Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Perasaan yang tak pernah mati.


__ADS_3

Lara yang sedang duduk santai di taman belakang apartemen, setelah selesai melakukan senam hamil, tiba-tiba saja dihampiri oleh Reki yang saat itu juga kelihatannya baru selesai olahraga.


"Lara kau sedang apa disini?"


"Reki? Ya aku baru saja selesai melakukan senam hamil. Tiba-tiba aku merasa udara pagi disini segar, makanya aku kesini. Kau sendiri apa habis olahraga?"


"Ya begitulah, umโ€” apa kau sendirian?"


"Tadi sih aku ditemani Miranda, tapi dia tiba-tiba harus segera kembali karena ada urusan mendadak."


"Jadi begitu, oh iya Lara setelah berkali-kali bertemu dan mengobrol. Aku belum pernah sekalipun bertemu suamimu, ada dimana dia sekarang?"


"Suamiku, dia sedang ke luar negeri. Memangnya kenapa?"


"Tidak, hanya saja aku suka merasa kasihan melihat dirimu jarang bersama suamimu, apa kau tidak kesepian?"


Sejujurnya Lara juga merasa agak kesepian akhir-akhir ini, tapi mau bagaimana lagi. Resiko jadi istrinya Vander.


"Aku tidak terlalu merasa kesepian, lagipula aku kan tidak tinggal sendirian."


"Begitu ya, tapi kalau aku yang jadi suamimu sih aku tidak akan aku tinggalkan dirimu."


"Huh apa maksudmu?" Lara agak terkesiap mendengar jawaban Reki barusan.


"Eh bercanda, sudah tidak usah kau anggap serius. Ngomong-ngomong kehamilanmu sudah berapa bulan?"


"Sudah mau tujuh bulan," jawab Lara sambil mengusap perutnya yang buncit.


Tak lama kemudian, muncul Robert yang datang menghampiri Lara dan memintanya agar segera kembali naik ke apartemen. Disana Robert terlihat samar-samar mengarahkan tatapan tak biasa ke arah Reki.


"Yasudah Reki, sepertinya aku sudah harus kembali. Kapan-kapan kita mengobrol lagi oke?"


"Ya."


"Bye Reki..." Lara pergi bersama Robert meninggalkan Reki yang masih disana duduk sambil melambaikan tangan dengan raut wajah sumrigah menatap Lara pergi. Sampai pada akhirnya raut wajah sumringah itu pun berganti menjadi ekspresi penuh kemarahan kala memperhatikan Lara dalam keadaan hamil dari jauh. "Menjijikan! Rasanya aku ingin muntah saat ingat kalau anak yang dikandung Lara saat ini adalah hasil benih dari pria busuk itu. Kenapa Lara? Seharusnya kau mengandung anakku, bukan pria sialan itu!"


...----------------...


Di kamar mandinya, Reki yang baru saja selesai mandi secara tak sengaja menoleh dan melihat wajahnya di cermin wastafel. Pria itu lalu mendekat ke cermin dan terus menatap wajahnya sendiri sambil merabanya.


"Wajah ini, Lara lebih suka melihatku dengan wajah baru ini. Dia sering tersenyum saat mengenalku dengan wajahku yang sekarang. Tapi..." Tatapan mata itu berubah sedih dan putus asa.


"Tapi kenapa kau masih bersama pria itu? Apa kau tak ingin memilihku dengan wajah baruku ini Lara?" Pria itu kemudian tertawa tiba-tiba. "Tapi tenang, aku bukan lagi Jeden Lee, aku Reki Helian sekarang. Aku akan menghabisi Vander dan merebut Lara. Haha..." Tawa Reki menggema saat itu. Pria yang belum bisa melupakan masa lalunya itu masih berhasrat untuk memiliki cinta dimasa lalunya. "Apun diriku saat ini Reki ataupun Jeden, yang pasti aku akan mendapatkanmu Lara."


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Vander yang sudah tiba di kota ZR, kini sedang berada diperjalanan menuju apartemennya bersama Tori yang menjemputnya dari bandara. Saat ini Vander hanya ingin segera pulang bertemu istri dan anaknya.


"Tuan, anda sepertinya bersemangat sekali?" Ucap Tori.


"Aku ingin bertemu istri dan anakku mana mungkin tidak semangat. Oh iya saat aku pergi, apa ada hal penting yang terjadi?"


"Tidak ada tuan, hanya saja kata tuan Robert. Akhir-akhir ini nyonya terlihat akrab dengan seorang pria penghuni baru di Caelestis Garden."


Vander mengerutkan alisnya mendengar hal tersebut. "Pria seperti apa maksudmu?"


"Aku juga kurang tahu, karena aku juga hanya sempat lihat pria itu sekali. Yang pasti dia masih lumayan muda, mungkin usianya baru mau tiga puluh. Dan seingatku namanya Reki Helian."


