
Di kantor, Lara yang baru saja mau kembali ke ruangannya setelah menemui dirut keuangan, tak sengaja berpapasan dengan Robert di lobi lantai atas.
"Hai tuan Robert," sapa Lara.
"Selamat pagi Nona Lara," Seperti biasa pria itu hanya akan menyapa balik sambil dengan mengangguk kecil dan wajah tanpa ekspresi.
Bertemu dengan Robert, Lara pun meminta pria paruh baya itu untuk mengobrol sebentar, kebetulan juga saat ini ia sendang agak senggang, mengingat Vander sedang sibuk sendirian membuat formula bisnis di layar laptopnya.
"Apa ada hal penting Nona?"
Robert yang kaku memang disiplin dan anti bicara buang-buang waktu, sehingga sebisa mungkin Lara harus bisa membujuknya agar mau diajak mengobrol.
"Aku hanya minta waktumu sekita sepuluh sampai lima belas menit saja kok!" Ayolah kumohon tuan Robert!
"Baiklah sepuluh menit."
Lara bersyukur ternyata Robert mau diajaknya bicara. Mereka berdua pum duduk di kursi yang ada di area lobi agar lebih santai.
"Jadi apa yang ingin nona bicarakan denganku?"
Meski agak takut, namun Lara harus menanyakan perihal Vander pada Robert selaku orang kepercayaannya saat ini.
"Tuan Robert, kalau aku boleh tau sudah berapa lama anda bekerja dengan tuan Vander?"
Robert menatap Lara dengan serius, membuat wanita itu jadi takut Robert tidak mau menjawabnya.
"Aku ikut tuan sudah empat tahun lamanya, memang ada apa Nona tanya hal itu?"
"Oh tidak, hanya ingin tau saja. Dan selama ikut Van- eh maksudku tuan Vander, apa dia punya riwayat sakit ingatan atau sejenisnya?"
Robert sekali lagi menatap Lara dengan serius, namun kali ini seolah lebih ke arah curiga pada wanita itu.
"Ehem! Nona Lara, maaf tapi info personal tuan tidak bisa aku beritahu pada sembarang orang. Terutama orang asing seperti anda."
"Begitu ya?" Lara tampak kecewa.
"Nona Lara aku minta maaf, aku tahu Nona orang yang baik, dan kerjamu disini juga bagus. Tapi jika kau bertanya sedalam itu soal Tuanku, maaf aku tidak bisa katakan apa-apa. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri di depan Tuan untuk selalu menjaganya, jadi sekali lagi aku minta maaf."
"Ya, yang kau katakan memang benar, orang asing sepertiku mana mungkin," ucap Lara tersenyum pilu.
"Nona, sekali lagi aku minta maaf."
"Tidak masalah."
"Kalau begitu aku permisi," ucap Robert pamit pergi. Sejujurnya Robert sendiri merasa tidak tega melihat Lara tampak kecewa begitu, karena Robert sendiri merasa Lara sepertinya memang tidak punya maksud buruk. Tapi bagaimana pun ia harus tegas melindungi tuannya dari orang yang bisa jadi punya niat buruk.
"Huft! Gagal deh aku dapat info!" Ujar Lara kesal misinya tidak berjalan mulus.
...πππ...
Di sekolahnya, Rey terlihat sedang bermain bersama kedua teman akrabnya yakni si kembar Jeny dan Jody. Ketiga balita itu tampak asyik bermain melukis di atas pasir. Namun saat sedang seru-serunya bermain, tiba-tiba saja Leo si anak yang terkenal sombong di sekolah, muncul bersama kedua temannya itu datang mengganggu Rey dan temannya saat sedang bermain.
"Mau apa kalian kemari!" Seru Jody tidak senang dengan kemunculan Leo dan kawan-kawannya.
"Diam kau dasar anak aneh!" Balas Leo dii
"Hei jangan nakal pada saudaraku!" Sahut Jeny tidak terima kembarannya disebut aneh.
"Saudaramu kan memang aneh, sama sepertimu yang bodoh ini!" Ejek Leo ke Jeny diikuti tawa dua temannya seolah ikut merendahkan Jeny.
Melihat kedua temannya diejek dan direndahkan begitu, Rey pun tidak terima. Ia lalu menyuruh Leo dan kawan-kawannya itu untuk pergi dan main saja ditempat lain.
Tidak suka dengan sikap Reynder padanya, Leo pun marah dan malah balik mengejek.Β "Huh! Dasar anak pungut, berani sekali kau mengusirku!"
Rey mengepalkan tangannya lalu. "Siapa yang kau bilang anak pungut!"
"Sudah pasti kau! Memangnya siapa lagi disini anak yang tidak punya papa selain dirimu!"
