Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Memiliki anak


__ADS_3

Malam harinya setelah makan malam di restoran penginapan La Rosean, Lara dan suaminya kembali ke kamar untuk beristirahat.


Di atas tempat tidur Lara yang sudah berganti pakaian dengan piyama tampak duduk bersandar di atas ranjang, sambil menatapi layar tabletnya. Sementara sang suami yang baru saja selesai mandi dan sudah mengenakan piayama, tampak sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Dari tempatnya duduk wanita itu tiba-tiba saja termenung melihat ke arah sang suami yang masih sibuk mengeringkan rambut.


Entah kenapa sejak Lara mengetahui bagaimana latar belakang keluarga dan masa kecil Vander, dirinya jadi merasa iba dan terenyuh saat melihat suaminya itu. Ia tidak bisa bayangkan dirinya berada diposisi Vander saat itu, pasti rasanya pedih dan sakit. Dianggap jadi penyebab ibunya meninggal, diabaikan ayah sendiri, dan kehilangan ibu di usia yang bahkan belum tau apa-apa saat itu.


Sadar dipandangi oleh sang istri, Vander pun menatap balik Lara yang matanya terlihat sendu. Segera ia menghampiri Lara dan duduk disebelahnya lalu bertanya, "Kenapa kau menatapiku seperti itu?" Pria itu membelai kepala Lara dengan lembut.


Lara tersenyum dan balik membelai pipi suaminya itu lalu berkata, "Aku sangat mencintaimu Vander."


Vander mengernyitkan keningnya merasa aneh melihat istrinya tiba-tiba bilang begitu padanya.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh mengatakan hal itu pada suamiku sendiri?" Tanya Lara sambil mencubit gemas pipi suaminya.


"Tentu saja sangat boleh."


Tiba-tiba Lara pun bergeser kebelakang Vander dan setengah berdiri, Ia pun langsung memijat pundak suaminya.


"Kenapa kau tiba-tiba memijatku begini?"


"Aku tau kau pasti lelah setelah berkendara berjam-jam dari ZR ke NV? Jadi biarkan aku memijatmu," pungkas Lara sambil terus memijat pundak suaminya.


Otot-otot Vander yang tegang pun perlahan merasa lebih enak saat dipijat oleh istrinya. Ia memejamkan matanya menikmati pijatan tangan sang istri. Vander sendiri memang beberapa hari ini merasa tubuhnya agak lelah, beruntung dirinya memiliki istri yang begitu perhatian padanya.


"Enak tidak pijatanku?" Tanya Lara seraya menunjukan keahliannya memijat.


"Pijatanmu sangat enak, apalagi kalau kau mau memijat ditempat lain juga," ucap Vander memberi kode pada sang istri.


"Tempat lain maksudnya apa?" Ujar Lara dengan polosnya.


"Tempat dimana adik kecilku selalu berada bediri tegak,"


Lara malah memukul pundak suaminya itu dan berkata, "Dasar tukang cari kesempatan!"


Pria itu pun hanya tertawa geli.


~~


Di tempat lain, Eva terlihat tengah memasuki sebuah ruangan yang sepi. Ruangan itu tampak mewah dengan interior ruangan penuh dengan buku-buku berharga yang berjajar disana.


Sementara tampak kursi kerja yang posisinya membelakangi. Di balik kursi itu ternaya ada seseorang yang duduk membelakangi Eva.


"Apa kau sudah lakukan seperti yang aku perintahkan?" Ucap suara pria yang duduk membelakangi Eva itu.


"Aku sudah melakukan persis seperti rencana anda tuan," ucap Eva.


Pria yang membelakangi Eva itu akhirnya memutar kursinya dan menghadap ke arah Eva yang berdiri di depan mejanya. Pria itu berambut gelap, wajahnya tak terlihat menakutkan bahkan cenderung ramah, dan perawakannya masih cukup gagah meski diketahui usianya sudah menginjak lima puluh tahun. Pria itu adalah Tuan Gauren, pendiri sekaligus pemilik Crux. Pria itu mengenakan setelan jas non formal.


"Tuan Gauren lalu apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Tanya Eva.


