
Di ruang kerjanya Vander tampak begitu kacau. Ia merasa frustasi karena sudah hampir lima hari sejak istrinya hilang namun tak juga kunjung ada berita baik. Saat ini Vander terlihat seperti orang yang kehilangan arah. Penampilannya pun jadi kian lusuh dan berantakan. Jangankan mandi, atau bercukur, ia bahkan tak peduli sama sekali dengan kesehatannya sendiri, yang ia lakukan hanyalah terus saja mengkonsumsi alkohol dan merokok sambil meratap.
"Lara kau dimana sekarang, apa kau baik-baik saja?" Ucapnya dengan suara seraknya yang terdengar putus asa.
Padahal hampir seluruh anak buahnya sudah ia kerahkan, tapi tetap saja belum ada satupun laporan dimana istrinya itu berada saat ini. Bahkan ia juga sudah minta bantuan polisi pusat untuk mencari keberadaan Lara tapi tetap saja belum ada hasilnya.
"Kenapa sampa detik ini belum juga ada yang berhasil menemukan Lara? Apa mungkin ini memang trik si tua bangka dan Reki baj¡ngan itu agar aku mau menyerah pada mereka?"
"Tuan Vander?"
Robert seketika datang menghampiri tuannya itu di ruangannya yang tak terkunci. Melihat Vander tampak begitu menyedihkan, ia pun ikut merasa iba karena sebelumnya ia tidak pernah melihat tuannya seputus asa ini.
"Ada apa Robert? Apa sudah ada yang menemukan istriku?"
"Tuan sebaiknya anda jangan minum lagi, sejak kemarin anda sudah terlalu banyak minum dan merokok. Anda juga harus memikirkan kesehatan anda sendiri."
Vander tertawa sedih. "Aku ini memang tidak berguna, iya kan Robert?" Ia melihat ke arah asistennya tersebut dengan raut wajah penuh kepasrahan.
"Tuan kenapa anda bilang begitu?"
"Karena kenyataannya memang begitu. Aku ini tidak berguna, aku ini suami yang buruk. Jangankan melindungi, menjaga istriku sendiri saja aku tidak mampu."
"Tuan anda tidak boleh bicara seperti itu. Ingat, masih ada tuan kencil yang menggantungkan harapannya pada anda."
Lagi-lagi Vander tertawa dengan nada pilu. "Ya kau benar, selain suami yang buruk aku juga ayah yang sangat memalukan. Aku bahkan tidak bisa diandalkan oleh putraku sendiri. Aku ini memang hanya baj¡ngan menyedihkan yang tidak pantas untuk mereka."
"Tuan kumohin berhenti bicara begitu, Tuan Vander yang aku kenal tidak mungkin bicara seperti itu."
"Lalu aku harus bicara apa Robert? Bukankah yang aku katakan semua itu fakta. Mungkin... memang akan lebih baik kalau aku amnesia selamanya, sehingga tidak perlu lagi ingat masa laluku dan Lara. Dengan begitu Lara, Rey, dan bahkan anak didalam perut Lara tidak akan mengalami semua kesialan dan masalah ini. Aku— ini memang sepertinya tidak ditakdirkan hidup bahagia ya?" Vander seketika mengeluarkan air mata kesedihannya.
Tuan— dia menangis?
"Aku ini memang pembawa sial, ibuku meninggal karena aku, ayahku benci padaku, dan sekarang wanita yang paling aku kucintai pun harus mengalami banyak hal sulit karena aku. Apa setidak pantas itukah aku bahagia?" Vander tersenyum lalu setengah tertawa bersamaan dengan air mata kesedihannya yang meluap.
Robert yang melihatnya pun bisa merasakan betapa sakitnya arti diabalik tawa dan senyum kesedihan tuannya itu. Senyum seorang pria yang tengah putus asa dan merasa tak berguna dalam hidupnya. Dunia memang seringkali begitu kejam bagi sebagian orang, tapi dengan begitu pula mereka yang banyak merasakan luka, seiring berjalannya waktu akan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dari kebanyakan orang.
