
Vander akhirnya menemukan kediaman tersembunyi milik Gauren. Disana ia langsung menyelonong masuk untuk menemui istrinya yang ada di dalam.
"Kau siapa?!" Tandas penjaga yang berjaga diluar menghentikan Vander saat akan masuk ke dalam.
"Minggir!" Vander memperingatkan kedua penjaga itu agar tidak menghalanginya masuk, atau kalau tidak ia tidak akan segan-segan menghajar mereka.
"Jawab kami dulu, kau siapa?!" Pekik para penjaga itu tak mengindahkan peringatan Vander dan malah bersikeras menghalanginya masuk. Alhasil Vander yang sudah habis kesabaran langsung memukul kedua orang itu hingga pingsan, dan ia pun masuk ke dalam.
Setibanya di dalam, pria itu langsung bergegas mencari Lara sambil terus berteriak memanggil nama sang istri.
"Lara! Dimana kau!"
Seketika seorang pelayan wanita menjatuhkan nampan berisi makanan yang dibawanya karena kaget melihat Vander yang tiba-tiba saja masuk, dan membuat keriuhan.
"Ka- kau siapa tuan, mau apa kemari?" Pelayan itu terlihat ketakutan.
Vander langsung menghampiri pelayan itu dan bertanya dengan nada emosi menanyakan dimana istrinya berada saat ini. "Cepat katakan padaku dimana istriku!"
Pelayan itu berpikir, mungkinkah nona yang hamil dan dibawa tuan Gauren itu adalah istri yang tuan ini maksud?
"Apa kau tuli! Cepat katakan dimana!" Bentak Vander
"Ba- baik aku akan mengantarkan anda."
Pelayan itu pun kemudian membawa Vander ke ruangan tempat dimana Lara kini berbaring tak sadarkan diri.
"Nona yang anda maksud ada di dalam, dia masih belum sadar tu- tuan!"
Vander langsung membuka pintu ruangan itu. Dari ambang pintu akhirnya ia bisa melihat lagi seorang wanita yang sudah ia cari-cari sejak beberapa hari lalu. Perasaan Vander benar-benar campur aduk saat ini karena akhirnya bisa menemukan Lara. Dengan langkah pelan, pria itu menghampiri sang istri yang kini masih berbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur sambil di infus. Untuk beberpa saat Vander hanya menatap istrinya dengan tatapan sedih dan bersalah. Ia lalu berlutut disebelah ranjang Lara dan meraih tangan sang istri.
"Maafkan aku baru bisa menemukanmu sayang... maafkan aku..." Vander meminta maaf sambil menangis menggenggam tangan istrinya. Hatinya terasa pedih melihat keadaan Lara saat ini, tubuh dan wajahnya penuh memar, dan rambutnya, Vander menyadari rambut istrinya kini sudah terpotong begitu pendek.
"Sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan padamu sampai kau seperti ini...!"
Tak lama tangan Lara bergerak, matanya pun perlahan terbuka. Samar-samar ia merasa seperti bisa melihat wajah suaminya.
Vander? Apa aku sedang mimpi? Ah aku pasti bermimpi melihatnya. Lara masih belum percaya kalau dirinya melihat sang suami saat ini.
"Lara..." Vander memanggil lembut nama istrinya dengan suaranya yang berat.
"Vander? Kau sungguhan disini?" Lara syok ternyata ia tidak sedang bermimpi melihat suaminya.
"Iya sayang, aku disini jangan takut..." Vander membelai lembut pipi Lara yang basah karena air matanya yang bercucuran.
"Kauβ apa kauβ?"
"Tidak!" Lara tiba-tiba saja memalingkan wajahnya dan tak mau dilihat oleh suaminya. "Kumohon jangan melihatku Vander!" Lara malu karena saat ini ia merasa terlihat buruk rupa. Rambutnya kini pendek, dan wajahnya penuh memar dan bengkak.
"Lara ada apa? Kenapa kau tidak ingin aku melihatmu, apa kau membenciku?" Vander merasa khawatir dengan sang istri.
"Akuβ aku saat ini terlihat jelek! Aku tidak mau kau melihatku seperti ini, aku malu!"
