Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Rindu padaku?


__ADS_3

Keesokan harinya di depan kawasan apartemennya, Vander terlihat pamit untuk pergi. Lara yang sepertinya belum rela Van pergi masih terus saja memeluk manja kekasihnya itu. "Sesampainya disana kau harus langsung telepon aku," ucap Lara dengan manja.


"Iya..., lalu apalagi tuan putri?"


Lara melepas pelukannya kemudian dengan ceriwis mengatakan hal-hal yang harus diingat Vander. "Dengar ya Vander Liuzen, disana kau jangan sampai lupa makan yang sehat, rajin membersihkan diri, jangan lupa ganti baju, tidur di tempat tidur dan jangan terlalu sering tidur tidak pakai baju!"


"Iya sayang..." Van mencubit kecil hidung Lara yang mancung.


"Oh iya, disana kau juga jangan genit-genit. Jangan tebar pesona sama perempuan. Jangan gampang tergoda sama perempuan cantik!"


Vander jadi gemas melihat ekspresi dan cara bicara Lara saat ini. "Nona kau jangan terlalu bertingkah imut seperti ini, aku jadi tidak ingin pergi rasanya."


"Eh siapa yang bertingkah imut, aku ini lagi menasehatimu tau!"


"Iya aku dengar," Vander meraih kedua tangan Lara dan menciumnya. "Aku sudah memiliki dirimu yang hampir sempurna, mana mungkin aku tergoda wanita lain."


Wajah Lara langsung dibuat merona mendengar ucapan manis Van, ditambah tatapan mata tajamnya yang lembut membuat hati Lara seperti dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan. Kalau dia sudah seperti ini wanita mana yang tidak tergila-gila padanya?


"Van janji padaku kau jangan pernah pernah menatap dan berkata semanis itu pada wanita lain!"


"Aku berjanji!" Van menempelkan keningnya ke kening Lara.


"Aku mencintaimu Vander," Lara berjinjit melingkarkan tanganya di leher sang kekasih dan mengecupnya, mereka pun berciuman mesra untuk terakhir kali sebelum Vander pergi. Tak Lama van langsung memaksa melepaskan pagutannya.


"Nona maaf bukan aku tidak suka, tapi... Kalau lama-lama aku takut tidak sanggup lmenahannya, bisa benar-benar tidak jadi pergi," ungkap Vander.


Lara langsung menutup mulutnya karena hampir tertawa geli, saat melihat ada yang menonjol dibalik resleting celana Vander.


"Jangan tertawa!" Tandas pria itu merasa malu.


"Iya maaf, yasudah kau berangkatlah... hati-hati dijalan, aku akan merindukanmu."


Van yang sudah didalam mobil tiba-tiba membuka kacanya dan meminta Lara mendekat ke arahnya.


"Ada apa lagi?"


Van langsung mencium Lara singkat. "Sampai ketemu lagi Nona kecilku," ucap Vander lalu pergi.


Lara memandangi kepergian Van lalu menghela nafas. "Vander sedang berjuang, itu artinya aku juga harus tetap semangat!" Ucap Lara menyemangati dirinya sendiri.


**


Disisi jalan, diam-diam teryanta ada Jeden yang sempat memlihat beberapa saat momen kemesraan Lara dan Vander dari jauh. Termasuk saat Vander mencium Lara dari dalam mobil, ia juga sudah sempat mengambil gambar mereka.


"Ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu. Lara ada apa denganmu, kenapa kau merendahkan dirimu dan memilih menjalin hubungan dengan pria tidak jelas seperti Vander?"


Jeden melihat kembali hasil foto Lara dan Vander yang ia dapatkan. Raut wajah dan desah nafas Jeden menggambarkan jelas betapa ita cemburu dan marah. Ia tidak habis pikir, Lara yang ia kenal dan sudah ia sukai sejak lama nyatanya malah lebih memilih Van dibanding dirinya. "Kenapa kau tega padaku Lara! Kenapa? Kenapa kau lebih memilihnya dibanding aku...?" Jeden yang malang, kali ini ia benar-benar dibuat patah hati melihat kenyataan Lara dan Vander yang nyatanya memang memiliki hubungan khusus.