"Tuan, sebaiknya anda—"
Tuan tolong anda jangan masuk! Tuan...!
Terdengar suara Frida yang berteriak menghentikan seseorang masuk.
"Jadi disini kau rupanya!" Seru Eiji.
Ternyata teriakan Frida tadi ditujukan kepada Eiji yang memaksa menerobos masuk ke kediaman Vander. Dari raut wajah dan nada bicaranya, terlihat kalau Eiji saat ini tengah marah. Sorot matanya yang tajam nampak jelas tertuju pada satu orang yakni Vander, yang saat ini hanya bisa berdiri lemah di dalam ruang kerjanya yang kini terbuka lebar.
Eiji mengepalkan kedua tangannya lalu berjalan menghampiri Vander. Layaknya seekor hewan buas yang ingin menyerang musuhnya, Eiji mendekati Vander dan langsung meninju wajahnya dengan keras.
"Tuan!" Seru Robert terkejut melihat Eiji yang tiba-tiba saja marah dan memukul tuannya. "Tuan Eiji apa yang kau lakukan?"
"Robert kau diam saja, ini urusan antara aku dan tuanmu yang bodohmu ini!"
Ada apa sebenarnya dengan Eiji?
Vander yang wajahnya dipukul Eiji terlihat tak bereaksi apa-apa. Ia tidak seperti Vander yang biasanya yang sudah pasti akan membalas berkali-kali lipat jika diserang begitu.
"Kenapa kau diam saja! Apa kau sudah jadi selemah itu sampai tak bisa membalasku! Vander Liuzen! Jawab aku!"
BUGH!
Lagi-lagi Eiji memukul wajah Vander untuk kedua kalinya. Dan lagi pria itu hanya bergeming dan tak melakukan perlawanan apa-apa.
"Cih! Kau memang tidak pantas untuk Lara! Kau lemah, pengecut, bodoh, dan tidak berguna! Kau pikir dengan kau mambuk-mabukan begini Lara akan bisa ketemu dan kembali!? Apa kau pikir begitu!? Jawab aku Vander!" Pekik Eiji yang saking emosinya langsung menarik kerah baju Vander dan memakinya persis di depan wajahnya. "Apa kau ini pria yang selalu dibanggakan Lara? Kalau iya, aku rasa Lara itu bodoh sekali. Karena bisa-bisanya dia memuji pria lemah sepertimu dan dijadikan suaminya!"
Eiji sungguh kesel dengan Vander yang seperti ini. "Vander, aku sungguh berpikir kau mampu menjaga Lara, sebab hanya kau yang dipilihnya. Tapi kenapa malah begini, apa kau sudah tak peduli lagi dengan istrimu huh! Apa kau sudah rela dia hilang, iya?! Jawab aku!"
Vander seketika tersenyum kecil, tangan yang awalnya tak ia gerakan sejak tadi, kali ini bergerak dan langsung memegang kedua tangan Eiji yang mencengkeram kerah bajunya lalu menyingkirkan tangan Eiji kari kerahnya.
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku tentangku Eiji," ujar Vander yang sepertinya mulai sadar.
"Iya, aku memang tidak tahu tentangmu, tapi aku tahu dengan sangat baik seperti apa Lara!"
"Lalu, kenapa kau marah padaku? Kenapa tidak kau saja yang jadi suaminya Lara jika kau memang tahu tentangnya melebihi aku?"
"Baj¡ngan kau Van—!"
Eiji mau memukul wajah Vander lagi, namun kali ini dengan mudah pukulan Eiji ditahan oleh satu tangan Vander. "Sudah cukup aku membiarkanmu memukulku dua kali," tandas Vander sambil melepaskan tangan Eiji dengan kasar.
__ADS_1
"Akhirnya kau menghentikan pukulanku."
"Aku bisa saja mematahkan tanganmu dengan mudah. Tapi aku tahu itu tak ada gunanya saat ini."