Jadi dia malu dengan dirinya saat ini? Lara... apa yang sebenarnya terjadi padamu? Vander menarik tubuh sang istri dan memalingkan wajahnya ke hadapannya. Dipandanginya wajah Lara yang tampak sendu bercampur rasa malu dan rendah diri.
"Lara lihat aku," ucap Vander sambil mengangkat dagu istrinya. "Bagiku... kau wanita paling cantik apapun keadaanmu. Tolong jangan berpikir aku akan menjauhimu hanya karena kau sedang merasa buruk. Aku mencintaimu bukan hanya karena fisikmu, aku mencintaimu karena semua yang ada di dirimu aku suka. Jadi tolong jangan menghindari aku."
"Tapi... mh..."
Ia mengecup bibir sang istri, bagi Vander bibir Lara masih manis seperti biasany, hanya saja sedikit kering karena mungkin kurang minum. Vander lalu memeluk erat istrinya. Mereka pun berpelukan dengan sangat erat, melepas kerinduan yang tak bisa lagi dibendungnya. "Aku merindukanmu Lara, aku sungguh merindukanmu. Jadi yang memalingkan wajahmu padaku."
Mereka pasti sangat saling mencintai, batin pelayan yang tadi mengantar Vander dalam hati. Ternyata pelayan itu masih berada disana memperhatikan pasangan itu.
Vander kembali membelai wajah istrinya dengan lembut, ia sungguh murka rasanya melihat istrinya dibuat sampai seperti ini. "Katakan apa yang sudah dilakukan pria tua brengsek itu padamu Lara!"
"Vander... pamanmu... dia..."
"Lara kau tahu soal itu? Kau tahu dia pamanku? Apa dia berbuat keji padamu, katakan!"
Lara menggeleng. "Pamanmu tidak melakukan apapun padaku."
"Tuan Gauren tidak melakukan apapun padanya. Tuan justru yang menolong nona ini saat ia pingsan dipinggir jalan," ungkap pelayan tadi yang datang kembali membawakan nampan berisi makanan untuk Lara.
"Jangan membela pria itu!" Tegas Vander.
"Aku tak membelanya, aku hanya mengatakan kenyataannya. Tuan Gauren, dia tak pernah sekalipun menyakiti nona ini, dia yang justru memintaku untuk menjaga istri anda dengan baik sebelum ia pergi. Dia bilang, itu permintaan terakhirnya dan sampai saat ini beliau belum kembali. Entah apa maksud ucapannya itu."
"Dia memang tidak akan pernah kembali," ungkap Vander.
"Apa maksud anda tuan?" Tanya si pelayan setengah terkejut.
"Tuanmu Gauren, dia sudah meninggal jatuh ke jurang."
"Apa!" Lara dan pelayan itu kaget mendengar apa yang dikatakan Vander.
"Vander a- apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
__ADS_1
"Pria itu, dia sungguh sudah meninggal."
"Ta- tapi bagaimana mungkin?" jujur saja Lara jadi agak merasa sedikit sedih, mengingat ternyata Gaurenlah yang sudah menolong dirinya saat pingsan dipinggir jalan.
"Jangan sedih, dia meninggal dengan perasaan damai. Karena setidaknya didetik-detik terakhir sisa hidupnya ia sudah melakukan hal yang benar."
"Iya kau benar, tapi aku belum sempat berterima kasih padanya."
"Dia pasti akan tahu itu." Vander langsung memeluk Lara kedalam dekapannya.
...πππ...
Di vila Robert yang masih menunggu kabar dari tuannya pun terus dengan setia menanti informasi. Disana ia tak hentinya mengecek ponsel untuk memastikan semua keadaan di kota secara berkala. Karena sebagai orang kepercayaan Vander, Robert merasa memiliki tanggung jawab lebih pada bosnya itu.
Dan siapa sangka, tak lama kemudian Vander pun meneleponnya.
Robert : Halo tuan, bagaimana keadaan anda?
Vander : Aku baik-baik saja. Dan yang paling penting aku ada kabar baik, Lara sudah berhasil aku temukan.
Robert : Benarkah? Nyonya sudah ditemukan!
Mendengar info mamanya sudah ditemukan, Rey pun langsung melompat dari sofa dan mendekati Robert yang sedang menelepon.
