
Keesokan paginya Lara terlihat tengah membereskan makanan semalam yang tak sempat termakan sama sekali. "Sayang sekali jadi terbuang, harusnya aku jangan masak dulu kalau belum tau kapan Vander pulang," ucapnya dengan nada pilu.
Selesai membereskan sisa makan malam yang tak termakan itu, Lara pun bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sebelum berangkat ia menelepon Gavin untuk segera menjemputnya di apartemen.
Setelah menelepon Gavin, Lara berpikir untuk menelepon Vander, namun ia ragu untuk menghubunginya karena takut akan kecewa lagi kalau ternyata lagi-lagi ponsel suaminya belum aktif. Tapi dirinya yang benar-benar ingin tahu keadaan sang suami pada akhirnya memutuskan untuk menelepon, dan lagi-lagi berakhir dengan kekecewaan karena ponsel suaminya itu belum juga aktif sampai sekarang.
"Kebiasaan suka menonaktifkan ponsel, apa dia tidak rindu sama istrinya!?" Bicara begitu Lara sebenarnya tengah menghibur diri agar tidak terlalu terbawa perasaan dirinya yang sesungguhnya merasa cemas, takut, dan sedih.
Setibanya di apartemen Lara, seperti biasa Gavin akan menunggunya di depan lobi. Dan tak sampai lima menit Lara sudah ada di depan lobi apartemen. Gavin pun langsung membukakan pintu untuk wanita itu dan menyapanya dengan ramah. "Selamat pagi Kak Lara."
"Pagi Gavin."
Selama di perjalanan menuju Miracle, diam-diam ternyata Gavin memperhatikan Lara dari kaca spion di depannya. Ia merasa kalau hari ini Lara tampak lesu dan murung, tidak seperti biasanya yang ceria dan selalu mengajaknya ngobrol. Sementara hari ini sejak awal berangkat, Lara hanya terus saja terlihat melamun sambil memandang keluar jendela. Merasa khawatir Gavin pun menanyakan langsung kepada Lara.
"Kak Lara apa kau sakit? Kau terlihat agak lesu?"
"Um- tidak kok."
"Apa— kau sedang bertengkar dengan Kak Vander?"
"Um— ti- tidak kok," Lara tersenyum. Meski tersenyum tapi Gavin bisa merasakan kalau senyumnya itu berbeda dari biasanya. Senyumnya barusan tampak sedih.
"Oh iya Gavin— apa kemarin kau sempat bertemu atau berkomunikasi dengan Vander?"
"Eh?" Gavin agak aneh mendengar Lara tiba-tiba bertanya begitu.
"Ma- maksudku apa dia sempat bicara padamu kemarin, baik ditelepon ataupun langsung."
"Seingatku dari kemarin aku sama sekali tidak ada komunikasi dengan kakak, memangnya kenapa?"
"Oh tidak apa-apa kok, sudah ayo cepat kita ke kantor!" Ucap Lara mengalihkan topik pembicaraan.
Sebenarnya ada apa sih dengan kak Lara ini? Kok aku merasa hubungannya dengan kak Vander sedang tidak beres ya? Mau bertanya, tapi nanti aku malah dikira terlalu mau tau urusan rumah tangga mereka. Huft serba salah!
**
Di kantin Miracle, Miranda dan Gavin tampak sedang menikmati sarapan bersama. Disana Gavin bercerita kepada Miranda kalau hari ini saat mengantar Lara ke kantor ia melihat ada yang aneh pada diri wanita itu.
"Aneh bagaimana maksudmu?" Ucap Miranda yang belum paham jelas cerita kekasihnya itu.
"Aku lihat kak Lara hari ini tampak lesu dan agak pucat, saat aku tanya kenapa, dia malah bilang baik-baik saja. Lalu tiba-tiba saja dia malah bertanya apa aku sempat bicara dengan kak Vander kemarin."
"Lalu kau jawab apa?"
"Aku bilang tidak, dan tiba-tiba saja raut wajahn jadi murung. Saat aku tanya apa dia sedang bertengkar dengan kak Vander, dia malah bilang tidak dan malah tersenyum. Namun senyumnya itu aneh, senyum kak Lara tadi justru bukan senyum bahagia melainkan senyum seraya menahab sedih. Aku jadi khawatir padanya, sayangnya kalau sama kak Lara aku tak berani bertanya lebih jauh. Mungkin kalau Miranda yang tanya kak Lara akan lebih terbuka."
Miranda jadi ikut khawatir mendengar cerita Gavin barusan. "Yasudah, nanti siang aku akan tanyakan pada Lara selesai meeting kantor."
**
Di ruangannya, Lara yang baru saja kembali dari toilet tampak lemas dan merasa pusing. Ia pun memanggil Anna sang sekretaris dan meminta untuk membawakan teh jahe untuknya. Lara duduk sambil perlahan memijat kepalanya agar tak terlalu pusing.
