Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Gunakan mulutmu


__ADS_3

Di ruangannya Lara terlihat sedang menandatangani dokumen kontrak ditemani oleh sang asisten. Disana Miranda terlihat serius memperhatikan Lara yang tengah fokus membaca dokumen. Merasa tidak nyaman di perhatikan seperti itu Lara pun protes.


"Mira...! Bisa tidak sih kau tidak menatapiku seperti itu, aku jadi meresa seperti penjahat tau!"


"Maaf Nona aku tidak bermaksud begitu, hanya saja kalau aku perhatikan Nona makin kesini auramu agak berbeda."


"Eh, apa maksudnya?" Lara bingung.


"Aku merasa, auramu jadi makin dewasa, makin matang, dan... semakin hot!" Pungkas Mira.


"Kau ini bicara apa sih Miranda..."


Mira menyipitkan mata dan melirik ke arah Lara seraya menginterogasinya. "Nona hayo mengaku saja, kau sudah melakukan apa saja sama pengawalmu itu?"


"Ka- kau ini kenapa sih?"


Lara salah tingkah dan seketika wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus.


"Sudahlah tidak usah pura-pura, kau itu bukan anak kecil, lagipula bukan hal aneh juga kenapa kau harus malu? Sudah akui saja iyakan?" Mira menaik turunkan kedua alisnya.


"Kalau sudah tau kenapa pakai tanya segala!" Ujar Lara sewot karena malu.


Miranda sontak langsung tertawa geli. "Akhirnya kau mengaku juga."


"Mira kau ini sama liciknya dengan Vander!"


"Bukan aku atau Van yang licik, tapi kau saja yang kadang suka terlalu polos kalau sudah terdesak," ledek Mira.


Diledek begitu, ingin rasanya Lara menceburkan diri ke dalam jurang saking malunya.


"Oh iya, pertama kali melakukannya rasanya bagaimana? Kau tidak sampai anangis kan?" Mira terus menggoda Lara sampai ia sendiri tak kuasa menahan gelak tawanya.


"Miranda aku pukul kau ya!" Pekik Lara.


Bukan menyudahi Mira justru makin tergelitik melihat ekspresi wajah Lara saat ini.


"Jangan mengejekku terus, kau sendiri sudah umur segitu tidak punya pacar! Dulu ibumu saja seusiamu sudah hamil dirimu kan?"


"Hei, kenapa jadi aku, lagipula memang kenapa kalau aku single? Memang kebahagiaan orang itu cuma sebatas punya pasangan, menikah, atau punya anak saja?"


"Ya mana aku tau, tapi kalau aku boleh saran, kenapa kau tidak coba jadian saja sama Gavin, dia baik lho..." Lara kali ini yang mencoba memprovokasi asistenya itu.


"Apa? Gavin si bocah tengik kurang aja itu! Aduh, lebih baik aku tidak punya pasangan seumur hidup daripada harus sama dia!"  Miranda bergidik geli.


"Hei hati-hati, ucapanmu bisa jadi bumerang buatmu sendiri loh!"


"Aku tidak peduli!"


"Tapi Mira, Gavin itu baik, dia lucu, menyenangkan, pandai otomotif dan dia punya wajah yang babyface. Usianya juga hanya setahun dibawahmu malah mungkin tidak sampai satu tahun. Ayolah Miranda kau itu sudah waktunya punya pendamping, ya minimal teman dekat pria."


"Astaga, ini kenapa malah jadi bahas aku sih!"


"Salah sendiri kau duluan yang mengorek-ngorek hubunganku!"


"Oke-oke maaf! Tapi kali ni aku mau tanya serius padamu."


"Tanya apa?"


"Kau sudah yakin dengan keputusanmu ini?"


"Maksudnya?" Lara tidak paham maksud pertanyaan asistennya itu.


"Maksudku, kau memilih Vander sebagai pasanganmu saat ini. Apa kau sudah memikirkan semuanya matang-matang? Karena bagaimanapun keputusanmu hari ini akan mempengaruhi hidupmu di masa depan."


Lara langsung terdiam, kali ini ia paham maksud perkataan Miranda.


"Nona maaf kalau kesannya aku mencecarmu, tapi— tujuanku hanya..."


"Tidak apa-apa Mira, aku paham kok! Aku juga sebenarnya sudah sempat memikirkannya. Dan..."


"Dan kau yakin pria itu yang akan kau jadikan pendampingmu kelak?"


DEG! Lara langsung seperti tersetak mendengar ucapan Mira. "... Mira jujur saja, untuk itu aku masih tidak tahu." Wajah Lara yang kini sendu seolah menyiratkan dirinya memiliki banyak pertimbangan yang sulit.

__ADS_1


Mira seketika langsung duduk mendekati Lara dan menepuk-nepuk pundaknya. "Aku tau Nona gadis yang cerdas. Tapi yang harus kau tau adalah, cinta bukanlah hal yang bisa kau diprediksi, semua itu bisa saja berubah seiring berjalannya waktu. Dan cepat atau lambat kau dan Van harus mengambil langkah pasti menentukan mau kemana hubungan kalian berlabuh. Jangan sampai kalian saling menyakiti satu sama lain pada akhirnya."


