
Seketika semua mata tertuju ke arah pintu masuk aula.
Wah siapa pria itu?
Ya ampun dia tampan sekali!
Seperti tidak asing ya wajahnya.
Lara seketika mengulum senyum terharu menatap kedatangan suaminya.
"Papa!" Seru Reynder merasa bahagia tak terperi, melihat sosok yang baru saja tiba itu adalah Vander, pria yang memang sejak awal ia harapkan kehadirannya.
Vander pun langsung membalas dengan tersenyum ke arah Rey.
Pria itu lalu mengambil tempat duduk disebelah Lara.
"Maaf ya, aku terlambat."
"Kau tahu, kau hampir saja membuat putramu kecewa seumur hidup."
"Ya, ini salahku."
Seketika Rey jadi langsung bersemangat sekali diatas panggung. Pria kecil itu pun melanjutkan kata-katanya. "Papaku memang sangat sibuk, tapi aku tahu dia sangat sayang padaku. Dan karena dia sudah ada disini, kalian bisa lihat sendiri kan? Betapa kerennya dia." Setelah menceritakan semuanya, Rey langsung mengakhiri dengan kata-kata, "Untuk Mama dan papaku, aku sayang kalian."
Orang-orang pun langsung bertepuk tangan. Dan tak lama tiba-tiba saja Vander berdiri, dan langsung berjalan naik keatas panggung.
"Papa kenapa naik kesini?" Tanya Rey heran.
"Tenang saja." Vander langsung mengambil mic dari tangan Rey dan menyampaikan ucapannya.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf kepada anakku karena sudah datang terlambat. Selain itu, ada hal lain yang ingin aku tanyakan, dan tolong jawab jujur. Disini siapa diantara kalian yang sudah berani menyebut anakku sebagai anak pungut!?"
Seketika semua yang ada di ruangan hening, mereka tiba-tiba merasa ketakutan mendengar nada bicara Vander yang terasa benar-benar dominan. "Oh! JDi tidak ada yang mau menjawab, baiklah... Kalau begitu aku anggap kalian semua adalah salah!"
Astaga! Tuan itu kan kalau tidak salah Vander Liuzen, dia adalah CEO dari Laizen grup.
Wah aku kerja di salah satu perusahaan dibawah naungan Laizen, bagaimana ini?
Bisa hancur karirku!
"Masih tidak ada yang mau mengaku, oke aku pastikan kalian semua besok jadi pengangguran!"
"Tuan kumohon jangan buat kami kehilangan pekerjaan...!"
"Dia tuan, wanita itu! Aku dengar jelas dia yang berteriak mengejek putra anda dengan sebutan 'anak pungut!" Serunya menunjuk ke arah orang tua Leo berada
Vander langsung menatap ke arah mereka. Wajah kedua orang itu dan anaknya pun jelas ketakutan saat tahu, siapa sosok ayah dari anak yang sudah dihinanya tadi.
"Papa, mama, kenapa papanya Rey menatap kita begitu?" Ujar Leo merasa takut.
"Kau, dan juga anak istrimu setelah acara ini temui aku, dan untuk kalian semua yang ada disini bahkan guru sekalipun. Aku minta ini terakhir kalinya aku dengar ada yang mengejek anakku, jika aku sampai tahu ada lagi yang menghinanya, bukan cuma kalian, tapi aku pastikan sekolah ini rata oleh tanah."
Ya ampun suamiku, apa ancamanmu ini tidak terlalu kejam? Pikir Lara.
"Kalian harus ingat, ucapanku tidak pernah main-main! Kalian paham?!"
"Tu- tuan Vander, aku- selaku kepala sekolah minta maaf atas ketidak sukaan anda dengan salah seorang orang tua murid disini."
"Nyonya kepala sekolah, aku sarankan kau lebih teliti lagi dalam menyeleksi siswa di sekolahmu."
"Baik tuan."
Vander pun turun dari atas panggung sambil menggandeng putranya. Saat turun panggung Rey yang melewati Leo, langsung balik menatap temannya itu menyeringai senyum seolah berkata, sekarang kau tau kan siapa bosnya!
Rey akhirnya kembali duduk ditengah-tengah orang tuanya.
"Hei tuan Vander, kau senang ya sudah buat orang-orang disini jadi mayat hidup?" Ungkap Lara sambil agak tertawa.