"Tidak!" Jeden yang emosional tetap merasa tidak terima dengan kenyataan saat ini. Ia pun murka dan bersumpah pada dirinya sendiri, "Jika aku tidak bisa dapatkan Lara, maka siapapun juga tidak boleh mendapatkannya!"


**


Di ruang kerjanya, Karina yang tengah sibuk menandatangani dokumen penting, tiba-tiba saja mendengar ponselnya bergetar karena ada pesan masuk. Awalnya Karina tidak memperdulikan pesan yang masuk tersebut, tapi takut ada pesan penting ia pun segera membuka pesan yang masuk tersebut.


"Jeden? Tumben sekali dia mengirimi aku pesan?" Ucap Karina.


Pesan dari Jeden :


^^^Cepat kau buka file foto yang akuk kirimkan!^^^


Karina mengerutkan keningnya, merasa bingung kenapa tiba-tiba Jeden mengiriminya gambar foto. "Ada apa sih sebenarnya?" Tidak mau menebak, Karina langsung membuka file foto yang dikirimkan oleh Jeden tersebut.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" Ujar Karina yang syok sekaligus tidak percaya dengan gambar foto yang dilihatnya saat ini. "Tidak mungkin, ini pasti salah orang! La-ra, Vander mereka? Tidak mungkin!" Karina masih menyangkalnya. Ia pun buru-buru menelepon Jeden untuk minta penjelasan.


Karina : Apa maksudmu mengirimiku foto sialan itu?!


Jeden  : Aku hanya ingin memberitahumu sebuah fakta yang mungkin menyakitkan buatmu.


Karina : Fakta apa, ka- kau bohong kan soal foto itu? Foto editan itu hanya bagian dari rencanamu kan? (Karina panik ia sangat tidak ingin mendengar kalau Lara dan Vander berpacaran)


Jeden : Itu asli, aku sendiri yang mengambil fotonya tadi. Faktanya mereka berdua memang punya hubungan khusus.


Karina : Tidak! Tidak! Aku tidak terima, Lara dia tidak boleh mendapatkan Vander, pria itu milikku! Aku tidak rela wanita itu memiliki Vander!


Jeden : Hei, hei kau tenanglah...! Aku juga sangat marah dan murka mengetahui ini semua. Tapi dengan kau mengamuk itu tidak berguna, bagaimanapun kita harus benar-benar memisahkan mereka!


Jeden benar, aku tidak rela jika lagi-lagi apa yang aku inginkan malah didapat wanita binal itu!


Karina : Oke, kali ini aku ikuti saranmu.


Jeden : Bagus, sekarang ini lebih baik kita fokus mengatur rencana serapih mungkin untuk memisahkan keduanya selama-lamanya.


Karina : Oke, sampai jumpa.


Amarah Karina membuncah, sorot matanya penuh kebencian, wanita itu benar-benar tidak terima dengan hubungan Van dan Lara. "Lara Hazel kau benar-benar wanita menjijikan! Lihat saja, aku pastikan cepat atau lambat hidupmu akan hancur ditanganku!"


**


Di lobi terlihat Lara, Miranda dan Gavin tengah berjalan beriringan. Ketiganya memang memutuskan untuk pergi makan siang bersama di restoran. Namun saat tengah berjalan menuju parkiran mereka bertiga malah harus berpapasan dengan Jeden. Dengan raut wajahnya yang penuh amarah pria itu berjalan terburu-buru menghampiri Lara dan memaksanya untuk ikut dengannya.


"Ikut aku!" Jeden menarik tangan Lara.


"Jeden lepaskan tanganku! Apa-apaan sih kau ini!" Lara mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Jeden. Namun Jeden tidak menghiraukannya, ia malah tetap saja mencengkram pergelangan tangan Lara dan memaksanya ikut denganya.