Lara menyadari ucapan Mira yang memang benar pada dasarnya, tapi saat ini jujur saja ia masih bimbang. Ada banyak hal yang membuatnya sulit untuk menentukan langkah di hubungannya ini.


Mira mengusap pundak Lara supaya ia tidak tegang dan terlalu kepikiran perkataannya.


"Terima kasih nasehatnya ya Mira," ucap Lara senyum.


"Sama-sama, yasudah kalau begitu aku pergi dulu ya... Dah!" Miranda kemudian pergi meninggalkan ruangan Lara.


Sementara Lara, gadis itu masih duduk terdiam memikirkan semua ucapan Miranda barusan. "Miranda benar, bagaimanapun hubunganku dan Vander tidak bisa seperti ini selamanya. Pada akhirnya harus diputuskan mempublish hubungan kami atau—" Lara tidak bisa mengatakannya. "Aku tidak mau hubunganku dengannya berakhir!" Ujar gadis itu.


Hubungan cintanya yang Lara pikir akan banyak dipenuhi kupu-kupu dan langit cerah, kini terasa mulai dihampiri kelabunya awan mendung.


**


Eva, wanita itu mengenakan pakaian santai. Terlihat ia sedang duduk membaca majalah di sebuah balkon salah satu hotel mewah sambil menikmati segelas jus. Ditengah waktu santainya tiba-tiba saja ia harus diganggu dengan suara ponsel berdering yang ada di atas meja di hadapannya itu. Hanya dengan melihat nama yang tertera di layar ponselnya, wanita itu pun langsung mengangkat  panggilan tersebut.


"Halo Tuan Gauren, ada apa meneleponku jam segini?"


....


"Tuan kau tenang saja, aku sudah semakin paham titik kelemahan Van saat ini. Yang jelas aku sudah punya rencana matang, untuk membawa Van kembali ke Crux."


.....


"Aku tidak berani melawanmu Tuan, aku pasti akan membawa Vander kembali lagi ke Crux jadi anda tenang saja."


.....


"Tentu saja aku tidak akan menghianati anda Tuan."


.....


"Aku mengerti Tuan Gauren, sampai jumpa."


#


"Untuk saat ini belum saatnya aku terlalu jauh mendesak Vander, aku masih mau bersantai dulu s sambil menikmati drama-drama yang akan terjadi disekitar Vander. Lagipula... Jeden juga pasti tengah menyusun rencana untuk wanita yang bernama Lara itu!" Seketika wajah Eva terlihat marah saat dirinya menyebut nama Lara.


"Gadis itu, dia telah membuat Vander melupakan Nagisa! Aku tidak akan terima jika Van bahagia dengan wanita lain sementara adikku, dia sudah pergi dan tidak akan mungkin kembali lagi ke dunia ini!" Luapan emosi Eva seraya mempertegas kalau ada dendam pribadi yang belum sempat ia balaskan.


**


Di ruangannya, Lara dan Van baru saja selesai menghabiskan makan siang mereka.


"Terima kasih makan siangnya, masakanmu memang selalu enak Nona," puji Van yang kini tengah duduk bersandar di sofa


"Kau selalu memuji masakanku. Padahal kadang aku hanya masak makanan rumahan biasa," pungkas Lara mengambil sepiring anggur dari lemari es di ruangannya, dan membawakannya untuk Vander.


Tanpa aba-aba, gadis itu langsung duduk menyamping diatas pangkuan Van.


"Wah kapan Nona beli anggur?" Tanya Vander.


"Tadi aku minta tolong sekretarisku untuk membelikannya di supermarket. Ini kau cobalah..." Lara menjulurkan sebiji anggur di jarinya ke dalam mulut Vander.


Mulut pria itupun langsung mencaplok jemari Lara berasamaan sebiji anggur yang ada dijarinya.


Aku hanya memberinya sebiji anggur tapi dia malah ikut melahap jemariku sampai sedalam itu ke mulutnya. Wajah Lara jadi merah dan tubuhnya pun ikut panas dibuatnya.


"Ba- bagaimana manis kan?" Tanya Lara.


"Hem... em!" Van mengunyah sambil terus memandangi wajah Lara yang manis.


"Ini lagi," Lara kembali menyodorkan sebiji anggur ke mulut Van. Sayangnya kali ini Van menolak dan bilang, kalau ia bisa makan sendiri.


"Kenapa? Bukannya kau suka kalau aku menyuapimu buah-buahan," ucap Lara merasa tidak senang Van menolaknya.


"Aku suka, tapi agak aku bosan kalau disuapinya dengan cara begitu," ungkap Vander.


"Bosan? Maksudnya?" Lara terlihat bingung dengan ucapan Vander tersebut


"Aku tidak mau disuapi pakai tangan."

__ADS_1


Lara mngernyitkan alisnya. "Kalau tidak pakai tangan lalu pakai apa! Kau ini aneh sekali deh!" Gerutu Lara.


