Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Tanggung Jawab


__ADS_3

Hanya dengan melihat ekspresi Rey saja sudah bisa tertebak kalau pria kecil itu tidak senang melihat kedatangan Emily saat ini ke apartemennya.


"Maaf nona Emily, anda ngin mencari siapa?" Tanya Tori yang juga tidak menyukai wanita dihadapannya itu.


"Aku mencari Lara, dia ada kan?"


"Mama sedang tidak ada dirumah, dia pergi sama papaku berdua," ujar Reynder sengaja supaya Emily kepanasan.


Sialan! Anaknya si Lara ini lama-lama tidak jauh beda degan ibunya yang menyebalkan itu!


"Lebih baik bibi pulang saja!" Ujar Rey kembali seolah mengusirnya. Namun bukan Emily namanya kalau tidak memaksa, wanita itu terus saja bersikukuh agar bisa masuk ke dalam.


"Kumohon, izinkan aku menunggu di dalam. Lagipula kita ini kan tetangga, sesama tetangga yang baik harusnya bisa saling akrab bukan?"


Mana ada tetangga baik yang hobinya memaksa dan cari masalah?


"Maaf nona tapi aku tidak bisa mengizinkan anda masuk, itu perintah dari nyonya."


Huh! Bagaimana ini? Kalau aku tidak masuk, rencanaku tidak akan berhasil.


Karena sudah kepalang buntu, akhirnya Emily pun menyerah. "Yasudah kalau begitu aku pergi, permisi... Ughh!" Emily tiba-tiba terjatuh sambil kesakitan memegangi perutnya.


"Nona, anda kenapa?" Tanya Tori yang agak khawatir.


"Sakit sekali... perutku sakit sekali, ugghh sakit!"


"Ah paling cuma pura-pura," ucap Rey,


"Egh maagku sepertinya kambuh, sakit sekali...!" Rintih Emily hingga membuat Rey yang awalnya tidak peduli pun jadi agak kasihan mendengarnya.


Tori yang melihatnya pun jadi serba salah, ingin membantu tapi disisi lain ia tahu Emily pernah berbuat jahat pada bosnya.


"Paman Tori, bawa saja bibi itu kedalam. Mungkin dia benar-benar sakit!" Seru Rey yang pada akhirnya tidak tega melihat Emily kesakitan. Akhirnya Tori pun memapah wanita itu ke dalam apartemen. Didalam kemudian Emily diberi obat antasida oleh Frida untuk meredakan sakit maagnya.


"Terima kasih ya," ucap Emily.


"Kalau bibi sudah sehat cepatlah pergi sebelum mamaku datang!" Seru Reynder.


"Ah iya Rey, sekali lagi terima kasih ya," ungkap Emily setengah hati. Untung saja aku benar-benar sakit maag dan dia sudah membantuku, kalau tidak ingin sekali aku merobek mulut anak kecil ini!


Dan akhirnya Emily pun pamit dari kediaman Lara, lalu pulang.


...----------------...


Dan sekembalinya dari apartemen Lara, Emily yang kini berada di kamarnya pun langsung tersenyum puas sambil merebahkah tubuhnya ke atas ranjang. "Ah akhirnya..., untung saja maagku muncul disaat yang tepat, jadinya aku bisa masuk ke apartemen Lara. Setelah itu aku tinggal mendengarkan semua percakapan orang-orang disana lewat alat penyadap mini yang sudah ku taruh disana diam-diam saat mereka lengah tadi."


Emily kemudian mengambil ponsel yang sudah terhubung dengan alat penyadapnya. Sejauh ini Emily belum mendengar hal yang penting. Hanya terdengar suara Rey yang mengeluh minta mamanya segera pulang.


"Memangnya si Lara dan Vander kemana sih! Wanita itu pasti sedang mencoba merayu dengan genit supaya pria itu tidak meninggalkannya. Dasar murahan!" Ujar Emily.


...🍁🍁🍁...


Vander dan Lara pun akhirnya tiba di apartemen, disana mereka yang masih pakai kostum seragam SMA pun membuat Rey dan yang lainnya heran.


"Papa dan mama kok pakai seragam? Memang kalian habis sekolah?" Tanya Rey dengan polosnya.


"Iya sayang, kami habis pulang sekolah," celoteh Lara sambil senyum-senyum. Berbeda dengan Lara, Vander justru langsung membalas, "Rey jangan dengarkan dia, sepertinya mamamu ini kebanyakan nonton drama jadi tolong abaikan perkataannya yang aneh!"


