Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Hidupku bukan untuk masa lalu


__ADS_3

Terlihat Vander tengah mengunjungi Aron di sebuah toko barang-barang antik tempat dimana temannya itu bekerja.


"Tumben sekali kau kemari?" pungkas Aron yang terlihat tengah mengelap satu persatu barang-barang antik jualannya tersebut.


Van lalu duduk disalah satu kursi besi antik yang ada toko milik temannya itu. Karena tidak mau basa basi, ia pun langsung ke intinya bertanya kepada Aron mengenai insiden di ballroom hotel rosevelt pada malam itu.


"Kau ingin bertanya darimana aku tau kalau Eva dalang kekacauan di malam itu bukan?"


"Ya!"


"Soal itu sebenarnya..." Aron langsung menceritakan semuanya yang ia ketahui kepada temannya tersebut.


"Jadi kau masih berhubungan dengan mereka?" Dengan raut wajah serius, Van duduk sambil menyangga dagunya dengan jemari yang saling berkait.


"Kadang-kadang saja, itu pun karena ada beberapa anggota Crux yang memang menjadi pelanggan di tokoku ini," jelas Aron.


"Dan kau sudah tau tujuan Eva datang ke kota ini?"


"Belum, kalau soal itu aku agak sulit medapatkan infonya." Sulit bagi Aron menembus dinding keterbatasan informasi, mengingat Eva sendiri salah adalah satu anggota yang cukup dekat dengan tuan Gauren pemimpin Crux itu sendiri.


"Kau pun tau sendiri, tuan Gauren hanya dekat dengan segelintir orang saja di Crux, dan salah satunya kau!"


Vander hanya bisa mengulum senyum masam menanggapi ucapan Aron barusan.


"Oh iya Van ada yang ingin aku tanyakan padamu soal Eva."


Vander melirik tajam ke arah Aron.


"Aku ingin tanya apa diantara kau dan Eva ada urusan yang belum terselesaikan?"


"Kenapa kau tanya begitu?"


"Hanya ingin tahu saja, karena aku lihat motif Eva mencarimu bukan hanya karena tuan Gauren yang minta, tapi ada hal lain. Apa ada hubungannya dengan Nagisa?"


Vander beranjak dari kursi dan mengehela nafas. "Semua itu sudah masa lalu, Nagisa dia pun sudah tenang diatas sana."


"Apa kau masih mencintai Nagisa?" Selidik Aron.


Van setengah tertawa. "Nagisa memang punya tempat khusus dihatiku. Tapi hidupku saat ini bukan untuk masa lalu." Bagi Vander saat ini tidak ada wanita lain selain Lara, yang bisa memenuhi seluruh hati dan pikirannya.


"Baiklah Ron kalau begitu aku pergi dulu," Tanpa basi-basi Vander langsung pergi meninggalkan toko barang-barang antik tersebut.


**


Diruangannya Lara yang kini duduk bersandar dikursi kerjanya sambil memegangi pelipisnya tampak kelelahan. Kejadian di ruang meeting tadi, benar-benar seperti tamparan keras untuk dirinya.

__ADS_1


Melihat para jajaran direksi dan kelapa divisi, dengan terang-terangan meragukan kapasitasnya membuat Lara semakin berada diambang keputus asaan sebagai pemimpin. Pikirannya kini buntu karena dibayang-bayangi oleh kekhawatiran dan tekanakan dari berbagai pihak.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mempertahakan perusahaan ini tapi kenyataannya mereka seolah ingin aku mundur jadi CEO."


Lara pun kian merasa kecewa pada dirinya sendiri. Terutama saat Jeden melontarkan kata-kata yang menjatuhkannya di ruang meeting tadi. Sejujurnya Lara memang tidak terlalu ingin menjadi CEO, namun sebagai pewaris tunggal keluarga Hazel, ia wajib mempertahankan perusahaan keluarganya terutama dari orang-orang licik yang ingin menguasai Miracle dengan cara yang kotor. "Huh! Kenapa ini jadi semakin berat saja rasanya," pungkas Lara mulai lelah dengan dirinya sendiri.


Tak lama ponsel Lara berdering, terlihat nama Karina terpampang dilayar ponsel milik Lara.


Lara : Halo ada apa?


Karina : Aku mau kita bertemu sekarang!


Lara : Ada apa kenapa tiba-tiba.


