Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Membuatku Gila


__ADS_3

"Ah akhirnya selesai juga," pungkas Lara sambil mengulet melemaskan otot-ototnya yang tegang.


Kebetulan baru saja selesai membuat bahan untuk meeting yang akan dibawan Vander besok. Karena data itu barus ia selesaikan hari ini juga, tepaksa Lara pulang kantornya jadi lebih malam dari biasanya. Wanita itu lalu melihat jam di ponselnya yang ternyata sudah menunjukan pukul sebelas malam. Tak mau buang waktu Lara pun langsung bergegas membereskan barang-barang dimejanya dan bersiap pulang.


Setelah semuanya beres, Lara segera menenteng tasnya dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Karena Vander sudah duluan pergi, terpaksa Lara yang harus mengunci pintu ruangan itu. Sayangnya ia sendiri baru ingat kalau pintu ruangan itu ternyata pakai kunci digital, jadinya Lara bingung bagaiamana cara menguncinya sebab dirinya tidak tahu password untuk menguncinya.


Terpaksa Lara jadi harus telepon bosnya dulu agar bisa tahu nomor pin kuncinya.


Saat tengah mencoba menghubungi Vander, Lara tak sengaja malah melihat ke arah sekeliling ruangan kantor yang sudah sangat sepi, bahkan di lantai ini sepertinya hanya tinggal dirinya. Lara yang sejak dulu memang takut akan tempat sepi dan senyap pun langsung pura-pura bersenandung agar tidak terlalu senyap rasanya.


"Ayolah Vander angkat cepat!" Gerutu Lara karena panggilannya tidak kunjunga dijawab.


"Eh kenapa malah mati?" Saat melihat layar ponselnya, Lara baru sadar ternyata ponselnya sudah mati kehabisan batre, alhasil dirinya pun jadi panik dan tidak tahu harus apa.


Dan yiba-tiba saja Lara malah mendengar suara aneh, sontak ia pun jadi bergidik ngeri ketakutan dibuatnya. Bagi Lara gedung semodern atau semewah apapun kalau sudah larut malam dan sepi tetap saja terasa menakutkan untuknya. Ia pun memutuskan berjalan menuju lift untuk turun kebawah.


Saat Lara berjalan tiba-tiba saja ia seperti merasa ada yang mengikutinya dibelakang, membuat Lara jadi berpikir aneh-aneh dibuatnya.


Ya Tuhan, ada siapa dibelakangku? Kalau dia manusia kenapa tidak terdengar suara langkah kaki? Apa mungkin dia arwah penunggu gedung ini?


Lara tidak berani menoleh dan terus berjalan dengan langkah cepat. Namun tiba-tiba saja ada yang memegang pundaknya, alhasil Lara pun langsung berteriak ketakutan.


"Jangan berteriak!" Ujar suara dari balik punggung Lara.


Eh suara ini kan? Lara yang mengenal suara tersebut pun langsung menoleh kebelakang dan melihat sosok pemilik suara berat itu yang tidak lain adalah bosnya sendiri.


Lara langsung menghela nafas lega, "Syukurlah kukira hantu."


"Hantu?"


"Makanya tuan kalau jalan itu bersuara jangan seperti hantu, buat orang jadi takut saja!" Omel Lara kesal pada bosnya.


Melihat sekretarisnya marah-marah, Vander malah tertawa geli dibuatnya.


"Kenapa malah tertawa?!"


"Tidak apa-apa, hanya saja kau lucu kalau sedang sewot."


Lucu dia bilang? Dasar bos tidak waras! Gumam Lara dalam hati. "Oh iya ruangan tuan belum dikunci, soalnya aku tidak tahu nomor PIN-nya."


Vander pun mengunci ruangannya, tak lupa ia juga memberitahu Lara nomor PIN-nya, agar sewaktu-waktu dirinya tidak ada Lara bisa buka atau tutup ruangannya.


"Baiklah, ayo pergi," ajak Vander.


Saat menuju lift, Lara terlihat berjalan agak dibelakang Vander sambil menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian seraya waspada karena dirinya takut hantu. Sementara Vander yang ada di depannya malah tiba-tiba berhenti berjalan, hingga membuat wajah Lara yang tidak melihat kedepan jadi menabrak punggung pria itu.


"Duh kenapa berhenti tiba-tiba sih?"


"Kalau takut, jalannya jangan dibelakang," ucap Vander menoleh kebelakang menatap Lara.


"Akuβ€”"


"Jalannya didekatku, kalau mau peluk lenganku juga boleh," ucap pria itu dengan santainya.


Akhirnya karena takut Lara pun melakukan itu, ia memeluk lengan Vander yang kokoh dan berjalan beriringan ke lift menuju bawah.