"Ya memang sih mama itu kalau sudah nonton drama suka berlebihan," tandas Rey dipihak papanya.


"Ah kalian berdua tidak seru!" Ujar Lara yang bertentangan dengan anak dan suaminya.


Sementara Tori dengan wajah malu-malu memuji Lara sangat manis pakai seragam sekolah itu.


Vander yang tidak senang melihat istrinya ditatap begitu oleh Tori, langsung menatap Tori dengan garang hingga membuat pria itu tertunduk takut.


"Oh iya papa dan mama kapan beri aku adik?" Tanya Rey tiba-tiba sambil menarik celana Vander.


"Huh?"


"Rey, kau ini jangan tiba-tiba tanya begitu!" Tegur sang mama.


"Memang kenapa, kata paman Tori kalau mama dan papa sering berduaan tandanya aku akan segera punya adik."


Lara langsung memicingkan matanya ke arah Tori seraya bertanya hal aneh apa yang sudah dia katakan pada anaknya.


"Eh ti- tidak aku, t- tadi hanya bilang pada tuan kecil kalauβ€”"


"Ya, paman Tori memang benar. Makanya kalau kau ingin segera punya adik jangan ganggu aku dan Lara kalau kami berduaan," ungkap Vander.


"Vander...!"


"Sudalah sayang, Rey kan mau adik sebagai orang tua yang baik kita harus mendengar keinginannya. Jadi Rey, kau mau adik laki-laki atau perempuan?"


"Aku mau dua-duanya!" Seru Reynder.

__ADS_1


"Oke... setuju," sahut sang papa dengan santainya.


Sementara Lara hanya bisa menatap suami dan anaknya dengan tatapan kesal sambil bergumam, "Seenaknya menentukan mereka pikir yang hamil itu siapa?"


"Papa malam ini tinggal disini saja oke!" Ucap Rey


"Oke!" Jawab Vander dengan senang hati.


"Yasudah, kalau begitu kalian berdua tidur sekamar," ucap Lara sambil pergi meninggalkan para lelaki itu.


"Tidak mau!" Seru Vander dan Rey yang sama-sama tidak mau tidur sekamar.


"Lara aku tidak mau tidur dengan anak ini!"


"Mama aku juga tidak suka tidur dengan pria ini!"


Lara yang tidak menanggapi pun langsung masuk kamarnya dan menguncinya dari dalam.


"Tuan kalian berdua lucu," ucap Tori yang menyaksikan drama keluarga ini.


"Diam kau!" Seru Rey dan Vander pada Tori.


"Maafkan aku huhu..."


Sementara itu di kamarnya, Emily yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka lewat alat penyadap tampak marah dan tidak terima, mengetahui kalau Lara dan Vander berencana punya anak lagi. "Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Mereka bahkan belum menikah dan sudah mau punya anak lagi? Lara jal@ng, dia benar-benar menjual dirinya demi punya keturunan dari Vander. Awas kau Lara!"


...🍁🍁🍁...


Pada akhirnya Vander sungguhan tidur dikamar Rey. Namun karena ranjang Rey pada dasarnya ranjang khusus anak-anak, tentu saja tidak bisa menampung Vander yang tingginya saja lebih dari 180 cm itu. Akhirnya pria itu pun tidak tidur dan malah duduk dibawah menemani putranya yang saat ini sudah tertidur pulas. Melihat Rey yang tertidur dengan wajah lugu dan murni, membuat Vander seketika merasa bersalah. Ia lalu membelai kepala Rey perlahan sambil berkata, "Terlalu banyak waktu yang hilang diantara kita, aku bahkan tidak sempat menemani Lara melahirkanmu, sekali lagi maafkan papa Rey... Tapi meski terlambat, aku akan berusaha membuatmu jadi anak paling beruntung di dunia. Aku akan jadi papa terbaik seperti yang kau impikan, aku menyayangimu nak..." Vander mencium kening Rey lalu menyelimutinya, setelah itu ia pergi meninggalkan kamar sang putra.


Sekeluarnya dari kamar Rey, Vander langsung mendengar ada suara dari arah dapur. Segera, ia langsung bergegas menuju ke dapur untuk memastikannya.


Dan ternyata disana ada Lara yang mengenakan gaun tidur warna rosegold tengah mengambil air. Melihat sosok istrinya, Vander pun langsung berjalan tanpa suara dan memeluknya dari belakang sambil berbisik. "Sayang... aku tidak bisa tidur, ranjang Rey terlalu kecil untuk pria besar sepertiku."