"Itu akibatnya kalau berani menganggu keluargaku."
Lara hanya tersenyum kecil, dirinya senang melihat sang suami ternyata sebesar itu mencintai istri dan anaknya.
Acara akhirnya selesai, semua orang tua saling berpamitan. Setelah cukup sepi Lara menyempatkan diri menghampiri kepala sekolah untuk minta maaf, atas sikap Vander yang agak berlebihan tadi.
"Tidak apa nyonya, tuan Vander dia secara tidak langsung mengingatkanku untuk lebihย peduli dengan sikap dan perilaku tiap calon siswa. Lagipula tuan Vander dia sangat baik dan dermawan, aku saja baru tahu ternyata tuan Vander telah menyumbang satu juta dollar untuk yayasan kami. Jusru aku yang seharusnya minta maaf karena membuat Tuan Vander jadi tidak nyaman disekolah ini, aku juga minta maaf karena aku selama ini tidak tahu kalau Nyonya adalah istrinya tuan Vander."
"Yah... kalau itu juga kan bukan salahmu sepenuhnya. Kalau begitu aku pamit dulu ya ibu kepala sekolah..."
__ADS_1
"Baik nyonya."
Saat Vander dan Rey berjalan di koridor sekolah, tiba-tiba saja ayah dan ibu Rey datang menghampiri mereka dan langsung memohon. "Tuan aku minta maaf pada anda dan putra anda, istriku memang salah."
"Ya aku minta maaf tuan, aku telah salah menghina orang."
"Cih! Kalian sekarang berlutut menyembahku seperti manusia rendahan, padahal sebelumnya kalian merendahkan putraku dengan seenaknya! Apa kalian pantas diampuni? Aku rasa tidak, aku sudah menyuruh anak buahku agar kau dipecat, dan tidak akan ada satu perusahaan manapun bisa menerimamu!"
"Tuan kumohon jangan lakukan itu, aku akan mencium kakimu asal kau ampuni aku. Tolong jangan buat aku kehilangan pekerjaanku, aku hanya direktur di perusahaan kecil tuan."
Melihat kedua orang itu memohon membuat Vander sungguh muak. Ia sungguh benci melihat manusia sombong yang tidak tahu diri, tapi saat terdesak seketika menjadi penjilat rendahan.
"Kalian sudah menghina anakku, oleh karena itu biar anakku yang memutuskan hukuman apa yang tepat untuk kalian," ucap Vander.
"Rey, kau mau apakan dua manusia tidak tahu malu ini?"
Rey menatap kedua orang tua Leo yang kini bersimpuh dengan wajah ketakutan. Aku memang tidak suka pada mereka, apalagi Leo tapi...
"Huft" Rey menghela nafas. "Papa, aku sudah memaafkan mereka, tapi mereka tetap harus dihukum dan itu terserah papa."
"Begitu ya? Baiklah, karena anakku sudah memafkan kalian. Aku tidak akan menghilangkan pekerjaanmu, tapi mulai besok kau hanya akan jadi pegawai level dasar."
"Apa?! Tapi tuan akuโ"
"Kau mau aku buat jadi pengangguran?"
"Tidak tuan, ba- baik aku terima itu, terimakasih."
"Rey ayo pergi!" Ajak Vander.
Vander menatap Rey yang digandengnya dengan raut wajah bangga.
"Papa kenapa melihatiku begitu?"
"Tidak aku hanya sedang bangga padamu."
"Aku juga sangat bangga pada papa, kau sungguh keren!"
Aku bangga padamu Rey, kau tumbuh dengan baik. Aku bahkan iri karena kau punya hati pemaaf yang tidak aku miliki. Lara benar-benar membesarkanmu dengan cinta, cinta yang tak pernah aku rasakan saat aku kecil. Aku sangat bersyukur memiliki istri sebaik Lara, dia bahkan tidak pernah mengeluh padaku sama sekali tentang kesusahannya saat tak ada aku disampingnya. Kalau dipikir aku ini gagalnya dobel, sudah gagal menjadi suami, gagal pula juga jadi ayah. Tapi bagaimanapun hidup ini terus berlanjut, untuk menebus semua kesalahanku pada putraku dan istriku aku akan membahagiakan mereka akan aku lakukan apapun demi mereka, itu janjiku pada diriku sendiri.