Eiji menyeringai. "Baguslah kalau kau sudah sadar tuan Vander, setidaknya aku masih bisa sedikit yakin kalau kau masih memiliki sedikit kewarasan untuk memperjuangkan istrimu."
"Apa kau sempat berpikir kalau aku akan menyerahkan istriku padamu?"
"Ya sedikit."
"Sedikit? Tapi baiklah, setidaknya kau masih tahu diri."
Eiji tersenyum kecil. "Aku masih percayakan Lara padamu saat ini, tapi sedikit saja kau salah langkah atau menyakiti Lara, aku pasti akan merebutnya darimu apapun alasannya."
"Kau mengancamku?"
"Aku tidak mengancam, aku hanya mengatakan apa yang harus aku lakukan. Kalau begitu aku pergi dulu! Aku akan mencari Lara lagi, jangan marah kalau aku menemukannya duluan." Eiji akhirnya pergi meninggalkan Vander disana.
Vander tersenyum kecil, "Itu tidak mungkin tapi... terima kasih sudah menyadarkanku Eiji. Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil Lara dariku termasuk kau."
Robert pun langsung menghampiri tuannya saat itu juga dan bertanya apakah ia baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja, pukulan kecil seperti itu bukan apa-apa buatku. Tapi kata-kata Eiji tadi, semuanya adalah pukulan telak buatku. Pada akhirnya dia menyadarkanku dari jurang putus asa. Aku hampir saja jadi pria idiot yang menyerah pada keadaan."
Robert senang mendengar tuannya sudah kembali tangguh seperti biasanya. "Lalu apa yang akan tuan lakukan sekaranga?"
"Aku sepertinya harus menemui Gauren. Bagaimana pun semua masalah ini terjadi karena urusan antara aku dan dia yang belum selesai."
"Aku akan selalu mendukung apapun keputusan tuan."
"Terima kasih Robert, sekarang kau siapkan aku pakaian ganti. Sudah waktunya kita menyerang balik."
"Baik tuan."
"Gauren, kau tidak bisa seenaknya padaku." Vander mengambil bingkai foto yang diatas nakas, dimana bingkai itu berisi foto dirinya dan sang istri. Ia memandangi foto tersebut dan berkata, "Sayang... kita akan segera berkumpul lagi. Jadi tunggu aku ya..."
...🍁🍁🍁...
Di ruangan tempatnya disandera, Lara benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya jalan keluar yakni pintu yang digunakan untuk keluar masuk, benar-benar tak pernah sekalipun lepas dari penjagaan anak buah Reki. Bahkan untuk sekedar ke kamar kecil saja Lara harus diantar oleh empat orang pelayan, semua ini benar-benar memuakkan baginya. Meskipun Lara diberi makan makanan terbaik serta pakaian bagus, hal itu sama sekali tak membuatnya merasa nyaman ataupun senang. Hal tersebut justru membuat ia semakin ingin meninggalkan tempat ini sesegera mungkin. Belum lagi perlakuan Reki yang suka kasar menampar hingga mencengkramnya, ditambah kata-kata Reki yang mengatakan ingin menjadikan ia istrinya, hal itu membuat Lara gemetar ketakutan dan ingin segera pergi dari penjara ini.
Tok tok!
Briana si pelayan yang selalu membawakan makanan untuk Lara, seperti biasa datang membawakannya makan. Entah ini makan siang, malam, atau sarapan Lara tidak tahu. Sebab di ruangan tersebut tidak ada jam sama sekali sehingga Lara tidak tahu sudah berapa lama waktu bergulir sejak ia diculik.
Lima hari, enam hari? Ia sama sekali tidak tahu.
"Nona ini aku bawakan sup ayam jahe untuk anda," ucap Briana dengan nada lembut penuh perhatian. Sungguh, sampai detik ini Lara masih tak menyangka wanita selembut ini bisa-bisanya bekerja untuk pria jahat seperti Reki.
"Um- Briana."
"Iya nona."
