
Di restoran, Karina yang sudah tampil memesona terlihat sudah duduk menunggu kehadiran Lara dan Vander sejak beberapa waktu lalu. Tak lama kemudian tamu yang dituggu pun datang.
Melihat kedatangan mereka, mata Karina langsung tertuju pada sosok Van yang terlihat mengenakan setelan jas semi formal, berjalan dengan gagah penuh karisma. Bahkan jika dilihat dari caranya berjalan, siapa yang percaya kalau pria itu seorang pengawal pribadi? Dengan aura dan tampilannya saat ini Vander lebih cocok disebut bos mafia dibandingkan seorang pengawal.
Setibanya di meja makan, Vander menarikan kursi untuk Lara. "Silakan Nona."
"Terima kasih."
Raut wajah Karina berubah masam melihat Van memperlakukan Lara seperti itu. Tidak mau menyia-nyoaka kesempatan kali ini Karina mulai menjalankan rencananya. Ia sengaja meminta Vander agar duduk disebelahnya dengan alasan ia ingin kenal dengan Van lebih dekat.
Kali ini Lara tidak bisa menolak karena, jika ia menujukan rasa tidak sukanya ke Karina, hal itu bisa saja mempengaruhi kerjasama yang akan terjalin.
"Tidak apa-apa kan kalau pengawalmu yang sudah pernah menolongku ini duduk didekatku?"
"Oh iya tentu saja," jawab Lara diikuti tersenyum palsu. Demi kontrak gadis itu tak keberatan meski hatinya saat ini benar-benar dibakar api cemburu.
**
Di ruangannya Jeden terlihat serius membaca dokumen tentang Vander yang telah dikirimkan oleh Eva.
"Jadi Van dulunya anggota crux? Tapi kenapa dia keluar?"
Jeden menyungingkan senyum penuh arti. "Ini menarik," ungkapnya.
Pria itu menelepon Eva.
Jeden : Aku sudah membaca dukumen tentang Van yang sudah kau kirimkan, jadi langkah selanjutnya apa?
Eva : Nanti akan aku infokan, yang jelas sekarang kau harus terus memantaunya dan menginfokan apa yang Van lakukan.
Jeden : Oke, tapi nona Eva aku ingatkan padamu sekali lagi. Kau jangan pernah campuri urusan pribadiku dengan Van.
Eva : Oke.
--
Makanan yang dipesan akhirnya tiba.
"Ayo kita makan sebelum makanannya dingin," ucap Karina. "Tuan Van kau makanlah yang banyak ya," imbuhnya.
Lara yang melihat Karina mencoba akrab dengan Van dibuat jengkel karenanya. Huh! Kalau bukan karena kontrak kerja mana mungkin aku biarkan Van duduk disebelahnya!
Van menyadari Lara yang menatap ke arahnya dan Karina.
"Nona Lara ada apa?" Tanya Vander.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hanya terasa mual saja melihat rubah betina, " ungkap Lara.
Karina memicingkan matanya menatap Lara. Rubah betina yang dia maksud itu aku?
Karina tersenyum licik. Wanita itu malah semakin agresif mendekat dan menggoda Van dengan suara sok manis yang dibuat-buat. Ugh! sungguh ingin muntah saja rasanya Lara yang menyaksikan perilaku Karina.
Sayangnya kekesalan itu hanya bisa Lara lampiaskan pada makanan yabg dihadapannya. Steak yang ada di depan Lara ia anggap Karina lalu dipotongnya.
Vander juga, kenapa dia tidak pergi saja sih! Aku ingin menyiramkan air pada wanita ini rasanya!
Van tiba-tiba beranjak dari kursi dan izin untuk ke toilet.
Selagi Van ke toilet Lara pun bertanya pada Karina kapan mereka menandatangani kontrak kerjasamanya.
"Tenang Nona Lara setelah ini kita akan menandatanganinya."
"Bagus kalau begitu. Soalnya aku hanya takut kalau Nona Karina jadi lupa karena terlalu asyik mendekati pengawalku," tutur Lara menyindir Karina.
Karina tersenyum mengejek. "Apa Nona Lara takut kalau pengawal pribadi kesayangannya tertarik padaku?" Balas Karina begitu percaya diri.
Lara sungguh tidak senang dengan perkataan Karina barusan. Tapi Lara harus tenang, ia tidak boleh sampai lepas kontrol. Ia harus berusaha tetap mengendalikan emosinya sampai kerjasama antara Miracle dan Appletree benar-benar terlaksana.
***
Lara dan Vander kembali ke partemen.
Vander yang khawatir mengikutinya dari belakang.
"Nona...!" Serunya memanggil sang Nona yang berjalan duluan.
Lara pun langsung masuk ke dalam kamar.
Van mengetuk-ngetuk kamar itu meminta Lara membuka pintunya. "Nona Lara tolong buka pintunya, jika kau marah karena aku membantu Nona Karina tadi maka aku minta maaf, aku tidak ada maksud apapun Nona." Van mencoba membujuk Lara namun Lara tetap tidak mau membuka pintunya, ia malah berteriak kepada Van agar pergi dan jangan mengganggunya.
