
"Tentu saja Tuan Gauren, aku pasti akan ada dipihakmu! Asalkan kau sungguh mau membantuku menghacurkan Vander," ucap Jeden di telepon. Pria itu ternyata meminta bantuan Gauren untuk melaksanakan misinya menghancurkan Vander.
Sementara Gauren sendiri memanfaatkan Jeden untuk menjalankan rencananya sendiri. Ia melakukan hal itu karena saat ini Gauren tidak bisa masuk ke negaranya sendiri, mengingat namanya sudah jadi daftar hitam banyak negara. Ia dianggap sebagai buronan berbahaya yang diincar banyak organisasi dan polisi. Sayangnya Gauren sampai detik ini sulit ditangkap, mengingat ia memiliki koneksi tak terbatas untuk membatunya melarikan diri dan sembuyi. Ditambah lagi aset kekayaannya yang berjumlah milyaran dollar membuatnya mudah mendapatkan apapun yang ia butuhkan, termasuk menyuap bahkan membayar instansi penting.
Gauren : Jadi kau butuh berapa banyak untuk modal membuka usaha barumu?
Jeden : Aku butuh dua ratus juta dollar
Gauten : Dollar negara kita? Atau dollar amerika?
Jeden : Tentu saja dollar amerika, aku butuh suntikan dana besar. Karena untuk melawan Vander yang sekarang, aku butuh danaΒ besar. Kau tau sekarang dia itu salah satu pebisnis paling disegani didunia. Bahkan tujuh puluh persen bisnis di negara ini di dominasi Laizen Grup.
Gauren : Ya kau benar, anak itu memang tidak main-main. Aset bisnisnya saja sudah menyentuh seratus milyar dollar amerika. Sepertinya aku berhasil menciptakan monster beranama Vander itu? Hehe...
Jeden : Kalau boleh tau, kenapa kau begitu terobsesi padanya tuan?
Gauren : Vander adalah manusia spesial, aku ingin dia bergerak mengikutiku. Aku masih butuh dirinya, oleh karena itu kau tidak boleh membunuhnya. Walau aku tahu kau juga tidak akan bisa membunuhnya sendiri.
Jeden : Ah iya aku tak peduli, yang aku hanya inginkan adalah, perusahaannya bankrut dan dia jadi gelandangan lagi.
Gauren : Terserah lakukan maumu. Yang jelas Vander tidak boleh mati, kalaupun dia mati, aku ingin dia mati ditanganku.
*bip...
"Dasar pria tua bangka! Kalau bukan karena aku membutuhkan uangnya, aku tidak sudi menjadi pionnya!" Umpat Jeden.
...πππ...
Di Crux, Dominic yang sudah tinggal sedikit lagi menyelesaikan serum yang bisa menangkal racun yang dibuat oleh kembarannya pun minta izin pada Vander, apakah ia bersedia untuk dijadikan uji coba nantinya?
"Lakukan saja jika itu yang terbaik, bagaimanapun tujuan Gauren membuat negara sendiri itu sangat mengerikan. Dia menciptakan serum yang bisa mematikan kesadaran manusia agar bisa dikendalikan olehnya sesuka hati, aku tidak bisa maafkan itu. Akuβ hampir jadi monster ditangan pria sinting itu," ungkap Vander yang masih ingat betul tubuhnya waktu itu dipaksa untuk menerima puluhan kali suntikan serum uji coba, yang dibuat saudara kembar Dominic saat itu. Dan yang masih menjadi pertanyaan Vander sampai saat ini adalah, kenapa harus dirinya? Bahkan Gauren mengincarnya sejak berusia delapan tahun. Dengan iming-iming menawarkan rumah tinggal dan kenyamanan, Vander yang kala itu sudah dibuang ayahnya sendiri pun menerima ajakan Gauren. Tapi siapa sangka, tujuan Gauren dari awal adalah menjadikan Vander alat untuk tujuannya.
