
Sore harinya, Lara yang di temani oleh suami dan putranya, terlihat berada di ruang praktek dokter Foden untuk periksa kandungan. Di atas tempat tidur, kandungan Lara yang sudah berusia enam bulan itu dicek secara lewat monitor USG 3 dimensi. Disana dokter pun menjelaskan secara detail kepada Lara beserta suami dan putranya, tentang kondisi bayinya saat ini. Dokter mengatakan kalau bayi diperut Lara dalam keadaan sangat baik sekali perkembangannya.
Mendengetahui hal itu, Vander beserta Rey pun tampak senang sekali dibuatnya. Terutama Rey, dirinya seolah sudah tidak sabar lagi menyambut kelahiran adiknya dan menjadi kakak.
"Oh iya kakek dokter, adikku nanti laki-laki atau perempuan?" Tanya Rey
"Dari bentuknya di monitor USG kau bisa lihat, kemungkinan besar adikmu laki-laki," jawab dokter.
"Wah asyik! Bisa main tembak-tembakan bersamaku!" Rey tampak girang sekali mengetahui kalau calon adiknya adalah laki-laki. Mengingat Rey yang memang pernah berharap kalau adiknya nanti adalah laki-laki.
"Nyonya Lara sepertinya jagoanmu akan tambah seorang lagi ya," gurau dokter.
"Ya begitulah, tadinya aku pikir akan dapat anak perempuan supaya aku bisa punya sepasang dan ada temannya. Ternyata doa Rey yang lebih terkabul anakku laki-laki lagi."
"Kau tidak senang ya anak kedua kita laki-laki?" Tanya Vander khawatir.
"Oh tentu saja tidak, apapun jenis kelaminnya dia tetap anak yang aku nantikan kelahirannya."
"Lagipula nyona Lara, kau masih muda masih sangat bisa punya anak lagi, reproduksimu masih sangat bagus sampai lima tahun kedepan," jelas dokter Foden pada Lara.
"Kau dengar sayang, kita bisa punya anak lagi nanti. Jadi tenang saja."
"Tentu saja." Lara mengusap perut buncitnya sambil memandangi monitor dan tersenyum. Kau tenang saja, Mama akan menatikan kelahiranmu sayang, sehat-sehat di dalam perut ya....
...πππ...
Di kedai Miracle, saat sedang bersantai berdua. Mira dan Gavin tampak ngobol santai sambil menikmati kopi. Ditengah obrolan, tiba-tiba saja Gavin mendapati telepon dari Vander.
"Iya kak ada apa?"
....
"Malam ini? Kenapa tidak sekarang?"
....
"Oh begitu, yasudah kalau begitu aku akan menemuimu nanti."
....
"Okey..."
"Dari Vander?" Tanya Mira setelah suaminya selesai menjawab telepon.
"Iya."
"Ada apa katanya?"
Gavin lalu menjelaskan kepada Mira, kalau hari ini dirinya diminta Vander untuk menemuinya malam ini di kantornya.
"Kenapa tidak sekarang saja?" Tandas Miranda.
"Tidak bisa, karena kak Vander sekarang sedang menemani kak Lara cek kandungan."
"Wah, dia benar-benar jadi suami siaga ya sekarang," ujar Mira.
"Melihat kak Vander jadi suami siaga aku jadi kepikiran, bisa tidak ya nanti aku jadi suami siaga juga?" Gavin tampak membayangkan.
"Menurutmu Mira, aku bisa siaga tidak saat kau hamil nanti?" Pria itu menoleh ke arah sang istri. Namun yang ia melihat istrinya, bukannya menanggapi pertanyaanya, Mira malah tampak tertunduk sedih dan tiba-tiba minta maaf.
"Mi- Mira kenapa kau tiba-tiba minta maaf?"
"Aku minta maaf padamu karenaβ karena sudah hampir setahun pernikahan kita, aku belum juga hamil dan memberikanmu anak."
Gavin terkaget, ia tidak menyangka ternyata Miranda yang selama ini ia tahu sebagai pribadi yang galak, dan tak mau repot memikirkan sesuatu secara berlebihan bisa dibuat risau dan sedih karena hal seperti ini. Sebetulnya hal itu wajar sekali mengingat bagaimanapun Miranda adalah istri yang ingin membuat suaminya bahagia.