"Berapa usiamu?"
"Aku, empat puluh lima tahun."
"Tarnyata kau sudah hampir seusia ibuku kalau dia masih hidup."
"Anda rindu ibu anda ya nona?"
"Ya, terkadang. Kalau dia masih hidup pasti dia akan memanjakanku, membuatkanku banyak masakan enak untuku dan calon cucunya," ucap Lara mengenang ibunya.
"Ini makanlah nona," Briana memberikan mangkuk sup itu kepada Lara untuk dimakannya.
"Terima kasih." Lara menyantap sup itu dengan perlahan.
Briana tersenyum melihat Lara memakan sup buatannya dengan lahap. Namun matanya seketika nampak tak tega kala ia melihat bekas cengkraman tangan yang ada di pergelangan tangannya. "Nona kalau begitu aku izin keluar dulu."
"Eh tunggu—"
"Ada apa Nona?"
"Kau disini saja temani aku, aku kesepian sekali," pinta Lara.
Melihat tampang Lara begitu, sejujurnya Briana ingin sekali menemaninya. Sayangnya hal itu tak diperbolehkan Reki.
"Nona maaf, tapi aku tidak bisa... Aku berharap kau bersabarlah dulu sampai tiba waktunya."
__ADS_1
"Waktunya? Apa maksudmu?" Lara penasaran dengan maksud ucapan Briana barusan. Sayangnya Briana tak menjelaskannya dan malah keburu pergi. Padahal Lara benar-benar ingin tahu maksud ucapan Briana tersebut apa, karena selama disini hanya Briana yang dirasa baik oleh Lara.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Lara kembali hanya bisa bersandar pada kesendiriannya yang malang. Diatas ranjanga ia termenung sedih merindukan suami dan putranya. "Apa mereka sedang mecariku? Apa Rey makan dengan baik? Apa Vander tidur dengan cukup? Apa mereka sedang merindukanmu? Aku merindukan mereka. Iya kan sayang?" Lara mengelus perutnya. "Apa kau rindu papa dan kakakmu?" Lara tersenyum pilu. "Iya, mama tentu sangat rindu mereka." Lara berbicara banyak hal dengan anak diperutnya yang sejak tadi seperti terus merespon ucapannya.
"Tentu saja kita akan keluar dari sini."
Lara menahan tangisnya. "Apa? Mama tidak apa-apa, mama kuat asal kau juga kuat. Mari kita bertahan sebentar lagi oke?"
"Anak pintar," Lara mengusap lagi perutnya. Namun setelah itu ia malah langsung dibuat kaget dengan kedatangan Reki yang tiba-tiba masuk, bersama dengan seorang pria tua yang mana baru Lara lihat pertama kali.
Siapa pria tua itu? Pikir Lara.
Seketika Lara langsung meringsekan tubuhnya kebelakang seakan membuat peringatan jangan mendekat, saat Reki dan pria tua itu mendekatinya. Tapi siapa peduli, pria tua yang tubuhnya masih gagah itu tetap saja mendekatinya.
"Kau takut denganku nak?"
Siapa orang ini? Kenapa dia menatapku begitu seolah sudah tahu diriku.
"Kau pasti kaget kan? Oleh karena itu izinkam aku memperkenalkan diriku padamu. Namaku Mario Gauren salam kenal."
Apa?! Gauren? Mata Lara terbalalak mengetahui pria dihadapannya saat ini adalah Gauren, musuh yang selama ini dihadapi suaminya.
"Apa suamimu tidak pernah memberitahumu tentangku, hingga kau sekaget ini?"
"Kau mau apa? Kenapa kau mengurungku disini? Apa salahku padamu?"
Gauren tersenyum, "Kau tidak salah apapun denganku. Aku menggunakanmu agar suamimu datang menemuiku, tapi sayangnya sampai hari ini dia belum juga menghubungiku, apa mungkin istri cantiknya ini sudah tidak berharga lagi untuknya?"
"Tidak! Vander tidak mungkin begitu, kau— kau orang jahat!"
