujar Van yang malas basa basi.


"Hem sepertinya mood-mu sedang kurang bagus, baiklah kalau begitu langsung ke intinya saja. Aku memintamu datang adalah untuk memberitahukan kalau kemarin aku sempat melihat Eva di salah satu bar di kota ini."


"Eva mau apa dia di kota ini? Apa dia sendiri?"


"Entahlah, tapi aku lihat dia kemarin bersama beberapa anak buahnya."


"Lalu apa urusannya denganku? Aku sudah lama menarik diri dari apapun yang berhubungan dengan Crux, jadi aku rasa infomu tidak penting sama sekali buatku."


"Mungkin sekarang tidak penting. Tapi kau tau Eva, dia tidak mungkin datang jauh-jauh dari New Zealand ke negara ini kalau tidak dapat perintah dari Tuan Gauran."


Van berpikir kalau yang dikatakan Aron ada benarnya, pasalnya Eva sudah lama tidak ditugaskan di dalam negeri apalagi ke kota ini. Pasti kedatangannya ke kota ZR ada tujuan tertentu.


"Lalu apa lagi yang kau ingin bicarakan Ron?"


Aron diam saja.


"Baiklah kalau tidak ada lagi aku pergi."


"Van kau buru-buru kembali karena khawatir dengan wanita itu bukan?"


Van mengarahkan tatapan tajam ke arah Aron.


"Aku sudah tau kau bekerja sebagai pengawal Nona muda keluarga Hazel, apa kau—"


"Aku tau persis apa yang aku lakukan. Kabari aku jika kau ada info penting lain!" Ujar Van lalu pergi.


Pria itu memilih jalannya sendiri dan tidak ada yang bisa mengatur pilihannya.


**


Lara baru saja selesai mandi, dengan masih menggunakan bathrobe gadis itu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. "Kenapa di luar sepertinya sepi sekali, apa Vander sudah tidur?" Lara penasaran dan ingin keluar, tapi kalau dirinya keluar dan melihat Vander ia pasti akan teringat kejadian tadi. "Huft! Ini semua gara-gara Karina yang menyebalkan itu!" Ujar Lara kesal.


Setelah selesai mengeringkan rambutnya pada akhirnya Lara memutuskan untuk keluar kamar karena tiba-tiba saja dirinya merasa haus dan ingin minum coklat panas. "Huh siapa peduli, lagipula aku dan Vander kan tidak ada hubungan apa-apa!" Tegas Lara kemudian keluar dari dalam kamar.


Setelah keluar kamar Lara melihat ke sekeliling ruangan dan ternyata memang sangat sepi. "Apa Vander sedang keluar?"


Lara mencari ke tiap sudut ruangan sambil memanggil sang pengawal. "Vander! Van...!" Namun tidak ada jawaban.


"Mungkin benar dia sedang keluar membeli minuman," pikir Lara.


Tak mau ambil pusing Lara pun kembali ke tujuannya yakni membuat coklat hangat, gadis itu berjalan ke arah dapur. Tiba-tiba saja "Dduarrr!" Terdengar suara petir menyambar. Lara langsung menutup kedua telingannya rapat-rapat. "Kenapa petirnya keras sekali?" Lara yang memang takut suara petir mencoba tetap tenang. Namun lagi-lagi suara petir itu kembali menggelegar ditambah hujan yang deras terlihat dari kaca apartemennya. Kilatan cahaya petir menyambar yang berkali-kali terlihat jelas dari kaca apartemen. Lara buru-buru menutup tirainya, namun setelahnya ia malah kembali dikagetkan oleh sambaran kilat dan petir. Gadis itupun langsung berjongkok ketakutan sambil menutup kedua telingannya. Tubuhnya mulai gemetar dan lemas, ia takut sendirian saat ini. Vander kau dimana sekarang? Seru Lara di dalam hati.


Lara masih terus meringkuk ketakutan sambil menutup kedua telinganya. Tiba-tiba saja ada sosok dari belakangnya menyentuh pundak Lara, karena kaget Lara pun langsung menoleh kebelakang.


"Vander?" Saat tau sosok pria tinggi yang menghampirinya itu sang pengawal Lara langsung berdiri dan memeluknya dengan erat. "Van aku takut suara petir," ungkap Lara dengan raut wajah ketakutan. Seketika Vander langsung memeluk erat Lara ke dalam dekapannya. "Maaf aku agak terlambat Nona."


Dekapan ini sungguh membuatku merasa aman dan nyaman. Bisakah pria ini selalu seperti ini padaku kedepannya?


Aku ingin memeluk gadis ini terus, menghirup aroma rambut dan tubuhnya yang harum, dan tak ingin aku lepaskan. Tapi apa mungkin itu akan terus terjadi ?

__ADS_1


Setelah beberapa saat, baik Van dan Lara saling melepasakan diri. Wajah Lara tampak malu-malu saat ini.


"Kau habis darimana?" Tanya Lara agak canggung.


"Aku keluar membeli rokok," jawab Vander datar.


"Kenapa kau tidak bilang padaku?"


"Sebenarnya aku mengirimi Nona pesan tapi sepertinya nona belum membacanya."


"Kenapa tidak katakan padaku langsung!?"


"Tadi— Nona bilang tidak ingin diganggu jadi aku tidak berani."


Yang dikatakan Van memang benar kenyataanya. Oleh sebab itu Lara jadi menyesal rasanya. "Iya itu memang salahku, seharusnya aku tidak kekanak-kanakan begitu, maafkan aku ya Van," ucap Lara menyesal.


Vander seketika menarik pinggang Lara dan mendekatkan tubuh Lara pada dirinya.


"Van- der apa yang kau..."


