Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Aku Papa Kandungmu


__ADS_3

Pagi harinya...


Di ruang makan yang besar, semuanya terlihat menikmati sarapan bersama, kecuali Lara yang tidak nampak batang hidungnya sama sekali. Rey yang baru saja selesai menghabiskan sarapannya pun bertanya dimana mamanya? Karena sejak kemarin setelah beres acara pernikahan, dirinya sama sekali belum melihatnya.


"Apa mama masih tidur? Tidak biasanya. Lagipula akhir-akhir ini kenapa mama jadi sering bangun siang ya sejak sering berduaan sama papa?"


"Soalnya papamu suka buat mama melakukan kerja romusha setiap malam," celetuk Gavin.


Seketika semua yang ada meja makan pun seolah jadi ingin tertawa, namun ditahannya karena tidak berani.


"Romusha? Bukannya itu sebutan kerja paksa. Heh, papa sudah lakukan apa pada mamaku?!" Tandas Rey dengan polosnya karena takut mamanya sungguhan di suruh kerja paksa.


"Um— tuan kecil, anu— sepertinya..."


"Paman Robert jangan bela papa, biar papa jawab sendiri!" Tegasnya.


Sementara Vander yang duduk di ujung utama meja berbentuk oval itu malah terlihat dengan santainya mengahabiskan sarapannya.


"Papa jawab aku."


"Anak muda jangan ribut di ruang makan. Lagipula Lara baik-baik saja hanya sedikit kelelahan setelah diajak main."


"Huh? Main? Memang kalian main apa semalam?"


Sontak Gavin pun tak bisa lagi menahan tawanya melihat betapa polosnya raut wajah Rey saat menanyakan hal itu.


"Heh! Kau ini kenapa sih malah makin buat runyam saja!" Tegur Mira sambil menyikut perut suaminya.


"Aduh, maaf istriku. Habisnya wajah Reynder sangat lucu aku tidak tahan."


Tidak mau melihat Rey terus dibuat bingung oleh para pria dewasa yang otaknya mesum itu, Miranda pun akhirnya memberikan pengertian kepada Rey sebijak mungkin, alasan mamanya masih dikamar sampai saat ini.


"Jadi mamaku hanya kelelahan karena pesta kemarin saja ya Bibi?"


"Iya anak tampan, mamamu hanya sedang kelelahan saja karena acara kemarin. Jadi tidak usah risau oke?"


"Tapi... di apartemen beberpaa kali aku lihat papa masuk sambil gendong mama ke kamar. Terus mereka tidak keluar, dan paginya mama bilang badannya pegal. Apa papa menyiksa mamaku?"


"Eh itu—" aduh kalau itu aku juga tidak tahu. Si Vander ini juga bisa-bisanya malah setenang itu anaknya tanya hal macam ini! "Itu karena—"


"Rey, mama masih istirahat. Dia lelah karena semalam dia begadang meninabobokan diriku jadi mengertilah," ucap Vander yang tau-tau sudah selesai menghabiskan sarapannya.


"Oh papa juga suka dinina bobokan mama ya? Berada dipelukan mama memang paling nyaman lebih nyaman daripada bantal empuk sekalipun dan bisa buat tidur nyenyak," ungkap Rey dengan polosnya.


Vander tersenyum penuh arti. "Sudahlah Rey setelah ini apa kau mau naik perahu sambil memancing denganku?" Ajak Vander yang memang berniat menghabisakan waktunya dengan sang putra hari ini.


"Mau papa! Aku belum pernah memancing diatas perahu!"


"Oke!"


"Ah aku juga mau ikut!" Seru Gavin.


"Kalian lakukan apapun yang kalian inginkan, yang jelas aku ingin menghabiskan waktuku hari ini dengan Rey, " ucap Vander.


Mendengar ucapan Vander begitu, hati Rey senang sekali dibuatnya. Ia semakin bisa merasakan betapa pria itu sungguh menyayangi dirinya dan ibunya.


Tapi sebelum pergi, Vander meminta bibi Lena untuk menyiapkan makan untuk Lara kalau istrinya sudah bangun nanti.


"Baik tuan, aku akan antarkan ke nyonya makanannya nanti."


Vander pun lalu bersiap membawa alat pancing dan pergi bersama putranya ke danau.


...----------------...


Setibanya disana, Vander langsung memilih perahu yang ingin mereka naiki. Dengan dayung manual Vander pun mendayung sampai ke tengah danau. Disana ia bersama sang putra akhirnya mengapung diatas danau yang kedalamannya sekitar, delapan sampai sepuluh meter.


"Pakai pelampungnya dengan benar," ujar Vander mengingatkan. Sayangnya Rey yang saat itu tengah sibuk menyiapkan umpan pancingan, sepertinya jadi abai dengan ucapan ayahnya tersebut.