Karina : Kau akan tau nanti, yang jelas sekarang kau temui saja aku di kafe dekat kantorku.


Lara : Oke!


-


Sepertinya ada hal penting yang ingin dikatakan Karina. Tanpa perlu berpikir panjang gadis itupun langsung pergi untuk menghampiri Karina. Tadinya Lara mau menelepon Vander, namun niat itu ia urungkan dan malah memilih untuk menyetir mobil sendirian menemui Karina.


**


Gadis itu langsung menarik kursi dan duduk menghadap Karina. "Ada apa terburu-buru memintaku datang kemari?"


"Wah Nona Lara sepertinya kau jadi suka to the point sekali ya?"


"Sudah katakan saja ada apa?" Desak Lara.


"Baiklah..." Karina menyeruput tehnya sekali lalu mengatakan pada Lara kalau, "Aku ingin kerjasama antara Appletree dan Miracle dibatalkan."


"Apa?!" Lara syok dan langsung merasa tidak terima. "Kau tidak bisa begitu Karina! Kita kan sudah sepakat."


"Tentu saja aku bisa! Jika kau sudah baca betul-betul kontraknya, disana jelas tertulis kalau aku bisa kapan saja membatalkan perjanjian kita."


Kedua tangan Lara mengepal kuat, matanya menatap tajam penuh emosi yang membuncah ke wanita dihadapannya itu.


"Kenapa? Kau mau marah padaku?" Karina seraya menantang emosi Lara.


"Sejak awal, sejak awal kau memang tidak berniat bekerjasama denganku kan?!"


"Iya memang, memang sejak awal tujuanku mau bekerjasama denganmu hanya satu, yaitu supaya aku bisa lebih mudah berinteraksi dengan Van, jelas!" Karina tampaknya semakin ingin terang-terangan mendeklarasikan ketidaksukaannya pada Lara.


Geraham Lara mengatup, ia benar-benar tak bisa lagi menahan emosinya pada Karina.

__ADS_1


"Dasar wanita licik!" Lara mengambil gelas minuman yang ada di hadapannya dan langsung menyiramkannya ke wajah Karina.


"Huh hah! Apa-apaan ini, beraninya kau menyiramku, dasar wanita binal!"


"Itu balasan untuk wanita licik sepertimu Karina!" Pungkas Lara lalu pergi meninggalkan Karina yang basah karena disiram.


"Arggh... dasar wanita binal sialan! Brengsek!" Pekik Karina marah-marah tak terima perlakuan Lara padanya.


**


Sementara Lara pergi dengan perasaannya yang kacau. Bagaimana tidak, Hari ini ia sungguh seperti ditampar berkali-kali koleganya. Setelah dipojokan dan disindir  habis-habisan di ruangan meeting oleh Jeden, kini ia masih harus menerima kenyataan pahit dari Karina yang dengan seenaknya memutus kerjasama dengannya.


Gadis itu masuk ke mobil dengan perasaan marah dan kecewa. "Sial!" Pekiknya.


"Kenapa semua jadi begini? Kenapa aku seperti tidak berguna, aku punya jabatan tapi kenapa malah aku yang bertidak seolah seperti pion kecil yang tidak berdaya. Kenapa...?!"


Dengan perasaan kacau dan stress Lara mengendarai mobilnya sendirian tanpa tau arah akan kemana. Sampai akhirnya sang pengawal meneleponnya saat itu juga. Lara yang tak menggunakan wireless ditelingannya, akhirnya terpaksa mengenhentikan laju mobilnya lalu mengangkat telepon dari Vander.


Lara : Halo


Vander : Nona kau dimana?!  (Bentak Van terdengar khawatir)


Lara : Aku baik-baik saja.


Vander : Jawab yang benar kau ada dimana sekarang?!


Lara : Aku di pinggir jalan,


Vander : Nyalakan terus GPSmu aku akan menemuimu!


Lara : Hem!


Van yang merasa sangat khawatir langsung bergegas pergi mencari kekasihnya itu.


*


Lara yang kini berada duduk dipinggir danau, terlihat hanya termenung sendirian sambil memandangi danau yang dihinggapi para angsa putih yang sedang berenang.


"Melihat para angsa yang berenang dengan suka cita aku jadi iri, pasti hidup mereka selalu bahagia."


"Semua makhluk yang hidup di dunia pasti pernah mengalami kesulitan Nona!" Seru seorang pria.


Bersambung...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2