"Nona tidak perlu minta maaf, aku yang harusnya minta maaf karena sudah tidak peka terhadap perasaanmu."


"Eh ap- apa maksudmu perasaan? Memang perasaan apa?" Gawat! Apa Van jangan-jangan sudah tau perasaanku padanya?


"Aku tau perasaanmu yang tidak suka pada Non, tidak! Maksudku pada Karina. Nona tidak terlalu suka dengan Karina tapi aku malah tidak peka."


Huft! Lara menghela nafas lega, aku pikir dia tau isi perasaanku terhadapnya syukurlah dia tidak tahu.


"Aku memang kurang suka pada Karina, tapi bagaimana pun menolong orang itukan kewajiban setiap manusia," jelas Lara.


"Kenapa kau malah tersenyum begitu? Kau senang ya menggendong Karina?" Tanya Lara agak sewot.


Van tersenyum licik. "Nona kenapa kesal, kan Nona sendiri yang bilang menolong orang  lain itu kewajiban. Lagipula, Nona sendiri kan yang menyuruhku segera membawa Karina, kalau Nona tidak suruh aku juga tidak akan menggendongnya."


"Eh ap- apa maksudmum? Jadi kau menyalahkanku!?"


"Mana berani aku menyalahkan Nona Lara Hazel bosku yang paling cantik dan baik hati," ungkap Vander.


Lara semakin malu dibuatnya. "Ih kau ini, sudah lepaskan tanganmu dariku!" Lara mencoba menarik diri dari dekapan tangan Van, namun bukannya dilepaskan Lara malah digendong oleh pengawalnya itu.


"Eh apa- apaan ini, kenapa kau malah menggendongku?" Ucap Lara heboh.


"Soalnya dibanding menggendong wanita lain, aku lebih suka menggendong bosku sendiri," ungkap Vander.


"Eh turunkan aku!" Titah Lara.


"Nona yakin mau aku turunkan?"


Lara dan Vander saling memandang.


Tidak! Hati kecil Lara tidak ingin pria ini menurunkannya dari gendongan. Lihat! Wajahnya begitu tampan, dia juga selalu lembut padaku, aku ingin memonopolinya hanya untukku. Tapi saat aku lihat tatapan mata Van, itu membuatku takut untuk memerintahnya sesuka hati.


Lara terdiam, ia malah melingkarkan tangannya di leher Vander dan menyandarkan wajahnya ke dada Vander. "Jangan, aku lelah berjalan jadi bawa aku ke kamar saja," ucap Lara.


"Perintahmu adalah prioritasku Nona."

__ADS_1


Vander membawa Lara ke dalam kamar lalu meletakan Nonanya itu diatas ranjang dengan hati-hati.


"Van aku haus, bisakah kau bawakan aku segelas air?"


"Tentu saja," Vander pun segera mengambilkan segelas air untuk Lara dari dapur. Tak lama Van kembali dengan segelas air putih dan memberikannya kepada Lara.


"Ini Nona,"


Lara segera meminum air itu sampai habis dan memberikan gelasnya lagi kepada Van.


"Terima kasih," ucap Lara.


"Tidak perlu berterimakasih, sudah kewajibanku melayanimu," balas Van sambil menaruh gelas kosong itu ke atas meja.


"Tapi kan kau bukan pelayanku, kau itu pengawalku jadi tugasmu itu menjagaku bukan melayaniku."


Van hanya tersenyum kecil. "Sudah malam lebih baik nona tidur, aku permisi."


"Tunggu!" Lara menarik tangan Vander yang mau beranjak pergi.


"Bisakah kau disini saja, aku- aku tidak mau sendirian," ungkap Lara dengan suara pelan.


Vander jadi dilema, ia tidak mau Nonanya itu takut, tapi disisi lain ia takut tidak bisa menahan diri.


"Nona aku—"


"Seratus ribu dollar semalam!"


Vander mengerutkan keningnya.


"Seratus ribu dolar aku akan membayarmu asal malam ini kau tetap dikamar ini sampai aku tertidur," ujar Lara.


Vander mengetupkan gerahamnya. Ia mendekati Lara memegang dagunya dan berkata, "Nona kau membayarku untuk menemanimu, apa kau menganggap aku seorang pria bayaran?"


"Eh aku tidak bermaksud untuk—"


"Sstt..." Vander meletakkan jemarinya dibibir Lara. "Tidak usah bicara lagi, aku bersedia. Aku akan menemanimu hingga tertidur."


Lara terkesiap, jatungnya berdegup keras seketika mendengar jawaban Vander.


"Tapi berjanjilah jika aku sampai berani macam-macam saat kau tidur, tolong Nona tusuk aku dengan ini." Vander meletakan sebilah belati kecil di atas nakas dekat ranjang. Wajah Lara langsung tercengang melihat belati yang dikeluarkan Vander.


"Ke- kenapa aku harus menusukmu? Apa kau—"


"Hanya untuk jaga-jaga, bagaimanapun aku pria normal Nona," jelas Vander.


"Baik aku mengerti," balas Lara seraya paham.


"Kalau begitu tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Vander yang kemudian berbaring di sebelah Lara dan memunggunginya.


Melihat punggung Vander yang lebar Lara senang sekaligus kecewa. Aku senang Vander sampai rela terluka demi aku tetap aman, tapi disisi lain Lara merasa kecewa karena Vander seperti tidak mau bersentuhan dengannya. Padahal aku ingin memelukmu Van... Lirih gadis itu seraya ingin menyentuh punggung Vander namun tak bisa.


Vander sadar Lara tengah memandangi punggungnya. Kali ini Vander yang berbalik melihat Lara yang ternyata sudah memunggunginya. Aku hanya tidak ingin melihat Nona disakiti oleh siapapun bahkan olehku sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜


__ADS_2