Reki Helian? Seperti apa dia?


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Akhirnya Vander tiba juga di apartemenya. Disana ia langsung disambut oleh istri dan anaknya.


"Papa aku rindu papa..." Ungkap Rey yang langsung minta digendong papanya


"Benarkah itu, kau merindukanku?"


"Ya, aku rindu papa, mama juga sangat rindu padamu."


"Oh ya?" Vander melirik ke arah Lara.


"Ituโ€” sudahlah kau duduk dulu, kau pasti lelah setelah terbang hampir sehari penuh kan?" Lara meminta putranya untuk tak langsung mengganggu papanya yang baru pulang.


"Aku tidak lelah, melihat kalian rasa lelahku sirna sepenuhnya," ucap Vander yang kemudian mengeluarkan sebuah kotak hadiah dan memberikannya pada Rey.


"Papa ini apa?"


"Kau buka saja nanti kau juga akan tahu," tandas Vander yang kemudian menurunkan putranya itu dari gendongannya.


Rey kemudian membuka kotak tersebut,dan ternyata isinya adalah sebuah replika pesawat terbang mini, yang terbuat dari bahan emas dan permata. "Woah ini emas?"


"Yes, itu terbuat dari emas dan permata."


"Papa ini keren sekali!" Ujar Rey takjub dengan hadiah pemberian sang papa yany sudah pasti harganya tidaklah murah. "Papa ini sungguh untukku kan?"


"Tentu saja."


Rey langsung memeluk papanya dan berterima kasih. "Terima kasih papa, kau memang papa terhebat dan terbaik di dunia."

__ADS_1


"Sama-sama."


"Yasudah aku mau ke kamar dulu, papa teruskan saja mesra-mesraanya sama mama, bye!" Rey pun langsung pamit pergi ke kamarnya sambil membawa hadiah dari papanya tersebut.


Sementara Lara yang masih berdiri disana hanya bisa menatap ke arah suaminya dengan raut wajah ngambeknya yang bagi Vander tampak lucu dan menggemaskan.


"Sayangku, kenapa menatapku dengan wajah begitu?" Tanya Vander seraya menggodanya.


"Kau tidak rindu padaku sama sekali sepertinya. Apa disana sudah dapat wanita cantik nan menggoda makanya tidak rindu padaku?"


Vander tertawa geli, ia pun tiba-tiba saja menggendong istrinya dan membawanya keย  kamar mereka. "Vander kau mau apa sih! Turunkan aku!"


"Nanti aku turunkan kalau sudah di ranjang."


"Huh dasar suami mesum!"


Disana, Frida dan Robert yang menyaksikanย  tingkah pasangan itu pun hanya bisa senyum-senyum senang melihat tuan dan nyonya mereka sudah besama lagi.


Sesanpainya di dalam kamar, Vander pun langsung menurunkan istrinya diatas ranjang secara perlahan.


"Huh, kau ini apa-apaan sih!" Tandas Lara kesal.


"Aku rindu istriku dan mau mesra-mesraan dikamar dengannya, memang salah?"


Lara tersipu malu. "Kau rindu padaku tapi kenapa cuma Rey yang tadi kau peluk dan beri oleh-oleh?"


"Kau cemburu pada putramu sendiri?"


"Bukan begitu, tapi..."


Vander mendekatkan wajahnya ke wajah Lara dan mendongakan dagu sang istri mentap ke arahnya. "Dengar, aku selalu memikirkanmu setiap saat jadi jangan pikir aku tidak rindu padamu." Pria itu langsung mengecup bibir Lara yang lembut dan terasa manis.


"Kau tidak cukup minum ya?" Ucap Lara merasakan kalau bibir suaminya agak kering.


"Aku sampai lupa minum karena terlalu ingin menyentuhmu."


"Kau minumlah dulu, kau pasti haus kan setelah perjalanan." Kebetulan di kamar mereka selalu ada teko kaca berisi air minum di nakas sebelah tempat tidur. Lara yang ada di dekatnya pun menuangkan air untuk suaminya dan menyuruhnya agar segera meminumnya.


Setelah minum dan lebih segar, Vander bertanya kepada istrinya apa dia juga merindukannya seperti yang dikatakan Rey tadi.


"Iya aku rindu padamu, kau seharusnya rindu padaku juga kan?"


"Tentu saja, aku rindu semua hal tentangmu."


"Tapi kenapa hanya Rey yang dapat hadiah?" tanya Lara protes.


"Maaf, aku akanโ€”hmm"


"Maaf ya aku tidak bawakan hadiah untukmu."