Sementara itu Miranda yang baru saja selesai melakukan meeting, terlihat langsung bergegas ke ruangan Lara untuk menemuinya. Dan saat menuju ke ruangan temannya itu, ia melihat Anna tengah membawa secangkir minuman ditangannya.
"Anna!" Seru Mira yang langsung menghampiri Anna. "Anna kau bawa apa itu?"
"Oh ini teh jahe untuk Nona Lara."
"Oh, tumben sekali dia minum teh itu?"
"Sepertinya hari ini Nona Lara agak kurang sehat, makanya dia memintaku membawakan teh ini untuknya."
Penjelasan Anna membuat Miranda jadi semakin khawatir dengan kondisi Lara saat ini. "Yasudah Anna, kalau begitu biar tehnya aku yang bawakan saja kebetulan aku juga mau ke ruangan Lara."
"Apa tidak merepotkan Nona Miranda?"
"Tidak sama sekali, sudah sana kau lebih baik kembali saja bekerja."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu terima kasih Nona Mira."
Akhirnya Miranda yang jadinya membawakan teh jahe itu ke ruangan Lara.
Setibanya di ruangan, Mira malah mendapati kalau tidak ada orang di ruangan Lara.
"Kemana anak itu pergi?"
Miranda meletakan teh yang dibawanya itu diatas meja Lara dan celingak celinguk mencari Lara. "Apa dia sedang ke toilet?"
Tak lama, muncul Lara yang baru saja keluar dari toilet yang ada di ruangannya.
"Ah aku pikir kau sedang keluar."
"Mira? Ada apa?" Tanya Lara dengan nada suaranya yang terdengar lesu.
"Sudah duduklah dulu, dan segera minum teh jahennya itu," titah Mira.
"Eh kau bawakan aku teh ini—"
"Tadi aku bertemu Anna saat ingin kesini, dan dia bilang kau sedang kurang sehat makanya menyuruhnya bawakan teh jahe. Karena sekalian, jadi kupikir aku saja yang bawakan."
"Terima kasih ya," Lara kemudian duduk dan meminum teh jahenya tersebut. Setelah minum teh jahe tubuh Lara jadi terasa lebih enak.
"Oh iya ada apa kau menemuiku Mira?"
Miranda tadinya mau tanya-tanya perihal dirinya dan Vander, tapi melihat temannya yang seperti memang sedang kurang enak badan, dirinya jadi takut malah membuatnya kepikiran. "Um— aku kemari mau memastikan saja apa kau baik-baik saja atau tidak. Karena Gavin tadi bilang padaku kalau, kau itu hari ini agak aneh katanya. Memang sebenarnya ada apa Lara? Ceritakan saja padaku kalau ada masalah."
Lara menggenggam kedua tangannya yang ada diatas pangkuan. "Tidak apa-apa kok, aku cuma sedang tidak enak badan saja." Jawabnya sambil tertawa kecil.
"Kau yakin?" Miranda tidak yakin dengan ucapan Lara tersebut barusan.
"Em— Mira, karena kebetulan kau ada disini, aku mau minta tolong padamu boleh?"
"Minta tolong apa?"
"Oh cuma itu, tentu saja."
"Mira tapi bukan ke dokter yang itu maksudku."
"Lalu dokter yang mana?"
"Temani aku ke— ke dokter kandungan."
"Huh?" Miranda langsung membulatkan matanya dan menatapi Lara dalam-dalam. "Kau hamil?"
"Aku tidak tau pasti sih, tapi kemungkinan besar iya. Karena aku baru sadar kalau sudah tiga minggu telat datang bulan, dan sejak kemarin entah kenapa setiap pagi menjelang siang aku rasanya suka mual-mual," jelas Lara malu-malu.
"Wah Asyik! Berarti sebentar lagi aku akan jadi bibi!" Seru Mira menyambutnya dengan gembira.
"Eh tapi tunggu, kau hamil dan punya suami, kenapa malah minta aku yang menemanimu ke dokter kandungan?" Miranda menatap curiga ke arah Lara. "Lara jujur padaku, kau tidak sedang bertengkar dengan si brengsek itu kan?"
"Um tidak kok, hanya saja aku— aku mau buat kejutan saja untuk Vander. Oleh karena itu aku mau memastikan dulu ke dokter apa aku sungguhan hamil atau tidak, baru aku beritahukan ke Vander," jelas Lara.
Tapi entah kenapa Miranda merasa Lara sedang tidak jujur padanya saat ini. Lebih baik sekarang aku pura-pura percaya saja dulu nanti setelah dari dokter baru aku pastikan.
"Jadi Mira, mau kan kau temani aku ke dokter kandungan nanti?" Tanya Lara lagi.