"Pakai mulutmu," ucap pria itu dengan nada sensual.


Lara melebarkan matanya menatap Vander, wajahnya memerah dibuatnya. Bagaimana mungkin, bahkan seumur hidup aku saja tidak pernah melakukan hal semacam itu.


"Kalau Nona tidak mau juga tidak apa-apa kok! Aku akan makan buah sendiri saja."


"No! Aku akan lakukan!" Lara yang awalnya duduk menyamping pun langsung membuka kakinya dan duduk tegap menghadap Van diatas pangkuan sang pria. Kini keduanya pun saling bertatap wajah.


Kalau dia sudah duduk diatas pangkuanku dengan posisi begini biasanya dia jadi dominan, pikir Vander sambil memandangi wajah Lara yang menawan.


Lara tampak sedikit gerogi. Wajar memang, mengingat ia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.


Memberi makan dari mulut ke mulut terdengar agak mesum memang, tapi entah kenapa Lara ingin melakukannya.


Gadis itu lalu mengambil sebiji anggur, menggigit dan menahan anggur itu di antara kedua sisi bibirnya yang merona. Ia mendongakan wajahnya, mengarahkan perlahan bibirnya yang mengapit anggur ke mulut sang pria.


"Oh s**t!"


Vander yang tidak tahan pun langsung melahap sebiji anggur yang digigit oleh wanitanya. Mata Lara melebar, Vander nyatanya tak hanya memindahkan anggur itu ke mulutnya. Lidahnya yang lihai malah dengan sengaja memainkan sebiji bola anggur itu di mulut Lara yang terbuka. Hingga pada akhirnya anggur itu malah dikunyah oleh sendiri oleh Lara. Rasa manis   dari anggur yang meruah di lidah Lara yang justru dengan rakus dilumat dan dihisap oleh Vander.


"Huh hah..." Lara terengah engah.


Van langsung tersenyum puas. "Makan anggur dengan cara begini, rasa anggurnya jadi semakin manis!"


"Kau itu minta disuapi apa minta dicium sih Vander!"


"Kalau bisa sekalian kenapa harus memilih," balas Vander dengan senang.


"Kau ini! Sudahlah makan sendiri saja!" Lara beranjak turun dari pangkuan Vander namun oleh sang kekasih dirinya ditahan.


"Jangan kabur, suapi aku sampai selesai!" Kata Vander sambil memeluk pinggang ramping Lara.


"Tidak mau!" Lara terus bergerak-gerak diatas pangkuan Van sampai dirinya baru sadar kalau susuatu yang ada di bawah perut Vander sudah berdiri tegak dan keras. Lara pun langsung membulatkan matanya menatap pria itu.


"Vander kau ini—!"


Pria itu menyentuh lembut dagu sang gadis dan menatapnya dengan tatapan licik.


"Va- Van kenapa kau melihatku begitu?" Sebenarnya Lara sendiri sudah paham maksud tatapan mata pria di depannya itu.


"Karena Nona kecilku tidak mau lagi menyuapiku anggur, sebagai gantinya aku makan dirimu saja ya," ucap Van seraya merayu gadis itu dengan tatapannya yang menggoda dan mengintimidasi


Pipi Lara memerah tubuhnya pun kian memanas rasanya. "Um— Vander bukannya tadi pagi kita sudah melakukannya?" Wajah Lara yang agak malu membuat hasrat bercinta Vander semakin bergejolak.


"Sudah aku bilang bukan, hasrat seksualku itu tinggi jadi tolong terbiasalah," pungkas Van yang tanpa Lara sadari tangannya sudah berhasil membuka atasannya, yang tertinggal kini hanya bra yang menutupi buah dadanya yang besar dan padat.


"Van kau sejak kapan kau membuka bajuku—" ujar Lara kaget sambil mendekap kedua tanganya di dada.


"Tolong jangan pernah menutupi kedua buah dadamu yang indah di depanku,"ucap Vander seraya memohon dengan suarnya yang dalam dan parau.


Lara lalu membuka dekapan tanganya dan membiarkan Van leluasa memandanginya.


Pria itu membuka kaitan bra dipunggung sang wanita. Kini keindahan itu tampak jelas tanpa halangan, dengan penuhy dahaga ia langsung menyantap dengan lahap ceri yang menggantung di ada Lara. ******* suara Lara mulai terdengar, menandakan wanita itu mulai menikmatinya. Matanya terpejam sambil memeluk kepala sang pria yang tengah sibuk menyesapi dan menjilati gundukan daging kembar menggantung ditubuhnya."


"Van- der, aku...."


"Katakan Nona...!"


"Aku- aku mau dirimu!" Ungkapnya mendesah.


Van tersenyum senang, matanya menatap sensual ekspresi Lara yang tengah menahan kenikmatan saat ini.


"Kau sungguh sangat manis Nona, tapi aku ingin mendengarmu mendesah memanggil namaku."


"Vander, Vander aku ingin dirimu sekarang!"


Bak serigala yang puas dengan buruannya Van pun menyeringai. "Keinginanmu adalah perintah buatku."


Bersambung...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2