Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Meredam Emosiku


__ADS_3

Setelah sudah merasa lebih tenang, Lara yang berada bersama Mira di kamarnya kemudian mulai bercerita ke Miranda latar belakang kejadian sebenarnya hingga tragedi paman tadi keracunan.


"Apa!? Jadi yang memberikan minuman itu padamu Akina? Dan itu artinya, orang yang sebenarnya ingin ia celakai itu kau, bukan pria tadi!" Miranda sampai syok mengetahuinya. "Akina dia sudah gila!"


"Aku juga tidak tahu kenapa dia sampai melakukan hal sejauh itu padaku. Padahal kita saja baru kenal dan aku tidak pernah menyakitinya," ungkap Lara merasa bingung dan marah. Ia marah pada dirinya karena tidak bisa waspada dalam bertindak dan memutuskan sesuatu.


"Seandainya aku tadi menurut perkataan Vander untuk membuangnya, mungkin hal buruk tadi tidak akan terjadi pada paman itu," sesal Lara.


Mira langsung merangkul gadis. "Sudahlah... jangan menyalahkan dirimu. Ini kan juga bukan salahmu, malah kau yang justru hampir jadi korbannya. Untungnya Tuhan masih melindungimu dari kejahatan wanita sialan itu."


"Ya kau benar," ucap Lara yang kini merasa sudah lebih lega.


"Tapi... " Lara nampak menajamkan sorot matanya. "Bagaimana pun Akina harus dapat ganjarannya, karena sudah melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain!." Lara bertekad untuk memberi pelajaran pada Akina.


**


Di rumah sakit, Vander dan Gavin terlihat masih menunggu di depan ruang IGD. Gavin terlihat agak cemas hingga membuatnya mondar mandir di depan pintu IGD. Sementara Van dia tampak tenang bersandar di tembok dengan kedua tangan tangan dilipat menyilang di depan dada. Meski begitu sorot matanya tidak setenang itu, pandangan matanya yang tajam seolah tengah mengisyaratkan kemarahan yang masih ia tahan.


Tak sampai beberapa menit akhirnya dokter yang menangangi pria yang keracunan tadi keluar dari IGD.


Gavin yang penasaran sekali dengan keadaan pria di dalam pun langsung menyerbu dokter tersebut. "Dokter, bagaimana keadaan paman tadi? Dia baik-baik saja kan?"


"Dia sudah baik-baik saja, untungnya kalian membawanya tepat waktu jadi masih bisa diselamatkan," jelas dokter.


"Jadi dia keracunan apa?" Telisik Vander.


"Dia keracunan minuman, kalau boleh tau dia habis minum apa?" Tanya dokter.


"Pria itu minum minuman herbal, yang aku juga tidak terlalu tau apa itu," terang Vander.


Dari catatan pemeriksaanku, sepertinya pria tadi keracunan Lycorin.


"Lycorin, apa itu?" Sahut Gavin.


"Lycorin adalah zat kimia yang cukup berbahaya. Zat itu biasanya terkandung di dalam batang bunga daffodil, dan jika di konsumsi dengan salah akan berefek buruk bagi pengonsumsinya. Efeknya mulai dari sakit perut yang parah, mual muntah, hingga gagal jantung. Tapi untungnya, kalian cepat membawa pria tadi kesini jadi dia sudah baik-baik saja sekarang."


"Dokter! Dokter bagaimana keadaan suamiku!" Ujar seorang nyonya paruh baya menghampiri dokter dengan berlinangan air mata.


"Apa kau istri Tuan yang ada di dalam?" Tanya Vander.


"Iya aku istrinya, bagaimana keadaan suamiku?"


"Nyonya tenanglah, suami anda sekarang sudah baik-baik saja di dalam. Berterima kasihlah pada kedua tuan ini, mereka yang membawa suami anda kemari," jelas dokter.


"Syukurlah... Tuan— aku sungguh terima kasih sudah menolong suamiku, terima kasih..." ucap Nyonya itu seraya ingin berlutut di depan Vander dan Gavin, namun oleh Van ditahannya.


"Nyonya kau tidak perlu berlutut begitu! Lebih baik kau ke dalam dan temui suamimu," terang Vander.