"Mana mamaku, aku ingin bicara dengannya!" Desak pria kecil itu pada Robert.
Robert : Umh, tuan... Tuan kecil memaksa ingin sekali bicara dengam nyonya. Apa bisa?
Rey sangat-sangat ingin mendengar suara ibunya saat ini.
Robert : Baik tuan.
Robert menyalakan loud speaker ponselnya.
Halo sayang, ini mama...
Mendengar suara mamanya Rey langsung menangis saking senangnya.
"Mama...! Ma aku rindu padamu..., aku takut sekali tidak bisa melihatmu lagi... Huhu..."
Maafkan mama ya, sudah membuatmu khawatir.
"Mama baik-baik saja kan? Mama apa paman Reki yang jahat itu menyakitimu?"
Ya, mama baik-baik saja. Kau tenang saja papa sudah bereskan penculik itu.
Mama juga rindu padamu. Kau tenang saja aku pasti akan segera pulang.
Tak lama Miranda ikut bicara.
"Lara... Ini aku Mira."
Mira... kau baik-baik saja kan?
"Anak bodoh, harusnya aku yang tanya begitu. Jadi kau baik-baik saja kan? Dan anakmu?
Iya aku baik-baik saja, kandunganku juga baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya."
"Mama, mama kapan kembali?"
Mama akan segera kembali sayang... Sudah dulu ya, mama seperβ
Mamamu ingin istirahat, jadi nanti kita teruskan lagi ngobrolnya. Ucap Vander menyela ucapa Lara lewat telepon.
"Papa, aku masih mau bicara sama mamaku!"
Lara masih lelah, harus banyak istirahat kau tak boleh mengganggunya lama-lama.
"Um baiklah..." Rey terpaksa menurut.
"Baiklah tuan kalau begitu, aku akan segera tutup teleponnya."
"Mama aku sayang mama, cepat kembali kalian berdua."
Mama juga sayang padamu sayang. Kau jaga diri baik-baik kita akan segera berkumpul okey? "
"Oke! Bye mama, papa..." Seketika kegusaran hati Rey menghilang setelah ia mendengar suara sang mama.
...πππ...
Lara menghembuskan nafas lega.
"Kau merasa lebih baik sekarang?" Tanya Vander.
__ADS_1
"Iya, tapi aku ingin memar-memar ditubuhku ini hilang dulu baru menemui Rey, aku tidak mau melihat dia sedih kalau tahu aku terluka begini."
"Sekali lagi maafkan aku karena tidak datang lebih cepat menyelamatkanmu," Vander benar-benar merasa bersalah.
Lara membelai pipi suaminya. "Ini bukan salahmu. Justru ini salahku karena tidak mendengarkanmu agar menjauhi Reki, maaf ya Vander." Lara menyesali dirinya yang tak menurut pada sang suami.
"Its okey, sekarang yang jelas kau sudah selamat dan kita bisa berkumpul lagi. Lagipula apapun alasannya aku akan menemukanku, karena aku sudah janji akan menemanimu saat melahirkan nanti."
Lara lalu memeluk suaminya. "Kau tahu Van, anak kita sangat kuat, dia sama sekali tidak rewel di perut saat mamanya diculik. Dia anak yang hebat."
"Anak kita tentu saja hebat seperti orang tuanya bukan?"
"Iya kau benar."
"Lara..."
"Ya...?"
"Kalau boleh tahu apa saja yang sudah bajΒ‘ngan itu lakukan padamu?" Vander ingin tahu apa yang sudah dilakukan pria brengsek itu pada istrinya.
"Bisakah kita tidak membicarakannya. Aku tidak mau mengingatnya." Lara sepertinya masih agak trauma dengan perlakuan Reki padanya.
Lebih baik aku biarakan Lara tenang dan emosinya stabil dulu.
"Vander, apa kita akan dirumah ini terus?" Tanya Lara penasaran.
"Rumah ini sudah ditinggal selamanya oleh Gauren, aku akan minta Robert mengurus kepemilikannya nanti."
"Tapi bagaimana dengan pelayan tadi dan anak buah pamanmu yang disini?"