...🍁🍁🍁...


Setibanya di luar gedung, Robert yang sudah menunggu di luar terlihat membukakan pintu untuk tuannya.


"Um- kalau begitu Tuan, aku mau cari taksi dulu."


"Cepat masuk!" Seru Vander menyuruh Lara masuk ke dalam mobil.


"Apa?"


"Aku bilang cepat kau masuk ke dalam mobil!"


"Eh tapiβ€”"


Vander menatap Lara dengan tatapan mengintimidasi. "Masuk sendiri atau mau aku menggendongmu masuk?"


"I- iya aku masuk!" Lara akhirnya masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan, Lara yang duduk bersebelahan dengan Vander di kursi belakang tampak tak bicara. Entah kenapa tiba-tiba Lara jadi agak canggung rasanya. Padahal suami sendiri tapi canggung begini? Huft...!


"Lain kali, kalau lembur sampai larut malam segera telepon aku," ucap Vander tiba-tiba. "Dan soal aku yang sempat menakutimu, aku minta maaf."


Apa? Tuan minta maaf? Apa aku tidak salah dengar? Robert yang sedang menyentir, sampai tak percaya mendengarnya, saking dirinya sama sekali tidak pernah mendengar tuannya itu minta maaf.


"Itu bukan salahmu, akunya saja memang yang penakut kalau di tempat sepi malam-malam."


"Kalau begitu mulai besok jangan lembur lagi."


"Tapikanβ€”"


"Tidak ada penolakan ini perintah atasanmu."


"Baik,"

__ADS_1


Saat sudah dekat dengan apartemenya Lara pun meminta Robert menghentikan mobilnya. "Tuan Robert berhenti disini saja, kebetulan tempat tinggalku tidak jauh dari sini kok!"


"Kenapa disini?" Tanya Vander.


"Kebetulan aku memang mau beli sesuatu dulu di minimarket dekat sini, jadi sampai sini saja."


Lara pun keluar dari mobil dan berterima kasih kepada Vander dan Robert, karena sudah mengantarnya pulang. "Tuan hati-hati dijalan," ucap Lara kemudian menutup pintu.


Diperjalanan pulang setelah ke minimarket untuk membeli pembalut, tidak sengaja Lara malah berpapasan dengan Andy yang juga sepertinya baru habis pulang membeli sesuatu. Mereka pun langsung bertegur sapa dan bertanya satu sama lainnya.


"Kau sendiri, habis kemana Andy?"


"Aku habis membeli tinta printer."


"Oh yasudah kalau begitu kita pulang bersama saja."


Sementara itu dari kejauhan, ternyata mombil Vander masih belum beranjak pergi. Ia sengaja tidak langsung pergi karena mau mengawasi Lara, memastikan kalau sekretarisnya itu aman keluar dari minimarket. Namun saat ia tahu kalau Lara malah berjalan dengan seorang pria setelah habis dari minimarket, Vander pun langsung menutup kaca jendela dan menyuruh Robert menjalankan mobilnya.


Di jalan, Vander masih kepikiran dengan pria yang berjalan dengan Lara sehabis dari minimarket tadi. Entah kenapa ia merasa marah dan tidak senang melihat Lara berjalan berduaan dengan pria lain.


Siapa pria yang tadi bersamanya? Apa dia yang namanya Rey itu? Kelihatannya dia pria biasa saja, kalau dibanding aku sudah pasti tidak ada apa-apanya.


Dari kursi kemudi Robert pun memperhatikan tuannya yang tampak melamun itu lalu bertanya, "Tuan Vander, kalau aku boleh tahu kenapa anda peduli sekali dengan Nona Lara? Anda bahkan sampai rela menunggu disana hanya demi memastikannya aman."


Vander setengah tertawa. "Entahlah Robert, jujur aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku begitu ingin melakukannya tadi."


"Tuan apakah anda tertarik dengan Nona Lara?"


"Nona Lara sangat cantik. Jadi apa alasan pria normal untuk tidak tertarik dengannya?"


"Tapi selama ini anda tidak pernah tertarik dengan wanita pekerja kantor, lalu kenapa sekarangβ€”"


"Entah, aku hanya merasa ada hal yang menarikku di dalam dirinya, tapi aku tidak tahu apa."


Sepertinya ketertarikan Tuan kali ini dengan Nona Lara, agak berbeda dengan ketertarikannya dengan wanita-wanita lain yang sekedar ia anggap menarik saja.


...🍁🍁🍁...


Di perjalanan pulang, Lara terlihat mengobrol dengan Andy, keduanya sesekali tampak bercanda dan tertawa.


"Oh iya Andy, apa kau sudah dapat pekerjaan?"


"Belum, tapi aku sepertinya berniat untuk berbisnis saja."