"Baik!" Wanita itu pun masuk ke ruangan IGD untuk melihat suaminya, dan karena sudah ada keluarganya Van dan Gavin pun bergegas kembali ke mess.


"Dokter kami permisi," ucap Gavin lalu menyusul Vander yang sudah jalan duluan.


**


Di perjalanan, Gavin yang tengah mengemudi seolah dibuat kaku dan tidak berani bicara apapun. Van yang duduk disebelahnya hanya tertunduk diam dengan   raut wajah dingin, dan sorot matanya yang sangat tajam. Pria itu terlihat seperti serigala yang sudah tidak sabar ingin menerkam musuhnya.


Kak Vander pasti sangat marah saat ini mengingat sebenarnya yang niat diracuni adalah Kak Lara bukan paman tadi. Aku jadi tidak berani bertanya apa-apa, ungkap Gavin di dalam hatinya.


"Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi menyetirnya!" Seru Vander dengan suaranya yang berat dan mengintimidasi.


"I- iya Kak, akan aku percepat lajunya!" Gavin pun langsung menaikan kecepatan mobilnya.


"Kak apa kau—"


"Aku mau membunuh orang," ungkap Vander dengan tenang namun terdengar menakutkan.


"Eh? Ma- maksudnya kakak mau membunuh Akina?" Tanya Gavin syok.


"Hama yang sudah berani mencoba menyakiti Lara dia harus mati!"


Aduh bagaimana ini? Mustahil bagiku menghentikan pria ini kalau sudah marah. Tapi kalau kak Vander membunuh orang tiba-tiba begini, bukankah malah akan bertambah rumit masalahnya, ditambah kini dia statusnya hanya orang biasa tanpa privileged. Gavin jadi bingung harus apa.


**


Setibanya di mess, Vander langsung menemui Lara di kamarnya.


"Vander kau sudah kembali?" Ujar Lara melihat kekasihnya itu masuk dan menghampirinya. Pria itu langsung memeluk Lara yang tengah duduk bersandar di ranjang dengan erat.


"Vander aku sudah ba-ik-baik saja kok, jadi tidak usah cemas," ucap gadis itu mulai agak sesak karena dipeluk terlalu erat oleh Van yang tubuhnya jelas lebih besar darinya. Vander lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Lara. Dengan tatapan jatamnya yang lembut pria itu membelai kedua pipi Lara.


"Aku bersyukur bukan kau yang meminumnya. Aku tidak bisa bayangkan betapa ketakutannya aku kalau seandainya kau yang meminumnya tadi," Vander tampak sangat mengkhawatirkan Lara.

__ADS_1


Lara tersenyum lalu mengusap lembut tangan Vander yang ada dipipinya. "Untungnya aku tidak apa-apa, dan itu semua juga berkat kau yang mencoba mengingatkanku agar waspada, tapi maaf..." Wajah Lara tiba-tiba berubah sendu. "Maaf karena aku tidak mempercayaimu saat kau suruh aku membuangnya."


"Hei dengar," Vander mengangkat dagu Lara. "Kau tidak perlu minta maaf, ini semua sama sekali bukan salahmu. Justru kau adalah korban sesungguhnya dari Akina, dia sengaja memberikan minuman itu untuk mencelakaimu."


"Tapi kenapa Akina mau mencelakaiku?" Tanya Lara serius.


"Soal Akina biar aku yang urus. Kau cukup duduk manis saja disini oke," pungkas Vander.


Gadis itu tersenyum menatap Van lalu mengecup lembut bibirnya. "Terima kasih karena selalu melindungiku."


"Itu gunanya pengawal sayang," balas Vander.


**


Di luar kamar Lara ternyata ada Mira dan Gavin yang ternyata tengah menunggu.


"Kenapa mereka di dalamnya lama sekali sih!" Keluh Gavin yang dari tadi tampak gelisah.


"Mereka pria dan wanita dewasa yang saling mencintai, harusnya kau tau kenapa mereka lama di dalam," ujar Miranda.


"Iya tapi masalahnya Kak Vander!"


"Ada apa dengannya?" Mira penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Gavin.


"Kak Vander bilang mau membunuh Akina."


"Apa? Membunuh!" teriak Miranda, yang kemudian mulutnya langsung dibekap oleh Gavin.


