Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Status hubungan kami


__ADS_3

Di perjalanan menuju kantor Lara seolah tak bisa berhenti memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Vander yang ada disebelahnya sedang menyetir mobil pun ikut senang melihatnya.


"Cincin itu tidak mahal kenapa kau terus saja memandanginya?" Vander tidak tahu kenapa Lara sesenang itu melihat cincin darinya yang tidak seberapa itu.


"Tidak mahal bagimu tapi bagiku ini tak ternilai," pungkas Lara sambil menunjukkan jemarinya pada Vander. "Kalau dilihat-lihat cincin pemberianmu cocok sekali ya dijariku, aku tidak menyangka kau tau seleraku?"


Vander menggurat senyum, "Itu karena yang pakai cantik jadi pakai apa saja pasti cantik."


"Kau selalu saja memujiku, apa iya tidak ada yang jelek dariku dimatamu?" Tanya Lara dengan nada manja.


Vander meraih satu tangan Lara, digenggamnya dengan erat ke sela-sela jemarinya yang panjang dan dikecupnya tangan sang gadis. "Bagiku semua yang ada di dirimu cantik dan indah. Kecuali..."


"Apa?" Lara penasaran.


"Kacuali keras kepalamu dan kecerobohanmu itu," ungkapnya lalu menyentil pelan kening Lara dan tertawa.


Lara mengerucutkan bibirnya.


"Jangan ngambek begitu, istriku...," pungkas Van menggoda Lara.


"Jangan menggodaku Vander begitu deh," Lara malu-malu.


"Tapi aku suka menggodamu dan melihatmu malu-malu," godanya lagi.


"Sudah cukup!"


**


Miranda yang tengah minum kopi di kedai kopi dekat kantor, tiba-tiba saja dibuat kaget saat membuka media sosial. Di berandanya tersebar thread isu tentang Lara yang digosipkan menjalin hubungan dengan pengawalnya sendiri.


"Astaga! Jadi isunya sudah merebak luas dikalangan pegawai? Tidak bisa, Lara harus tau tentang ini!" Miranda pun segera menyudahi minum kopinya, dan setelah itu beranjak pergi menemui Lara untuk memberitahukan ini semua.


Wanita berkacamata itu pun berjalan dengan langkah terburu-buru lalu menyelonong masuk ke ruangan Lara.


"Nona Lara!" Mata Miranda seketika membulat lebar dan wajahnya pun jadi merah. "Ups sorry!" ungkapnya.


Mira tidak menyangka dirinya yang baru datang malah langsung disuguhi pemandangan Vander dan Lara yang sedang berciuman mesra.


"Ehem!" Mira berdeham.


Sepasang kekasih itupun akhirnya saling melepaskan diri mereka.


"Ada apa Miranda?" Ucap Lara dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa.


Aku tau mereka jatuh cinta tapi ah sudahlah! "Nona, eh tidak! Kalian berdua aku ingin kalian tau!"


"Apa?" Pungkas Vander datar.


Mira lalu memberitahukan soal hubungan mereka berdua yang perlahan sudah mulai diketahui oleh orang-orang di kantor.


Vander dan Lara saling menatap satu sama lain. Keduanya bergandengan tangan dan Lara pun berkata pada Mira, "Mira, kau tidak usah cemas akan hal itu lagi, karena aku dan Vander sudah memutuskan untuk tidak mempermasalhakan lagi jikalau orang kantor pada akhirnya tau kami punya hubungan khusus. Ditambah lagi..." Lara tersenyum malu-malu.


"Aku sudah melamar Nona Lara," ucap Vander dengan santainya.

__ADS_1


"Apa?! Ka- kau mela- melamarnya?" Wajah Miranda langsung berubah syok seketika mendengarnya.


"Hei kau jangan bercanda ya Vander," ucap Miranda belum yakin.


"Van tidak bercanda Mira, ini buktinya," Lara langsung menunjukan cincin permata yang melingkar di jari manisnya.


"Jadi kalian sungguh...?"