HAHAHA...! Tawa Gauren menggelegar. "Nak, kau pikir suamimu itu bukan orang jahat? Kau kira berapa nyawa yang sudah ia habisi selama hidupnya? Kau pikir dia pria yanh bersih? Tidak, Vander dan aku sama saja, kami sama-sama pria yang hidup dengan garis tipis diantara dosa dan kehidupan."
"Tidak... tidak! Vander tidak sama sepertimu! Aku yakin suamiku akan datang menolongku!"
"Ya, mari kita tunggu saja kedatangannya. Tapi sebelum itu ada satu rahasia lagi yang harus kau tahu, yang bahkan Vander sendiri tidak tahu."
Rahasia apa?
Gauren berbisik ditelinga Lara dan mengatakan, "Vander itu keponakanku, ibunya Anika Gauren dia adikku satu-satunya. Jadi secara tidak langsung kau adalah keponakanku juga nona Lara Hazel."
Lara sungguh syok mengetahui hal itu. "Kau— kau bohong!"
"Apa buktinya aku berbohong? Aku mengatakan kenyataannya. Aku, Vander dan kau, kenyataannya kita memang saling berhubungan."
"Lalu kenapa kau tega pada keponakanmu sendiri!"
"Karena dia pantas dapatkannya. Dia membuat adikku meninggal saat menyelamatkannya dulu. Dan dia berani memberontak padaku, anak seperti itu tidak bisa ku ampuni. Bagaimana pun dia harus masuk ke lubang dosa bersamaku!"
"Kau sungguh tak punya hati, kau tidak pantas jadi pamannya Vander ka- euggh!!" Lara meringis kesakitan saat Gauren mencengkram rahangnya dengan tangannya yang besar.
"Aku tak peduli soal itu, yang aku tahu anak itu harus membayar semua yang ia lakukan padaku. Kau paham nona?!" Tegas Gauren yang kemudian melepaskan cengkramannya.
Lara memegangi rahangnya yang terasa sakit itu.
"Maaf aku jadi kasar padamu, tapi yang jelas kau tidak berhak mengatakan apapun tentangku. Lara, sejujurnya aku tahu kau wanita yang baik, bahkan kau terlalu baik untuk keponakanku yang brengsek itu. Tapi mau bagaimana lagi, kalau sudah cinta semua akan terasa manis bukan?" tandas Gauren yang kemudian pamit dan berjalan pergi keluar meninggalkan Lara.
"Kenapa semuanya malah jadi begini? Vander, dia tidak pernah tahu kalau selama ini musuhnya adalah pamannya sendiri."
...----------------...
Di luar sebelum Gauren pergi kembali ke markasanya ia berkata kepada Reki, "Jadi dia wanita yang kau dan keponakanku perebutkan? Pantas saja..."
"Apa maksudmu tuan?"
"Ya pantas saja kalian tergila-gila padanya, karena setelah aku melihat langsung dia memang sangat cantik. Tapi aku rasa baik kau atau Vander tidak ada yang pantas untuknya."
"Kenapa kau bicara begitu?"
"Ya karena Lara itu terlalu malaikat, jadi tidak pantas untuk para iblis sepertimu dan Vander. Sudahlah aku pergi dulu, tolong kau jaga Lara, bagaimana pun dia tetaplah keponakan sekaligus menantu adikku."
"Iya tuan."
Gauren akhirnya pergi, sementara itu Reki merasa tidak terima dengan ucapan Gauren barusan. "Pada kenyataannya darah selalu lebih kental daripada air. Sama halnya kau pria tua, sekejam apapun kau pada Vander, tapi sadar atau tidak kau tetap saja masih ingin melindungi keponakan sialanmu itu." Reki tersenyum licik. "Tapi kita lihat saja, siapa akhirnya yang mengalahkan siapa?"
...🍁🍁🍁...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, VOTE, DAN BERI GIFTNYA YA 🙏 MAKASIH...
__ADS_1