
Setelah tiba di rumah Sanchez yang terletak di pinggiran kota. Vander dan Gavin langsung diajak masuk ke dalam. Karena itu rumah pemberian mendiang orang tua Sanchez yang sudah meninggal, ia pun tinggal sendiri disana. Alhasil saat ia tahu kalau Vander akan ke Bogota, ia pun langsung menawarkan cuma-cuma tempat menginap sementara untuk Vander dan Gavin selama disana.
"Ini kamar kalian berdua, silakan masuk." Sanchez mengajak masuk dan menunjukan kamar yang akan ditempati oleh Vander dan Gavin selama di kota itu. Kamar itu memang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan bersih.
"Bagaimana lumayan kan kamarnya?" Tanya Sanchez.
"Sangat lumayan, daripada harus repot cari penginapan ini sih jauh lebih efisien," jawab Gavin yang kemudian melemparkan tubuhnya yang kelelahan ke atas ranjang besar yang muat dua pria dewasa.
"Menurutmu bagaimana Vander?"
"Bagus!"
"Syukurlah kau puas, karena kalau tidak aku tidak tahu lagi apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu dulu."
"Kebaikan? Memang kak Vander sudah lakukan apa untukmu?" Tanya Gavin penasaran sekali.
Sanchez pun bercerita tentang dirinya dahulu tepatnya tiga tahun lalu, pernah hampir dijual oleh salah satu sindikat perdagangan manusia. Untungnya, Vander yang saat itu sedang ada perjalanan bisnis mengetahui hal itu dan akhirnya menebus Sanchez lalu melepaskannya. "Kalau tidak ada tuan Vander, entah sekarang aku tidak tahu masih hidup atau tidak," ucapnya terharu mengingatnya.
"Kakakku, meski tampangnya seperti suka makan orang, tapi hatinya memang sangat baik," ungkap Gavin seraya memuji.
"Sudahlah, sekarang mari bersih-bersih dan istirahat dulu. Satu jam kemudian kita baru keluar cari makan."
"Siap kak!"
...πππ...
Setelah dari salon kecantikan Lara yang baru saja selesai melakukan perawatan bersama Miranda, tiba-tiba saja merasa lapar. Akhirnya ia dan sahabatnya itu pun memutuskan untuk mampir dulu ke sebuah restoran lokal yang ada di dekat pusat perbelanjaan untuk mengisi perut.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Lara dan Mira membicarakan tentang suami mereka yang saat ini berada di negara yang sangat jauh.
"Lara kau masih untung, ditempatmu ada putramu, ada bibi Frida, ada Tori dan Robert juga kadang. Sementara aku? Di rumah sendirian," keluh Miranda.
"Ya ampun kau ini, seharusnya kalau kau kesepian datang saja ke tempatku."
"Oh iya juga ya, kenapa aku tidak kepikiran hal itu?"
Tak lama pesanan mereka akhirnya tiba, dan mereka segera menyantap hidangan itu selagi hangat. Sambil makan mereka pun meneruskan percakapan yang tadi sempat tertunda.
"Tapi Lara apa kau tidak cemas lagi-lagi umβ maksudku kau sedang hamil besar dan suamimu, ya kau tahu maksudku kan?"
Seketika Lara berhenti makan mendengar pertanyaan Miranda. Ya sejujurnya dirinya tidak mau seperti ini, tapi mengingat alasan Vander pergi ini adalah untuk misi penting ia pun memilih untuk tidak egois menahannya. "Awalnya berat, tapi aku percaya pada suamiku dia pasti pulang," tandas Lara yang sepertinya cukup baik-baik saja.
"Baguslah kalau begitu, aku hanya cemas saja padamu. Karena kau tahu kan, aku salah satu saksi hidup yang melihatmu berjuang sendirian saat mengandung Rey hampir sepuluh bulan lamanya."
"Iya aku tahu, sudahlah ayo makan lagi jangan buat aku makan sedikit, anakku diperut ini lapar kau tahu," gurau Lara lalu kembali makan.
Di tengah-tengah menyantap makanan, tiba-tiba saja seorang pria yang tidak lain adalah Eiji datang menghampiri meja yang di tempati Lara dan Miranda.
"Eh Kak Eiji, kau sedang apa disini?" Tanya Lara yang tak menyangka bisa bertemu Eiji di restoran tempat ia makan saat ini.