"Baiklah kalau kau setuju, aku rasa satu atau dua bulan lagi serumnya akan rampung, dan saat itu aku akan mencobakannya ditubuhmu.Tapi sepertinya aku juga harus minta izin pada istrimu deh, aku takut dia marah dan sedih kalau tau suaminya aku jadikan uji coba serumku."
Vander tersenyum kecut. "Lebih baik dia tidak usah tahu, aku takut dia akan takut dan sedih."
"Hei!" Dominic menepuk pundak Vander. "Kau jangan terus berbohong padanya, kau belajarlah dari pengalamanmu. Kau yang dulu sudah berusaha menghapusnya dari ingatan saja pada akhirnya tetap tidak bisa lari darinya bukan? Jadi aku sarankan kau lebih baik jujur saja pada Nona Lara, dan jangan lupa kau masih punya anak loh bos!"
"Baru kali ini aku dengar kau bicara agak bijak," ucap Van seolah meledek Dominic.
"Omong-omong, Gauren bagaimana? Dia ada dimana sekarang?"
"Saat ini dia ada di Namibia, dia tidak bisa lagi masuk kawasan asia dan eropa, mengingat dirinya sudah masuk daftar hitam dari pemeritahan banyak negara, terutama negara kita. Aku juga dapat info dari FBI kalau, saat ini GaurenΒ masuk dalam kelompok kartel narkoba terbesar, yang menyelundupkan banyak obat-obatan tertalarang ke berbagai wilayah di seluruh dunia."
"Ah mendengarnya saja, aku tahu pria benar-benar gila," ucap Dominic tak habis pikir dibuatnya.
"Oleh sebab itu aku juga harus jadi gila untuk melawannya bukan?"
"Ya, kau dan dia, kalian sama-sama gila sih. Lalu saat ini tujuanmu selanjutnya apa?"
"Membangun kerjaan bisnis dan nama besarku sampai ke puncak tertinggi."
"Bukankah kau saat ini sudah jadi pengusaha nomor satu terkaya di asia?"
"Ya, tapi aku ingin jadi setidaknya tiga besar di dunia."
"Aku kok jadi merinding dengar ucapanmu ya?"
Vander tertawa geli. "Tentang saja, akan aku beri sedikit hartaku nanti padamu, atau setidaknya aku buatkan kau lab terbesar di kota ZR."
"Tidak usah menghiburku, bukahkah hartamu itu mau kau balik nama jadi nama istrimu semua?"
"Ya rencananya sih seperti itu,"
"Kau akan miskin kalau lakukan itu."
"Aku tak peduli, bagiku Lara dan anakku jauh lebih berharga."
"Wow, aku tidak sangka kau secinta itu pada istrimj, kalau aku wanita sepertinya aku langsung jatuh cinta padamu deh."
"Berisik dokter bodoh! Sudah aku mau ke ruanganku, jangan ganggu aku!"
"Iya- iya, baik yang mulia," sahut Dominic.
...πππ...
Di kamar hotel, Lara yang baru saja mau berangkat bekerja tak sengaja menoleh ke arah kalender yang tertera di atas meja nakas. Ia pun mengambilnya dan teringat kalau seminggu lagi putranya akan berulang tahun.
"Kira-kira aku beri dia hadiah apa ya, untuk ulang tahunnya yang ke-empat ini?" Sebenarnya Lara ingin memberikan sesuatu yang tidak harus sesuatu yang malah, yang penting akan terus diingat sampai besar nanti. "Tapi apa?"
Karena takut terlambat ke kantor, Lara pun memuttsegera mengambil tas miliknya dan pergi, sementara soal kado untuk Rey akan dipikirkan nanti dijalan. Karena kebetulan Vander sedang tidak ada, Lara pun memutuskan naik angkutan umum. Sebenarnya Vander melarang Lara naik kendaraan umum, tapi berhubung Laizen tower tidak jauh dari hotelnya menginap ia pun memutuskan untuk naik taksi.
