Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Dendam


__ADS_3

Di hotel Caliente, Vander bersama asistennya Robert, dan Yuna melakukan pertemuan dengan Emily Hasaki dan manajemennya, untuk mengurus kontrak kerjasama Emily sebagai global ambassador Lavioletta.


Naomi selaku manajer Emily tampak sudah datang sejak tadi di ruang pertemuan, sayangnya sang model justru belum datang hingga saat ini. Padahal ini sudah lewat hampir setengah jam dari jam yang dijanjikan. Alhasil Vander pun kesal dan langsung memberi ultimatum kepada pihak manajemen Emily. "Jika wanita itu tidak datang juga dalam sepuluh menit, maka aku pastikan ini terakhir kalinya aku kenal dengan manajemen kalian! Aku tidak butuh partner kerja yang tidak profesional!"


Tentu saja pihak manajemen Emily pun ketakutan, mengingat seberapa besar pengaruh Laizen grup, tentu saja mereka tidak mau sampai diblacklist oleh pihak Laizen. "Tuan Vander, aku selaku manajer Emily minta maaf, aku yakin sebentar lagi dia akan datang jadi kumohon anda sedikit bersabar." Dasar wanita itu, sedang apa sih dia!


Tak lama, akhirnya Emily Hasaki pun muncul. Ia yang mengenakan dress selutut dengan luaran mantel bulu pun langsung menyapa tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Bonjour!"


Wanita itu langsung duduk disebelah manajernya, yang mana posisinya itu berhadapan langsung dengan tempat duduk Vander yang saat ini raut wajahnya tampak dingin.


Emily tersenyum ke arah Vander dan menyapanya. "Anda pasti tuan Vander, ternyata jika dilihat langsung anda jauh lebih tampan ya?" Emily menatap pria itu dengan tatapan matanya yang tajam dan terkesan menggoda. Sayangnya, Vander sama sekali tak peduli, dibanding tergoda akan gelagatnya yang seolah mencari perhatian, Vander sepertinya lebih ingin memberi pelajaran pada model tersebut.


"Nona Emily, apa kau merasa posisimu sudah lebih tinggi dariku?" Ucap Vander dengan suaranya yang mengintimidasi.


"Eh kenapa anda bilang begitu?"


Naomi sang manajer yang disebelah Emily pun langsung menginjak kakinya, dan menyuruh Emily minta maaf pada tuan Vander.


"Tuan Vander aku minta maaf atas keterlambatanku."


"Aku tidak peduli, lebih baik sekarang kita mulai bahas kontraknya!" ucap Vander dingin.


Pria ini semakin dia bersikap dingin dia jadi semakin hot! Ucap Emily dalam hati.


Setelah hampir satu jam, akhirnya kontrak kerjapun selesai disepakati dan ditanda tangani. Vander selaku pemilik Laizen grup dan Yuna selaku direktur utama Lavioletta juga sudah menandatangi persetujuan kontrak. Dan mulai hari ini Emily pun resmi jadi GA untuk brand Lavioletta. Mereka lalu saling berjabat tangan, tak terkecuali Vander dengan Emily, bagi Emily Vander sangat menarik perhatiannya. Tentunya, siapa yang tidak suka dengan pria tampan dan kaya raya sepertinya?


"Kalau begitu aku duluan!" Ujar Vander yang kemudian langsung meninggalkan ruang pertemuan bersama Robert.


"Aku juga permisi, aku harus kembali ke kantor, sampai ketemu lagi Nona Emily," tandas Yuna yang kemudian menyusul pergi.


Sementara Emily terlihat masih terus saja menatap kepergian Vander sambil senyum-senyum penuh arti.


"Biar kutebak, kau tertarik dengan tuan Vander?"Ujar Naomi.


"Apa itu aneh? Kau tahu, dia hot dan tampansekali! Siapa yang tidak tergoda?" Balas Emily sambil mainkan rambut panjangnya yang lurus.


"Tapi Tuan Vander bukan seperti pria kebanyakan kau kenal selama ini, dia berada di level berbeda. Dia agak misterius, dia juga tidak pernah menceritakan latar belakang keluarganya."


"Heh! Memang aku peduli, aku tertarik padanya dan semua yang ia miliki. Dan yang harus aku lakukan saat ini adalah, mencari cara agar aku bisa dapatkan dia!"