"Oh iya tentu saja. Nanti aku akan minta Gavin untuk mengantar kita."
"Terima kasih ya Miranda, kau memang sangat baik!"
"Aduh kau seperti baru kenal aku saja, tentu saja aku ini sangat baik!" Sambil senyum Mira tiba-tiba memandangi Lara yang tampak tengah mengusap perutnya.
"Eh mira kenapa kau tersenyum melihatku begitu?"
"Tidak, aku hanya tidak merasa lucu saja. Lara kecilku yang dulu suka menangis sekarang malah sudah bisa menghasilkan anak kecil," ujarnya diikuti gelak tawa.
__ADS_1
**
Sore harinya Lara bersama Miranda diantar oleh Gavin pergi ke rumah sakit untuk cek ke dokter kandungan.
Setibanya di rumah sakit, mereka pun langsung masuk dan berjalan menuju ke ruangan dokter Obgyn.
"Sebenarnya kak Lara sakit apa sih?" Tanya Gavin yang belum tau kalau Lara mau cek kehamilan.
"Berisik! Lagipula siapa yang sakit, kita kemari itu mau mengantar Lara cek kehamilan," ujar Miranda.
"Huh?" Gavin syok. "Eh ja- jadi kak Lara kau sedang hamil?"
"Kenapa harus kaget begitu sih! Perempuan punya pasangan kalau hamil ya wajar!" Omel Miranda.
Mereka pun akhirnya sampai di depan ruangan dokter. Disana Lara kemudian masuk sendirian, sementara Gavin dan Miranda menunggu di luar..
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dokter, Lara yang tengah duduk menunggu pun kembali dipanggil menemui dokter wanita tersebut.
"Jadi dokter bagaimana hasilnya?" Tanya Lara yang duduk menghadap sang dokter.
Kemudian dokter wanita yang berusia 40-an itu pun tersenyum kepada Lara dan berkata, "Nyonya selamat ya anda positif hamil, dan usia kandungan anda sudah memasuki tujuh minggu."
Mata Lara langsung berkaca-kaca dan menangis terharu. "Jadi aku sungguhan hamil dokter?" ucapnya tak menyangka.
"Iya kau hamil nyonya, ini hasil USGnya." Dokter memberikan potret hasil USG janin yang ada diperut Lara.
"Janin anda sangat sehat, tolong dijaga baik-baik ya."
Lara memandangi gambar hasil USG-nya. ia tampak bahagia bercampur haru. Lara benar-benar tidak menyangka kalau saat ini ada makhluk kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan mendapati hasilnya, Lara pun keluar dari ruangan dokter. Mira dan Gavin yang sejak tadi menunggu diluar pun langsung datang menghampiri Lara karena tak sabar ingin mengetahui hasilnya.
"Jadi kak, bagaimana hasilnya?"
"Aku sungguhan hamil," ungkap Lara pada Gavin dan. Mira
Mendengar hal itu Gavin dan Miranda pun senang sekali dan saling memeluk.
"Wah, kak Lara selamat ya..., akhirnya aku akan segera jadi paman!" Seru Gavin girang.
"Lara selamat sekali lagi," pungkas Mira yang tak bisa menahan kebahagiaannya mendengar temannya itu akan segera jadi ibu.
"Eh tunggu, di surat keterangannya usia kandungannya sudah tujuh minggu, sementara mau menikah baru mau tiga minggu, jadi sebelum menikah sebenarnya kau sudah mengandung? Kenapa baru cek?" Ucap Mira kesal.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak kepikiran kalau aku hamil."
"Memangnya Vander kalau berbuat tidak pakai pengaman ya?" Pungkas Miranda.
"Vander bilang dia tidak suka pakai 'itu' katanya rasanya kurang enak," jawab Lara dengan polosnya.
"Ya ampun kau ini...! Tapi siapa peduli, toh kalian saling mencintai dan sudah menikah juga. Kau jaga baik-baik keponakanku ya."
"Kak Lara cepat telepon kak Vander beritahu dia, kalau dia sebentar lagi akan jadi ayah, aku mau lihat ekspresinya," ujar Gavin.
Lara pun seketika terdiam dan bingung.
"Kak Lara kenapa malah diam begitu? Aku salah bicara ya?"
"Oh ti- tidak kok, lebih baik kita segera pulang saja yuk...! Aku lapar sekali rasanya mau makan," Ajak Lara yang kemudian langsung melangkah pergi duluan.
Melihat sikap Lara dugaan Mira semakin jelas, kalau Lara pasti sedang tidak baik-baik saja dengan suaminya.
"Kau lihat kan Mira, kak Lara jadi bersikap aneh saat aku menyebut kak Vander. Aku yakin dia pasti sedang tidak baik-baik saja dengan suaminya itu."
Sama, Miranda pun berpikir seperti yang Gavin katakan.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