"Nona aku..."
"Pergilah aku mau sendiri!" Seru Lara dari dalam kamar.
Van ingin mengetuk pintu itu lagi namun urung dilakukan dan memilih untuk mengalah dulu. "Baiklah aku akan membiar Nona sendiri, tapi aku mohon Nona jangan mengurung diri lama-lama," ucapnya dari luar kamar. Degan perasaan menyesal Van pergi meninggalkan di kamar.
~
Dikamar Lara tampak duduk diatas ranjang dengan perasaan campur aduk. Marah, kesal, cemburu, dan menyesal seolah jadi satu.
"Kenapa aku harus marah?" Tanya Lara bingung. "Vander hanya pengawalku tapi kenapa aku begitu tidak suka melihat ia dekat dengan wanita lain! Bahkan aku bukan pacarnya apalagi istrinya, kenapa aku harus cemburu. Kalaupun aku cemburu seharusnya itu juga bukan salah Vander, dia kan tidak tau kalau aku punya perasaan terhadapnya."
__ADS_1
Lara yang merasa lelah pun berbaring di atas ranjang dengan mata sendu menatap langit-langit kamar. "Seandainya saja masih ada ibu, pasti aku bisa berbagi cerita soal perasaanku ini."
Seketika Lara pun jadi merindukan sosok ibunya. "Ibu... apa kau tau, putrimu ini sedang jatuh cinta. Rasanya menyenangkan sekaligus melelahkan."
**
Vander keluar kawasan apartemen untuk menikmati sebatang rokok. Pria itu sungguh tidak paham dengan sikap bosnya. "Apa benar dia marah karena aku menggendong Karina tadi? Apa dia cemburu? Apa mungkin dia punya perasaan padaku?" Van mendengus kecil seolah menertawakan dirinya. "Apakah aku mulai jadi pria sinting yang tidak punya malu? Bagaimana mungkin aku berpikir seorang Lara Hazel suka pada bawahan sepertiku?"
Itu tidak mungkin, bahkan berpikir untuk mendapatkan hatinya sangat tidak mungkin.
Bip... Bip... Ponsel Van bergetar.
Pria itu segera membuang putung rokoknya lalu mengangkat panggilan Aron.
Aron : Jadi kau bisa bertemu denganku?
Vander : Ya, tunggu aku di persimpangan sungai dekat kota, aku akan menemuimu disana.
Aron : Baik!
Van bermaksud untuk keluar sebentar menemui Aron. Ia pun mengirimi pesan ke ponsel Lara memberitahukan kalau ia izin keluar sebentar. Aku pergi dulu sebentar Nona, aku janji tidak akan lama jadi tolong jangan menangis atau ketakutan, jika terjadi sesuatu segeralah hubungi aku secepatnya.
**
Di kamarnya Karina yang tengah berbaring di atas tempat tidur senyam-senyum sendiri melihat satu kakinya yang diperban.
"Ada bagusnya juga kakiku terkilir," ucapnya penuh rasa puas.
Flashback
Saat selesai makan dan melakukan taken kontrak kerjasama Miracle dan Appletree, Lara meminta agar segera menyudahi pertemuan tersebut. Namun Karina yang tidak mau segera berpisah dengan Van berencara minta izin dulu ke toilet untuk mengulur waktu. Saat Karina beranjak dari kursi untuk menuju toilet, tiba-tiba saja ada dua orang anak-anak yang berlarian dan menyenggol Karina hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur. Semua orang refleks melihat ke arahnya. Karina pun merasa malu sekali dibuatnya. "Bocah sialan!"
"Oh bibi tolong maafkan kami," ucap kedua bocah itu ketakutan.
Karina ia ingin sekali memaki bocah itu dan menuntut orang tua mereka, tapi dirinya langsung teringat Van yang masih ada disini. Dan seketika otak licik Karina bekerja, ia pun berencana memanfaatkan kejadian ini untuk mendapatkan perhatian Van. Wanita licik itu langsung ber-ekting kesakitan se-real mungkin hingga membuat orang disana merasa iba termasuk Lara.
"Nona Karina?" Lara khawatir melihat wajah Karina yang sepertinya kesakitan sekali. "Van Nona Karina sangat kesakitan cepat kau angkat dia dan kita bawa ke rumah sakit!" Ujar Lara panik.
Van pun akhirnya menggendong Karina dan membawanya ke rumah sakit.
Flashback selesai.
"Tadi saat aku digendongnya, aku bisa merasakan otot perut Van yang keras dan seksi!" Ungkap Karina kegirangan. "Oh iya aku belum dapat nomor handphonenya. Aku harus dapatkan nomor Van, dan setelah aku dapatkan nomornya aku akan mendekatinya dan membuatnya jatuh kepelukanku dan meninggalkan Lara," ungkapnya.
Kedepannya sepertinya rubah betina akan lebih banyak tingkah.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa vote, like, commentnya guys