
Dona pun berbalik badan, dan seketika wajahnya langsung jadi pucat pasi melihat sosok Van yang tampak dingin dan sorot matanya menunjukan luapan emosi.
"Siapa yang sedang kau telepon? Dan kenapa kau ketakutan melihatku! Jawab!" Desaknya dengan tatapan matanya yang tajam hingga membuat Dona gemetar ketakutan, hingga membuatnya jadi gagap.
"A- a- aku sedang—"
Dona benar-benar merasa takut dan terpojok saat ini. Disatu sisi ia takut pada Van, dan disisi lain ia juga tidak berani bilang kalau ia sedang menelepon Karina.
"Cepat katakan!" Ujar Vander semakin tampak mengerikan.
Karena Dona tak kunjung menjawab, Vander pun meminta perempuan itu untuk memperlihatkan ponsel miliknya. Aku harus apa? Untuk sekedar melihat tatapan tajam Vander saja Dona bahkan tak berani. Tapi Dona tidak mungkin kalau harus memperlihatkan ponsel miliknya kepada Van.
Van sudah hilang kesabaran, ia pun bermaksud merebut ponsel dari tangan Dona namun sayangnya Van malah dihalangi oleh Jeden yang tiba-tiba saja muncul.
"Ada urusan apa kau dengan pegawaiku?!" Tanya Jeden dengan begitu sinis.
"Tidak ada urusannya dengan anda tuan Jeden," balas Vander dengan nada datar.
"Perlihatkan ponselmu padaku sekarang!" Ujar Vander sekali lagi mendesak wanita itu.
Jeden yang tidak suka melihat apa yang dilakukan Van terhadap Dona, langsung memperingatkannya agar tau diri dan tidak memperlakukan bawahannya seperti itu. "Ingat! Kau itu cuma pengawal rendahan jadi jangan sok berkuasa disini!"
Van jadi teringat dengan kjadian di toko baju beberapa waktu lalu. Di ingatannya masih terekam jelas bagaimana Jeden merendahkan Van saat itu.
"Kenapa diam, kau mau mengadu pada Lara iya? Dasar pecundang tengik!" Maki Jeden.
Vander mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin sekali meninju wajah Jeden dengan keras saat itu juga. Tapi Van sadar, jika hal itu ia lakukan pasti hanya akan membuat masalah baru untuk Lara jadi ia pun mengurungkan niatnya. Van tidak ingin membuat Lara masuk kedalam konflik pribadinya dengan Jeden.
Vander memberikan tatapan tajamnya ke arah Jeden dan Dona, barulah kemudian ia pergi meninggalkan keduanya.
Setelah Vander pergi, Jeden kemudian bertanya kepada Dona sebenarnya apa yang telah pegawainya itu lakukan hingga membuat Van marah seperti tadi. Sama halnya yang dilakukan pada Van, Dona juga tidak bisa menjawab pertanyaan dari Jeden.
"Cepat katakan sejujurnya padaku," ucap Jeden memaksa.
"Itu karena—" Aduh bagaimana aku jelaskan pada tuan Jeden soal ini?
"Kau katakan padaku, atau aku pecat kau saat ini juga," ancam Jeden.
Mendengar kata dipecat Dona langsung ketakutan dan memohon, "Tu- tuan aku mohon jangan pecat aku. Aku tidak mau dipecat."
"Maka dari itu cepat katakan!"
"Baiklah sebenarnya..." Dan pada akhirnya Dona pun mengatakan kepada Jeden tentang dirinya yang dibayar oleh Karina Foster untuk mengawasi Van dan Lara.
"Karina? Untuk apa dia melakukannya?" Jeden jadi penasaran apa sebenarnya maksud Karina dibalik ini semua.
__ADS_1
"Tuan Jeden aku sudah katakan padamu, jadi aku mohon jangan memecatku ya," ucap Dona menghiba.
"Aku tidak akan memecatmu asalkan kau turuti semua perintahku dan jangan coba-coba bekerjasama dengan orang lain apalagi berani membohongiku."
"Aku berjanji tuan Jeden," pungkas Dona.
~~
Di ruangannya Karina marah-marah karena merasa gelisah dan takut.
Sebelum ia menutup teleponnya tadi, Karina sempat mendengar suara Van lewat sambungan telepon Dona, dari nada bicaranya Karina bisa mesakan kalau Van seperti tengah marah.
"Bagaimana ini, bagaimana kalau sampai Vander tau kalau akulah yang menyuruh Dona memata-matainya?" Karina merasa tidak tenang saat ini, ia takut jika Van tau soal dirinya yang membayar Dona, pria itu akan marah dan tidak suka padanya. Tentu saja Karina tidak mau hal itu sampai terjadi mengingat jika ia tidak bisa mendapatkan Van, itu tandanya ia lagi-lagi dikalahkan oleh Lara.