"Ide bagus."


"Um- Nona Lara," ucap Andy tiba-tiba berhenti dijalan.


Pria itu tiba-tiba saja memegang kedua tangan Lara dan berkata, "Nona Lara aku menyukaimu."


"Apa?" Lara langsung tersentak kaget mendengar Andy yang tiba-tiba menyatakan perasaan padanya.


"Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu."


Lara menarik tangannya dari genggaman tangan Andy. "Andy maaf, tapi kau kan tahu aku punya anak."


"Aku tidak masalah, lambat laun aku pasti akan menerima Rey sebagai anakku juga."


Lara tersenyum hampir. "Kau tahu selain aku punya anak,, alasan lainnya adalah Rey, anak itu tidak mau punya ayah baru."


Andy tersenyum kecewa, dirinya tahu sebenarnya alasan utama Lara menolaknya bukan karena Rey, melaikan dirinya yang masih mencintai pria di masa lalunya.


"Andy, sekali lagi aku minta maaf karena aku tidak bisa menerima parasaanmu."


Andy menghela nafas. "Ya aku paham, tapi kita masih bisa berteman kan?"


"Tentu saja, lagupula kau masih muda aku yakin banyak gadis muda yang belum punya anak tertarik padamu," ucap Lara sambil menepuk pundak Andy.


"Ayolah jangan menghiburku."


Lara tertawa.


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya, saat Lara sedang sarapan bersama putranya dan Emika, tiba-tiba saja Rey bertanya kepada sang mama soal pekerjaannya.


"Tumben sekali kau tanya soal pekerjaanku?" Balas Lara.


"Soalnya kemarin saat makan eskrim, aku dan Rey baru tahu bagaimana sosok Bos Laizen grup itu," sambar Emika.


"Oh ya, darimana kalian tau?"


"Kemarin lewat videotron. Oh my god kak, Tuan Vander benar-benar tampan. Aku menyesal karena selama ini hanya dengar namanya saja, tidak tahu wujudnya. Dan kini setelah aku sudah tau dirinya dan mecaritahu segala tentangnya, aku memutuskan jadi fans tuan Vander juga dikomunitas pecinta CEO muda yang hot itu."


"Astaga..." Tambah lagi fans garis kerasnya Vander! Melihat Emika Lara hanya bisa menghela nafas heran.


"Mama, bos mama yang namanya paman Vander itu, apa- apa dia sudah punya pacar?"


"Huh?"

__ADS_1


Lara lansung syok, dan bingung mau menjawab pertanyaan anaknya tersebut. Pasalnya orang yang disebut paman oleh Rey barusan sebenarnya adalah suaminya, sekaligus papa kandung anaknya sendiri.


"Kalau soal itu mama tidak tahu, mama kan bekerja bukan untuk mengurusi hal semacam itu."


"Tapi apa salahnya mencari tahu kak, barangkali saja kakak bisa ambil hati tuan Vander dan minimal jadi kekasihnya."


"Emika jaga bicaramu didepan anakku!"


"Ehβ€” maaf!"


"Tapi bibi Emika benar, selain papaku yang sungguhan, aku rasa yang juga cocok jadi papaku cuma paman Vander deh!"


"Uhuk!" Lara sampai dibuat tersedak mendengar ucapan putranya barusan.


"Rey apa kauβ€”?"


"Papaku kan tidak kunjung pulang, aku rasa tidak apa-apa kalau mama punya pengganti papa. Dan aku yakin kalau mama dengan paman Vander, mama jadi tidak perlu kerja terlalu keras lagi," ungkap Rey terdengar sedih dan berharap.


Di situasi begini, yang bisa Lara lakukan hanya tersenyum menahan pedih sambil mengusap kelapa putranya dan berkata, "Sabar ya sayang..." Mama janji kau pasti akan segera bertemu papamu.


...🍁🍁🍁...


Di meja kerjanya Lara telihat tengah melamun memikirkan ucapan putranya tadi. Lara merasa sepertinya Rey benar-benar ingin sosok seorang ayah di hidupnya. Tentu saja hal itu wajar sekali terjadi, mengingat putranya semakin tumbuh besar dan butuh sosok pria dihidupnya, untuk mengajari hal yang dirinya tidak bisa ajarkan sebagai seorang ibu.


Ah aku harus apa sekarang? Kalau aku tiba-tiba mempertemukan Vander dengan Rey apa tidak membuat keduanya syok? Terutama Van, dia yang hilang ingatan tentangku bagaimana bisa tiba-tiba diberitahu kalau dia punya anak denganku.


"Astaga, ini semua membuatku pusing!" Keluh Lara sambil menunduk memegangagi kepalanya.


"Pusing kenapa?"