__ADS_1


"Kakak! Rey kecil!" Seru seseorang yang tidak lain adalah Gavin bersama Tori, Naomi dan Robert dalam satu perahu. Keempat orang itu ternyata ikut naik perahu juga.


"Hai paman!" Sapa Rey balik sambil melambai.


"Rey, jangan terlalu banyak bergerak aneh-aneh nanti kau jatuh. Danau ini lumayan dalam," tegur sang papa.


"Aku hanya sapa paman Gavin kok."


"Pamanmu itu agak bodoh, jadi sudah tidak usah terlalu kau hiraukan."


Papaku kalau bicara pedas sekali ya, tapi aku suka! Rey pun menuruti papanya dan tidak mengiharaukan teriakan tidak Gavin.


"Huh! Pasti Rey kecil itu sudah dipengaruhi pria tua itu agar tak menghiraukanku," gerutu Gavin kesal karena Rey tiba-tiba cuek padanya.


"Tuan Gavin, anda jangan banyak bergerak nanti perahunya bisa oleng...!" Seru Tori yang sejak tadi bertugas mendayung bersama Robert.


"Iya-iya, dasar cerewet!" Gavin akhirnya menyerah.


Di perahu, Vander yang sudah siap melempar umpan pun terlebih dulu membantu putranya melemparkan pancingan. Vander bilang ikan di danau ini cukup besar tapi tidak berbahaya sama sekali. Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya Rey pun mengeluh karena umpannya tak kunjung dimakan ikan. Melihat putranya marah-marah, Vander langsung mengusap kepalanya dan berkata, "Memancing butuh kesabaran. Sama halnya mencari perhatian seseorang, kau butuh waktu untuk membuat targetmu tertarik."


Kemudian Vander pun mencontohkan Rey cara memancing, dan tak lama kemudian, pancingan yang dilemparkannya pun bergoyang tanda umpannya sudah disambar ikan. Dengan segera, Vander langsung menarik pancingannya dan, dapat!


"Woah... ikannya besar!" Seru Rey takjub melihat ikan hasil pancingan papanya.


Setelah ditangkap, Vander malah melepaskan ikan itu lagi.


"Papa kenapa dilepas lagi?! Kan bisa dibawa pulang, nanti kita minta mama atau paman Robert buat memasaknya."


"Ikan tadi tidak bisa dimakan, lagipula memancing dengan cara begitu rasanya akan jauh lebih seru."


"Oh begitu ya?" Rey mengangguk paham.


"Papa... kau sangat hebat! Kau bisa melakukan banyak hal, tidak! Bahkan hampir semua kau bisa lakukan. Papa jago bertarung, pintar merakit, pandai berkuda, bisa menebangkan pesawat, bisa membetulkan mainan rusak, dan sangat pemberani. Kalau sudah besar nanti, aku akan seperti dirimu!"


Vander tersenyum menatap putranya dengan tatapan bangga. "Kau pasti bisa lebih hebat dariku."


"Kenapa kau bicara begitu?"


"Karena adikku nanti kan anak kandungnya papa dan mama, pasti akan jadi hebat dan keren seperti dirimu. Kalau aku— aku kan bukan anak kandungmu... Nyatanya ayah kandungku itu siapa, aku juga tidak tahu," ungkap Rey lalu tersenyum pilu.


Melihat putranya bicara begitu, seketika hati kecil Vander merasa seperti disayat pisau. Bagaimana mungkin darah dagingku sendiri bilang aku bukan papa kandungnya?


Tapi itu bukan salah Rey sama sekali, itu jelas salahku. Aku memang tidak pernah ada untuknya sejak dirinya dalam kandungan Lara.


Vander diam tertunduk. Sungguh ia merasa bersalah sekali saat ini, duduk disebelah putra kandungnya tapi putranya malah berpikir kalau dirinya bukan anak kandungnya.


"Rey, apa kau berpikir begitu?"


"Eh begitu apanya?"


"Apa kau berpikir aku tidak cocok jadi ayah kandungmu?"


Seketika Rey bingung. "Ma- maksud papa apa? Nyatanya kan memang dirimu bukan papa kandungku. Tapi meski begitu aku sangat-sangat suka dirimu pa..."


"Kau menyukaiku, lalu papa kandungmu bagaimana?"


"Itu..., aku sudah tidak peduli. Aku tidak peduli kalaupun papa kandungku tak menganggapku ada. Kan aku sudah punya punya papa Vander."


Vander mengepalkan tangannya seraya mengumpulkan keberanian hatinya. "Rey, kalau seandainya... aku ternyata adalah ayah kandungmu bagaimana?"


"Huh?" Rey seketika tertawa bingung. "Papa ini bicara apa sih!"


"Apa kau akan benci aku?"


Rey semakin bingung dan perasaannya seketika jadi cemas dan takut.


