
Setelah makan malam, Vander mengajak istrinya berkeliling mansion. Ia menjelaskan kepada sang istri semua yang ada di dalam mansion tersebut. Mulai dari tempat latihan, ruang pertemuan, sampai pada akhirnya mereka berhenti di depan pintu masuk arena bertarung bagi mereka yang ingin menyelesaikan masalah dengan bertarung fisik.
"Ini ruangan arena bertarungnya, apa kau mau masuk dalam?"
"Van, apa setiap hari ada yang bertarung di dalam sana?"
"Ya begitulah..."
Lara tampak diam saja.
"Kalau kau takut lihat kekerasan, lebih baik tidak usah masuk."
"Memangnya kapan aku pernah bilang takut lihat kekerasan?"
"Kalau tidak takut kenapa tidak langsung jawab aku."
"Aku hanya sedang berpikir, tiba-tiba ingin lihat kau bertarung. Jujur sudah lama sekali tidak lihat pengawalku bertarung, tiba-tiba aku jadi rindu. Mungkin bawaan bayi kita," ungkap Lara.
Mana ada keinginan begitu?
Vander hanya menghela nafas lalu membuka pintu ruangan itu dan mengajak Lara masuk ke dalam arena itu. "Sudah ayo kita masuk."
Dan setibanya didalam, suasana yang dirasakan Lara pun seketika berubah jadi panas dan tegang. Mendengar suara orang-orang berteriak sambil mengumpat menyerukan pertarungan antar dua orang diatas ring, hal itu sepertinya memang hal yang biasa terjadi disana.
"Tuan Vander, ada angin apa tiba-tiba anda kemari?" ujar salah seorang anak buah Vander yang datang menghampirinya.
"Aku datang karena istriku minta masuk."
"Oh nyonya, suka lihat pertarungan ya ternyata?"
"Um— tidak juga sih, hanya saja aku mau lihat suamiku bertarung. Kau disini jadi wasit ya?"
"Bu- bukan, hanya saja aku bertanggung jawab atas jalannya pertandingan disini. Namaku Ben."
"Yasudah Ben, sekarang juga tolong carikan partner bertarung yang terkuat buat suamiku. Aku mau lihat dia berkelahi di atas ring."
"Um t- tapi..." Pria itu melirik ke arah Vander dengan ragu-ragu. "Tu- tuan, apa kau..."
"Kenapa masih disini? Kau tidak dengar istriku bilang apa!?"
"Oh jadi tuan anda bersedia?" Ben tidak menyangka, Vander yang ia tahu sangat mustahil diperintah seketika dengan mudah menuruti kemauan istrinya. Tuan Vander benar-benar definisi budak cinta yang sesungguhnya.
"Masih diam juga?"
"I- iya tuan aku akan segera mempersiapkannya," tandas Ben langsung bergerak menyiapkan arena bertarung.
"Vander kau jangan sampai kalah dan terluka ya, nanti aku dan bayi kita sedih.." ucap Lara dengan nada manja.
Huft... Dia yang minta aku bertarung dia yang khawatir.
Ia mengangkat dagu sang istri dan menyeringai kecil. "Aku akan menang, dan kalau aku menang apa aku akan dapat hadiah darimu sayang?"
"Tentu saja, aku akan berikan hadiah apapun buatmu."
"Kalau begitu aku pasti menang."
Setelah bersiap, pertandingan pun segera akan dimulai. Disana semua orang terdengar riuh dan heboh, karena ini adalah momen yang jarang sekali terjadi. Sebab biasanya Vander hampir tidak pernah bertarung di arena kecil seperti ini.
Sementara Lara yang menonton dari tempat duduk khusus VIP tampak semangat bercampur cemas melihat suaminya sebentar lagi akan bertarung.
"Kau tegang?" Tandas Dominic yang entah sejak kapan berada duduk disebelah Lara sambil makan popcorn.
"Semua orang diminta jangan dukung tuan, mungkin itu salah satu yang tuan lakukan supaya lawannya tidak down sejak awal," imbuh Robert yang ternyata juga datang.
"Aku yakin suamiku pasti menang," ujar Lara dengan sangat yakin.
__ADS_1
Para petarung pun akhirnya tiba di arena. Peraturan pertarungan ditempat ini bebas melakukan gerakan apapun. Yang jelas tidak boleh hanyalah membawa senjata tajam atau senjata api, dan tidak boleh menghabisi nyawa lawan.