Rey ingin sekali memukul wajah Leo saat ini, namun ia masih berusaha menahannya karena tidak mau membuat mamanya susah jika tau dirinya lagi-lagi berkelahi.
"Leo kau tidak boleh berkata begitu pada Rey," Tegur Jeny.
"Memang kenapa, kenyataannya Rey kan memang hanya punya mama dan tidak punya papa, buktinya saja saat pertama masuk sekolah dan hari pengenalan murid, dia hanya diantar mamanya saja, sementara yang lainnya diantar mama papanya."
"Diam kau! Aku bukan anak pungut dan aku punya seorang papa!" Pekik Rey emosi.
"Mana mungkin, buktinya kau tidak pernah diantar papamu ke sekolah," balas Leo.
"Papaku sibuk, jadi tidak sempat mengantarku sekolah."
"Papaku juga sibuk, dia seorang bos tapi masih bisa mengantarku sekolah. Rey kau bicara begitu pasti cuma mengarang saja kan? Dasar tukang bohong! Rey pembohong!"
"Rey pembohong!"
"Rey tukang bohong!"
__ADS_1
"Dasar Rey pembohong!"
Leo dan teman-temannya mengejek Rey. Tidak terima diperlakukan begitu, Rey langsung mendorong Leo hingga terjatuh, lalu berlari pergi.
"Aduh sakit! Dasar pembohong!"
"Rey tunggu kami!" ujar Jeny dan Jody.
Rey berlari sambil menangis dan berkata dalam hati. Aku tidak berbohong, kata mama aku memang punya seorang papa yang hebat, jadi aku bukan pembohong!
...πππ...
Akhirnya tiba jam makan siang. Seperti biasa, hari ini Lara juga membawa bekalnya sendiri untuk makan siang. Hanya saja kali ini ia membawa dua porsi sekaligus, mengingat bosnya yang menyebalkan itu memang sejao kemarin mengirminya pesan seraya memaksanya untuk membuatkan bekal juga untuknya.
Setelah selesai menyiapkan bekal makan siang untuknya sendiri, Lara pun kemudian menghampiri Vander yang tengah berada di meja kerjanya, dan memberikan langsung kotak bekal makan siang yang satu lagi untuk bosnya tersebut.
"Tuan ini sudah kubuatkan bekal makan siang untukmu, jadi setelah ini tolong berhentilah menerorku ditengah malam."
Lara lalu meletakan kotak bento itu diatas meja Vander, kemudian bergegas untuk kembali ke mejanya.
"Tunggu!" Seru Vander yang akhirnya berhenti menatap layar komputernya dan langsung melihat ke arah Lara.
"Ada apa lagi Tuan Vander?"
"Kau mau kemana?"
"Mau makan bekal milikku. Kenapa, apa bekalku mau kau minta juga?"
"Kau makan disini kan?"
Dia ini kenapa tanya begitu?
"Aku mau makan dimana kan bukan urusan tuan," jawab Lara langsung menoleh pergi kembali ke tempatnya.
Vander memperhatikan Lara yang terlihat membawa kotak makannya untuk dia bawa keluar. Wanita ini mau makan dimana sih sebenarnya?
"Tuan Vander, aku izin makan siang dulu di pantry, permisi." Lara kemudian pergi membawa bekalnya keluar.
"Jadi dia makan disana," ucap Vander lalu tersenyum penuh arti.
Di pantry Lara tampak menikmati bekal makan siangnya yang terdiri dari nasi ayam karage, acar sayuran, dengan potongan sosis sapi dengan mayonaise. Wanita itu terlihat bahagia mengunyahnya. Kebetulan sejak pulang dari Kanada, selera makan Lara pun jadi semakin tambah. Mungkin efek sudah berada di kampung halamannya jadi lebih enak rasa makanan otentik di lidah Lara.
"Hmm... Aku tidak menyangka masakanku seenak ini," ucap Lara memuji diri sendiri.
Tak lama kemudian, saat Lara tengah asyik mengunyah makanannya, tiba-tiba masuklah orang dari luar yang tidak lain adalah Vander membawa bekal buatannya. Lara pun sampai dibuat terkesiap melihatΒ Vander yang kini duduk dimeja makan yang sama dengannya di dalam pantry. Lara sampai menatap pria yang kini duduk menghadap ke arahnya dengan tatapan seolah tak percaya.
Lara langsung mengalihkan pandangan dari bosnya itu dan kembali menelan makannya. "Oh iya tuan, kenapa kau makan disini?"
"Memang ada larangan aku tidak boleh makan disini?" sahut Vander mulai menyumpit makan siangnya.
"Aku kan cuma tanya," gerutu Lara.
"Jangan banyak tanya, makan saja supaya kau tidak bicara terus," imbuh Vander lalu kembali mengunyah.