Gauren lalu tertawa kecil sambil menatapi dengan gemas, hewan mamalia aneh yang berada didalam kotak yang dipegangnya itu.


"Untuk saat ini cukup! Sekarang ini kita tinggal lihat saja kedepannya apa yang akan Vander lakukan. Bagaimanapun dia adalah manusia yang paling berharga untukku. Aku masih membutuhkan tubuh pria itu," pungkas Gauren diikuti seringai senyumnya yang penuh intrik.


**


Setelah selesai dipijat tubuh Vander sudah merasa lebih segar. Ia pun langsung merebahkan kepalanya diatas pangkuan sang istri yang duduk bersimpuh. Pria itu tampak manja memainkan rambut Lara yang terurai indah diatas wajahnya.


Lara menunduk memandangi suaminya itu sambil membelai lembut keningnya berkali-kali.


"Aku tidak suka kau pakai piyama ini!" Protes Vander yang lebih suka melihat Lara pakai gaun sutra tipis atau lingerie saat mau tidur.


"Aku tidak bawa pakaian, jadi mau bagaimana lagi?" Ucap Lara dengan nada lembut.


"Oh iya tadi kau dan Zoe ngobrol soal apa saja?" Vander tiba-tiba penasaran.


"Kami membicarakan tentangmu. Zoe bilang, kau saat kecil sangat nakal dan genit!" Ucap Lara.


"Aku tidak genit, justru teman-teman Zoe yang genit mereka bilang ingin memacariku saat aku sudah besar," ucap Vander dengan polosnya.


Lara mengerutkan dahi seolah tidak senang dan menyuruh Vander bangun.


"Eh lenapa, kau marah ya?" Pungkas pria itu kaget melihat istrinya tiba-tiba menyuruhnya bangun dari atas pangkuannya.


"Ya, aku marah pada wanita yang berani menggodamu saat kau anak-anak!" Gumam Lara, lalu merebahkan tubuhnya seraya ngambek.


Vander pun minta maaf dan langsung memeluk Lara dengan manja, dan membenamkan kepalanya ke dekapan dada Lara yang empuk dan lembut itu.

__ADS_1


"Kenapa suamiku tiba-tiba jadi manja begini?" Kata Lara diikuti senyum


Vander tak menjawab dan malah sibuk membuka kancing piayama Lara. Ia pun mendekap erat suaminya itu ke dekapannya yang hangat, Lara sendiri tau kalau Vander memang suka sekali dipeluk dan dimanja olehnya dengan cara begin, karena bagi Vander dekapan istrinya itu hangat nyaman dan lembut.


"Van?"


"Hem..."


"Kalau kau rindu ibumu, anggap saja aku ibumu yang tengah memelukmu," ucap Lara tiba-tiba.


Vander tertawa kecil. "Untungnya kau bukan ibuku, karena kalau kau ibuku aku akan tetap menikahimu," ucapnya.


"Dasar anak nakal!"


"Oh iya Van, kau... Apa kau suka anak-anak?" Tanya Lara tiba-tiba.


Vander yang sibuk menyesapi buah dada ranum itu pun berhenti dan menjawab, "Aku tidak suka anak-anak, tapi kalau itu anak kita aku pasti akan suka."


"Apa kau ingin punya anak Vander?"


Vander menggeser naik keatas dan menatap Lara. "Tentu saja, asal kau mau melahirkan anak-anakku. Apa kau bersedia memberikan aku ketrurunan?"


Lara tersenyum manis, "Tentu saja sayang, memangnya kau ingi memiliki berapa anak?"


"Sebanyak yang kau mampu lahirkan," ucap Vander lalu mengecup bibir merona istrinya itu.


"Kenapa kau tidak menyebutkan berapa?"


Vander menatap lembut Lara dan membelainya wajahnya yang manis. "Aku tidak mau membebanimu dengan jumlah anak. Karena bagaimanapun tubuhmu yang berhak menentukan batasannya adalah kau sendiri."


Lara pun tersenyum bahagia, ia senang mendengar suaminya itu sangat pengertian padanya.


"Lagipula kau masih muda kita masih banyak waktu. Kita masih bisa punya empat sampai lima anak dalam sepuluh tahun dari sekarang."