"Aku kesini bersama dengan klienku, tapi dia sedang pergi ke toilet sekarang."
"Wah, sepertinya semakin sibuk saja ya Eiji. Kau pasti semakin kaya raya," goda Mira.
"Ya sepertinya begitu, tapi kalau kaya raya sepertinya tetap tidak mungkin melampaui kekayaan suami Lara."
"Kak..?"
"Hahaha, aku hanya bercanda kok. Ayolah jangan tegang begitu Lara," ucap Eiji sambil agak tertawa.
"Tuan Eiji!" Seru suara pria yang kemudian menghampiri.
"Eh? Dia..." Lara dibuat tak menyangka saat melihat pria yang saat ini menghampiri Eiji adalah Reki Helian.
"Maaf aku agak lama di toilet, danβ Nona Lara?"
"Tuan Reki, kau ada disini. Jadi klien yang dimaksud kak Eiji itu dirimu?"
"Iya dia klienku, oh ternyata kalian sudah saling kenal ya?" Tandas Eiji tak menyangka dengan semua kebetulan ini.
"Ya, aku dan nona Lara kami kebetulan tinggal di kawasan apartemen yang sama."
"What? Jadi kau tinggal di Caelestis Garden juga?" Ujar Miranda yang ikut tak menyangka mendengarnya.
"Hehehe iya, benar-benar kebetulan sekali ya kita ini. Kalau begitu kenapa kita tidak makan satu meja saja kan kita semua sudah saling kenal."
"Aku belum kenal dirimu," sahut Miranda.
"Kita memang belum kenal secara pribadi, tapi aku tahu nona Miranda kan pemilik kedai Miracle yang terkenal itu kan?"
"Umβ baiklah..."
Akhirnya mereka berempat pun makan bersama di restoran itu. Disana mereka saling mengobrol dengan santai sambil menyantap hidangan.
"Oh iya, tuan Reki kau dan kak Eiji ada projek apa?" Tanya Lara sekedar ingin tahu.
"Tuan Reki memintaku untuk membuatkan sketsa untuk ruangan di kantornya."
"Ya, karena aku dengar tuan Eiji sangat terkenal dengan desainnya yang sangat inovatif jadi aku tertarik menggunakan jasanya. Apalagi aku baru tahu Ohana Resort milik Laizen Grup yang baru dibuka dan ramai pengujung itu ternyata juga hasil rancangan tuan Eiji. Iya kan nona Lara?"
"Eh, i- iya." Kenapa Reki melihat kearahku setelah menyebut Laizen grup?
"Tuan-tuan dan nyonya, bisa tidak bicara bisnisnya nanti saja," usul Miranda.
"Maaf nona Mira," jawab Reki. "Oh iya Lara kau mau bebek panggangku makanan ini banyak proteinnya? Ini juga enak loh..."
__ADS_1
"Tidak usah."
"Atau kau mau ini?"
"Tidak usah tuan Reki, aku punya makanan sendiri."
Sementara itu dari tempatnya duduk, Miranda yang sejak tadi memperhatikan gelagat Reki terhadap Lara pun justru mulai berpikir. Pria bernama Reki ini, dari tingkahnya sepertinya sungguhan suka pada Lara. Tapi masa iya dia suka sama wanita yang jelas dia temui pertama kali sedang hamil besar. Entah kenapa aku jadi merasa agak tidak nyaman dan curiga melihatnya.
Tidak jauh beda dengan Mira, Eiji yang duduk disebelah Reki pun merasa tertanggu melihat pria itu secara tersirat seperti mendekati Lara. Apa dia punya maksud khusus terhadap Lara? Semoga ini hanya pikiran jelekku saja.
...πππ...
Di kota Bogota,Vander, Gavin dan Sanchez tampak sedang menikmati sarapan mereka disalah satu restoran di kota itu. Disana mereka memesan beberapa menu khas kota tersebut.
"Bagaimana makanan khas Bogota enak kan?" Tanya Sanchez melihat Gavin yang cukup lahap makan.
"Ya lumayan, kupikir aku akan sulit makan makanan disini tapi ternyata tidak juga," pungkas Gavin dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.
"Kalau tuan Vander?"
"Lumayan, walau aku lebih suka masakan istriku dan Robert."
"Oh iya tuan Robert dia tidak ikut kesini?"
"Tidak, paman Robert jaga kakak iparku di ZR," sahut Gavin yang kemudian bersendawa karena sudah kenyang. "Ah kenyang..."
