Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Tamu tidak penting


__ADS_3

"Mau apa kau kemari?" Pungkas Vander melihat sosok Jeden datang kemari malam-malam.


"Siapa yang datang sayang?!" Teriak Lara dari dalam.


"Bukan siapa-siapa ISTRI-ku, hanya tamu tidak penting," balasnya sambil menatap Jeden yang kini sudah terbakar api cemburu. Vander sendiri sengaja menyebut penekanan kata 'istri' di hadapan Jeden untuk memanas-manasinya.


Baj¡ngan tengik ini, beraninya menyebutku tamu tidak penting! Jeden yang sudah sejak tadi terbakar api cemburu melihat Vander dengan kondisi tanpa atasan memanggil Lara dengan sebutan ISTRI, ingin sekali meninju wajahnya yang bertampang tengil itu.


"Aku mau bertemu Lara!" Tegas Jeden.


"Oh maaf tapi istriku sedang istirahat."


Lara yang penasaran dengan siapa tamu yang datang, segera memakai kimono tidurnya untuk menutupi gaun tidurnya yang tembus pandang dan menghampiri Vander.


"Siapa yang datang?" Lara lalu melihat ke ambang pintu dan mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat. "Jed kau?"


"Lara kau baik-baik saja kan?"


"Um ya, aku baik-baik saja Jeden."


"Syukurlah... Aku takut sekali tadi melihat berita Karina menculikmu."


"Pfftt...!"Vander tmeledek.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku Jed, tapi aku sungguh baik-baik saja. Ini semua karena Vander menolongku dengan segera," ungkap Lara.


"Nah, sudah kan hanya mau bilang itu? Kalau sudah silakan pergi tuan Jeden," ucap Vander mengusir halus.


Jeden yang sudah sejak tadi menahan marah pun berteriak pada Vander. "Aku tidak ada urusan denganmu!"


"Tapi Lara sekarang istriku, jadi apapun urusanmu dengannya akan jadi urusanku juga!"


"Cih! Omong kosong!"


"Hei kalian, ini sudah malam tolong jangan buat keributan yang bisa mengganggu penghuni lain!" ucap Lara.


"Kau harusnya beritahu pada pria busuk ini!" Jeden menatap tajam Vander


"Kau seharusnya yang tau diri, bertamu dijam tidak tepat. Kau tau Jeden, aku dan Lara tadi baru saja mau... Ya kau tau kan apa yang akan dilakukan pasangan suami istri saat berduaan? Oh atau kau malah tidak tau karena kau tidak punya istri, ah jangankan istri, pacar pun kau tak punya. Tapi tenang, kau kan bisa membayar wanita di luaran sana untuk memuaskan hasratmu sebagai pria," Vander terus saja memprovokasi Jeden.

__ADS_1


"Diam kau baj¡ngan sialan!" Pekik Jeden emosi.


"Vander, Jeden stop! Jeden aku berterima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, tapi aku mohon silakan pergi karena aku sudah baik-baik saja. Dan Vander, kau tidak perlu bicara pada Jeden seperti itu."


Jeden ingin sekali memukul Vander namun ia tidak lakukan itu memingat Lara baru saja kena musibah.


"Baiklah aku akan pergi, dan kau!" Jeden menatap Van. "Aku akan memberimu pelajaran nanti!"


"Waw mengerikan," Balas Vander setengah tertawa.


Jeden akhirnya pergi dari apartemen Lara dengan perasaan kesal, marah, berbalut rasa cemburu yang memekakan hatinya "Cih! Baj!ngan itu, sampai kapanpun dia tidak akan pantas jadi suami Lara!"


**


"Van kenapa sih kau malah memanas-manasi Jeden begitu? Kau sengaja mau buat dia marah, iya?" Omel Lara pada suaminya.


"Iya, aku ingin dia tau kalau kau itu miliku!"


"Lalu apa? Setelah itu kalian akan ribut, saling memukul? Itu yang kau mau?" Lara lalu membelai wajah suaminya dengan lembut dan menatapnya. "Ayolah sayang kita sudah menikah, dan aku jelas sudah sah milikmu dimata hukum, jadi cukup jangan bertingkah seperti anak ABG yang baru jatuh cinta begitu. Lagipula apa kau tidak percaya diri sehingga takut Jeden akan merebutku darimu?"


"Sejak kapan aku takut pada Jeden?" ucap Van tidak terima.


