Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Membentaknya


__ADS_3

Hari ini Vander membuat kejutan tak terduga, dengan pulang saat jam makan siang tanpa memberitahu istrinya lebih dulu.


"Vander kau kenapa pulang tiba-tiba?" Tandas Lara yang kaget melihat suaminya tiba-tiba saja sudah ada dirumah saat ini. Padahal Vander tak bilang mau pulang ditambah Lara sama sekali belum menyiapkan makan siang.


Vander mencium kening istrinya dan berkata, "Tiba-tiba aku merasa rindu dengan istriku dan ingin makan bersamanya."


"Tapi aku belum minta bibi Frida menyiapkan makan siang," ungkap Lara.


"Nyonya tenang saja, aku sudah masak dan sebentar lagi siap. Nyonya silakan temani tuan saja dulu, nanti akan aku panggil kalau sudah siap makan siangnya," ucap Frida.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih bibi..."


"Sama-sama nyonya."


Sambil menunggu hidangan makan siangnya siap, Vander duduk berduaan disofa dengan istrinya yang saat ini bersandar manja ditubuhnya. Keduanya berpegangan tangan tangan sambil sesekali mengusap perut buncit Lara yang sudah berusia tujuh bulan lebih.


"Sayang, kau janji ya... di persalinan nanti kau akan temani aku," ucap Lara dengan nada manja.


"Tentu saja, akan kutemani dirimu di persalinan nanti. Aku juga akan selalu berada disisimu," balas Vander lalu mengecup tangan sang istri.


"Oh iya Vander, selain itu... Kau tahu kan berita yang sekarang ini heboh di kota kita, tentang hilangnya orang-orang secara misterius? Jujur aku khawatir sekali..."


"Tenang saja aku akan melindungimu dan keluarga kita. Tidak boleh ada yang macam-macam dengan keluargaku."


"Tapi tetap saja, aku khawatir denganmu dan Rey. Kalian kan suka aktivitas diluar, terutana Rey, dia harus dijaga terus aku tidak mau sampai ada hal buruk terjadi padanya."


"Kalau begitu aku akan tambah pengawal lain untuk menemani Tori mengawasi Rey."


"Terima kasih, kau memang suami dan ayah terbaik," ungkap Lara senang.


"Tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah kewajibanku sebagai kepala keluarga."


Mereka pun berciuman mesra sayangnya kemesraan itu hanya bejalan singkat, karena tiba-tiba saja Frida datang memberitahukan kalau makan siangnya sudah siapa.


"Eh, maaf tuan, nyonya, aku tidak tahu kalian sedang—" Frida jadi merasa tidak enak hati karena menganggu kemesraan tuannya.


"Its okey, sepertinya kita memang ditakdirkan harus segera makan siang," tandas Lara yang kemudian bangkit dan langsung mengajak suaminya kemeja makan.


"Bisakah makannya nanti saja?" Keluh Vander yang sepertinya lebih ingin makan yang lain.


"Tidak sayang, kita harus makan, kau kan harus ke kantor lagi."


"Aku tidak harus kembali kekantor, aku kan CEO-nya."

__ADS_1


"No! Sebagai pimpinan kau harus jadi panutan utama seluruh karyawanmu. Lagipula kau lupa, aku pemilik perusahaannya. Dan sebagai bos besar aku tak mengizinkanmu bolos, jadi anak baik lebih baik sekarang kau segera cuci tangan lalu kita makan siang okey?"


"Okey...," jawab Vander pasrah.


Setelah selesai makan siang, Vander pun izin pamit kembali ke kantor, dan sebelum Vander pergi, tiba-tiba saja ia memperingatkan Lara agar jangan lagi dekat atau berhubungan dengan Reki.


"Loh memangnya kenapa? Apa kau cemburu padanya sayang?" Balas Lara dengan menggoda suaminya.


"Iya aku cemburu, kau terlalu cantik dan aku takut dia akan merembutmu dariku."


Lara tertawa. "Apa kau sedang tidak percaya diri, sampai berpikiran begitu? Padahal dari segi apapun kau tetap pemenangnya sayang," tandas Lara.


"Aku hanya—"


"Vander jujur padaku, ada apa sebenarnya?" Lara sejatinya tahu  kalau tujuan Vander bicara begitu bukan sekedar ia cemburu, melainkan ada hal lain yang ia sedang khawatirkan.


"Baik biar kusederhanakan, aku tidak suka dengan Reki dan aku ingin kau tidak lagi bergaul dengannya."


"Ta- tapi kenapa? Reki, dia tidak pernah melakukan hal yang buruk. Dia juga bertingkah sewajarnya saja kalau kita mengobrol, tapi kenapa?"


"Lara kumohon jangan membantah dan menurut padaku," ucap Vander penuh penekanan.


"Aku ingin menurut padamu tapi tolong beri aku alasannya kenapa?"


Lara mengernyitkan kening, "Bukan orang yang baik ma- maksudmu apa? Vander tolong katakan sejujurnya ada apa memangnya, apa ada yang kau tahu tentang Reki," desak Lara.


"Intinya aku tahu dia orang yang tidak baik." Aku belum bisa mengatakan sebenarnya secara gamblang tapi aku tidak bohong, firasat dan intuisiku mengatakan Reki bukan orang yang bisa dipercaya.


