
Setelah menerima panggilan dari Mira yang memberitahukan kalau Lara pingsan, Van langsung menuju ke rumah sakit tempat Lara dibawa ."Nona Lara kau harus baik-baik saja!" Ucap Vander sambil terus menyetir dengan kecepatan tinggi.
**
Setibanya di rumah sakit, Van langsung berlari menghampiri Miranda yang tengah berada diluar ruang IGD. Van langsung bertanya ke Mira apa sebenarnya yang terjadi? "Kenapa Nona Lara bisa sampai pingsan?"
"Aku juga awalnya tidak tahu kenapa, karena saat aku masuk ke ruangan Nona Lara aku sudah melihatnya dalam posisi tidak sadarkan diri dan tergeletak di lantai." Mira yang saat itu panik pun langsung minta bantuan pegawai lain dan membawa Lara ke rumah sakit, setelah itu baru menelepon Van.
"Sial! Bisa-bisanya aku tidak ada saat dia membutuhkanku!" Pekik Vander merasa bersalah dan tidak berguna.
"Sudahlah kau jangan menyalahkan dirimu. Lebih baik kita tunggu saja penjelasan dari dokter Yose nanti," ucap Mira mencoba menenangakan Vander.
Dan tak lama kemudian dokter Yose pun keluar dari ruang IGD. Baik Van dan Mira langsung mengerubungi dokter berusia lima puluh tahun tersebut dan menanyakan bagaimana keadaan Lara saat ini.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Vander merasa cemas.
"Tenanglah, Nona Lara saat ini sudah baik-baik saja dan sebentar lagi juga akan sadar. Ia hanya pingsan karena kekurangan asupan nutrisi yang membuat anemianya kambuh dan menyebabkan pasokan oksigen di otaknya berkurang. Untungnya cepat dilarikan kesini," jelas dokter Yose.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Van dan Mira jadi cukup merasa lega.
"Lalu apa kami boleh menemuinya sekarang?" Tanya Van yang ingin segara melihat keadaan Lara sekarang.
"Silakan, tapi dia belum sadarkan diri mungkin beberapa saat lagi baru akan siuman," terang dokter. "Oh iya ketika Nona Lara nanti sudah siuman, 1tolong langsung beri dia banyak asupan makanan, mengingat Nona Lara memiliki riwayat anemia jadi tidak boleh sampai kekurangan nutrisi."
"Baik dokter," jawab Mira paham.
"Kalau begitu aku pergi dulu kalian bisa langsung masuk saja, dan kalau ada apa-apa segera panggil aku," pungkas dokter Yose yang kemudian pergi.
Van lalu menyarankan Mira dia saja yang masuk lebih dulu, sedangkan Van mau membeli beberapa menu makanan untuk Lara di kantin rumah sakit.
"Baiklah kalau begitu biar aku dulu yang menjaga Nona disini, kau pergilah beli makanan."
Kemudian Miranda pun masuk ke ruangan IGD sementara Van pergi membeli makanan untuk Lara.
Mira memasuki ruangan itu. Dari ambang pintu masuk disana terlihat Lara masih terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit. Mira pun langsung mengampiri gadis itu dan memandanginya dengan penuh rasa iba. "... Nona kau pasti merasa tertekan dengan semua kejadian yang dialami beberapa bulan kebelakang ini?" Mira mengusap punggung tangan Lara yang halus. Dan tiba-tiba tangan Lara bergerak.
"Ibu... Ayah... Jangan tinggalkan aku sendirian, ibu... Aku mau bersama ibu..., aku tidak mau sendirian... ibu" ujar Lara yang tengah mengigau.
"Nona Lara...?" Miranda langsung agak panik dibuatnya. "Bagaimana ini
__ADS_1
"Vander... Jangan pergi dariku...," Lara lagi-lagi mengingau, dan kali ini ia menyebut nama Vander.
Menyaksikannay Miranda jadi semakin tak tega pada Lara. "Dia pasti sangat rindu pada ayah dan ibunya... Dan Van...?" Miranda pun bertanya-tanya, "Nona Lara, apa sudah sedalam itukah perasaanmu untuk pria itu?"
Tak lama kemudian, akhirnya Lara pun siuman dari pingsan. Gadis itu membuka matanya perlahan dan berkata dengan ekspresinya yang masih tampak linglung. "Miranda..."
"Nona syukurlah kau sudah sadar!" Sorak Miranda senang.
"Aku dimana ini? Bukannya tadi aku masih dikantor?" Lara memaksa tubuhnya bangun deri posisi tidurnya.