"Sebenarnya itu tidak masalah, melihat kau kembali dengan selamat dan sehat sebenarnya itu sudah lebih dari sekedar hadiah," ungkap Lara senang melihat suaminya sudah kembali kesisinya lagi.


Tiba-tiba Vander menyentuh gunung kembar bulat di dada istrinya yang padat dan kenyal. "Lara aku masih haus."


"Eh, Vander ke- kenapa kau?" Lara punya firasat aneh. Melihat suaminya saat itu menatapnya dengan tatapan penuh harap.


Tak lama Vander dengan tanpa aba-aba membuka dress yang dipakai Lara, dimana kebetulan lengannya model sabrina, jadi mudah diturukan. Pria itu memegang dua buah dada sang istri yang lembut dan bulat. "Lara, orang bilang kalau wanita hamil akan mengeluarkan cairan mirip dari ujung kedua buah dadanya."


"Ya itu namanya Asi, lalu kau mau apa?" Ucapnya malu-malu.


"Aku mau juga mau merasakannya."


"Vander kau kan bukan bayi lagi, mana mungkinโ€” kau."


Tanpa bertanya pria itu langsung menyesap kuat kedua ujung buah dada itu.


"Hhh... Vander jangan terlalu kuat menghisapnya." Vander benar-benar seperti bayi yang tengah menyusu pada ibunya. Apa dia terlalu merindukanku hingga jadi seagresif ini.


"Rasanya enak pantas bayi suka sekali!" Ungkap pria itu terdengar polos.


"Vander kau ini tidak malu ya, bahkan Rey saja sebelum tiga tahun sudah berhenti menyusu."


"Anak-anak dan aku berbeda, bagaimana pun mereka akan tumbuh dewasa. Sementara aku akan selalu jadi bayimu selamanya," ungkap Vander tersenyum lebar.


Mendengarnya Lara hanya bisa senyum malu-malu. "Kalau memang begitu, bayi besarku sekarang waktunya kau istirahat setelah perjalanan jauh."


"Oke..."


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di markas Gauren, Reki dan Mez yang saat ini merupakan pesuruh setia Gauren datang menemui tuannya itu. Di ruangan yang cukup luas dimana di tiap sisi ruangan terdapat rak berisi buku-buku tebal. Mereka datang untuk melaporkan apa yang telah terjadi beberapa hari ini.


"Jadi sudah sejauh apa kalianmenjalankan misi dariku?" Tanya Gauren yang berpakaian santai berdiri sambil memegang tongkat perak berkepala ular miliknya.


"Kami masih butuh waktu tuan, anda bilang kami harus mencari orang yang berkualifikasi bagus."


"Ya, karena orang yang jadi bahan uji cobaku tidak boleh sembarangan mereka harus SDM yang berkualitas tinggi. Jadi apa kalian sudah dapatkan orang-orang yang akan jadi percobaanku? Ingat, aku butuh sekitar lima ratus orang!" Tegas Gauren


"Tenang saja, kami sudah mendapatkan beberapa orang target yang masuk kualifikasimu tuan," sahut Reki dengan santainya.

__ADS_1


"Oh ya, kau percaya diri sekali. Sepertinya kau sedang senang, ada apa? Apa karena keponakanku yang saat ini terpantau sedang tidak ada di negara ini?


Reki menyeringai kecil. "Tidak semua kesenanganku kau harus tahu kan tuan Gauren."


"Begitukah? Cinta memang sering membuat orang jadi bodoh. Tapi kau jangan senang dulu, aku yakin Vander pasti sudah tahu sedikit banyak pergerakan kita jadi hati-hatilah... Bagaimana pun dia punya kuasa besar di negera ini, terutama di kota ZR."


"Sudah tahu kekuasaan Vander sangat besar dikota ini, lalu kenapa kau malah menargetkan orang-orang untuk ojicobamu disini tuan Gauren?" Tanya Reki heran.


"Itu karena aku ingin Vander melihat, kalau aku bisa lakukan gerakan ini tanpanya."


"Tuan, dari lima ratus orang itu. Kau ingin Eiji Hartman termasuk di dalamnya kan?"" Tandas Mez


"Eiji? Kau ingin pria itu?" Sahut Reki.


"Iya, dia pria yang cerdas. Kupikir jika aku bisa mengendalikannya maka aku akan lebih mudah untuk mengambil alih kota ini."


"Kau memang gila tuan Gauren," ujar Reki.


Gauren mendekati Reki dan menekankan perkataannya. "Aku memang gila, oleh karenanya waktu itu aku bisa membantumu kembali dari keterpurukanmu tuan Reki Helian alias Jeden Lee." Seketika Reki ingat kejadian itu.


Flashback. on


Saat itu Jeden yang sudah tak punya kekuatan lagi, terlihat terkulai lemas di atas lantai di ruangan yang gelap. Tubuhnya banyak luka, dan luka lebam diwajahnya pun nampak dipukuli.