Lara menghela nafas. "Kau ini, aku tahu kau hebat dalam membaca situasi. Tapi kadang kau ini suka aneh, memintaku melakukan hal tanpa alasan yang masuk akal. Apa kau seposesif itu padaku? Apa kau tidak percaya padaku dan berpikir aku akan menghianatimu, apa kau—"


"Cukup Lara! Aku tidak mau dengar bantahanmu lagi. Yang jelas patuhi saja yang aku katakan karena semua demi kebaikanmu, paham!" Vander yang hampir tidak pernah membentak istrinya, kali ini Vander sungguhan marah padanya. Lara sendiri tak menyangka suaminya akan semarah itu.


"Kau memang terlalu dominan Vander, bahkan padaku." ucap Lara tampak sedih.


"Lara, aku—"


"Sudahlah, kau harus segera kembali ke kantor. Aku mau istirahat dulu," ucap Lara lalu pergi ke kamarnya.


Vander hanya bisa menghela nafas, ia benar-benar impulsif hari ini.


"Tuan pergilah, biar aku yang bicara nanti dengan nyonya... Sepertinya dia hanya agak syok saja karena anda membentaknya," tandas Frida mencoba menengahi.


Frida benar, Lara pasti kaget kubentak keras seperti tadi. "Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Dan Frida tolong kau awasi istriku, jangan biarkan dia bertemu dengan Reki ataupun keluar sendirian. Kau paham?"

__ADS_1


"Baik tuan, aku paham."


"Bagus, kalau begitu aku pergi." Vander pun pergi untuk kembali ke kantor.


...----------------...


Saat mau turun kebawah, tidak sengaja Vander bertemu dengan Reki di dalam lift, karena kebetulan Reki juga mau turun ke lantai dasar. Keduanya tampak agak canggung berada berdua di dalam lift yang sama. Karena tak mau kecanggungan itu terus mengelilingi mereka, Reki pun membuka percakapan dengan bertanya kabar Vander. Sayangnya, oleh Vander hanya ditanggapi datar pertanyaan Reki tersebut.


"Tuan Vander sepertinya kau memang benar seperti yang diberitakan media, yakni orang yang serius dan dingin. Apa saat bersama nona Lara yang ceria dan banyak bicara, anda juga begini?"


"Apa aku harus jawab pertanyaanmu?"


"Hahaha tentu saja tidak harus, anda jangan terlalu serius itu membuat orang jadi takut padamu," sahut Reki dengan nada gurauan. Dan lagi-lagi Vander yang raut wajahnya datar saat ini tak merespon ucapan Reki.


"Suasana tuan Vander sepertinya sedang tidak baik, apa kau sedang bertengkar dengan istrimu yang cantik itu?"


Vander melirik tajam Reki disebelahnya, dan ia pun tertawa kecil, "Sepertinya kau ini selain bekerja sebagai konsultan bisnis, kau juga jadi pakar ekspresi?"


"Tuan Vander kau bisa saja. Tapi sungguh kau dan nona Lara itu tampak kontras sekali. Nona Lara sangat ceria dan suka bicara, sementara kau dingin dan tak terlalu banyak bicara. Aku hanya berpikir, apa tidak sulit menjalani rumah tangga dengan kepribadian yang saling bertolak belakang?"


"Tentu saja tidak sulit, buktinya hubungan kami sudah mau menghasilkan dua anak. Dan kanapa tuan Reki bicara begitu? Apa kau berpikir kalau aku tidak cocok jadi suami Lara?" Kali ini Vander balik menyerang Reki.


"Bukan begitu— hanya saja, aku lihat kau terlalu serius untuk nona Lara yang ceria."


"Kau sepertinya tau sekali tentang istriku, apa kau memperhatikannya? Oh atau kau suka pada istriku


Reki tertawa. "Tuan Vander, memang ada pria normal yang tidak tertarik dengan istrimu? Dia sangat cantik dan menarik, pria mana akan menolaknya termasuk aku."


"Begitu ya? Tapi—"


"Eughhh, uhuk! A- apa yang kau lalukan, ka- kau mau mau membunuhku?" Reki langsung kesakitan seketika lehernya di cekik oleh Vander. Ia pun meronta mencoba melepaskan cengkraman tangan itu.


"Kuperingatkan padamu, jangan main-main denganku. Aku tidak peduli nyawa siapapun jika dia berani menganggu istriku, aku tidak akan segan menghabisinya dengan tangaku sendiri."


Reki akhirnya bisa melepaskan cengkraman tangan Vander di lehernya itu. "Heh, apa kau takut aku merebut nona Lara darimu tuan Vander?" Ucap Reki berusaha memprovokasi.


"Tidak ada yang bisa merebut istriku dariku," ucap Vander lalu keluar dari lift meninggalkan Reki.


"Cih! Kau pikir kau hebat pria busuk, lihat saja, apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku ingin lihat, apa kau masih bisa bicara sombong nantinya Vander? Kau lupa aku bukan lagi Jeden, aku Reki yang akan melakukan hal apapun untuk tujuanku."


...🍁🍁🍁...


HAI JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, VOTE DAN GIFTNYA YA TEMAN-TEMAN, SUPAYA AKU SEMANGAT NULISNYA 🙏

__ADS_1


__ADS_2