Sifat menyebalkannya masih sama, ditanya malah jawab apa! Huh Vander awas kau nanti! Tapi...
Lara tiba-tiba dibuat tersenyum kala melihat Van saat ini makan bekal buatannya dengan lahap. Hal itu ngingatkan dirinya dulu saat masih tinggal bersama Van, dimana dulu Vander selalu memuji masakan yang Lara buat dan selalu habis dimakannya. Ditambah cara makan Vander saat ini pun tidak berubah sama sekali, tetap menggemaskan kalau mengunyah pipinya jadi menggembung seperti roti baru matang.
Dia imut sekali mirip dengan Rey kalau sedang mengunyah makanan, aku mau mencubitnya deh! Ujar Lara dengan ekspresi merasa gemas.
Melihat Lara memperhatikannya seperti itu Vander langsung mengerutkan alisnya dan bertanya, "Nona apa kau ada masalah denganku?"
"Eh tidak kok!"
"Lalu kenapa kau melihatku seolah seperti mau mencengkramku?"
"Eh ituβ soalnya tuan itu mirip Rey."
Vander menatap tajam ke Lara. "Rey itu siapa?"
"Rey itu pria kesayanganku!"
Seketika Vander menaruh sumpitnya. "Jadi Rey itu laki-laki? Seperti apa dia? apa dia hebat?" Vander tiba-tiba jadi banyak tanya seolah terganggu Lara menyebut nama Rey.
"Tentu saja dia pria paling hebat, dan yang pasti dia itu sangat spesial buatku."
"Spesial?" Vander seraya tertawa meremehkan. "Memangnya sehebat apa dia, pemimpin perusahaan apa? Apa lebih besar dari Laizen, apa dia orang luar negeri? Di negara ini bahkan di Asia Laizen tak tertandingi kau harus tau itu Nona Lara! Jadi jangan menyamakanku dengan pria kenalanmu yang biasa saja itu!" ucap Vander tidak mau kalah.
Melihat Vander bicaranya agak kesal begitu, Lara jadi merasa kalau saat ini sepertinya Van sedang cemburu, mendengar Lara memuji dan membanggakan pria lain dihadapannya. Dia ini cemburu ya? Ah aku kerjai saja dia, pikir Lara.
"Rey memang bukan CEO sepertimu, tapi dia lebih dari itu dimataku. Dia sangat menawan, pintar, lugu, selalu membuatku nyaman."
Vander memicingkan matanya ke Lara. "Lalu apa lagi? Apalagi kelebihan pria pujaanmu itu?"
"Rey itu lembut, tampan, manis, menggemaskan, imut, dan yang pasti dia selalu menggapku seorang ratu, kapanpun dan dimanapun!" Ungkap Lara sengaja memprovokasi Vander.
__ADS_1
Saat itu Vander yang hanya diam saja, tiba-tiba malah, Krek!
Pria itu seketika mematahkan sumpit makannya dengan jemarinya yang berurat. "Aku sudah kenyang, kau bereskan itu semua aku mau kembali ke ruanganku!" Vander pun berajak dari kursi dan berjalan keluar dengan wajah merengut kesal. Ia bahkan membuka pintu dengan kasar sampai-sampai gagang pintunya rusak.
"Aduh! Aku tadi apa sudah keterlaluan ya? Tapi..." Lara langsung tertawa geli mengingat wajah Vander yang kesal dan cemburu kepada Rey yang padahal anak kandungnya sendiri. "Cemburu sama anak sendiri, dasar pria aneh!"
...πππ...
Di apartemen, Rey yang baru saja pulang bermain ke tetangganya dengan kondisi baju kotor. Emika yang melihat itu pun bertanya kepada Rey, kenapa bajunya jadi kotor.
"Aku tadi habis membantu Suna menangkap anjingnya yang tercebur lumpur," jelas Rey dengan polosnya.
"Ya ampun, kalau mamamu tau kau bisa dimarahi nanti!"
"Mama tidak akan marah, kalau bibi Emika tidak bilang."
"Ah kau ini, sudah sana cepat bersih-bersih. Setelah itu ayo kita pergi makan eskrim di pusat kota."
"Wah bibi mau traktir, asyik!" Rey pun senang dan langsung pergi bersih bersih.
Emika dan Rey akhirnya tiba di kedai eskrim yang ada di pusat kota. Disana mereka berdua langsung mecari kursi untuk duduk, lalu memesan eskrim kesukaan mereka masing-masing.
"Rey, pesanlah apa saja yang kau suka, tenang saja aku traktir! Aku juga sudah telepon kak Lara kalau hari ini aku mengajakmu makan es krim dan katanya boleh," jelas Emika.
"Baik, aku pesan ini!" Rey memesan eskrim coklat oreo kombo dengan toping macam-macam. Sementara Emika memesan es stroberi chocochips.
