Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Naik Motor berdua


__ADS_3

"Maafkan aku karena lama datangnya kak, tapi kau jangan marah begitulah," Ucap pengendara motor dengan nada bergurau.


Siapa dia pria ini? Apa dia montir yang ditelepon Van barusan?


Dari penglihatannya, Lara melihat kalau teman Van itu memiliki postur lebih kurus dan sedikit lebih pendek dari Vander, wajahnya juga lumayan tampan dan terlihat masih sangatlah muda, dan sepertinya orangnya jauh lebih ramah dibanding Van.


"Wah! Siapa nona cantik di sebelahmu itu Kak Vander?" Tanya pria itu saat melihat sosok Lara yang berdiri disebelah Van.


"Hai, aku Lara Hazel kau montir temannya Vander yang tadi diteleponnya kan?" Ujar Lara dengan ramah.


"Hai Nona Lara Hazel yang sangat cantik, Namaku Gavin. iya setelah hampir satu tahun lamanya akhirnya barusan itu Kak Van baru meneleponku lagi," ungkapnya.


"Barusan? Bukannya tadi sebelumnya juga kalian sudah teleponan?" Lara jadi bingung.


Van seketika memberikan tatapan tajam nan mematikan ke arah Gavin. Eh ke- kenapa dia jadi menatapku dengan seram begitu? Oh jangan-jangan? Sepertinya Gavin mulai paham maksud tatapan tajam Vander padanya.


"Eh- i- iya Nona Lara tadi itu aku lupa. Aku sudah beberapa kali kok di telepon Kakak," ucap Gavin sambil melirik Van yang akhirnya sudah tidak menatapnya dengan mata seram lagi.


"Oh Begitu ya?" Lara merasa seperti masih ada yang mengganjal dengan jawaban Gavin.


"Sudah jangan banyak bicara cepat periksa mobil ini!" Perintah Vander.


"I- iya Kak Vander biar aku ambil peralatanku dulu," ujar Gavin yang kemudian segera mengambil kotak perkakasnya dan mulai memeriksa mesinnya.


Melihat interaksi Van dan Gavin membuat Lara lagi-lagi melihat sosok lain pada diri Van yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Perlakuan pengawalnya kepada Gavin mungkin sekilas terlihat seperti kakak yang kejam dan suka mem-bully, tapi dibalik itu semua kelihatan kalau Van sesungguhnya sangat peduli dan percaya pada Gavin. Tanpa sadar Lara jadi dibuat senyum-senyum sendiri melihat interaksi kedua pria itu.


Lara menghampiri Vander dan Gavin yang tengah memeriksa mesin mobilnya. "Jadi, ada masalah apa dengan mobilku?" Tanya Lara penasaran.


"Setelah aku periksa sepertinya ada masalah di fuel injectionnya, makanya pembakarannya jadi tidak stabil, sepertinya memang sudah harus diganti," jelas Gavin.


"Oh tadi aku tidak kepikiran mengecek komponen itu," Dalih Vander yang seperti tidak mau terlihat tidak pandai di depan Lara.


"Kak Van kau boleh jauh lebih hebat dalam banyak hal, tapi soal mesin otomotif nyatanya aku kan memang lebih jago daripada kau," seloroh Gavin seraya membanggakan dirinya.

__ADS_1


"Iya iya! Sudah jangan banyak bicara!" Balas Vander tidak mau mengakui terang-terangan keunggulan Gavin.


Sepertinya Kak Vander suka sama Nona Lara? Terlihat dari dirinya yang seperti tidak mau kelihatan kalah denganku di depan gadis itu. Gavin lalu melirik ke arah Van, sayangnya malah di balas dengan tatapan garang olehnya. "Ada apa melirikku begitu?"


"Ti- tidak apa-apa kok Kak," Ah aku lebih baik diam saja deh!


Disisi lain Lara justru malah tertawa kecil dibuatnya dengan tingkah Van yang tidak suka terlihat kalah. Aku baru tau ternyata Vander itu anaknya tidak mau terlihat kalah.


Van menyadari Nonanya itu menertawakannya, ia jadi agak malu. "Nona Lara daripada kita disini bersama Gavin yang tidak seru ini, kenapa kita tidak jalan-jalan naik motor saja?" ajak Vander.


"Naik motor?"


"Iya," Van melihat ke arah motor Gavin yang terparkir di dekatnya.


Seumur hidup Lara memang belum pernah merasakan rasanya naik motor. Jadi mumpung ada kesempatan tentu saja ia ingin mencobanya.


"Tapi kalau Nona tidak mau juga tidak apa-apa," pungkas Vander.