"Kau tenang saja, mereka semua sekarang dibawah kendaliku. Mereka bukan orang jahat, mereka murni pengabdi pria tua itu jadi mereka tidak akan macam-macam, dan untuk hari ini kita lebih baik disini dulu. Barulah besok orangku akan menjemput kita untuk membawamu ke rumah sakit untuk memeriksa semua keadaan tubuhmu."
"Okey, aku menurut semua katamu." Ternyata benar, berada disisi Vander adalah tempat paling nyaman dan aman.
"Lara apa kau lapar?"
"Tidak, lagipula aku kan baru saja makan. Apa kau yang sebenarnya lapar?"
"Ya aku lapar, tapi aku lapar ingin memakanmu..." Vander menatap istrinya dengan tatapan nakalnya.
Sontak Lara pun dibuat malu-malu, "Vander, kita tidak mungkin melakukan itu, kau lihat aku sudah hamil sebesar ini. Lagipula... tubuhku banyak memar aku malu kau melihatnya."
"Aku tak peduli, bagiku kau tetap cantik dan menggoda," bisik pria itu yang kemudian mulai menciumi leher istrinya.
"Vander..." Lara mengerang menghentikan aksi suaminya.
"Kenapa? Aku tidak masalah dengan apapun! Kita tidak bisa melakukannya kan, tapi setidaknya biarkan aku merasakan tubuhmu. Aku rindu aroma tubuhmu."
"Bukan begitu tapi... Aku sudah beberapa hari tidak mandi, pasti bauku tidak enak jadi..."
"Kalau begitu ayo mandi bersama," tandas Vander
"Tidak bisa, karena kakiku..." Lara memperlihatkan pada suaminya kakinya dibalut karena penuh luka terkena bebatuan kasar. Melihatnya Vander semakin geram saja pada Reki.
Vander lalu bangkit dan menggedong istrinya.
"Eh kau mau apa?"
"Aku akan memandikanmu. Kau cukup diam saja okey?"
Lara mengangguk dan melingkarkan tangannya di leher suaminya. Mereka pun masuk ke kamar mandi.
...πππ...
Dari sekat kaca, Eiji tampak memperhatikan keadaan Reki yang saat ini sedang ada di salah satu ruangan di laboratorium Dominic. Dari balik kaca transparan Eiji melihat pria itu diborgol di tempat tidur dengan keadaan kaki dan tangan yang terluka terkena tembakan Vander.
Sesaat kemudian, tibalah Gavin yang langsung menghampiri Eiji dan bertanya bagaimana keadaan Reki.
"Seperti yang kau lihat, dia masih belum sadarkan diri."
"Lalu dia akan diapakan? Diserahkan ke polisi?" Tanya Gavin penasaran.
"Entahlah, kau bisa tanya pada Vander, dia yang buat pria itu terluka." Eiji memang sengaja tak menyerahkan Eiji langsung ke polisi karena ia tahu, Vander pasti punya rencana lain untuk menghukumnya.
"Oh iya, kata istriku kak Lara sudah berhasil ditemukan oleh kak Vander, dan mereka kini baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu." Eiji sungguh senang dan lega sekali mendengarnya. "Lalu bagaimana dengan serum penangkalnya apa sudah siap?"
"Sudah, diperkirakan besok atau lusa sudah bisa diproduksi secara masal. Dokter dominic dan dokter Rena sangat berusaha keras menyelesaikannya. Tidak, bukan cuma mereka tapi kita semua sudah bekerja keras. Kekacauan ini sudah bisa kita atasi, aku senang sekali tuan Eiji," Gavin menitikan air mata karena pengorbanannya tidak sia-sia.
"Akhirnya kota ini mulai terkendali lagi."
"Ya kau benar Gavin, kita semua sudah bekerja keras." Terutama kau Vander, melihat semua yang sudah kau lakukan untuk Lara dan semua orang dikota ini, aku merubah pandangku padamu. Kau memang pria yang luar biasa. Aku semakin yakin kalau kau memang satu-satunya pria yang pantas untuk mendampingi Lara dan anak-anaknya. Vander aku kalah, akhirnya memang kau pemenangnya sebenarnya, Lara tidak salah memilihmu.
...πππ...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS MINGGU INI UDAH MAU TAMAT π