"Stt... jangan keras-keras bilang kata membunuhnya!" Omel Gavin.


"Apa si Vander itu sudah gila, main asal bunuh orang saja!" Ujar Mira sepelan mungkin, meski sebenarnya ia ingin sekali teriak rasanya.


"Oleh karena itu, satu-satunya yang bisa aku minta tolong cuma kak Lara." Karena menurut Gavin satu-satunya orang yang Vander turuti adalan Lara.


"Jadi Mira, tolong kau bantu aku bilang pada Kak Lara ya, supaya kak Vander tidak membunuh orang dan kembali jadi pembunuh berdarah dingin lagi."


"Lagi? Apa maksudmu lagi?"


Bodohnya aku keceplosan!


"Jawab, 'Lagi' itu maksudnya apa?!" Desak Mira.


"Lagi... lagipula maksudku! Ah sudahlah kita fokus saja urusan ini!" Gavin hampir saja keceplosan membahas tentang profesi Van dulu di crux yang telah banyak membunuh orang.


**


"Kemana ular betina itu bersembunyi?" UjarGavin.


"Itu Akina!" Seru Gavin.


"Vander? Gawat!" Akina yang panik melihat Van langsung kembali ingin melarikan diri. Namun sayanganya kalah cepat oleh pergerakan Van yang langsung mencegatnya.


Akina ingin kabur tapi sayangnya ada Gavin yang juga menhadangnya disisi lain.


"Va- Vander, aku- aku bisa jelaskan semuanya." Akina mendelik melangkah mudur dan ketakutan, melihat sisi dingin Vander yang seperti tengah mengintainya dengan aura mengerikan.


Bagaimana ini? Vander dia kali ini terlihat sangat menakutkan, apa dia akan membunuhku? Akina bergidik ngeri dan terus melangkah mundur hingga tak sadar dirinya sudah terpojok ke tembok dan tak bisa lagi lari.


"Vander, aku bi- bisa jelaskan, aku mohon! Errggh!"


Tanpa bicara sepatah katapun Van langsung mencengkeram leher Akina dengan satu tangan dan mencekiknya.


"Uhuk...!" Akina berusaha sebisa mungkin melepaskan tangan pria itu dari lehernya. Namun apa daya cengkeraman tangan Van terlalu kuat, ditambah oksigen ditubuh Akina makin berkurang hingga membuatnya lemas, wajahnya pun mulai membiru karena kekurangan oksigen.


Kak Lara kau dimana? Gavin panik melihat Van yang mulai hilang kontrol.


Tiba-tiba datanglah Johan yang langsung bersimpuh memohon di kaki Vander meminta agar dirinya melepaskan Akina. Dengan berlinangan air mata, pria berumur itu sampai memohon bersujud dikaki Vander. "Aku mohon lepaskan putriku, aku janji akan lakukan apapun asal jangan bunuh dia..."


"Kak Vander lepaskan dulu saja wanita itu," ucap Gavin memberanikan diri memintanya. Sayangnya Vander tidak semurah hati itu, ia yang sempat melonggarkan cengkramannya malah kembali mencengkram Akina.


Tak lama kemudian muncul Lara yang datang bersama Miranda mencoba menghentikan Vander.


"Van lepasakan dia!" Seru Lara sambil berjalan ke arahnya. Pria itu menoleh menatap Lara yang kini sudah ada didekatnya. Dengan lembut Lara meminta agar Vander mau melepaskan Akina.


Melihat tatapan mata Lara yang memohon, ia pun luluh dan akhirnya melepaskan Akina dengan kasar. Lara langsung menggengam tangan Van yang masih tegang seraya menenangkannya.


Akina yang hampir kehabisan oksigen akhirnya pingsan di lantai. Lara pun menyuruh Johan membawa wanita itu ke rumah sakit untuk ditangani.


Gavin akhirnya bisa bernafas lega.


"Untung saja, Kak Lara segera datang, kalau tidak wanita itu mungkin sudah jadi mayat," ungkap Gavin.

__ADS_1


"Kenapa kau menghentikanku? Wanita licik itu sudah berniat mencelakaimu!"


"Aku tau, tapi kau tidak perlu mengotori tanganmu untuk membalasnya, wanita itu terlalu menjijikan untuk kau sentuh langsung," ucap Lara.