...๐๐๐...
"Hari ini kalian menginap disini ya, ini kamar kalian," ucap Vander sambil memperlihatkan kamar presidential suit yang akan ditempati oleh anak dan istrinya menginap.
"Woah ini kamarnya mewah sekali!" Seru Reynder langsung naik keatas tempat tidurnya yang luas dan sangat empuk. "Papa, hari ini kau akan tinggal juga kan?"
"Tidak, hari ini aku harus pergi ada urusan keluar pulau jadiโ"
Lara menatap suaminya itu dan bertanya, "Sebenarnya kau mau kemana?"
"Aku ada urusan, tapi aku akan makan siang dulu bersamamu dan Rey sebelum pergi."
Akhirnya keluarga itu pun makan siang di restoran hotel Caliente yang mewah. Setelah selesai makan, Rey yang agak bosan pun tiba-tiba minta izin untuk berjalan-jalan di hotel ini.
"Tapi mama masih harus ada yang dibicarakan dengan papa jadiโ"
"Mama tenang saja, aku akan ditemani paman Robert kok kelilingnya," terang Rey sambil melihat ke arah Robert yang baru saja datang.
"Iya Nona, aku yang akan temani tuan kecil."
"Baiklah kalau begitu, tapi ingat, kumohon tolong kau jangan buat masalah oke?"
"Oke mom! Bye papa mama!"
...๐๐๐...
Setelah Rey pergi, Lara mengajak suaminya itu ke kamar mereka untuk bicara. Lara yang sudah duduk di atas ranjang pun meminta suaminya itu untuk jujur, "Sebenarnya kau kemana, dan kenapa tadi kau datang terlambat ke sekolah?"
"Aku ada urusan, dan soal keterlambatan ada kesalahan teknis di mobilku saat itu," ucap Vander sambil berdiri minum segelas wine.
"Huft! Tuan Vander bisakah kau jujur saja padaku?"
"Apa maksudmu?"
"Aku mengenalmu bukan baru hari ini, aku bisa merasakan bagaimana auramu saat kau sedang jujur dan tidak."
Vander terdiam.
__ADS_1
"Vander, kau bilang kau mencintaiku tapi kenapa kau seringkali menyembunyikan banyak hal dariku? Kau tahu, aku ingin sekali menjadi orang yang bisa selalu ada untukmu dalam susah ataupun senang."
"Lara akuโ"
"Aku tidak peduli keadaanmu, bagaimana, seperti apa dirimu, yang aku hanya ingin adalah, kau berbagi denganku segalanya. Kalau kau harus menanggung semuanya sendiri, lalu untuk apa kau jadikan aku sebagai bagian dari hidupmu?"
Vander menoleh menetap sang istri, netranya yang gelap itupun seketika tampak sendu. "Maafkan aku karena selalu membuatmu khawatir. Sejujurnya hari ini dan besok aku harus ke pulau Crux menemui Dominic untuk penelitian, dan soal keterlambatan tadi, sebenarnya ada kejadian buruk. Saat aku dari RK menuju sekolah Rey, ada mobil yang tiba-tiba menembaki mobilku, saat aku berusaha mengejarnya sayang sekali mobil itu tak lama langsung pergi jauh. Sepertinya dia hanya memberikan sebuah peringatan. Dan saat aku suruh orangku untuk selidiki, pemilik mobil itu ternyata hanya warga sipil biasa yang sudah meninggal karena dibunuh. Sepertinya Gauren sekarang semakin manipulatif dalam mengejarku."
"Tapi kau baik-baik saja kan?"
"Iya sayang, aku baik-baik saja," jawabnya tersenyum. seolah meminta Lara tak perlu khawatir.
"Van apa sebaiknya kau punya pengawal pribadi?"
Van tersenyum geli, "Melawan Gauren tidak ada gunanya pakai pengawal. Lagipula aku tidak suka terlihat terlalu mencolok dengan membawa pengawal, dengan adanya Robert itu sudah cukup bagiku. Justru aku sekarang khawatir denganmu dan Rey, aku takut ada orang yang menyampaikan pada musuh-musuhku kalau kau adalah istriku dan Rey putraku." Itu sebabnya kenapa Vander belum bisa membawa Lara dan Rey tinggal menetap bersamanya sampai saat ini.
