Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kissmark


__ADS_3

Selesai makan malam Lara langsung duduk di sofa sambil sibuk menatap layar laptopnya untuk engecek satu persatu data dan email yang masuk. Beberapa kali Lara terlihat menghela nafas dan merenggangkan lehernya. Gadis muda itu terlihat lelah namun seolah ditahannya demi mempelajari data-data dan performa perusahaan yang harus ia benahi.


Vander yang baru saja selesai ganti baju memperhatikan kekasihnya tersebut dari tempatnya berdiri. Melihat Lara beberapa kali memijat pundaknya sendiri membuat Van jadi merasa kasihan.


"Pasti saat ini dia benar-benar merasa kelelahan," pungkas pria itu.


Vander pun langsung berjalan dan menghampiri Lara.


"Apa Nona masih akan lama berada di depan laptop?" Tanya Vander yang kemudian duduk disebelah Lara.


"Aku harus pelajari ini semua agar aku tau jelas kelemahan dan kelebihan Miracle saat ini. Aku akan buktikan kalau ucapan Karina adalah salah tentang perusahaanku!"


Van merasa kagum lihat semangat Lara. Pria itu pun tiba-tiba memijit pundak Lara.


"Hem, oh ini enak sekali Van, bagaimana kau tau aku butuh pijatan?" Ungkap Lara.


"Aku melihat Nona memukul-mukul pundak nona sendiri tadi, jadi aku pikir kau butuh dipijit," jelas Van. "Nona berhentilah sebentar biar aku pijat supaya tubuhmu lebih rileks."


Apa yang dibilang Van benar, ia memang butuh rileksasi sebentar. Kemudian Lara pun berhenti memegang laptopnya dan hanya duduk bersila dengan santai diatas sofa sambil dipijat pundaknya oleh Vander.


"Aku tidak tau kalau kau juga pintar memijat ternyata," puji Lara pada kekasihnya itu.


"Kalau Nona mau, aku akan pijat setiap kali nona minta."


Lara tersenyum tulus, ia merasa senang sekali memiliki Vander sebagai kekasih sekaligus pengawal dan pelindung yang selalu ada untuknya. "Van terima kasih banyak ya..." Ungkap Lara.


"Untuk apa Nona berterima kasih?"


"Untuk semuanya, terima kasih karena kau selalu ada untukku. Entah apa yang akan aku lakukan kalau kau tidak berada disisiku saat ini." Karena hidup sebagai yatim piatu bagi Lara sangatlah sulit. Sejak orang tuanya meninggal Lara tidak tahu kemana lagi ia akan bersandar saat merasa lelah dan kesulitan. Sampai pada akhirnya Tuhan mengirimkan Van datang ke hidup Lara disaat yang tepat. Tekanan hidup yang kian bertambah setiap harinya membuat Lara bersyukur memiliki seorang kekasih yang pengertian sebagai tempat bersandar.


Lara tiba-tiba menyingkirkan tangan Van dari pundaknya, lalu berbalik badan menghadap Vander.


"Eh, kenapa nona malah berbalik badan? Aku kan belum selesai memijat Nona," ucap Van.


Lara menyentuh kedua pipi Vander menatapnya sambil tersenyum. "Aku sudah tidak pegal kok, sekarang gantian aku yang akan beri Vander hadiah karena sudah bersedia memijatku," ucap Lara.


Dia mau menciumku? Atau dia mau beri aku hadiah yang lebih dari sekedar ciuman? Pikir Vander hingga membuat pria itu mengulum senyum simpul


"Eh? Kenapa kau malah tersenyum begitu?"


"Nona bilang mau beri aku hadiah, aku sudah siap kalau Nona mau mengeksplorasi bibirku!" Ujar Vand

__ADS_1


Mata Lara membelalak ditambah pipinya berubah jadi merah mendengar Van bilang begitu. "Hei, kau ini berpikir apa sih? Hadiah yang aku maksud bukan hadiah yang seperti itu!" omel Lara. "Ka- kalau yang seperti itu... Tidak perlu menunggu diberi hadiah kita juga kan bisa lakukan setiap saat," jelas Lara malu-malu tidak berani menatap Vander.


Pria itu menyeringai. Ia mencubit lembut dagu Lara dengan jemarinya dan mengarahkan ke wajahnya dan langsung mengecup basah bibir Lara yang merona dan lembut. Semakin dalam dan intens ciuman mereka hingga jemari Vander perlahan mulai menyusup masuk kedalam gaun tidur Lara yang tipis. Lara bisa merasakan jari-jari Van yang panjang menyentuh dan memijat-mijat kedua buah dadanya yang menggatung tanpa sanggahan bra. Semakin panas Vander mulai menciumi leher Lara hingga membuat gadis itu menggeliat dalam kenikmatan hingga menggigit bibirnya sendiri.


"Van..." Lara mencengkeram rambut Vander dengan kuat. Van yang tak peduli terus menciumi dan menjilati leher mulus sang kekasih bahkan menghisap dan menggigitnya.


"Awh!" Lara bertiak kecil. Ia mendorong Van dan menarik dirinya.


"Ada apa Nona?" Tanya Vander.


"Aku- aku harus ke kamar mandi dulu," ucap Lara yang kemudian langsung kabur melarikan diri ke kamar mandi.


Van memijat pelipisnya sambil menahan kesal. "Tadi itu... Huft!" Ia menghela napas. "Sepertinya aku memang harus pelan-pelan dan lebih bersabar lagi menunggunya sampai benar-benar siap," ungkap Van yang hanya bisa pasrah saat ini ditinggal Lara ditengah-tengah.