Lara yang tengah naik lift tiba-tiba saja langsung tampak kesal, hal itu dikarenakan dirinya tanpa sengaja malah harus satu lift dengan wanita yang menyebalkan baginya. Siapa? Tentu saja Emily Hasaki, model papan atas yang kelakuan aslinya sungguh menyebalkan itu.
Meski sudah saling bertemu di Lavioletta, keduannya tidak saling menyapa, beruntung ada beberapa orang lain di dalam lift jadi tidak terlalu canggung rasanya. Sayangnya saat tiba dilantai 10, dua orang lain itu malah keluar duluan dari lift, alhasil Lara pun malah terjebak sungguhan di dalam lift bersama model sombong itu.
"Jadi kau menginap disini ya? Kau ternyata orang kaya ya? Tidak aku sangka," Ujar Emily sambil memakai kacamata hitamnya.
Malas meladeni Lara pun diam saja seolah tak peduli. Wanita beramput panjang gelap agak bergelombang itu justru sebisa mungkin tak mau berargumen dengan Emily. Karena baginya, berargumen dengan orang seperti Emily hanya akan berakhir emosi.
"Kau itu agak tuli ya, atau kau terlalu merasa rendah diri berhadapan denganku, makanya diam sajs?" ujar Emily lagi.
"Ya ampun, nona Emily sepertinya anda ini ingin sekali dapat perhatian dariku ya?"
"Eh apa kau bilang?"
"Habisnya daritadi kau bicara terus, padahal aku diam tak menanggapi loh awalnya."
"Heh! Sombong sekali, kau itu cuma desainer kelas bawah yang baru merintis, beraninya bicara begitu denganku. Kau pikir kau siapa?"
"Aku desainer yang akan membuatkan pakaian untukmu, kenapa? Suka tidak suka aku perancang busanamu, kalau aku buat pakaianmu jelek iti gara-gara kau sendiri loh..."
__ADS_1
"Cih! Kau ini menyebalkan sekali!"
"Ah ternyata sudah mau sampai sampai lantai dasar, sebelum aku pergi, biar aku beritahu, diluar hotel sepertinya ada beberapa wartawan menunggu anda. Sepertinya anda ini agak kontroversi ya karirnya?"
"Kau!"
"Sudah sampai, oke aku duluan!" Ucap Lara saat pintu lift terbuka dan pergi. "
"Sial! Aku benci wanita itu!"
...πππ...
Keluarnya dari area hotel, Lara yang langsung berjalan di pedestrian menuju ke persimpangan untuk mencari taksi, tiba-tiba saja di hampiri oleh sebuah mobil sedan berwarna putih. Sejenak Lara pun menoleh melihat mobil tersebut. Tak lama seorang pria keluar dari mobil itu dan memanggil Lara.
"Eh Kak Eiji? Kenapa kau disini?"
"Aku yang justru tanya, kenapa kau disini? Bukankah apartemenmu jauh dari sini?"
"Oh ituβ kebetulan tadi aku habis menemui kenalan di Caliente jadinya aku disini."
"Begitu ya, lalu kau mau kemana sekarang?"
"Aku mau ke kantor."
"Kalau begitu ikut saja denganku, kebetulan kantorku juga searah degan gedung Laizen."
Lara berpikir ada bagusnya juga dapat tumpangan gratis, mengingat kalau ia berjalan masih butuh waktu lima menut menuju persimpangan jalan raya. Akhirnya Lara pun bersedia menerima tawaran menumpang di mobil Eiji.
Di mobil tiba-tiba saja Eiji bertanya kepada Lara, tentang hadiah yang ia berikan tempo hari. "Apa kau suka hadiahnya?"
"β¦.Ya, aku suka kok! Gelangnya bagus," ungkap Lara yang memang merasa gelang pemberian dari Eiji memanglah bagus
"Syukurlah kau suka, lalu kenapa tidak kau pakai?"