"Nona Lara harus mencoba rasanya naik motor, apalagi Kakak Van itu selain jago mengendarai mobil dia juga cukup ahli mengendarai motor," pungkas Gavin yang sudah paham maksud isi kepala Vander.


"Kalau itu Nona tenang saja aku akan bantu Nona naik," terang Van.


"Selain itu Rok yang aku kenakan juga pendek," ungkap Lara yang mengenakan rok pensil diatas lutut.


Tiba-tiba Van melepaskan jasnya dan memberikannya pada Lara untuk dipakainya. Karena Perbedaan ukuran dan tinggi badan keduanya, jas Vander pun jadi terlihat cukup kebesaran dibadan gadis. itu. Van memberikan jasnya bermaksud agar saat Lara membonceng nanti jas Van bisa menutupi bagian paha Lara yang terekspose saat duduk di motor.


Permasalahan sudah terselsaikan, akhirnya Lara siap untuk naik motor bersama pengawalnya. Vander menggulung kemeja berwarna gelapnya sampai ke siku. Ia juga mengenakan helm dan memberikan helm satu lagi yang kebetulan Gavin bawa kepada Lara untuk dipakainya.


Van sudah duduk diatas motor dan siap mengendarai. Lara yang baru pertama kali naik motor agak kesusahan menaiki motor sport yang ditunggangi Van saat ini.


Gavin berniat membatu Lara naik tapi sudah duluan dipelototi oleh Vander alhasil ia tidak jadi melakukannya.


"Nona caranya kau pegang pundaku dengan kuat lalu kau injak pijakan kakinya dan naik perlahan," ucap Vande memberi instruksi.

__ADS_1


Lara pun mengikuti persis seperti apa yang Van katakan. Dan akhirnya ia berhasil membonceng dibelakang Van.


"Nona harus berpegangan," ucap Van.


Lara dengan ragu-ragu melingkarkan tangannya ke tubuh Vander.


"Merapat dan berpegangan yang kuat ya Nona," pinta Vander.


Lara pun mempererat pelukannya ke tubuh Van. Karena Van saat ini hanya mengenakan kemeja, alhasil tangan Lara jadi bisa leluasa merasakan otot-otot perut Vander yang sixpack dan keras. Detak jantung Lara seketika jadi tak beraturan. Bagaimana tidak? Tubuhnya kini berada menempel tanpa sekat dengan punggung Van.


"Nona siap?" Tanya Vander.


"Iya."


Vander pun akhirnya melajukan motor yang dikendarainya itu.


Gavin yang melihatnya hanya bisa cengar cengir dibuatnya. "Hampir tujuh tahun aku kenal Kak Vander, baru kali ini aku lihat dia sampai seperti itu pada seorang wanita," ucapnya.


"Tapi ngomong-ngomong Nona Lara itu siapa ya?" Gavin jadi penasaran kenapa Van bisa tunduk sekali pada Lara. Terakhir kali dirinya melihat Van masih jadi gelandangan buruk rupa, sekarang malah jadi semakin keren saja penampilannya.


"Ah sudahlah, biar nanti aku tanyakan itu pada Kak Van. Sekarang lebih baik aku urus mobil ini dulu sebelum pria itu kembali dan berubah jadi iblis pencabut nyawa karena lihat aku belum selesai," pungkas Gavin.


**


Lara yang awalnya takut dibonceng naik motor, perlahan malah jadi menikmatinya. Apalagi Lara bersama Van, ia yakin pria itu pasti akan menjamin keselamatannya. Lara memeluk Van dengan sangat erat bahkan sesekali meremmas perut Vander yang berotot itu karena ketakutan saat tiba-tiba ngebut. Lara menyandarkan kepalanya ke punggung Van yang lebar dan kokoh. Lara baru tau kalau jalan-jalan dibonceng motor begini sangatlah seru. Duduk dibonceng sambil merasakan hembusan angin di musim gugur, ditambah punggung Van yang hangat dan kokoh benar-benar memanjakannya. Kalau begini aku jadi ingin sering-sering dibonceng oleh Vander naik motor seperti ini.


Sepertinya Nona Lara merasa nyaman dibonceng olehku. Lain kali aku akan ajak dia jalan-jalan naik motor milikku sendiri.


"Nona Lara aku mau ngebut kau peluk yang erat ya..." ucap Vander.


Lara pun langsung memeluk Van seerat mungkin. Rasa takut dan tegang seolah tak lagi aku rasakan, asalkan bersama pria yang ku peluk erat saat ini aku yakin semua akan baik-baik saja.


Bersambung...

__ADS_1


⚠️****JANGAN LUPA DI VOTE, LIKE, DAN KOMEN YA GAIS YA**** SEBAGAI BENTUK PENGHARGAAN BUAT AUTHORNYA💜


__ADS_2