"Huh?" Lara kaget. "Tadi kau bilang terserah aku!"


"Tapi kan aku ikut proses pembuatannya juga," Vander terkekeh dan langsung memeluk manja sang.istri.


"Sudahlah Vander, cepat tidur!"


~~


Keesokan harinya setelah sarapan pagi, Lara bersama suaminya itu pamit kepada Zoe untuk kembali pulang. Dengan perasaan berat hati Zoe ditemani Lola pun mengantar pasangan suami istri itu sampai ke mobil.


"Ayolah Zoe jangan memasang wajah sedih begitu, kapan-kapan aku pasti akan sering-sering mengunjungimu kesini," ucap Lara menghibur Zoe agar tidak sedih mengantar kepulangannya.


"Aku senang melihat kalian berdua disini, tapi aku juga tidak bisa memaksa kalian untuk tetap disini lebih lama. Aku tau kalian punya pekerjaan penting yang harus dikerjakan disana."


Lara lalu memeluk Zoe erat. "Terima kasih Zoe, terima kasih karena sudah menyambutku dengan sangat baik."


"Sama-sama. Dan kau!" Zoe menatap Vander yang berdiri santai di sebelah Lara. "Jaga istrimu dan sayangi dia, jangan pernah kau sakiti dia kau paham!"


"Iya iya, cerewet! Lebih baik jaga kesehatanmu. Ingat, kau sudah tua dan keriput, jadi jangan terlalu banyak mimum."


"Anak sialan! Beraninya kau berkata begitu padaku!"


"Sudah-sudah, kalau begitu kami pergi dulu Zoe. Kau jaga kesehatan dan juga jangan terlalu banyak minum lagi, kami pamit pulang dulu." Lara melirik ke arah Lola yang berdiri disebelah Zoe. "Lola tolong jaga ibumu baik-baik ya."


"Tentu Nona, kau juga dengan tuan Vander hati-hati dijalan."


Setelah itu Lara pun masuk ke dalam mobil.


Lara dan Vanderpun akhirnya meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil pasangan suami istri itu pun saling bergenggaman tangan. Keduanya tampak bahagia sepulang dari La Rosean.


Di perjalanan kembali ke ZR, tiba-tiba saja Lara mendapati telepon dari sekretarisnya. Dia ia pun segera mengangkatnya.


Lara : Halo Anna, ada apa hari libur begini meneleponku?


Anna : Nona Lara, aku hanya ingin memberitahu anda kalau ternyata besok ada reschedule yang berubah. Meeting dengan klien yang tadinya akan dilakukan tiga hari lagi dimajukan jadi besok.


Lara : Oh begitu, baiklah...


Anna : Dan Nona tempat meetingnya juga berubah, besok meeting jadinya akan dilakukan di aula hotel rosevelt jam sembilan pagi.


Lara :Oke aku mengerti, terima kasih infonya Anna.


Anna : Sama-sama Nona, maaf sudah mengganggu akhir pekanmu.

__ADS_1


"Sekretarismu bilang apa?" Ucap Vander sambil fokus menyetir.


"Anna bilang, besok ada meeting penting di hotel Rosevelt. Sepertinya proposal yang aku ajukan pada Tuan Ohara diterima," terang Lara terlihat senang.


"Bagus kalau begitu, tapi... bicara soal Rosevelt, aku jadi ingat, hotel itukan tempat pertama kali kita melakukan 'itu' " Vander jadi tersenyum mengingat kejadian itu.


Sementara Lara... "Kenapa sih otakmu itu kalau bicara soal yang begitu senang sekali!" .


"Karena aku suka, bahkan gara-gara ingat malam itu aku jadi mau memakanmu sekarang," ucapnya diikuti senyuman licik yang kemudian tiba-tiba saja Vander menghentikan mobilnya.


"Van kenapa berhenti disini?" Lara punya firasat tidak enak hanya dengan melihat suaminya begitu.


Vander tiba-tiba langsung mencium bibir istrinya itu.


"Vander jangan bilang kau ingin—" mata wanita itu langsung terbelalak lebar melihat suaminya itu tiba-tiba melepaskan sabuk penganmannya dan menggerayangi tubuhnya.