...🍁🍁🍁...


Di sekolah, ibu guru baru saja memberi info kalau lusa adalah hari keluarga. Itu artinya lusa nanti orang tua murid wajib datang ke sekolah untuk menemani putra putri mereka. Dari semua acara sekolah, sejujurnya acara seperti ini yang paling tidak disukai Rey. Baginya acara pertemuan keluarga seperti itu adalah momen yang menyedihkan baginya, mengingat setiap bulannya Rey hanya akan ditemani oleh mamanya saja, atau bahkan hanya ditemani Emika mengingat sang mama kadang sibuk kerja. Menurut Rey, dirinya lebih baik bolos daripada masuk hanya untuk melihat anak-anak lain bercengkrama dengan orang tuanya. Belum lagi ejekan dari Leo yang seringkali membuat Rey kesal dan sakit hati.


"Huft!" Rey menghela nafas dan bergumam, "Papa Vander mau tidak ya kalau menemaniku saat hari itu? Tapi sepertinya agak mustahil, aku kan hanya anak pura-puranya. Dia juga belum tentu suka padaku, bisa jadi dia suka aku karena dia suka mama."


"Reynder, tolong surat ini berikan pada mamamu ya," ucap ibu guru memberikan surat undangan pertemuan keluarga disekolah.


"Bu guru, boleh tidak kalau lusa aku tidak usah masuk saja?"


"Eh memangnya kenapa Rey?"


"Ituβ€” um, "


"Rey tidak mau masuk soalnya Reynder malu karena tidak punya papa bu guru!" Seru Leo sambil tertawa.


"Leo kau tidak boleh bicara seperti itu pada temanmu," tegur bu guru.

__ADS_1


"Tapi kenyataannya Rey memang tidak punya papa bu guru. Dia itu cuma anak pungut!"


"Berisik dasar kau Leo bodoh!" Ucap Rey sambil mengepalkan kedua tangannya. Di ejek oleh Leo terus begitu, tentu saja Rey tidak bisa tahan lagi. "Dengar semua, lusa akan aku bawa papaku kesini dan siapapun terutama kau Leo, kalian akan menyesal setelah bertemu dia!"


"Rey, kau jangan ambil hati ucapan Leo ya, setelah ini ibu guru akan menasehati Leo dan beri pelajaran padanya."


"Aku tidak peduli!" Rey yang sudah pada puncak kekesalannya pun bersumpah pada dirinya kalau ia akan bawa Vander kesekolahnya lusa.


...🍁🍁🍁...


Di kantor Lavioletta, Lara yang tengah mengerjakan pakaian rancangannya pun bertanya kepada salah satu staf, kapan Yuna kembali dari pertemuannya dengan Vander dan tim manajemen Emily Hasaki?


"Entahlah, tapi biasanya Nona Yuna kalau sudah selesai urusan apapun pasti akan selalu ke segera kembali ke kantor."


"Begitu ya?" Sebenarnya Lara tanya begitu karena ia tahu kalau suaminya juga turut hadir dipertemuan itu untuk membahas kontrak dengan Emily. Lalu apa yang membuat Lara tampak agak gelisah? Sebenarnya yang membuat Lara agak gelisah seperti itu adalah karena Emily, mengingat dirinya yang kemarin baru bertemu model itu di Lavioletta pertemuannya kurang bagus.


#Flashback.


Lara yang saat itu menemani Yuna tampak menyambut kehadiran Emily Hasaki di kantor Lavioletta. Melihat sosok model tersebut, sontak Lara langsung dibuat kagum melihatnya saat itu, karena wanita itu punya kaki yang panjang dan tubuhnya yang ramping serta tinggi badan diatas 170 sentimeter.


Wah dia cantik, kakinya sangat panjang! Puji Lara dalam hati.


"Selamat datang Nona Emily," sapa Yuna dan staf lain, diikuti Lara yang juga menyambutnya dengan sopan.


"Ya, oh iya jadi kau akan berikan aku pakaian apa saat even nanti?" Ujar Emily terdengar agak angkuh.


"Nona selain aku, ada Nona Lara juga yang rancangan pakaiannya akan kau pakai nanti," jelas Yuna.