Lara langsung mendongakan kepalanya dan melihat ada Vander yang entah sejak kapan berdiri di depan meja kerjanya.


"Tu- tuan kapan anda datang?"


"Barusan."


"Eh aku kok tidak dengar ya? Oh iya lupa, tuan kan kalau jalan seperti hantu ya mana terdengar langkahnya," kelakar Lara.


Sayangnya bagi Vander gurauan itu tidak lucu sama sekali, pria itu malah tampak serius menatap Lara dengan matanya yang tajam.


"Eh ma- maaf, tidak lucu ya tuan?" Lara seketika takut pada bosnya saat ini. Dirinya pun sampai tidak berani menatap mata Vander dan malah berpura-pura sibuk melihat kearah lain. Hingga akhirnya Lara menyadari penampilan bosnya kini agak berbeda, dimana kancing kerah kemeja Vander nampak terbuka sampai dada dan juga tidak memakai dasi.


"Eh Tuan dasi anda?"


"Aku lupa pakai," ucap Vander.


"Ta- tapi bukankah hari ini Tuan ada pertemuan bisnis dengan tuan Fransis dari paris, setauku pertemuan itu formal dan..."


"Aku sudah minta Robert bawakan dasi."


Bicara soal dasi, Lara baru ingat kalau kebetulan dirinya membawa dasi yang dulu pernah ia belikan untuk Van, tapi belum sempat dipakai sama sekali. Ia pun menawari Van dasi tersebut untuk dipakainya ke acara pertemuan.


"Kau bawa dasi?" Vander sampai heran melihat Lara membawa aksesoris pria seperti itu ke kantor.


"Ini dasinya Tuan," Lara memperlihatkan dasi berwarna navy bergaris putih yang masih tampak baru dan rapi itu kepada bosnya.


"Dasi yang bagus," puji Vander. "Tapi aku tidak mau memakai benda bekas pria lain."


"Dasi ini belum sekalipun dipakai tuan, jadi kaulah orang pertama yang pakai."


Meski awalnya ragu Van akhirnya percaya ucapan sekretarisnya, dan mau memakainya.


Dan tanpa berpikir, Lara pun langsung berinisiatif membantu memasangkan dasi itu ke kerah kemeja bosnya. Sementara Vander sendiri tampak senang dengan situasi saat ini. Melihat Lara yang menunduk memakaikannya dasi, hal itu membuat Vander seolah seorang suami yang sedang dipakaikan dasi oleh istrinya.


"Nah sudah selesai," ucap Lara merasa puas melihat hasil ikatan dasinya yang rapi dan sangat pas, dipadukan kemeja Vander yang berwarna putih gading dan jas hitam. Lara merasa bahagia sekali, melihat akhirnya dasi pemberiannya dipakai langsung oleh pemiliknya, ditambah Lara juga jadi merasa Vander hari ini lebih tampan dari biasanya.


"Apa aku setampan itu sampai Nona Lara melihatiku sampai begitu?"


"Iya tampan sekali," jawab Lara secara spontan. "Eh i- itu- ma- maksudku..."


Merasa senang mendengar jawabannya yang jujur dan spontan dari Lara, Vander pun langsung meraih pinggang sekretarisnya dan manariknya merapat ke dekapannya. Wajah Lara pun kini menempel di dada bidang Vander yang kokoh.


Dekapan senyaman dan seaman ini sudah lama tidak aku rasakan, dan sekarang akhirnya aku bisa merasakannya lagi.


Vander tiba-tiba mendongakan wajah Lara,


Vander bisa melihat jelas raut wajah wanita itu tampak pasrah, bibirnya yang merah merekah, pupil matanya yang gelap, pipinya yang merona membuat wajah cantiknya jadi semakin menawan.


"Kau berhasil membuatku gila Nona Hazel!"


Seketika Vander langsung mengecup bibir Lara, dan kali ini Lara seolah tidak memberi perlawanan sama sekali. Dirinya justru seolah langsung menerima kecupan itu dengan cara melingkarkan tanganya ke leher pria itu. Mereka pun terlihag menikmati ciumannya selama beberapa saat. Sampai akhirnya Vanderlah yang lebih dulu melepaskan ciumannya. Ia lalu menatap Lara yang masih terengah-engah dan membelai kedua pipinya lalu berkata, "Aku pergi dulu."


Lara yang masih agak syok pun hanya bisa mengangguk dan menjawab singkat. "Ya tuan."


...🍁🍁🍁...


Di mobil Vander tampak menjilat bibirnya yang masih jelas terasa aroma lipstik Lara yang manis. Ia juga masih bisa merasakan lidahnya yang lembut saat kedua lidah mereka saling bertaut. Oh sial, kenapa semakin ingat wajahnya semakin aku menginginkannya.


...🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2