"Iya, kami memutuskan akan segera mendaftarkan pernikahan kami segera setelah rapat dengan komisaris tiga hari lagi," ungkap Lara.


Miranda tiba-tiba saja menitikan air mata. Ia tidak menyangka Lara kecilnya kini sudah tumbuh dewasa dan kini sudah mau menjadi seorang istri.


"Mi- Mira... Kenapa kau menangis? Apa aku salah bicara?" Tandas Lara khawatir.


"Tidak aku bukan menangis sedih, aku hanya terharu saja. Ternyata gadis kecil yang aku kenal dulu sudah tumbuh dewasa sekarang."


Mira menyeka air matanya dan langsung memeluk Lara. "Aku sungguh bahagia jika kau bahagia Lara," pungkas Miranda terharu.


"Terima kasih Mira, kau memang yang terbaik. Aku sungguh bersyukur, karena meski aku sekarang sudah sebatang kara ternyata aku masih memiliki orang-orang yang sayang dan tulus padaku seperti dirimu."


Keduanya saling berpelukan erat. Setelah puas memeluk dan melepasnya, tiba-tiba Miranda langsung menatap tajam ke arah Vander.


Pria itu pun balik menantap mata Miranda dengan mata tajamnya. "Ada apa menatapku begitu?"


"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Kau jangan pernah menyakiti Lara, membuatnya menangis, apalagi melukai hatinya! Kalau sampai kau lakukan itu, akan kurebus kau!"


Van tersenyum sepele, "Kau tenang saja, tanpa kau mintapun aku pasti akan melakukannya!"


"Bagus kalau begitu! Dan.. Soal status kalian nanti?"


Miranda pun menghela nafas dan tersenyum lega. "Baiklah jika kalian sudah memutuskan begitu, dengan begini semuanya akhirnya terasa lebih mudah juga bagiku. Dan... semoga semuanya berjalan lancar aku senang melihat kalian bahagia. Kalau begitu aku pergi dulu." Miranda pun berbalik badan.


"Oh iya satu lagi, jangan lupa kunci ruangannya kalau mau bermesraaan!" Imbuh Miranda lalu pergi


"Kau merasa lebih tenang sekarang?" Tanya Vander pada Lara.


"Ya!" Angguk gadis itu.


"Bagus, aku senang mendengarnya," ucap Van lalu kembali mencium Lara.


**


Di balkon rumahnya Karina yang tengah berpakaian santai terlihat sedamg menerima panggilan dari Jeden ;


Karina : Jadi tiga hari lagi adalah penentuan apakah kau akan menggantikan Lara menjadi CEO Miracle?


Jeden : Ya, dan aku yakin semua dewan komisaris akan setuju kalau aku menggantikan Lara.


Karina : Kau kejam juga ya tuan Jeden pada wanita kesayanganmu?


Jeden : Itu salahnya karena tidak mau menurut padaku. Lara harus tau aku bukan pria yang bisa ia singkirkan begitu saja.


Karina : Oke oke... Aku akan menunggu kabar baik darimu.

__ADS_1


"Hem... aku sudah tidak sabar menunggu wanita itu terpuruk."


**


Menjelang sore tampak Vander yang datang ke area pemakaman. Ia terlihat meletakan buket bunga di makam kedua orang tua Lara dan juga kakek dan neneknya. Pria itu seraya memberi hormat di hadapan keempat makam itu dan mengatakan maksud kedatangannya.


"Tuan dan Nyona serta ayah ibu mertua, aku datang kemari untuk minta restu pada kalian. Aku akan menikahi putri dan cucu kalian tercinta Lara. Diriku memang sedikit gila mengatakan hal seperti ini saat ini tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin mengatakan jika aku serius dan sungguh mencintai putri dan cucu kalian. Jadi kalian berempat tolong restui aku dengan Lara karena kami saling mencintai."


Setelah selesai berziarah dan meminta izin di depan makam keluarga Lara, Vander pun bergegas pergi.


"Hei Vander!"