"Eh itu, aku menyimpannya di kotak perhiasan. Sengaja tidak kupakai setiap hari karena kau tau kan, aku ini orangnya suka agak ceroboh hehe..." Maaf ya kak Eiji, aku tidak bisa bilang kalau alasan sebenarnya aku tidak pakai karena suamiku tidak suka.
"Begitu ya, padahal aku ingin sekali melihatmu memakainya." Eiji yang tidak sengaja melihat kalung melingkar dileher Lara, pun hanya bisa tersenyum getir. "Oh iya kalungmu indah sekali, aku baru lihat. Apa itu pemberian seseorang juga?"
"Eh itu- em..."
"Tidak apa-apa kalau tidak mau bilang. Tapi aku berharap aku bisa lihat kau pakai gelang dariku suatu hari."
Lara agak merasa bersalah jadinya. "Maaf ya Kak,"
"Tidak perlu minta maaf, itukan hadiah milikmu jadi terserah mau kau apakan," balas Eiji yang meski terdengar tidak masalah namun matanya jelas berkata sebaliknya.
Sementara itu, Jeden yang tengah mengendarai mobil dan berhenti di lampu merah, tiba-tiba saja menoleh kesamping. Saat itu dirinya melihat mobil yang bersebelahan dengannya kaca jendelanya setengah terbuka, saat itu juga Jeden dibuat syok karena melihat sosok Lara di mobil itu. Ia pun seolah tak percaya dibuatanya. "Apa benar itu Lara? Aku tidak salah lihatbkan?" Sayangnya, saat dirinya baru saja ingin membuka kaca jendelanya,Β mobil yang ada Lara didalamnya itu malah keburu pergi. Jeden pun bermaksud untuk mengejarnya namun sayang sekali, mobil itu malah keburu hilang jejak karena tertutupi mobil lain yang berlalu lalang.
...πππ...
Di sekolah saat Rey sedang duduk menunggu untuk di jemput, seketika malah dibuat terkesiap saat melihat ada Robert yang tiba-tiba datang menghampirinya di sekolah.
"Eh paman Robert kenapa disini? Bukankah hari ini yang akan datang menjemputku adalah paman supir?"
"Papa? Memang dia sudah pulang?"
"Ya! Oleh karena itu ayo kita segera ke dalam mobil, tuan Vander sudah menunggu."
Akhirnya Rey pun ikut Robert ke menuju mobil.
Sesampainya di mobil, Robert lekas membukakan pintu untuk Rey di kursi belakang. Ternyata disana sudah ada Vander yang sudah sejak tadi menunggunya, Rey yang girang melihat sosok papanya pun segera masuk mobil dan duduk di sebelah Vander.
Selama perjalanan, Rey bertanya kepada papanya kenapa tiba-tiba datang menjemput?
"Memangnya ada larangan menjemput anak sendiri?"
"Tidak sih, tapi tumben sekali..."
Vander sendiri bilang kalau, dirinya sudah memberitahu Lara kau ia ingin mengajak Rey pergi bersama pulang sekolah, jadi kau tenang saja"
"Lalu mama izinkan tidak?"
"Tentu saja. Tapi setelah ini kau harus ganti pakaian dulu, tidak bagus masih mengenakan seragam untuk jalan-jalan."
Akhirnya Rey pun pergi ke sebuah butik, disana pria kecil itu membeli baju dan langsung mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian yang baru saja dibelikan papanya itu.
"Wah lucu sekali, anak anda tampan seperti papanya," puji pegawai butik tersebut.
Rey hanya tersenyum tersipu, dirinya kini merasa senang sekali karena akhirnya ia tahu bagaimana rasanya punya seorang ayah. Bukan hanya Rey, Vander pun ikut berganti setelan juga, pria yang tadinya mengenakan jas itu berubah jadi mengenakan blouse lengan panjang berwarna abu-abu dengan bawahan celana hitam.