Di kamar mandi Lara menghadap ke cermin dan melihat ada beberapa kissmark di dekat tulang lehernya.


"Astaga Vander apa yang dia lakukan sih! Kalau begini jadinya besok aku jadi harus pakai baju dengan kerah yang lebih tinggi." Wajah Lara memerah ia memegangi kedua pipinya dan berkata. "Ini pertama kalinya aku punya kissmark di tubuhku! Dan pria itu yang membuatnya... astaga aku malu!" Lara jadi salah tingkah.


Lara kemudian menyentuh bagian dadanya. "Tadi itu tangan Van sudah menyentuh bagian dadaku secara langsung." Wajah Lara terasa panas. "Astaga! Aku benar-benar hampir dibuat gila oleh Vander!" Ujarnya.


Bagaimana pun, cepat atau lambat aku ingin jadi milik Vander seutuhnya. Tapi disisi lain aku masih takut jikalau, dia akan meninggalkanku suatu hari nanti.


Jeden tampak berada di Hollyfree, disana seperti biasa pria itu terlihat menikmati musik dilantai dansa sambil ditemani para wanita. Hingga akhirnya ia berhenti berdansa saat melihat sosok Eva datang. Pria itu pun keluar dari lantai dansa dan menghampiri Eva yang tengah minum di bar. Tujuan Jeden datang ke tempat itu menang sejak awal adalah untuk bertemu dengan Eva.


"Apa kabar Nona Eva?" Sapa Jeden yang kini  sudah duduk di sebelah Eva.


"Baik!"


"Jadi untuk apa kau meminta kita bertemu disini?" Tanya Jeden.


"Aku kemari menemuimu hanya ingin bilang, mulai hari ini kerjasama kita selesai!"


Jeden mengerutkan keningnya "Selesai? Apa maksudnya?"


"Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Karena aku rasa bekerjasama denganmu sama sekali tidak ada gunanya tuan Jeden, kau terlalu lemah dan lembek untuk aku andalkan!" Ungkap Eva.


"Sialan! Jaga ucapanmu Nona!"


Eva tersenyum meledek, "Kau terlalu menggebu-gebu, tidak sabaran, dan mudah di provokasi. Dengan sifatmu yang seperti itu, sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang melawan Vander! Kau tidak akan bisa menyingkirkannya!"


Jeden mengepalkan tangannya tanda emosinya meluap-luap saat ini.

__ADS_1


"Sudahlah Tuan Jeden Lee, aku hanya mau mengatakan hal itu." Eva bangkit dari duduknya lalu membayar minumannya dan melenggang pergi. "Aku pergi dulu tuan Jeden, sampai jumpa lain kali!" Ujar Eva.


BRAK! Jeden menggebrak meja di depannya.


"Wanita sialan, kau pikir kau siapa berani mengatakan hal itu padaku. Kalah dari gelandangan busuk itu? Cih! Itu mustahil!" Dengan tatapan mata berapi-api Jeden bersumpah. "Aku akan menyingkirkan Vander busuk itu bagaimanapun caranya!"


**


Pagi harinya di dapur Lara baru saja selesai membuat menu bekal yang akan dia bawa untuk makan siang.


"Sudah jadi..." Lara terlihat senang sekali melihat hasil bekal buatannya sudah tertata dengan rapi. Ayam katsu, acar salad, tamagoyaki, dengan nasi putih yang sudah dihias dengan rumput laut kering. Setelah selesai mengemasnya dan memasukannya ke dalam tas tentengan Lara bermaksud untuk dibawa ke mobil.


"Nona apa kau sudah selesai?" Tanya Vander yang sudah siap berangkat.


"Iya, Van tolong kau bawa ini ya!" Kata Lara menyuruh Van menenteng bekal makan siang mereka.


"Nona buat bekal sebanyak ini?" Ujar Vander.


"Itu kan untuk kita makan bersama, nanti saat jam makan siang kau ke ruanganku ya kita makan siang bersama," pinta Lara dengan suaranya yang terdengar manis.


Vander pun langsung mengangguk mengiyakannya.


Setelah melepas celemek dan menenteng tasnya Lara pun siap berangkat. "Baiklah mari kita berangkat ke kantor," ajak Lara sambil menggandeng lengan Van


"Nona kalau kau menggandengku begini bisa-bisa..."


Lara justru makin erat menggandeng lengan Van yang berotot itu. "Biar saja, kalau masih di area apartemen tidak apa-apa kan?"


Van terdiam sejenak "Iya, tidak apa-apa." Seandainya bisa Vander juga ingin sekali selalu digandeng dan dipeluk oleh Lara tanpa rasa khawatir, sayangnya itu hampir mustahil.


Tentu saja di dalam hati kecilnya Lara ingin sekali bisa leluasa menggandeng Van kapanpun dan dimanapun, tapi hal itu tidak mungkin saat ini. Jadi kalau masih disekitar sini tidak apa-apa kan?


**


Dari dalam mobil Eva yang mengenakan kacamata hitam memperhatikan dari jauh, mobil sedan hitam keluaran terbaru yang dinaiki Lara dan Van, akhirnya keluar dari area apartemen mewah tersebut.


Wanita itu melepas kacamata hitamnya. "Vander Liuzen, kau dan gadis itu kalian tidak boleh bahagia!"


Bersambung...


TEMAN-TEMAN TOLONG BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2