"Nona tidak usah memaksa bangun dulu. Kau tadi itu pingsan karena anemiamu kambuh jadi aku membawamu kesini."
"Begitu ya?" Lara sepertinya mulai sadar seratus persen. "Oh iya Vander dia—"
"Aku disini Nona Lara," ucap Vander yang tanpa diketahui tiba-tiba sudah berada diambang pintu masuk dengan membawa makanan.
"Nona sudah sadar?" Tanya Van sambil meletakan kantong berisi semangkuk bubur sayuran dan ayam dan beberapa kotak jus buah.
Merasa sudah tenang karena Van sudah datang menjaga Lara, Miranda pun memutuskan untuk lebih baik kembali ke kantor.
"Nona Lara kalau begitu aku kembali ke kantor dulu ya. Kau tidak apa-apa kan?"
"Ya ya ya... Vander yang terbaik kan?" Ucap Miranda mengedipkan satu matanya, bermaksud menggoda Lara.
Lara pun jadi salah tingkah dibuatnya. Miranda ini aku kan malu kalau dia menggodaku di depan Van!
"Sudah ya aku pergi, tuan Van tolong kau jaga Nona Lara!" Tegas Mira.
"Tanpa kau suruh pun aku pasti melakukannya!" Balas Vander.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu bye!" Miranda pun keluar dari ruangan tersebut.
"Oh iya Nona harus segera makan," kata Van yang kemudian mengambil semangkuk bubur sayuran dan ayam itu untuk dimakan Lara.
Entah kenapa Lara tiba-tiba ingin sekali dimanja dan dilayani. Akhirnya ia pun mengatakan kalau dirinya tidak mau makan kecuali Vander menyuapinya.
Diminta begitu, tentu saja dengan senang hati Vander melakukan hal itu. Pria itupun mulai mengambil sesuap demi sesuap bubur dan menyuapi Lara perlahan-lahan. Wajah Lara tampak senang disuapi oleh pria dihadapannya itu. Setidaknya bisa melihat Lara sejenak lupa dengan masalah perusahaan yang ia hadapi saat ini sudah membuat Van cukup lega.
Setelah beberapa suapan Lara akhirnya jadi merasa kenyang.
__ADS_1
"Nona, kenapa kau tidak membuka mulutmu?" Tanya Vander yang mau menyuapi Lara lagi.
"Sudah cukup!" Lara mengatakan kalau dirinya sudah kenyang dan malah menyuruh Van yang menghabiskan sisa buburnya.
"Ta- tapi kata dokter Nona harus makan banyak nutrisi," ungkap Vander.
"Aku sudah kenyang, aku mau minum jus saja. Kau pasti juga lapar jadi kau saja yang habiskan bubur itu," ucap Lara.
"Tapi—"
"Aku bilang kau saja yang makan. Atau— kau tidak sudi ya kalau makan dari bekas sendok yang aku pakai?"
"Bu- bukan begitu, yasudah kalau Nona yang minta." Akhirnya Vander pun menurut dan menghabiskan sisa bubur Lara dengan lahap.
Dia makan dengan sendok yang bekas aku pakai? Bukannya itu sama saja berciuman secara tidak langsung? Wajah Lara jadi merah tiba-tiba memikirkan hal itu. Aduh aku ini mikir apa sih?
"Sudah habis," ujar Van.
"Kau benar-benar menghabiskannya?" Lara sungguh tak menyangka melihat mangkuknya benar-benar sudah kosong.
"Kau tidak komplen sama sekali, makan sisa makananku? Padahal sendoknya—"
Van menyeringai penuh arti, "Jangankan pakai satu sendok yang sama dengan Nona, kita bahkan sudah pernah lebih dari itu. Saling bertukar rasa air liur misalnya?"
Lara langsung membulatkan matanya dan berteriak, "Vander bagaimana bisa kau bicara mesum begitu!" Wajah benar-benar seperti kepiting rebus saat ini.
Van hanya tertawa kecil. "Tapi aku suka rasanya punya Nona kok!"
Lara semakin dibuat malu, ia pun melempar bantal ke arah pengawalnya itu. "Bisa diam tidak sih!" Amuk Lara kemudian menutupi wajahnya.
Sementara Vander malah masih saja kegirangan dan terus menggoda Lara yang saat ini tengah merasa malu. "Nona Lara kalau malu begitu jadi semakin imut dan manis sekali deh," goda Van lagi.
"Vander diam!"
Setidaknya melihat Lara seperti saat ini jauh lebih baik daripada melihanya bersedih dan menangis!
Bersambung...
TEMAN-TEMAN YANG SUKA NOVEL INI PLIS JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHORNYA 🙏💜
__ADS_1