"Papa ganti baju juga?"
"Ya, bagaimana?"
"Keren! Iyakan bibi pelayan toko?"
"Ah iya, tuan sangat tampan," ungkap pelayan itu malu-malu.
Dan stelah selesai membeli pakaian, Vander pun mengajak Rey untuk makan siang bersama di restoran pilihan Rey. Namun sebelum masuk Restoran, Vander tiba-tiba saja mengenakan kacamata dan mengacak-acak rambutnya. Sontak hal itu membuat sang anak jadi curiga ada apa sebenarnya?
Vander pun menjelaskan, "Kalau ditempat ramai ada baiknya berpenampilan tidak terlalu mencolok. Sebab akan bahaya bagiku dan kau jika kelihatan media. Kau paham?"
"Em!" Angguk Rey.
"Sudah ayo masuk kedalam."
Di restoran itu anak dan ayah itu makan bersama. Lucunya Vander yang bukannya makan, malah sibuk memperhatikan putranya yang makan dengan lahap.
"Oh iya, papa kenapa tiba-tiba mengajakku pergi berdua begini? Biasanya papa maunya kalau ada mama saja perginya," ungkap Rey penasaran.
"Tidak ada alasan khusus, tiba-tiba saja aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Oleh kerena itu ayo habiskan makanmu setelah itu akan kuajak dirimu melakukan banyak hal seru."
__ADS_1
"Oke papa!" Ujar Rey menurut dan segera menghabiskan makannya.
...πππ...
Setelah makan di restoran, Robert yang menyupiri Rey dan Vander terlihat membawa mereka ke suatu tempat yang Rey tidak tahu kemana. "Papa memang kita mau kemana?"
Vander tersenyum dan hanya menjawab, "Sebentar lagi kau juga akan tahu."
Selang beberapa saat, mobil yang dikendarai Robert itu pun masuk ke sebuah equistrian park (tempat pacuan kuda). Tempat itu sangat luas, dan banyak kuda serta beberapa atlet yang sedang berlatih disana.
Rey yang sepertinya sudah tidak sabar pun langsung keluar dari mobil bersama papanya sementara Robert memarkirkan mobil.
"Papa kita akan naik kuda?"
"Yes! Kau mau aku ajari naik kuda?"
"Mau!"
Tak lama seorang penjaga kuda bernama Fred menyambut Vander dan putranya, ia bertanya apa kudanya sudah mau dikeluarkan?
"Ya, Fred tolong kau bawa kami ke kadangnya."
"Eh tunggu, apa kuda yang waktu itu tuan pesan adalah untuk tuan kecil ini?" Tanya Fred.
"Ya, ini putraku namanya Reynder."
"Halo paman Fred, aku Reynder."
"Halo, Oh aku baru tahu kalau anda sudah punya anak sebesar ini. Kau tampan sekali seperti tuan Vander. Oh iya mari aku tunjukan kuda milik anda tuan kecil."
Rey pun diajak berkeliling kandang, disanaΒ banyak sekali jenis kuda dari berbagai ras. Rey jadi penasaran kuda pemberian papanya kira-kira seperti apa ya?
"Ini tuan kecil kuda milik anda," paman Fred menunjukan seekor kuda jantan warna putih berjenis andalusia milik Rey. Kuda tersebut memang sengaja dibawa langsung dari andalusia spanyol sesuai permintaan Vander.
Rey langsung terkagum-kagum dibuatnya. "Woah aku sungguh punya kuda sendiri?" Anak itu mendekati kuda tersebut dan memperhatikannya. "Boleh aku pegang dia?" Tanya Rey.
"Tentu saja," jawab Vander.
Rey pun akhirnya mengusap dan berkenalan dengan kudanya tersebut, dan senangnya ternyata kuda itu tampak nyaman dengan Rey.
"Tuan kecil mau diberi nama siapa kudanya?"
"Siapa ya? Kuda papa sendiri siapa namanya?"