"Aku hanya tidak suka saja melihat pria-pria diluar sana memandangmu seolah ingin memilikimu, mereka harus tau kalau kau hanya milikku seorang," Ungkap Vander menatap Lara dengan posesif.


Lara tersenyum lalu mencium pipi suaminya. "Terima kasih sudah menjadi posesif, sekarang lebih baik kita tidur karena aku sudah lelah." Lara menguap ngantuk.


"Sepertinya olahraga sebelum tidur memang yang paling menyenangkan," ucap Vander yang langsung menggendong istrinya itu dan membawanya ke kamar mereka.


"Oh tidak, aku benar-benar mengantuk Vander!"


"Ayolah istriku satu ronde saja kok!"


"Vander kau gila! Jangan terlalu kasar bajuku bisa rusak, Vander Liuzen hentikan... uhm..!"


**


Keesokan paginya Lara terbangun tepat pukul sembilan pagi, sementara saat ia menoleh kesamping suaminya sudah tidak ada diranjang. Lara pun merenggangkan otot ototnya lalu bergegas keluar kamar.


Diluar ia juga tak melihat ada suaminya di semua sudut ruangan, Lara pun jadi penasaran kemana suaminya itu pergi? Merasa haus Lara pun mengambil air putih di dapur, dan disana ia melihat ada catatan dari sang suami yang mengatakan kalau dirinya pergi lari pagi.

__ADS_1


"Tumben sekali dia lari pagi-pagi?" Sambil menunggu suaminya pulang Lara pun memutuskan untuk membuat jus dan menu sarapan.


Saat masakan Lara hampir matang Vander pun pulang dan langsung memeluk Lara dari belakang. "Baunya enak, kau tau saja kalau aku lapar," ucap Vander ditelinga istrinya. "Maaf memelukmu saat aku berkeringat, habisnya aku tidak tahan melihatmu pakai gaun tidur tipis mengenakan celemek dengan rambut diikat berantak itu seksi sekali, aku jadi lebih ingin memakanmu," bisiknya lalu mencium leher Lara.


Merasa diganggu Lara pun malah menyuruh suaminya untuk segera bersih-bersih setelah itu sarapan.


"Tapi aku masih mau memeluk istriku," ucap Vander merajuk manja dipundak istrinya.


"Vamder jangan jadi anak nakal, turuti apa kataku badanmu sudah lengket semua tuh!"


Vander menghela nafas. "Oke oke..." Kalau Lara sudah mode ibu-ibu cerewet Vander bisa apa. Pria itu pun bergegas membersihkan diri.


Setelah selesai bersih-bersih sepasang suami istri itu menikmati sarapan bersama. Karena kebetulan ini akhir pekan mereka berdua jadi punya banyak waktu untuk berduaan.


"Oh iya Vander, soal perkebunan di RK yang kau jadikan investasi apa sudah deal?" Tanya Lara membuka obrolan serius.


"Kalo soal itu semua sudah selesai. Setelah itu tinggal ditanami bibit berbagai macam tanaman saja yang bisa diolah dan dimanfaatkan jadi produk jadi. Dan sebagian lahannya mungkin bisa dikelola jadi hotel atau taman wisata suatu hari nanti. Karena aku lihat potensi kota itu sebagai tujuan wisata sangat bagus."


Lara tersenyum bangga. "Vander kau luar biasa, aku tidak menyangka kau sudah punya rencana sampai sejauh itu. Jujur saja aku ini kurang pandai mencari peluang sepertimu."


"Tapi kau pandai mengatur keuangan," pungkas Vander.


"Begitukah menurutmu?" Lara sampai berhenti mengunyah makanannya.


"Kau pintar mengelola uang perusahaan, bahkan saat Miracle down kau masih bisa mempertahankan pengeluaran seminim mungkin tanpa melakukan PHK. Lagipula kalau soal berbisnis lambat laun semua akan menyesuaikan bukan?"


"Ya kau benar, aku sekarang sibuk untuk melakukan negosiasi dengan para pengusaha kecil, setidaknya dengan begitu perlahan keunggulan produk Miracle akan terlihat terutama dikalangan usahawan menengah."


"Ya strategi yang bagus!"


"Aku akan berusaha!" Lara menjadi semakin optimis jadinya.


"Lara, hari ini aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat apa kau bersedia?" ucap Vander.


"Tentu saja, memangnya mau mengajakku kemana?"


🌿🌿🌿


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜

__ADS_1


__ADS_2