"Tidak! Aku tidak mau wanita itu mengalahkanku lagi. Bagaimanapun Van harus jadi miliku bukan Lara," ujar Karina menggebu-gebu. Karina harus cari cara lain agar dirinya bisa mendapatkan Van. "Tapi sebelum itu yang terpenting sekarang adalah, aku harus memastikan jika Van tidak tau kalau akulah orang yang telah memerintahkan Dona memata-matainya."
**
Di sebuah rumah sakit terlihat ada Aron yang tengah menemani sang istri periksa kandungan. Saat itu Aron ingin ke meja resepsionis untuk menginfokan sesutu, dan tidak sengaja ia malah melihat sosok Eva yang sepertinya baru saja selesai melakukan pembayaran administrasi.
"Eva? Ada apa dia ke rumah sakit? Apa dia sakit?"
Karena penasaran Aron pun diam-diam mengikuti wanita itu. Sayangnya Aron tak dapat info apa-apa, Eva setelah dari administrasi malah langsung masuk ke dalam mobil yang telah menjemputnya di depan area parkir. Aron ingin sekali mengikuti kemana Eva pergi sayangnya pria itu tidak bisa, karena masih harus menemani sang istri yang akan memeriksakan kandungannya.
Aron pun bergegas menelepon Van untuk memberitahukan soal Eva.
Vander : Halo?
Aron : Van aku baru saja melihat Eva dirumah sakit!
Vander : Lalu apa yang dia lakukan disana.
Aron : Aku sendiri tidak tahu, karena aku melihatnya juga tidak senganja. Yang aku tau setelah Eva dari ruangan administrasi dia langsung pergi dari rumah sakit.
Vander : Kau tidak mencari tau dia kemana?
Aron : Aku ingin, tapi sayangnya aku sedang bersama istriku menemaninya periksa kandungan jadi tidak bisa.
Vander : Begitu ya, oh iya rumah sakitnya ada dimana?
Aron : ZR medical center
Vander : Baiklah kalau begitu.
~
__ADS_1
"Semoga saja tidak ada terjadi huru hara lagi seperti dulu," ucap Aron merasa khawatir.
**
Lara baru saja keluar dari ruangannya. Disana ia melihat Van yang berada didepan ruangnya menunggunya. Van tidak melihat Lara keluar karena ia tengah membelakanginya sambil menelepon. Lara pun berniat mengagetkan Van dari belakang.
"DOR!" Seru Lara sambil menepuk kedua pundak pengawalnya itu.
Van pun langsung seketika panik dibuatnya.
Sementara Lara malah tertawa geli melihat Van yang raut wajahnya tegang saat ini.
"Ya ampun aku tidak menyangka seorang Vander kaget sampai seperti itu," ujar Lara belum berhenti tertawa.
Sejujurnya Van sendiri bukan tegang karena dikagetkan Lara, melaikan ia khawatir kalau sampai Nonanya itu mendengar percakapannya dengan Aron tadi soal Eva.
"Van kau sampai berkeringat, memang aku semengagetkan itu ya?" Tanya Lara melihat Van tiba-tiba berkeringat dan tak nyaman.
"Oh i- itu mungkin karena aku lapar," jawab Van berkelit.
Mendengar jawaban Vander begitu malah membaut Lara merasa aneh. Apa iya dia merasa lapar, tapi ini kan masih jam empat sore?
"Oh iya tadi aku lihat sepertinya kau habis menelepon, kalau boleh tau siapa yang barusan kau ajak bicara di telepon?" Tanya Lara penasaran.
Van tersentak. Ia tengah berpikir harus jawab apa supaya Lara tidak curiga. "Itu— tadi temanku yang seorang montir barusan menelepon."
"Montir? Aku baru tau kau punya teman seorang montir, siapa namanya? Dan kau kenal dia dimana?"
Gawat! Van sepertinya lupa kalau yang sedang diajak bicara adalah Lara Hazel bosnya sendiri. Dimana Van harusnya sudah tau kalau Lara ini tipe gadis yang cukup kritis, dan mendetail kalau sudah bertanya sesuatu.
"Dia adalah teman lamaku dulu yang aku kenal saat aku kerja di salah satu bengkel di kota ini," ungkap Van dengan santai.
"Oh jadi dulu kau juga pernah jadi seorang montir? Waw aku baru tau."
Lara melirik Van seolah penuh tanya.
Sepertinya Van masih banyak menyimpan cerita tentang dirinya yang belum diceritakannya padaku. Aku jadi semakin penasaran dan ingin tau lebih jauh tentang pria ini. Sebenarnya pria seperti apa pengawalku ini?
Maafkan aku Nona. Karena menurutku akan jauh lebih baik jika kau tidak terlalu jauh mengetahui tentang siapa diriku.
Bersambung...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARANYA BIAR AKU SEMANGAT 💜
IG @chrysalis_17
__ADS_1