"Oh iya aku Lara salam kenal, aku akan berusaha sebaik mungkin membuatkan pakaian untuk anda nona Emily," pungkas Lara dengan sopan.


Sayangnya ucapan sopan itu malah dibalas Emily dengan sebaliknya. Wanita itu cenderung memberikan tatapan meremehkan ke arah Lara dan berkata, "Aku tidak pernah dengar namamu, aku ragu rancanganmu akan membuatku tampak jelek."


Flashback off.


"Sayang, kemarin aku tidak bisa melawan balik ucapannya!" sesal Lara. Sebenarnya ia tidak bisa membelas Emily dikarenakan Lara sendiri memang belum punya karya rancangan di dunia fashion, jadi Lara berpikir untuk diam saja saat itu adalah hal yang terbaik.


...🍁🍁🍁...


Di perjalanannya kembali ke Laizen, Vander sadar kalau sejak tadi ada dua mobil yang mengikuti mobilnya dibelakang. Ia pun meminta Robert untuk mengecoh mereka dan membawa mereka ke jalanan yang lebih sepi agar lebih mudah diidentifikasi.


"Baik Tuan," Robert pun menyetir mobilnya ke jalur yang lebih sepi. Ternyata benar, dua mobil sedan itu memang sejak dari Caliente terus menguntit mobil yang dinaiki Vander.


"Tuan, apa mereka juga orang-orangnya Gauren?" Tanya Robert sambil terus fokus menyetir dan mengawasi kedua mobil sedan yang kini semakin mendekat. Kedua mobil itu kini melaju di sebelah sisi kanan dan kiri mobil Vander seolah membatasi pergerakan sampingnya.


"Tuan mereka mendekati kita!" Ucap Robert, yang seolah sudah tahu kalau akan segera dihadang.


Dan benar saja, salah satu mobil itu seketika memblok jalan Vander, alhasil Robert pun jadi terpaksa mengerem mendadak. "Ah mereka sepertinya mau menyerang kita tuan."


Vander yang duduk di kursi belakang pun tak begerak, dirinya malah terlihat santai menunggu orang-orang yang mengejarnya itu turun dari mobil. Tak lama kemudian, beberapa orang yang mengejar Vander turun dari mobil mereka dan langsung menodongkan pistol ke arah mobil yang dinaiki dirinya dan Robert.


"Tuan jadi harus bagaimana?" Tanya Robert.


"Haiz! Menyusahkan saja tikus-tikus bodoh ini!" ujar Vander.


Di luar para pria yang berpenampilan mirip gangster itu terus-menerus menggedor mobil Vander. Hingga akhirnya Robert keluar dari mobil dan berkata, "Ada apa? Aku tidak mau ada kekerasan, jadi kita bicarakan baik-baik saja."


"Kami hanya minta bosmu keluar dan ikut kami!" Seru salah seorang gengster itu.

__ADS_1


"Kalian siapa, bosku sibuk."


"Kau tidak perlu tahu, yang jelas aku ingin bosmu ikut kami!"


Tiba-tiba Vander membuka kaca mobilnya dan berkata. "Sayangnya aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk para pencundang kelas teri seperti kalian," ucap Vander dengan santainya.


"Sial! Semua paksa dia keluar!" Akhirnya perkelahian pun tak terelakan. Robert mau tak mau harus melawan para penjahat itu pada akhirnya.


Sementara di dalam mobil Vander yang duduk santai terlihat tenang sambil berpikir, siapa sebenarnya orang-orang ini? Menurut Vander jelas tidak mungkin Gauren, mengingat pria itu pasti tahu jika ingin menangkap dirinya tidak mungkin mengirim penjahat kelas rendah seperti mereka. Karena Gauren tau kekuatan Vander sebesar apa. Pada akhirnya Vander lelah menunggu Robert selesai bertarung, ia malah pindah ke kursi kemudi, dan langsung tancap gas. "Aku duluan Robert, para pecundang itu kau urus saja sendiri!" ujaranya lalu pergi.


"Kejar mobil itu!" Perintah salah satu penjahat agar yang lain mengejar Vander.


Akhirnya dua orang penjahat masing-masing mengendarai mobil dan mengejar Vander.


"Mengejarku? Heh! Dasar para sampah banyak tingkah!" Umpat Vander sambil erus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu menyetir dengan wajah senang, seolah menganggap ini semua main racing drift. "Ah kita lihat sampai mana mereka bisa mengejarku?"