Sambil menunggu pesanan datang, Emika dan Rey pun saling ngobrol. Rey bertanya tumben sekali Emika mentraktirnya hari ini.
"Aku hanya iseng saja," ucap Emika, yang meski alasan sebenarnya adalah ingin berusaha menghilangkan rasa sedihnya karena tau cintanya pada Andy hanya cinta sepihak.
"Bibi Emika, kau tenang saja. Mamaku tidak akan suka sama paman Andy," ujar Rey seraya paham hal yang membuatnya sedih.
Emika pun langsung tersenyum, "kau ini seperti peramal saja tau isi pikiran orang!"
"Aku tau sejak makan malam itu, aku lihat paman Andy tampak menyukai mamaku. Sayangnya mama sama sekali tidak punya rasa suka yang sama ke paman Andy."
"Ya, kak Lara dia sangat cantik dan baik wajar kalau banyak pria yang suka padanya, termasuk Andy. Dia sepertinya masih berusaha mendapatkan hati kak Lara."
"Sudah jangan sedih, lagipula aku juga tidak mau paman Andy jadi papaku. Aku rasa dia tidakΒ cocok dan terlalu biasa saja buat mamaku yang hampir sempurna. Paman Andy bukan saingan papaku, jangankan papa, dibanding paman Eiji saja lebih keren paman Eiji."
"Siapa itu paman Eiji?"
"Paman Eiji adalah teman mama yang sangat baik dan juga menyenangkan. Selain itu, masakan paman Eiji juga tak kalah lezat dengan masakan mama. Dia juga pintar, dan dia baik sekali padaku."
"Lalu, kenapa tidak paman Eiji itu saja yang kau jadikan papamu?"
Rey menggeleng, "Aku suka paman Eiji tapi aku tidak mau dia jadi papaku. Lagipula mama sepertinya sampai sekarang hanya mencintai papa."
"Begitu ya, aku jadi semakin penasaran. Sebenarnya wujud papamu itu seperti apa sih? Kau sendiri tahu tidak ciri-cirinya?"
"Yang jelas dia tampan, dan dia juga hebat. Mungkin seperti... Ah iya, seperti paman yang wajahnya muncul di videotron crosswalk saat kita lewat tadi!" Ucap Rey.
"Heh? Yang mana aku tidak memperhatikan."
"Itu video Tuan Vander Nona," ucap tuan pelayan sambil mengantarkan eskrim pesanan Emika dan Rey.
"Jadi naman paman itu Vander?" Sahut Rey.
"Iya, dia pria yang dua tahun belakangan ini jadi momok pembicaraan banyak kalangan komunitas dan netizen," jawab pelayan itu.
"Tunggu, Vander itu maksudnya Vander Liuzen CEO Laizen itu?"
"Tepat sekali! Tuan Vander wajahnya setahun belakangan ini sering menghiasi sampul majalah bisnis terkenal di dunia. Dan tahun ini, tuan Vander baru saja dinobatkan sebagai pebisnis muda dibawah usia empat puluh tahun nomor satu di dunia oleh majalah bisnis terkemuka. Dan jangan lupa, kedai eskrim ini juga salah satu dari kerajaan bisnis Laizen group dibidang food n baverage."
"Woah... Dia sekeren itu?" Emika pun langsung mencari tau profilenya lewat medsos. "Astaga! Jadi ini CEO muda yang terkenal itu? Kalau ini sih tampan rupawan tiada celah. Aku kemana saja hanya tau namanya tidak tahu orangnya," pungkas Emika terpesona dengan wajah Vander di gambar.
"Kalau begitu aku permisi," ucap pelayan itu.
Sementara Emika masih penasaran dengan sosok Vander ia pun malah mencari tahu lebih dalam soal CEO itu.
"Bibi, apa saja yang terulis di profile tentang paman CEO itu?" Rey pun ikut jadi penasaran.
"Disini ditulis dia berusia tiga puluh dua tahun, tingginya seratus delapan pulu lima, dan masing single!"
"Bagus!" Ujar Rey senang.
"Kenapa bagus?" Emika heran.
"Bagus karena dengan begitu mama punya kesempatan dekat dengannya."
"Eh benar juga, kak Lara dia kan bekerja di kantor pusat Laizen grup," sambung Emika baru ingat. "Lalu apa yang mau kau lakukan Rey?"
"Tidak tahu, makan saja dulu eskrim kita ini, baru dipikirkan lagi," pungkas Rey sambil memakan eskrimnya. Sebenarnya aku berharap papaku seperti paman itu, tapi kalaupun dia bukan papaku aku berharap dialah yang akan jadi papa baruku. Karena aku suka melihat paman itu. Rey tersenyum memikirkannya.
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π