"Sudahlah, tidak usah bicara soal ini, toh aku kan—"

__ADS_1


"Tapi papa kandungmu itu kenyataannya memang adalah aku."


Rey seketika syok dan marah. "Papa bercandamu jadi semakin aneh!" Rey seketika jadi semakin takut kalau yang dikatakan pria dihadapannya ini benar.


Vander setengah tertawa dengan tatapan sedih. "Sayangnya aku tidak bercanda, aku memang ayah kandungmu nak..., aku—"


"Bohong!"


Rey menepis tangan Vander yang ingin membelainya. "Kau bohong! Papaku— mana mungkin! Dia itu jahat, dia pergi meninggalkanku dan mama! Ka- kau pasti sedang bicara bohong kan!" Reynder yang emosi pun tak kuasa menitikan air mata kesedihan dan kekecewaannya.


"Aku tidak bohong, aku— memang ayah kandungmu Rey."


"Diam...! Apa kau juga mau jadi orang jahat seperti pria itu?! Pria yang sudah meninggalkan aku dan mama bertahun-tahun?!"


"Aku minta maaf Rey, maafkan aku..." Ucap Vander begitu menyesalinya.


Air mata Reynder akhirnya pecah ia menangis sambil marah meluapkan emosinya. "Kenapa begini...? Kenapa kau muncul saat aku yakin aku sudah tidak mau lagi peduli dengan ayah kandungku?! Kenapa harus dirimu?! Katakanlah kau sedang bercanda!"


Vander tak kuasa ikut menitikan air matanya saat melihat putranya merasa sakit olehnya. Hati kecil Vander benar-benar tercabik dan terkoyak saat ini.


"Kau tahu, waktu itu betapa lelah aku menunggu dan berharap agar papaku pulang? Dan kau tahu, betapa sedihnya aku melihat mamaku menangis mengingat suaminya yang tidak pernah tahu kapan akan pulang? Juga apa kau tahu rasanya diejek anak pungut oleh anak lain karena tak punya papa? Serta apa kau tahu rasanya mamaku dibilang perempuan tidak baik hanya karena aku tidak punya papa saat itu? Itu sangat menyakitkan!" Pekik Reynder dengan suara memekak.


"Rey..."


"Hingga suatu hari aku melihatmu, disitu aku merasa yakin kau bisa menjaga dan melindungiku dan mama. Tapi kenapa malah begini kenyataannya! Kau jahat sekali...!"


Vander seketika meratapi ucapan putranya, dan menyesalinya. "Aku memang jahat, aku buruk, aku bukan suami dan ayah yang baik. Tapi kau tahu aku sung—"


"Sudahlah! Aku tidak mau lagi dengar, kau pria jahat! Aku benci padamu!" Pekik Reynder lalu berdiri diatas perahu karrna emosi.


"Rey kau jangan berdiri dan bergerak-gerak begitu, nanti kau bisa jatuh!" Pekik Vander khawatir.


"Aku mau pulang!" Seru pria kecil itu sambil menangis.


"Oke, aku akan bawa kita kembali ke darat, tapi kau duduklah jangan berdiri begitu nanti—"


Seketika gelombang danau naik dan membuat oleng perahu itu dan...


BYUR!


"Tolong! To- tolong! Uhghh... To- tolongghh..!"


Rey tercebur ke danau, dan sialnya karena pelampungnya tak dipasang benar akhirnya terlepas dan Rey pun sekeketika tenggelam


"Reynder!"


Meski Rey bisa berenang, tapi tetap saja anak seusianya tidak mungkin mampu bertahan di gelombang danau yang dalam. Rey tak bisa lagi menahan nafas, dadanya terasa berat sesak dan sakit. Ia sadar kalau saat ini ia tenggelam dan tak bisa berbuat apa-apa.


Apa aku akan meninggal? Aku baru tahu ayah kandungku dan malah langsung meninggal, ini sungguh tidak adil. Kenapa Tuhan, apa aku anak yang nakal? Samar-samar Rey melihat sosok datang berenang mendekatinya. Siapa itu? Apakah dia...? Rey menutup matanya.


Vander langsung seceepat mungkin membawa Rey naik keatas. Untungnya disana langsung ada speed boat yang dibawa Robert untuk membantu Vander dan putranya naik ke daratan.


"Nak bangun nak, jangan menakutiku!" Vander yang gemetar ketakutan mengguncang tubuh putranya yang tak sadarkan diri itu. Ia pun langsung memberikan CPR pada putranya.


"Uhuk! Uhuk!" Rey pun akhirnya sadar meski tak lama kemudian pingsan lagi.


"Reynder...!" Ujar Vander sambil memeluk erat putranya.


"Tuan apa sebaiknya—"


"Robert cepat panggil dokter ke villa sekarang!"


"Baik tuan."


Rey, maafkan aku... Aku ayah yang buruk!


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏


__ADS_2