Gavin lalu tersenyum dan mengusap pundak sang istri seraya menanangkanya dengan berkata. "Kau tidak perlu minta maaf istriku. Lagipula tujuanku menikah denganmu kan karena memang aku mencintaimu bukan berharap agar kau segera punya anak. Lagipula kita belum ada setahun menikah, diluar sana malah banyak pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum juga dikaruniai anak. Jadi kau tidak usah berkecil hati."
Miranda menatap Gavin dengan tatapan lembut. Hari ini ia benar-benar melihat Gavin sebagai sosok suami yang pengertian dan sabar dengannya, hal itu tak kuasa membuatanya menitikan air mata.
"Eh Mira kau kenapa malah menangis sih?" Gavin jadi bingung.
"Akuβ aku senang sekali bisa jadi istrimu. Kau sangat pengertian Gavin huhu... Sekali lagi maaf belum bisa membahagiakanmu."
Pria itu lalu memeluk istrinya dan menengakannya. "Sudah jangan menangis, masa Miranda yang terkenal galak menangis begini? Sudah ya sayang, kita usaha terus saja. Aku yakin kita pasti akan segera punya anak, dan aku akan sabar menunggu sampai tiba waktunya kau hamil anak kita."
"Terima kasih Gavin."
__ADS_1
...πππ...
Setibanya di depan apartemen, Vander yang masih didalam mobil mengatakan pada istrinya kalau ia masih harus kembali ke kantor lagi. Tadinya ia mau mengantar Lara dulu sampai dikediaman mereka baru kembali ke kantor. Namun sayangnya Lara malah meminta agar Vander tidak perlu mengantarnya sampai ke atas.
"Kau yakin? Aku tidak mau kau kelelahan. Atau aku akan suruh Frida bawakan kursi roda untukmu naik keatas?" Vander tidak ingin istrinya kelelahan apalagi susah.
"Oh sayangku, kau tenang saja aku ini wanita kuat. Lagipula naik lift kan tidak capek," ucap Lara tidak mau terlalu dimanja. Tentu saja bukan dirinya tidak senang sang suami memanjakannya, namun menurut Lara yang sudah pernah hamil dan tidak suka terlalu banyak diam, terlalu dimanja juga tidak bagus baginya.
"Papa tenang saja, aku akan jaga mama sampai diatas kok!" Sahut Rey yang duduk diantara Lara dan suaminya.
"Janji kau jaga Lara dan calon adikmu?"
"Siap tuan!" Tegas Rey.
"Nyonya anda lebih baik minta Frida menjemput anda dibawah," saran Robert yang sejak tadi duduk di kursi kemudi mendengarkan.
"Yasudah minta bibi Frida saja kebawah," pungkas Lara tidak ingin membuat suaminya khawatir kalau ia naik tanpa ditemani orang dewasa lain. Dan tak lama kemudian Frida pun akhirnya sampai lobi dasar.
Setelah itu Lara dan Rey pun berpamitan dengan Vander lalu keluar dari mobil.
"Sayang aku pergi dulu, kau jaga diri okey?"
"Iya, sudah ya..."
Vander menahan tangan Lara.
"Eh apa lagi?"
"Ciumnya?" Lara sebenarnya tahu maksud Vander, tapi saat ini ada Rey jadi tidak mungkin Lara mencium Vander seperti biasanya. Alhasil Lara pun hanya mencium kening suaminya dan segera keluar mobil.
"Bye papa!" Seru Rey.
Dari depan lobi utama mereka langsung disambut oleh Frida yang sudha diperintahkan Vander menjaga Lara.
Frida dan Rey berjalan disebelah kanan dan kiri Lara. Sambil menggandeng tangan mamanya Rey seolah protektif menjaga mamanya masuk ke dalam lift. Saat menuju ke atas, ketiga orang itu satu lift dengan seorang yang sepertinya petugas pengangkut barang. Hal itu terlihat dari seragam dan barang bawaannya yang masih terbungkus oleh kardus. Sepertinya akan ada penghuni baru di apartemen ini.
Dan setelah beberapa lantai petungas pengangkut barang itu akhirnya keluar juga dari lift. Petugas itu berhenti dan keluar di dua lantai sebelum lantai teratas dimana apartemen tempat tinggal Lara berada.