"Vander kita masih di mobil loh!" Pekik Lara lalu menggigit bibirnya menahan perasaan nikmat saat bibir suaminya itu menjamah di lehernya.


"Kita belum pernah melakukannya di mobil bukan? Kau tenang saja kaca mobil ini tidak tampak dari luar, jadi santai saja."


"Ta- tapikan—"


"Semalam kita tidak melakukannya karena kau bilang lelah, maka gantinya aku minta jatahku sekarang!" Pria itu menghujani Lara dengan kata-kata rayuan maut yang membuanya seolah tersihir. Sentuhan jemari dan bibir Vander yang lihai, menjamah di tiap inci tubuhnya yang sudah menggeliat dan mulai pasrah. Lara menutup mulutnya dengan tangan takut suara erangannya terdengar sampai keluar.


Kalau sudah begini Lara tak bisa lagi mengelak melakukannya, karena pada akhirnya meski ia yang kini duduk diatas pangkuannya pun, tetap saja Vander akan lebih dominan dibanding dirinya.


**


Setibanya di parkiran basement, pria itu menggendong Lara dari mobil dan membawanya masuk ke kamar apartemen.


Tak lama kemudian, Lara pun bangun dan sadar kalau ia sudah berada di kamar.


Tiba-tiba Van datang membawa segelas air untuk istrinya yang sudah bangun itu.


"Kau sudah bangun, ini minum dulu."


Lara pun segera menenggak habis air putih itu.


"Maaf aku tidak langsung membangunkanmu, karena aku tidak tega melihatmu yang sepertinya kelahan."


Gadis itu langsung menyipitkan matanya dan melihat sinis ke arah suaminya itu. "Aku lelah kan gara-gara kau! Bisa-bisanya kau! Ah sudahlah..." Lara malas membahas kejadian dimobil tadi. "Gara-gara dirimu badanku jadi lengket begini! Aku kan jadi harus bersih-bersih lagi!" Gerutu Lara.


"Yasudah biar aku mandikan kalau malas," Vander menawarkan diri.


"Huh? Tidak tidak! Tidak usah, aku mandi sendiri saja. Sekarang aku mau mandi!" Lara langsung turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Lara menghela nafas, "kalau dia ikut pasti nanti minta lagi! Di mobil tadi saja rasanya aku mau pingsan! Lagian dia itu manusia bukan sih! masa tidak ada capeknya, aku saja sering kelelahan meladeninya berkali-kali."


"Sayang jangan lama-lama mandinya nanti aku masuk lho...!" Goda Vander dari luar.


"Eh- i- iya, aku akan cepat kok! Sudah sana!" Pekik Lara takut kalau suaminya itu ikut masuk.


"Atau aku masuk saja?"


"Tidak boleh! Berani masuk aku tidak akan kasih jatah selamanya," ancam Lara.


Di depan pintu kamar mandi Vander hanya bisa tertawa puas setelah menggoda istrinya. Tak lama ia pun mendapati telepon dari  Aron dan langsung mengangkatnya.


Vander : Halo.


Aron : Vander apa kau sudah urus semua deposito dan asetmu?


Vander : Ya aku sudah selesai mengurus semuanya ada apa?


Aron : Tidak aku hanya khawatir saja. Firasatku tidak enak.


Vander : Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Saat ini aku pun merasa diriku tidak aman, dan aku tau hal tidak diinginkan bisa saja terjadi saat ini juga yang aku khawatirkan hanya satu yaitu istriku. Aku hanya ingin minta tolong padamu jika hal buruk padaku terjadi, tolong kau—"


Aron : Omong kosong! Kau itu Vander Liuzen, kau pria yang paling bernyali yang pernah aku kenal, jadi jangan berani bicara seolah kau akan gugur di medan perang. Ingat kau punya istri yang harus kau jaga.


Vander : (Tersenyum datar) Baikalah Ron, kalau begitu aku tutup dulu teleponmu.


Setelah itu tatapan Vander jadi tampak berbeda, matanya seolah menunjukan kalau ia sedang memiliki kekhawatiran di dalam dirinya.


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜

__ADS_1


__ADS_2