"Jeden aku bilang lepaskan tanganku!" Seru gadis itu penuh amarah.


"Jeden kau tidak perlu membentaknya!" Ujar Miranda.


"Mira kau jangan ikut campur!" Balas Jeden sinis.


"Hei tuan! Kalau Nona Lara tidak mau ikut denganmu jangan memaksanya!" Tegur Gavin yang akhirnya buka suara membela Lara.


Gavin langsung mendapati tatapan sinis dari Jeden. "Kau siapa, aku tidak ada urusan denganmu bocah!" Jeden kembali menarik tangan Lara dan memaksanya. "Ikut aku!"


"Aku sudah bilang jangan memaksa Nona Lara!" Gavin yang emosi langsung menyingkirkan tangan Jeden dari tangan Lara.


Jeden langsung naik pitam. "Bocah brengsek! Berani sekali kau, kau pikir kau siapa!?"


"Aku—"


"Dia pengawalku! Dia yang akan menggantikan Vander untuk sementara ini," tegas Lara.


"Apa?" Jeden tampak syok.


"Iya aku Gavin, aku yang sementara ini menggantikan Kak Vander menjaga Nona Lara dari baj!ngan sepertimu!" Pungkas Gavin mencemooh.


"Cih!" Jeden tertawa mengejek. "Lara Hazel Lara Hazel... aku baru tahu, ternyata  hobimu sekarang adalah mengumpulkan gelandangan sampah seperti ini!" Jeden menatap Gavin dengan tatapan jijik.


"Heh siapa yang sampah dasar pria brengsek!" Ujar Gavin emosi ingin memukul Jeden, untungnya Miranda menahannya.


"Jeden jaga ucapanmu!" Bentak Lara tidak terima.


"Kenapa? Memang kenyataannya mereka itu sampah kan? Pria tengik ini, lalu Van kesayanganmu itu, mereka semua itu hanya parasit! Kau tau sifat parasit kan? Ya! Hanya bisa merusak, dan itu yang terjadi padamu sejak kenal dengan pria bernama Vander sialan itu! Kau sudah rusak Lara kau—"

__ADS_1


PLAK! Lara menampar Jeden.


"Kau! Tidak berhak mengatakan apapun tentang Vander ataupun Gavin!"


"Cih!" Jeden setengah tertawa, "Kau benar-benar sudah dirusak oleh pria itu Lara... Kau bukan Lara yang ku kenal dulu, kau sudah berubah!"


Lara tersenyum masam, "Semua orang pasti berubah Jed, termasuk dirimu. Sayangnya kau berubah ke arah yang salah," sindir Lara lalu pergi mengajak Mira dan Gavin.


**


Sementara itu di kota RK, setelah semua peserta pelatihan penelitian bahan-bahan tekstil meletekan barang-barang mereka di mess, mereka semua berkumpul di perkebunan kapas. Peserta yang terpilih ikut pengembangan penelitian ini terdiri dari berbagai usia dan latar belakang. Dari  lulusan baru, wiraswasta, buruh dan sebagainya. Meski didominasi oleh peserta, berusia dua puluhan hingga tiga puluhan namun Van melihat ada salah seorang pria yang berdiri disebelahnya, yang usianya tidak beda jauh dengan pak Jah.


"Pak Tua, kau hebat sekali masih semangat ikut program seperti ini," puji Vander pada pria itu.


"RK adalah kampung halaman mendiang istriku, dan dia ingin aku mengelola perkebunannya yang ada di kota ini, oleh karena itu saat aku tau ada program ini aku minta anakku mendaftarkanku."


"Istrimu disana pasti akan sangat bangga padamu," pungkas Lara.


"Terima kasih anak muda, kau masih sangat gagah aku yakin kau pasti punya niat baik ikut program ini."


"Ya, kau benar!"


Tidak lama kemudian tiba-tiba saja, segerombol peserta wanita datang menghampiri Vander, mereka secara berebutan meminta berkenalan dengan Vander, hingga membuatnya merasa sangat terganggu.