Walau semua sudah tau siapa yang akan menang, namun pertarungan ini sangat seru karena ada Vander terlibat. Lawan Vander kali ini adalah Ferly, salah satu anggota serikat dengan skill bertarung yang mumpuni. Dan tanpa berlama-lama pertarungan pun dimulai, semuanya bersorak mendukung keduanya. Kecuali Lara yang seratus persen pasti mendukung sang suami.
Vander tampak sangat tenang, ia bahkan sama sekali belum memukul lawan yang ia lakukan hanya menghindar dan menghindar, sampai ketika lawannya agak lengah ia langsung memberikan serangan efektik yang mengenai bahunya. Alhasil pria itu langsung terjatuh dan pertahanannya melemah.
"Bangun!" Seru Vander pada pria itu.
"Tuan aku tidak akan menang melawanmu," ujar Ferly pesimis.
"Sejak kapan anggota Crux menyerah sebelum berakhir, bangun dan hadapi aku!"
Mereka pun akhirnya kembali bertarung. Ferly terus mencoba menyerang dan hampir saja bisa mengenai anggota tubuh Vander, sayangnya gagal karena reflek Vander yang terlampau cepat. Dan tanpa berlama-lama akhirnya Vander balik menyerang dan menjatuhkan lawannya sampai tak bisa lagi bertarung. Semuanya bersorak puas merasa terhibur melihat aksi Vander yang sejatinya jarang ia perlihatkan pada anak buahnya. Melihat suaminya menang Lara pun tak luput dari sorak bahagia. Melihat sang istri tersenyum gembira, Vander pun langsung menghampirinya dan mencium mesra bibirnya yang terasa manis.
Semua yang ada disana pun ikut senang melihat Van dan istrinya.
"Kau hebat sekali Vander," ucap Lara menatap kagum suaminya.
"Kau bangga padaku?"
"Ya, bangga sekali sayang..." Lara mencium pipi suaminya.
...----------------...
Setelah selesai dan keluar dari arena pertarungan, Vander dan Lara menemui dokter Dominic di ruangannya.
"Mau minum apa nyonya yang cantik?" Ucap Dominic dengan ramah pada Lara.
"Air putih saja dokter."
"Oke, kalau tuan—"
"Aku biasa minun satu gelas bersama dengan istriku jadi tidak usah!"
"Oke... "
Pertama-tama Dominic dan Vander minta maaf kepada Lara karena tidak memberitahunya langsung, soal Vander yang beberapa waktu lalu telah bersedia jadi objek uji coba serum buatan Dominic.
"Jadi waktu itu saat aku telepon kalian sedang—"
"Iya, saat itu aku sedang dalam pemantauan Dominic. Tapi kau tenang saja, aku sudah baik-baik saja, malah daya tahan tubuhku berlipat-lipat jadi lebih kuat," ucap Vander tak ingin istrinya cemas.
"Kau ini, hal seperti ini bukannya sejak awal bilang malah disembunyikan! Dasar laki-laki!"
"Maaf Lara, waktu itu aku hanya takut jika memberitahumu kau akan kepikiran. Kata dokter kan kalau kau banyak pikiran tidak baik untukmu dan anak kita."
"Apapun kalau disembunyikan itu jauh akan jadi buruk. Setidaknya jika dari awal jujur bebanmu akan berkurang." Lara membelai pipi sang suami, "Tapi kau sungguh tidak apa-apa kan?"
"Aku baik-baik saja."
"Ehem! Kalau mau mesra-mesraan di harapkan jangan didepan orang yang tak punya pasangan dong!" Tandas Dominic keki.
"Makanya cari pacar sana! Hidupmu terlalu lama di lab sampai lupa kebutuhan biologismu," ledek Vander.
"Ah kau ini! Sudahlah, yang terpenting saat ini adalah beritahu Lara soal misi dan rencanamu."
"Rencana? Misi? Kalian bicara apa?" Lara dibuat heran dengan ucapan Dominic barusan.
"Lara sebenarnya aku ada rencana untuk melakukan misi..."
Vander meminta izin kepada Lara untuk pergi ke Kolombia. Hal itu ia lakukan untuk mendapatkan informasi tentang jejak kejahatan Gauren.
"Apa? Kolombia? Itu jauh sekali, kenapa kau harus kesana? Apa tidak bisa anak buahmu saja yang pergi?" Seperti dugaan Vander, Lara pasti kaget dan susah menerina rencananya ini.
"Aku tahu ini berat buatmu tapi nona Lara suami kan—"
__ADS_1
"Tapi apa dokter Dominic? Suamiku dia harus pergi jauh disaat aku hamil besar. Itu- itu sungguh tidak bisa aku terima," ungkap Lara yang terpaksa mengakui kalau ia tidak mau lagi ditinggal sang suami pergi jauh.