Vander kini melintasi jalanan yang dibatasi jurang. Ia pun terus mengebut dan berkelok layaknya sedang melakukan drifting di lintasan.


Alhasil dua penjahat itu pun terkecoh dan oleng, mereka yang jadi hilang kontrol arah pun malah saling bertubrukan dan akhirnya salah satunya pun jatuh ke jurang, dan yang satunya terguling di jalan dan mobilnya terbakar.


"Setidaknya mereka mati dengan cara yang keren!" Ucap pria itu agak tertawa lalu terus melaju pergi.


...🍁🍁🍁...


"Bodoh! Kalian semua tidak berguna!" Pekik seorang pria saat sedang menelepon.


"Maaf tuan Jeden, tapi tuan Vander dia bukan lawan kami,"


Jeden yang marah pun langsung menendang pria tersebut. "Lalu untuk apa kau buat organisasi bodohmu itu kalau kau tidak sanggup menghabisi nyawa satu orang saja!"


"Tuan jeden, anda harusnya tau dengan kedudukan Vander saat ini, pria itu tidak mungkin tersentuh. Dia orang paling berpengaruh di negara ini, bahkan di benua ini uhuk!" Terang pria itu sambil kesakitan.


"Persetan!" Mata Jeden menunjukan kebencian yang tak terbendung pada Vander.


Bagi Jeden dirinya masih tidak bisa terima melihat gelandangan itu tiba-tiba kembali dan menjadi arogan. "Ia bahkan tak mau memandangku dan malah membeli semua saham Miracle dan menendangku dari jabatan!" Jeden dendam pada Vander karena pria itu telah membuatnya bangkrut dan kehilangan jabatannya. "Bukan hanya perusahaan, dia bahkan merebut wanita yang aku cintai sejak lama, aku ingin sekali menghancurkan pria busuk itu!


"Tuan jika kau ingin menghancurkan pria itu maka kau harus membayar mahal dan mengambil resiko. Pria itu sangat kuat dalam segala aspek, Laizen grup menguasai hampir tujuh puluh persen perputaran perekonomian negara ini. Anda tidak bisa melawan pria itu dengan cara biasa, kalau pun anda menyewa pembunuh kelas S tetap saja sulit, Vander sendiri adalah dulunya pembunuh paling berbahaya di Crux."


Jeden mengepalkan tangannya. "Sial! Aku tidak bisa melawannya kalau seperti ini, pria sialan itu teralalu kuat!" Tapi aku tetap ingin mengahancurkannya, dia sudah membuat Lara pergi dari kota ini dan dia sudah membuatku hilang jabatan, Vander Liuzen tempatmu harusnya di neraka!


...🍁🍁🍁...


Di kediamannya Rey yang baru pulang sekolah tiba-tiba saja mengadu kepada Emika tentang dirinya yang kesal, karena terus diejek anak pungut hanya karena tidak punya papa. Mendengar cerita Rey Emika pun jadi kasihan dan marah karena tahu Rey yang ia anggap sudah seperti keponakannya sendiri diejek.


"Bibi Emi, aku sudah terlanjur bilang pada semuanya kalau aku punya papa yang akan datang lusa nanti, tapi aku takut kalau- kalau paman Vander tidak mau datang," ucap Rey sedih. "Aku mungkin bisa memanggilnya papa waktu itu, tapi untuk mengenalkan ke semua orang, apa mungkin dia mau? Apa paman Vander sungguh mau jadi papaku? Akuβ€” aku cuma ingin seperti anak-anak lain bibi Emika... Tapi kalau aku bilang ingin papa, aku takut mamaku sedih, huhu..."


Tak kuasa melihat Rey bersedih, Emika pun langsung memberi ide dengan mengajak Rey langsung ke Laizen tower menemui Vander dan bilang padanya langsung.


"Ta- tapi bibi Emi?"


"Tidak ada tapi, pilihanmu hanya mau atau tidak? Setidaknya coba dulu kita temui tuan Vander baru kita lihat hasilnya," ucap Emika meyakinkan Rey.


"Em! Baiklah aku mau!"


"Oke segera ganti baju lalu kita kesana segera!"


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS


__ADS_2