Saat Vander mau masuk mobil,Tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita memanggilnya. Pria itu pun menoleh ke arah datangnya suara itu. Siapa sangka itu adalah suara Eva yang datang menghampirinya. Sepertinya wanita ini sudah mengikutiku sejak tadi.


"Kau mengikutiku?" ujar Vander.


"Ya! Aku menemui karena ingin membuat penawaran untukmu."


Pria itu menajamkan sorot matanya dan berkata, "Jika tawaran tentang kembali ke tempat itu maka jawabanku tidak, terima kasih!"


"Kenapa? Karena kau sudah nyaman jadi pria simpanan wanita itu?" pungkas Eva.


"Hal itu tidak ada urusannya dengan Lara!" Vander menatap saraya memperingati Eva agar jangan macam-macam pada Lara. Sebab Vander harus berhati-hati karena tidak ingin Lara terseret sedikitpun di urusannya dengan Crux. "Apa sebenarnya mau kalian?" Pungkas Vander serius.


Eva tersenyum miring. "Mudah saja kembalilah ke Crux."


Van tertawa hambar. "Sepertinya kalian tidak bisa menemukan orang lain yang bisa dijadikan percobaan pria gila itu ya?"


"Jadi?"


"Tidak!" Vander tidak ingin kembali ke tempat durjana itu lagi.


"Jadi itu pilihanmu, setelah kau buat adikku meninggal kau pergi begitu saja! Vander kau itu brengsek!" Maki Eva yang terlihat emosi.


Vander terdiam ia menoleh ke arah Eva dan berkata padanya. "Nagisa meninggal karena kesalahan orang-orang Gauren kenapa kau terus saja menyalahkanku? Lagipula itu sudah tujuh tahun yang lalu. Dan sekarang aku heran, kau tampak marah karena adikmu meninggal, padahal setauku kau sangat benci padanya. Jadi sebenarnya apa maksudmu mengatakan hal itu?"


"Kau tidak mencintai adikku kan?" pekik Eva.


"Sejak dulu aku tidak pernah bohong soal perasaan. Dan Nagisa dia punya tempat tersendiri dihatiku dimasa lalu."


"Vander kau brengsek!" Eva tiba-tiba emosi lalu ingin memukul Vander namun langsung ditahannya kedua tangan wanita itu. Wanita itu pun menatap Van dengan tatapan benci dan berkaca-kaca.


"Aku benci padamu Vander, kenapa kau harus mencintai Nagisa bukan aku?! Kenapa?" Teriaknya di depan Van. "Dan setelah Nagisa meninggal, kenapa kau tak juga memilihku sekali saja dan kenapa malah wanita itu?!"


Eva mengungkapkan isi hatinya saat ini dengan penuh emosi. "Padahal, kita sudah saling mengenal sejak lama, saat di Crux kau selalu membelaku dan melindungiku. Kau bahkan dulu memanggilku kakak kecil saat itu, dan kau sudah menyelamatkanku dan memberikan nafas buatan saat aku hampir mati tenggelam. Tapi... tapi Kenapa kau malah memilih Nagisa bukan aku? Nagisa hanya gadis bodoh yang tidak terlalu pandai dan kau malah memilihnya, kenapa bukan aku...?" Air mata Eva terjatuh saat itu juga.


Van terdiam lalu menyeka air mata wanita itu. "Sudahlah jangan menangis, lebih baik cari pria yang memang mencintaimu." ucap Vander. "Tapi Eva kau harus tau satu hal, jika aku sampai menemukan kau juga ada dibalik kecelakaan mobil tuan Anthony dan Meira Hazel, aku tidak akan diam!" Vander seraya mengancam.


"Aku pergi!" Ia pun masuk mobil lalu pergi meninggalkan Eva.


Rasa geram, cemburu, dan sakit bati Eva kian memuncak setelah ucapan Vander barusan. Ia bersumpah tidak akan membiarkan Van bahagia dengan Lara. "Kalau dia tidak bisa memilihku, maka dia tidak boleh memilih wanita lain!"


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH πŸ’œ


__ADS_2