Sama seperti Gavin, Vander juga baru saja menghabiskan sarapannya.
"Jadi setelah ini kalian mau kemana?" Tanya Sanchez yang sampai saat ini belum tahu persis maksud kedatangan Vander kesini.
"Aku mencari seseorang dari negaraku. Dia sekarang ada disini melarikan diri."
"Eh, ja- jadi orang itu buronan?"
"Ya bisa dibilang begitu, meski oleh aparat hukum negaraku belum resmi ditetapkan. Tapi yang jelas dia sangat berbahaya."
"Kenapa kau tidak pakai powermu untuk mencarinya? Bukankah kau punya kekuasaan yang besar?"
"Ya, jika itu dikawasan Asia dan sebagian Eropa. Tapi ini Amerika selatan, dimana ini bukan wilayah kekuasaanku. Terlebih aku bukan warga negara sini."
"Kak Vander mencari pria bernama Mario Gauren, dia biasanya menyebut dirinya Crow setelah keluar negeri."
"Crow?" Sanchez tampak termenung seraya mengingat apa dirinya pernah dengar nama itu atau tidak.
"Apa kau tahu sesuatu Sanchez?" Tanya Vander.
"Maaf aku sepertinya tidak bisa bantu bayak, karena meski banyak koneksi tetap saja aku ini hanya orang biasa. Aku tidak mungkin tahu seluk beluk orang-orang yang kau maksud itu. Apalagi mereka yang berkecimpung di dunia perdagangan ilegal."
"Tidak masalah, dengan kau memberi kami tempat tinggal saja sudah cukup memudahkanku." Dibanding menginap di hotel yang mana data diri Vander pasti akan tertera dibuku tamu hotel, memang lebih baik home stay di rumah lokal agar identitasnya lebih rahasia. Oleh karenanya Vander sengaja memilih menetap di kediaman Sanchez.
"Menemui pria yang punya kekuasaan di negara ini. Si kartel narkoba yang sudah lama tidak aku temui."
"Apa kau akan pergi sekarang?"
"No! Dia pria yang agak menyebalkan, pasti dia tidak akan senang kalau aku tiba-tiba menemuinya sekarang. Lebih baik hari ini bersiap mengumpulkan tenaga, karena besok pasti kita akan lumayan banyak bergerak."
...πππ...
Saat baru kembali dari membeli es krim dengan putranya dan Robert. Tak sengaja Lara berpapasan dengan Reki di lobi bawah. Pria itupun dengan wajah sumringah langsung menghampiri Lara.
"Hai nona Lara kau habis keluar ya?"
"Iya, aku habis menemani putraku membeli es krim diantar Robert."
"Oh jadi kau sudah punya anak yang lebih besar ya? Kupikir kau baru pertama kali hamil."
"Paman, paman ingat aku tidak?" Ucap Rey sambil menarik sweater yang dikenakan Reki.
"Eh, kau kan..."
Rey mengangguk, "Iya aku yang paman selamatkan waktu itu dari desakan orang-orang saat masuk lift."
"Wah ternyata kau putranya nona Lara, ah aku sungguh tak menyangka," pungkas Reki.
"Jadi kalian sudah saling kenal?"
"Iya Ma, paman Reki yang waktu itu menolongku saatβ saat aku melanggar nasihat mama yang tidak boleh sembarangan berkeliaran," jelas Rey.
"Oh jadi kau pria yang menolong Rey. Kalau begitu aku selaku orang tua Rey berterima kasih kepadamu yang sudah menolongnya. Maaf ya putraku sudah merepotkanmu."
"Tak masalah, kita kan tetangga."
"Paman Reki kau mau kemana malam-malam?"
"Akuβ mau keluar ada urusan sebentar."
"Ehem, nona Lara, tuan kecil, sebaiknya kita segera kembali. Frida pasti sudah selesai membuat makan malam untuk kalian," ujar Robert memotong pembicaraan diantara mereka bertiga.
"Oh iya benar, yasudah kalau begitu kami duluan ya tuan Reki... Bye..."
"Bye paman Reki...!"
"Bye..." Ujar pria itu melambaikan tangannya dengan penuh senyum ke arah Lara dan Rey. Namun saat pintu lift yang dinaiki Lara tertutup, senyum ramah Reki itu pun seketika berubah jadi seringai kecil. Pria itu lalu mengangkat ponselnya yang berdering.