Tidak mau istrinya jadi stress Vander segera memeluknya dan menenangkannya. "Sayang kau tidak perlu setakut ini, jika kau tidak izinkan aku pergi, aku tidak akan pergi kok. Bagiku tetap kau adalah prioritasku jadi jangan takut. Aku akan cari cara lain untuk menghentikan Gauren."
Sebenarnya aku tahu maksud Vander adalah baik dan tujuannya pun sangat baik, yakni menghentikan kejahatan. Tapi disisi lain aku tidak mau sampai ditinggal olehnya lagi, aku tidak mau...!
"Sepertinya kalian harus diskusi berdua membicarakan rencana ini, sementara aku akan keluar dulu." Dominic beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju keluar. "Oh iya, sebelum aku keluar aku cuma mau mengingatkan, rencana menghentikan Gauren tidak akan berjalan baik jika tidak ada sinergi. Yang jelas dalam masalah ini bagaimanapun caranya kita harus hentikan Gauren yang kini tengah mencoba menginvasi orang-orang tak berdosa, permisi!"
Lara bergeming, ia tahu kata-kata Dominic barusan pasti ada menyinggungnya.
Dan setelah berbicara dari hati kehati, pada akhirnya Lara pun sadar dan akhirnya menyetujui misi Vander tersebut, meskipun masih belum sepenuhnya setuju.
"Lara... kau sungguh setuju?"
"Ya, meski tidak sepenuhnya setuju tapi aku juga tidak bisa egois. Jadi pe1rgilah..." Ucap Lara diikuti senyum.
Vander memeluk istrinya dan berterima kasih.
"Tapi Vander kau harus janji, kau harus segera pulang setelah selesai misimu disana."
"Aku janji sayang, aku janji."
"Aku pegang janjimu tuan Vander, jangan sampai kau mengecewakanku."
Mereka pun berciuman mesra.
...🍃🍃🍃...
Setelah perjalanan yang sangat jauh hampir dua puluh satu jam lamanya, akhirnya Vander dan Gavin tiba mendarat di bandara El Dorado di kota Bogota, salah satu kota di Kolombia. Kedua pria itu tampak trendi mengenakan setelah kasual dipadu kacamata hitam yang mereka pakai saat tiba dibandara. Gavin yang mengenakan bawahan riped jeans dengan atasan kaos bergaris dan rompi pendek, tampak trendi berdiri membawa koper bawaan. "Ah... jadi ini kota Bogota itu?" Tandas Gavin yang baru pertama kali ke negara itu.
Sementara Vander yang mengenakan celana pendek model militer dipadukan kemeja hitam yang digulung sampai siku, tampak santai berjalan sambil menelepon seseorang yang akan datang menjemput mereka disini.
"Oke aku tunggu!" Ucap Vander menyudahi panggilannya.
"Kak, mana orang yang akan menjemput kita disini?" Keluh Gavin yang sejatinya kelaparan.
"Sebentar lagi."
"Hola Vander!" Seru seorang pria berusia tiga puluhan mengenakan kaos putih lengan pendek, dengan dengan rambut coklat dan celana pendek.
"Sanchez!"
"Vander, cómo éstas?"
"Estoy bien!"
Mendengar Vander berbicara dengan bahasa asing dengan pria itu, Gavin pun bingung dibuatnya. "Mereka ini bicara apa sih!"
"Ah dia siapa?" Tanya Sanchez.
"Huh, kau mengerti bahasaku?" Tanya Gavin kaget mengetahui pria kolombia itu bisa tahu bahasa negaranya.
"Ya, Vander pernah mengajakku ke kota ZR disana aku belajar bahasa kalian. Hai, namaku Sanchez Giordano, panggil saja Sanchez."
"Aku Gavin Chen senang bertemu denganmu," balas Gavin menjabat tangan Sanchez.
"Oh iya kau siapanya Vander, aku—"
"Bisakah kalian ngobrolnya nanti saja sekalian di mobil?" Ujar Vander dengan serius.
"I- iya tuan," jawab keduanya bergidik takut.
Vander tidak mau membuang waktunya disini, baginya yang terpenting adalah mencari informasi secepat mungkin soal keberadaan Gauren dan anak buahnya saat ini.
Aku tidak akan membiarkan pria baj¡ngan itu hidup tenang!
__ADS_1
...🍁🍁🍁...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