"Maaf telah membuatmu dan Rey jadi ikut hidup dengan dalam ancaman bahaya."
Lara tersenyum, "Tidak masalah, karena aku percaya kau pasti akan selalu melindungiku dan Rey."
"Terima kasih, sudah selalu percaya padaku Lara."
"Itu memang tugas seorang istri bukan? Percaya pada suaminya."
Vander menatap dengan tatapan polosnya. "Lara, bisakah aku minta dipeluk?"
"Tentu, kemarilah," ujar Lara membuka kedua tangannya.
Vander langsung menghampiri Lara dan minta dipeluk erat. Bagi Vander salah satu obat paling ampuh yang bisa menenangkanya adalah istrinya sendiri. Aroma tubuh Lara yang harum dan lembut, serta kehagatan pelukannya membuat Vander merasa damai.
...๐๐๐...
Sementara itu, Rey yang sedang asyik bermain tembakan air dengan Robert di dekat kolam renang, tidak sengaja malah mendorong seorang wanita yang ada dibelakangnya.
Alhasil wanita itu pun marah, karena akibat terdorong tubuh Rey dirinya jadi ketumpahan jus.
"Nona Emily kau tidak apa?" Seru manajernya Naomi melihat Emily emosi pada anak kecil.
"Hei Anak nakal! Kau ini siapa sih?!" Ucap Emily dengan wajah juteknya.
"Bibi maafkan aku ya," ungkap Rey menyesal.
"Dasar bocah nakal, gara-gara kau pakaian renangku yang mahal ini jadi kena jus!" Keluhnya.
"Aku minta maaf bi... Kalau mau, aku akan panggilkan papaku agar menggantinya untukmu."
"Aduh kau ini masih kecil tidak usah sok mau menggantinya! Pakaianku ini mahal dan terbatas, mana bisa orang tuamu sanggup menggantinya."
"Tuan kecil anda tidak apa-apa?" ujar Robert menghampiri Reynder.
"Tidak apa paman Robert, aku hanya tidak sengaja menabrak bibi ini."
"Eh tunggu, kau ini kanโ asistennya tuan Vander?" Saat melihat sosok Robert, Emily langsung sadar. dan teringat pada Vander.
"Iya aku asisten tuan Vander, oh anda Nona Emily itu kan? Nona tolong anda maafkan anak ini diaโ" Robert menghentikan ucapannya. Huft hampir saja aku keceplosan mengenalkan Rey adalah putranya tuan Vander.
Melihat ada Robert, Emily jadi yakin kalau Vander juga ada hotel ini. Wajar saja ada Vander mengingat Caliente adalah hotel milik Laizen grup juga.
"Umโ kalau begitu dimana tuan Vander?" Tanya Emily penasaran, dan saking penasarannya ia sampai lupa kalau sedang marah-marah pada Rey tadi.
"Tuanโ dia tidak ada disini, aku kemari hanya menemani anak ini saja bermain."
"Huh? Anak ini siapa memangnya?"
"Diaโ dia keponakannya tuan Vander."
Saat tahu kalau Rey adalah keluarga Van, Emily langsung tiba-tiba saja berubah sikap, dirinya yang galak tadi tiba-tiba saja menjadi ramah pada Rey. Tentu saja Rey langsung dibuat curiga dan tidak suka dengan Emily.
Dasar bibi jahat, aku tahu kau suka pada papaku kan? Itu sebabnya kau langsung tiba-tiba baik saat tahu aku ada hubungan keluarga dengan papa. Enak saja! Tidak akan aku biarkan papa diambil penyihir jahat ini, papa Vander cuma milik mama Lara!
"Paman Robert ayo pergi saja dari sini!" Ajak Rey.
"Rey kau tidak pamit padaku?" Sahut Emily dengan senyum palsunya.
"Tidak, aku tidak suka sama bibi galak seperti hantu, bwek!"Rey menjulurkan lidahnya seraya meledek Emily lalu pergi.
"Dasar bocah sialan! Kalau bukan karena hubunganya dengan tuan Vander sudah aku tenggelamkan dia ke kolam!" Ujar Emily kesal dibuatnya.
__ADS_1
...๐๐๐...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS ๐