"Mama, paman tadi sepertinya tukang angkut barang. Apa akan ada penghuni baru disini?" Tanya Rey.
"Yang aku dengar, memang ada seorang yang baru datang dari luar negeri dan akan menempati salah satu unit dibawah."
"Oh orang luar...?"
"Dia orang asli negara ini, tapi lama tinggal di Korea."
"Oh begitu, tapi Caelestis Garden ini memang terlalu mewah, saking mewahnya yang tinggal disini hanyalah para konglomerat ataupun sultan-sultan pendatang. Bahkan selebritis pun jarang sekali mampu tinggal di apartemen ini," tandas Lara.
...πππ...
Dikantornya Vander bersama Robert, Dominic dan Gavin tampak melakukan pembicaraan penting di ruang kedap suara yang dibuat Vander khusus untuknya berdiskusi penting. Disana keempat pria itu membicarakan tentang Gauren yang mana diam-diam sudah berhasil menyelundupkan serum terlarang buatannya masuk ke negara ini.
"Ini tidak bisa lama-lama dibiarkan, sebab serum buatan Gauren sangat berbahaya. Dan juga banyak orang di negara ini belum tahu," jelas Dominic.
"Dokter Dominic benar, lalu tuan Vander apa yang akan kita lakukan?" Tanya Robert.
Vander sejak tadi hanya duduk diam, dia tampaknya sedang berpikir sesuatu.
"Tapi bagaimana bisa Gauren menyelundupkannya semudah itu? Bukankah dia sudah diblacklist dan dijadikan buronan tingkat teratas di negara ini?" Gavin sampai dibuat terheran-heran.
"Tidak perlu heran, bagaimanapun pria itu kecerdasan dqn kelicikannya diatas rata-rata. Dia juga sangat ambisius jadi bukan hal terlalu sulit baginya menembus pertahan negara, apalagi dirinya punya uang, sudah pasti dia bisa dengn mudah menyuap orang pemerintahan yang gila uang," terang Vander.
"Sial! Aku tak berpikiran sejauh itu!" Ujar Gavin kesal. "Lalu kita harus apa kak?"
"Menghadapi Gauren kita harus juga bisa bermain tricky dan licik. Ditambah dalam dunia bisnis gelap, tidak ada aturan yang jelas tertulis. Yang ada hanya siapa yang menguntungkan maka dia akan jadi kawan. Dan itu yang masih dilakukan serikat kerja di Crux. Penyelundupan senjata api ilegal di pulau Crux masih berjalan lancar sampai sekarang, dan aku tidak menyalahkan hal itu. Aku tidak bisa menyerang bisnis gelap, karena di semua belahan dunia hirarki bisnis ilegal akan sama, tidak ada aturan yang jelas secara tertulis."
"Lalu itu artinya?"
"Mau tidak mau, aku sendiri yang harus turun tangan untuk ini."
"Kak, tapi kau itu pembisnis dunia bisnis mancanegara, tapi disisi lain kau juga pimpinan serikat dagang Crux yang mana itu ilegal. Itu artinya..."
"Ya memang. Sepertinya harus kembali menjadi agent hitam untuk mencari informasi tentang Gauren dan pergerakannya. Dan untuk semua anggota Crux kita akan dapat bantuan dari militer rahasia negara untuk menyortir lebih ketat lagi barang-barang impor yang masuk dari amerika selatan tempat Gauren berada saat ini."
Aku tidak akan biarkan kejahatan pria itu semakin menjamur, tidak untuk kesekian kalinya...
...πππ...
__ADS_1
Hari itu, Lara terlihat duduk di depan meja bar kedai kopinya Miranda.
Seperti biasa ia datang kesana hanya untuk sekedar mengobrol dengan manajernya yakni Mira. Karena sejak cuti kerja Lara benar-benar merasa bosan hanya di rumah saja, terutama saat Vander kerja dan Rey sekolah, dirinya benar-benar kesepian dan tidak ada teman ngobrol.
"Bukankah di apartemen ada bibi Frida?" Tandas Mira sambil mengecek buku catatannya.
"Iya, tapi bibi Frida kan bekerja kalo di apartemen. Mau buat masakan juga bingung untuk dimakan siapa, belum lagi Vander melarangku ke dapur akhir-akhir ini," keluh Lara sambil bertopang dagu.