"Aku punya tiga, yang dua jantan bernama Ares dan Zeus, yang betina namanya Aphrodite."
"Wah namanya keren seperti nama dewa-dewa. Kalau begitu aku beri saja nama kudaku itu thunder supaya dia cepat sepeti petir menyambar."
"Ah nama yang bagus tuan kecil," puji paman Fred.
"Kau mau naik, biar aku ajari," ucap Vander. Meski bukan pembalap tapi Vander termasuk lihai menunggangi kuda jadi ia bisa mengajari putranya sendiri.
Akhirnya Vander mengajari Rey berkuda, perlahan-lahan Rey yang mudah diajari mulai bisa menungganginya sendiri. "Ayo Thunder bersemangatlah!" Ujar Rey tampak senang sekali sudah sedikit bisa menunggangi kuda.
Sementara Vander yang memperhatikan dari luar area pacuan, tampak bangga sekali dengan putranya. Ia tidak pernah menyangka kalau kini ia sungguhan jadi seorang ayah, dimana darah Vander mengalir dalam diri Rey. Sebagai ayah ia hanya memberikan yang terbaik, ia tidak mau Rey seperti dirinya, yang harus tumbuh dalam lingkungan yang tak semestinya.
Setelah lelah dan puas menunggang kuda, akhirnya Vander dan Rey pun bermaksud kembali ke hotel. Kebetulan tadi Lara sudah telepon Vander minta agar cepat pulang. Karena tidak mau membuat istrinya menunggu lama, Vander pun memutuskan naik helikopter menuju hotel.
Tak lama helikopter pun mendarat di hadapan Rey dan Vander yang sudah menunggunya di area kosong.
"Papa sungguh kita naik ini?"
"Ya!"
Setelah memakai atribut dan penutup telinga, Rey dan Vander pun naik ke dalam helikopter tersebut dan bersiap berangkat.
"Are you ready sir?" Tanya sang pilot.
"Yes! Lets go!"
"Roger!"
Akhirnya baling-baling helikopter pun berputar, dan terbang membawa Rey dan Vander kembali ke hotel. Sungguh Rey benar-benar kagum, ia tidak pernah menyangka dirinya akan naik helikopter diusianya yang masih kecil.
"Papa apa kau bisa menerbangkan helikopter juga?" Tanya Rey.
"Tentu! Lain kali akan aku ajak kau dan Lara terbang bersamaku, mau?"
"Mau!" Seru Rey merasa senang sekali sekaligus bangga pada papanya. Ia tidak pernah mengira kalau akan punya papa sekeren ini.Β
...πππ...
Akhirnya helikopter pun mendarat di helipad hotel Caliente. Rey yang sudah mengantuk dan ketiduran terpaksa digendong turun oleh ayahnya dan dibawa ke kamar.
Setibanya di kamar mereka menginap, kedua pria itu langsung disambut hangat oleh Lara yang sejak tadi sudah menunggu kepulangan mereka. Melihat Rey sudah tertidur, Lara pun menyuruh Van meletakan putra mereka diranjang. Setelah melepaskan sepatu dan menggantikan bajunya, Lara langsung menyelimuti putranya itu.
"Aku sayang papa dan mama..." ungkap Rey mengigau. Lara dan Vander pun saling menatap dan tersenyum, lalu saling memeluk.
"Rey sepertinya bahagia sekali, aku senang melihatnya."
"Ya, dia sepertinya kelelahan makanya sampai mengigau."
"Kau hari ini memanjakan Rey sekali," ucap Lara terdengar merajuk.
"Apa kau mau dimanja juga?"
"Ya, hari ini aku mau kau menggendongku ke kamar mandi, mencuci rambutku danβ"
"Oke! Kalau begitu kita bermanja-manjanya dikamar mandi saja!" ucap Vander tanpa aba-aba langsung menggendong sang istri, dan membawanya ke kamar mandi.
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π