Para wanita ini kenapa mereka semua menyebalkan! Gerutu Vander dalam hati. Untungnya para panitia dan kepala penelitian lembaga setempat sudah datang, sehingga semuanya pun diminta tertib.


"Hehe... Nak, kau sangat tampan dan gagah tidak heran wanita-wanita itu tertarik padamu," celetuk si pria tua yang diketahui bernama Johan tersebut.


Vander hanya bisa menghela nafas dibuatnya.


Para panitia pelatihan yang jumlahnya tujuh orang itu pun masing-masing mengenalkan diri. Dan dua diantara mereka adalah orang lokal RK yakni pria bernama Miku, dan wanita yang sepertinya seusia atau bahkan lebih muda dari Vander bernama Akina.


"Baiklah aku Akina aku adalah salah satu yang bertanggung jawab di program ini, aku sendiri adalah penduduk asli di kota ini. Dan hari ini aku akan memberitahu kalian tentang, bagaimana membedakan tentang kualitas kapas yang baik dengan yang buruk." Gadis bernama Akina itu kemudian mengajak rombongan ke ladang kapas, disana ia terlihat serius dan agak kaku saat mendeskripsikan penjelasannya, sehingga banyak peserta yang kurang antusias dibuatnya. Vander jadi agak merasa kasihan melihat wanita itu diabaikan peserta lain yang malah sibuk sendiri.


"Baiklah! Kalau kalian tidak sudah lelah mendengarkanku maka cukup dariku," ucap Akina sinis. Sepertinya wanita itu jadi kesal karena sejak tadi diabaikan. Ia pun dengan perasaan kesal pergi dengan terburu-buru, alhasil kakinya malah tersangkut di ranting kering besar yang hampir saja membuatnya terpeleset jatuh kebawah. Untungnya dengan sigap Vander langsung menangkapnya.


"Kau tidak apa-apa kan Nona?" Tanya Vander memastikan.


Akina bergeming seolah tak berkedip, menatap Van yang kini memegangi pinggangnya agar tidak jatuh. Pipi wanita itu pun lansung memerah karena salah tingkah dibuatnya.


"Hei, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Van lagi.


"I- iya aku tidak apa-apa," jawab Akina malu-malu.


"Baguslah kalau begitu,"  Vander pun melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang wanita itu lalu pergi.


Akina masih terus memperhatikan Vander yang sudah berjalan menjauh. "Dia... tampan sekali," puji Akina dan tersenyum malu-malu.


**


Di dalam perjalanan pulang, Lara yang duduk sendirian dikursi belakang tampak banyak diam melamun dan tak banyak bicara. Hal itu pun membuat Mira dan Gavin yang duduk di depan agak khawatir.


"Hei Miranda, Nona Lara memang aslinya diam seperti ini ya?" Tanya Gavin berbisik-bisik.


"Tidak kok, Nona justru biasanya sangat ceriwis, apa mungkin dia masih kesal dengan pria bernama Jeden tadi?" Tebak Gavin. "Atau mungkin kak Lara rindu pada Kak Vander?"


"Mungkin!" Tandas Mira mengingat Vander dan Lara itu kan pasangan pasti sedih juga kalau LDR. Ditambah sejak tadi Lara tidak mau menelepon Van dengan alasan takut mengaggu kekasihnya itu, padahal Mira sudah menyuruhnya telepon.


Lara memandangi layar ponselnya dengan rasa cemas, ia sejak tadi berpikir kenapa Van belum juga meneleponnya. Padahal Lara sendiri sudah berpesan pada Van agar langsung meneleponnya begitu tiba di RK, tapi nyatanya sampai detik ini belum juga ada panggilan Van yang masuk. Apa dia sibuk?


Lara memandang ke luar kaca mobil sambil bertanya-tanya, kenapa dia belum menghubungiku? Apa dia tidak rindu padaku?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2