Seketika itu juga Gauren datang, pria tua itu dengan angkuhnya berdiri di depan tubuh Jeden yang tergeletak di lantai tak berdaya. "Kau sungguh tak berguna, tubuhmu lemah dan kalau begini tidak sampai tiga hari kau pasti mati," ucap Gauren.


Pria tua sialan, dia sudah tiga hari menyiksaku. Apakah Vander dulu mengalami hal seperti ini juga saat bersama pria tua ini?


"Bangun!" Titah Gauren.


Jeden mencoba mengangkat tubuhnya yang sudah tak punya tenaga sama sekali. Tubuhnya yang dipukul, disiram air dingin, dan dicambuk berkali-kali benar-benar menyakitkan. Bahkan rasanya mati lebih enak dibanding hidup.


"Ugh!" Meski sudah berusaha Jeden tatap tak mampu mengangkat tubuhnya bangun.


"Lemah! Serangga sepertimu memang pantasnya mati saja!" Gauren meminta sebuah besi panas.


Mau apa dia? Kenapa dia memegang besi yang ujungnya panas itu? Apa yang mau ia lakukan padaku?


Tatapan ketakutan terlihat dari sorot mata Jeden yang terbelalak lebar. Ia ingin sekali kabur rasanya dari sana, namun sialnya ia tidak mungkin bisa karena jangankan untuk kabur, mengangkat tubuhnya sendiri pun ia tak mampu.


Senyum Gauren yang tampak dingin dan mencekam menatap ke arah Jeden yang bergidik ketakutan tergeletak diatas lantai.


"Jangan, jang-an lakukan itu jangan....!!! Aargrghhh!" Jeden meronta-ronta berteriak kesakitan saat besi panas itu diletakan di sisi kanan wajahnya.


"Panas!!" Jeden menjerit meronta dan memohon. Namun hal itu sia-sia, Gauren bukan berhenti melainkan malah berpindah menempelkan besi panas itu kewajah sebelah kiri Jeden.


Suara tawanya menggema bersamaan dengan suara jeritan kesakitan Jeden yang semakin menjadi-jadi. "Kau lemah tak berguna, kenapa aku harus biarkanmu hidup!"


"Ampuni aku ampun... ini panas, aku akan menuruti apapun perintahmu tapi hentikan penyiksaan ini kumohon...!" Jeden memohon sambil merintih.


Seketika Gauren pun melepaskan besi itu dari kulit Jeden yang sudah melepuh dan rusak.


"Kau yakin mau bekerja untukku selamanya?"


"Ya Tuan, kumohon ampuni aku..."


"Baik, kalau begitu aku mau kau jadi pionku!"


Setelah penyiksaan itu, Jeden mendapatkan perawatan dan beberapa hari kemudian Gauren memutuskan untuk Jeden melakukan operasi plastik di seluruh wajahnya yang rusak. Hingga empat bulan kemudian, perban diwajah Jeden pun akhirnya bisa dibuka sepenuhnya. Pria itu melihat ke sebuah cermin, disana ia melihat wajah pria yang ia tidak kenal sama sekali.


"Bagaimana? Kau masih tampan meski berbeda wajah baru, dan itu justru bagus untukmu," tandas Gauren yang datang menghampiri Jeden.


"Tuan Gauren akuโ€” "


"Jeden Lee mulai hari ini kau bukan lagi Jeden Lee, mulai hari ini kau adalah Reki Helian, anak buahku yang harus mengabdikan seluruh hidupmu untukku." Gauren memberika semua dokumen identitas baru Jeden, mulai dari paspor, ID card sampai latar belakang pekerjaan Gauren sudah memikirkannya sejauh itu.


"Jadi aku sekarang Reki bukanJeden?"


"Benar, dan kau harus membantuku menghabisi Vander!"


Mendengar nama itu telinga Jeden panas dan ingin memaki.


"Kau paham tugasmu kan, Reki Helian?"


Ya, mulai detik ini aku adalah Reki bukan Jeden. "Iya tuan Gauren aku akan menuruti semua perintah anda."


"Bagus!"


Dan sejak hari itu Jeden Lee sudah mati untuk selamanya.


Flashback off.


"Tuan Reki kau dengar aku?"


"Iya tuan Gauren, kau tenang saja. Akan aku dapatkan Eiji Hartman untukmu."


Dan aku juga akan dapatkan wanitaku lagi...


Mungkin Jeden Lee sudah mati secara bentuk, tapi sayangnya perasaan Jeden untuk Lara tidak pernah mati. Justru sebaliknya, pria itu jadi semakin terobsesi padanya.

__ADS_1


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS ๐Ÿ™


__ADS_2