"Tapi—"


"Sst...! Jangan protes dan menurut saja padaku. Ini sudah gelap lebih baik sekarang kita ke kamarku," ajak Lara kemudian memeluk lengan padat sang kekasih, dan mengajaknya pergi. Tanpa perlawanan akhirnya Vander pun menuruti kekasihnya itu.


"Pokoknya mulai besok aku selamanya dipihak Kak Lara," ucap Gavin spontan.


"Heh kenapa bilang begitu?" Tandas Mira menatap pria disebelahnya dengan aneh.


"Karena Kak Vander takut sama kak Lara," pungkasnya.


"Ah benar juga katanya."


***


Setibanya di kamar Lara, gadis itu langsung menguncinya dari dalam.


"Kenapa kau menghentikan ku dan malah membawaku kesini?" Tandas Van yang tampak masih sedikit emosi.


Gadis itu melingkarkan kedua tangannya dileher Van lalu berjinjit mencium bibir kekasihnya itu.


"Apa kau masih emosi?" Tanya Lara.


"Ya!"


Lara kemudian kembali mengecup bibir Vander, kali ini gadis itu mengecupnya dengan lebih intens hingga membuat bibir Van yang agak kering jadi basah.


"Kalau sekarang?"


"Kau ingin meredam emosiku?" Ucap Vander.


"Iya," angguk Lara.


"Kalau begitu berjanjilah turuti semua perintahku!"


"Oke!" jawab Lara tanpa protes.


"Sekarang berdirilah disini!"


"Huh?" Lara membulatkan matanya, ia tidak tau apa yang ingin Van lakukan padanya. Pria itu malah duduk disisi rajang, menyatukan kedua tanganya untuk menyangga dagu, dan terus memandangi Lara dengan tatapannya yang tajam dan sensual.


"Apa yang harus aku lakukan? Ke- kenapa kau memandangiku bagitu?" Lara jadi grogi dibuatnya.


"Lepas bajumu," titah Vander.


"Eh, ke- kenapa tiba-tiba?"


"Kau bilang mau meredam emosiku kan, karena itu lakukan yang aku minta. Kenapa tidak mau?"


"Um— bukan begitu, hanya saja... Aku agak malu kalau dilihati begitu."


Van tersenyum licik. "Malu? Aku hampir setiap hari melihatmu tanpa sehelai benang pun, kenapa masih malu?" Goda Vander.


"Tidak bisakah—"


"Kau sudah berjanji menurutiku Lara..."


Pada akhirnya Lara pun melakukannya. Satu persatu ia menanggalkan seluruh pakaiannya sambil terus dilihati Vander. Pria gila! Rasanya Lara ingin teriak begitu didepan Vander. Sayangnya sulit, karena sekedar menatapnya saja Lara rasanya malu. Padahal sudah setiap hari berhubungan dengannya, tapi kenapa kali ini malu sekali...!


"Su- sudah," tandas Lara yang kini berdiri tanpa sehelai benang pun sambil mendekap kedua tangannya di dada.


"Jangan coba menutupi bagian manapun, aku mau melihati tubuh indahmu tanpa terhalangan apapun,"


"Vander ini memalukan!" Protes Lara tidak berani menatap kekasihnya itu.


Pria itu menyeringai licik matanya seolah menelisik tajam tiap pergerakan yang Lara lakukan.


"Kemarilah!" Vander membuka kedua tangannya kedepan seranya ingin memeluk, meminta wanitanya duduk menghadap dipangkuannya.


Kali ini Lara melakukannya tanpa protes, ia melangkah perlahan melebarkan kedua kakinya lalu duduk diatas pangkuan Vander. Kini wajah keduanya saling berhadapan dengan sangat dekat. Pria itu tersenyum puas melihat Lara melakukan semua yang ia minta.


"Sekarang cium aku seliar mungkin," titah Vander.


Lara seketika melenan ludah, ia pun melingkarkan tanganya dileher Van dan langsung mencium kekasihnya itu dengan intens. Vander yang langsung meladeni ciuman panas Lara pun memeluk gadisnya itu dengan erat.


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


⚠️ SEKALI LAGI DIINGETIN, BUAT YANG DIBAWAH 18 TAHUN GET OUT YA! 🙏


__ADS_2