"Ini aku baru akan menemuimu Mez!"
__ADS_1
....
"Tenang saja, aku akan segera sampai. Barusan aku habis reuni."
....
"Oke! Sampai ketemu!" Reki mematikan ponselnya lalu berjalan pergi sambil tersenyum penuh arti.
...πππ...
Di atas loteng Vander yang terlihat sedang sedang menghisap sebatang rokok, mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang yang paling ia rindukan saat ini.
Vander : Halo nyonya Vander...
Lara : Vander!
Vander : Maaf baru telepon, disana sudah malam ya sekarang?
Lara : Ya, disini sudah jam dua belas malam. Disana jam berapa?
Vander : Disini jam satu siang, aku menganggumu tidurkah?
Lara : No, aku memang belum tidur. Akuβ aku rindu padamu Vander...
Vander : Aku juga sangat merindukanmu. Apa kau makan dengan baik hari ini? Dan kandunganmu sehat kan tidak terjadi apa-apa kan?
Lara : Ya, aku makan dengan sangat baik dan kandunganku baik-baik saja. Kau sendiri, apa kau suka makanan disana?
Vander : Lumayan, tapi aku tetap lebih suka masakanmu.
Lara : Nanti kalau sudah pulang, aku buatkan masakan spesial buatmu okey!
Vander : Aku tidak sabar menantinya. Sayang, apa kau sedih karena aku tinggal?
Lara : Jujur iya, karena aku ingin kau selalu bersamaku sampai tiba waktunya melahirkan. Aku ingin kita membeli perlengkapan bayi bersama, dan memberi nama anak kita bersama. Aku ingin hal yang tidak kita lalui di kehamilanku sebelumnya, kita lalui di kehamilanku kali ini.
Vander : Maafkan aku selalu membuatmu kecewa dan sedih.
Lara : Jangan minta maaf, kau tepati saja janjimu untuk segera pulang okey?
Vander : Kau memang istri terbaik Lara.
Lara : Oleh karena itu setelah semua selesai cepat pulang. Memangnya kau rela istrimu yang cantik dan baik ini digoda pria lain?
Vander : Kalau ada yang berani menggodamu akan kubuat hidupnya menderita seumur hidup.
Lara : Disana banyak wanita cantik pasti kau senang, ya... (Terdengar cemburu)
Vander : Aku cuma tahu istriku yang paling cantik.
Lara : Tapi perutku kan sekarang gendut.
Vander : Tidak masalah, perutmu gendut kan karena ada anakku di dalamnya. Lagipula kau tetap seksi meski sedang mengandung.
Lara : Kau sedang menghiburku ya?
Vander : Aku mengatakan kenyataan. Lara, aku ingin dirimu saat ini.
Lara : Aku lagi pakai gaun tidur transparan loh, saat ini aku ada diatas ranjang. Kau tidak mau menemuiku diranjang sayang...? (Terdengar menggoda)
Vander : Lara kau jangan menguji kesabaran suamimu yang tipis ini. Kau tahu nafsuku sebesar apa kan...?
Lara : Hahaha... Lalu, apa kau akan cari wanita buat menelampiaskannya?
Vander : Kau mengizinkan?
Lara : Kalau kau berani lakukan, seumur hidup aku tidak akan mengampunimu.
Vander : Kalau begitu aku main sendirian saja.
Lara : Bagus!
Vander : Lara... kalau seandainya aku matiβ
Lara : Kau bicara apa sih! Sekali lagi aku dengar kau bicara begitu aku marah padamu. Kau tidak boleh mati, kau masih harus menemaniku melahirkan, kita juga kan belum punya anak perempuan. Kita juga harus membesarkan anak-anak kita sampai mereka dewasa. Jadi jangan buat akuβ
Vander : Maaf sayang aku hanya bercanda kok, tenang saja aku janji pasti pulang.
Lara : Aku dan Rey menunggumu pulang. Kami merindukanmu
Vander : Aku juga rindu kalian, Lara i love you
Lara : I love you too...
Vander : Kalau begitu aku tutup teleponnya boleh?
Lara : Tentu, see you Vander
Vander : See you soon.
Vander menghela nafas, setidaknya setelah mendengar suara Lara membuat Vander lebih percaya diri dan yakin. "Aku harus selesaikan semua dan segera pulang."
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π
__ADS_1