"Kau bisa melukis, kau dulu suka melukis kenapa tidak melukis saja?"
"Iya memang, tapi entah kenapa hamil kali ini aku maunya pergi-pergi terus, dan tidak suka suasana sepi, agak berbeda dengan saat hamil Rey dulu. Waktu hamil Rey aku justru suka sekali berdiam dirumah seharian sambil merajut atau sekedar menggambar."
"Hem, sepertinya anak keduamu ini mirip papanya suka kemana-mana," gurau Mira.
"Ah kau ini Miranda."
Saat tengah mengobrol tak sengaja Lara dan Mira mendengar sedikit masalah di kasir pembayaran. Disana tampak seorang pria muda berpakaian semi formal mengalami masalah saat mau membayar kopi yang dibelinya. Alhasil Miranda selaku manajer kedai pun menghampirinya dan menanyakan ada masalah apa?
"Kak Mira, tuan ini mau membayar tapi sayangnya dia lupa bawa kartu dan uang cashnya kurang," ucap pegawai kasir di kedai Mira.
"Nona anda pemilik kedai ini?" Tanya pria itu.
"Iya aku pemilik sekaligus manajernya, tuan untuk ini sebaiknya bagaimana ya? Soalnya kami tidak menerima pay later."
Pria itu agak bingung mengingat pesanannya sudah jadi tapi ia belum bayar, antrian orang yang mau bayar pun tampak semakin panjang.
"Memang total pembeliannya berapa?" Ujar Lara yang kemudian datang menghampiri.
"Totalnya delapan puluh dollar nona."
Lara tiba-tiba merogoh tasnya dan mengeluarkan uang seratus dollar. "Ini bayar pakai ini saja, kasihan pembeli lainnya antri kalau terlalu lama," ucap Lara.
Pada akhirnya Laralah yang membayar minuman pria itu. Setelah dibayar, pria itu pun mengucapkan terima kasih pada Lara karena sudah mau menolongnya.
"Sama-sama tuan."
Pria itu lalu memperhatikan Lara dari atas sampai bawah terutama bagian perutnya yang buncit. "Oh iya nona, kalau tidak salah kau wanita yang hampir kejatuhan tumpukan tisu di pusat perbelanjaan tempo hari itu kan?"
Lara terkesiap. "Eh bagaimana kau tahu?"
"Iyaβitu karena aku yang menolongmu waktu itu."
Mata Lara melebar ia tidak menyangka akhirnya ia bertemu lagi dengan pria yang menolongnya waktu itu. "Tuan akhirnya kita bertemu lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih. Kalau tidak ada kau pasti aku akan celaka waktu itu, sekali lagi terima kasih banyak."
"Sama-sama, kalau begitu kita impas. Kau tadi juga kan sudah menolongku bayar kopi ini. Oh iya namaku Reki Helian, namamu siapa?"
"Aku, Lara Hazel. Panggil Lara saja.."
"Nama yang cantik seperti orangnya,"
"Eh kau bilang apa?"
"Umβ bukan apa-apa kok, yasudah kalau begitu aku pergi dulu karena masih ada pekerjaan."
"Iya silakan."
"Aku harap kita bisa ketemu lagi kapan-kapan Nona Lara, sampai jumpa!" Tandas pria itu lalu pergi.
Setelah pria itu keluar kedai, Mira menghampiri Lara dan bertanya tadi bicara apa saja dengan pria itu. Lara pun menceritakan pada Mira kalau ternyata pria itu yang menolongnya dari kejatuhan tumpukan tisu waktu itu.
"Woah, dunia ini memang sesempit itu ya...?"
"Iya."
"Eh tapi aku lihat pria tadi sepertinya tertarik padamu tuh," goda Miranda.
"Mira jangan bercanda, aku sedang hamil besar dan anakku sudah mau dua loh, mana mungkin pria itu tertarik sama wanita hamil."
"Siapa tahu, lagipula kau cantik dan masih muda juga kan... dia juga tampan, dan kayaknya lebih muda dari Vander."
"Mira cukup! Aku tidak peduli mau lebih muda atau lebih tua, aku cuma cinta sama suamiku. Lagipula Vander lebih hot!" Tegas Lara
"Iya iya, dasar bucin suami akut," ledek Miranda.
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π
__ADS_1