Lara kemudian berbalik badan dan menatap balik suaminya. "Kau sudah asal bicara radi dengan Rey, itu hukuman buatmu."


"Maafkan aku Lara. Aku hanya ingin menyenangkan anak kita, lagipula memang kau tidak mau punya anak lagi?"


"Bukan begitu, hanya saja Vander. Jika kita ingin punya anak lagi, mau tidak mau kita harus segera beritahu Rey sebenarnya kalau kau adalah ayah kandungnya dan kita sudah menikah."


Vander terdiam sejenak.


Lara memegang wajah Vander menatapnya dengan iba. "Aku bukan ingin mendesakmu, hanya saja aku wanita, aku juga butuh pengakuan darimu. Jujur aku takut jika aku hamil lagi orang akan berpikir kalau aku wanita murahan yang tiba-tiba saja hamil oleh pria yang tidak jelas hubungannya denganku."


"Aku mengerti, maafkan aku selalu membuatmu sulit selama ini. Soal Rey aku juga sudah memikirkan hal itu, dan aku sudah siap konsekuensinya, karena aku sendiri yang akan katakan pada Rey."


"Apa?" Vander menatap Lara penasaran.


"Vander akuβ€” aku ingin sebuah pemberkatan pernikahan."


"Kau ingin...?"


"Jujur, salah satu impian dalam hidupku adalah ingin memakai gaun pernikahan rancanganku sendiri dan melakukan pemberkatan di sebuah altar disaksikan oleh orang-orang yang aku cintai," ungkap Lara.


Vander tersenyum lalu membelai wajah sang istri dan menempelakan keningnya dikening Lara. "Kau ingin pemberkatan? Ayo kita wujudkan."


"Kau mau?"


"Tentu saja."


Mata Lara berkaca-kaca, ia langsung memeluk Vander dan berterima kasih. "Kau selalu membuatku bahagia dengan cara terbaik. Terima kasih Vander..."


"Sama-sama."


Aku akan lakukan apapun untuk buatmu bahagia Lara, aku janji.


...🍁🍁🍁...


Keesokan paginya setelah selesai sarapan bersama, Rey yang sudah mau berangkat ke sekolah tiba-tiba saja bertanya pada sang papa apakah jadi mengantarnya ke sekolah hari ini?


"Vander kau janji mau mengatar Rey ke sekolah?" Tanya Lara sambil merapikan ikatan dasi suaminya


"Iya, aku mau mengantarnya, kebetulan aku sudah mau berangkat dan Robert sudah menunggu dibawah."


"Sayang sekali, padahal aku ingin ikut mengantar tapi aku masih belum selesai siap-siap," tandas Lara


"Tidak apa lain kali saja."


"Mama tenang saja, besok kan kita mau pergi berkuda sama papa!" Ungkap Rey.


"Oh iya kau benar."


"Mama besok buatkan sandwich tuna favoritku ya..."


"Aku juga ya Lara...."

__ADS_1


"Iya anak-anaku," balas Lara sambil tersenyum bahagia merasakan kehangatan keluarga kecilnya.


...----------------...


Sayangnya ditempat lain ada seseorang yang justru tidak senang sama sekali mendengar Lara dan keluarganya bahagia. Ya, Emily yang kini tengah menyadap percakapan Lara dan keluarganya tampak kesal bukan main mendengar kebagiaan Lara saat ini.


"Benar-benar ingin muntah rasanya aku mendengar mereka sok bahagia begitu. Dasar j@lang murahan! Vander juga, kenapa sih pria itu sampai bisa secinta itu pada wanita norak itu! Padahal kurang apa sih aku dibanding Lara?" Emily mendengus kesal. "Oh iya tadi mereka bilang, besok mau berkuda kan?" Emily seketika menyunggingkan senyum jahatnya. "Seru juga kalau ada kecauan besok!"


...🍁🍁🍁...


Setibanya di sekolah, Vander terlihat ikut Rey keluar dari mobil. Dirinya memang berniat mengantar putranya itu sampai ke depan kelasnya.


"Robert kau tunggu disini dulu, aku ingin mengantar putraku ke kelas."


"Baik tuan, tuan kecil selamat belajar ya..."


"Iya, terima kasih paman Robert. Aku pergi dulu..."


Melihat tuannya seperti saat ini membuat Robert bahagia sekali rasanya. "Akhirnya tuan Vander bisa mengantar anaknya ke sekolah seperti ayah pada umumnya."


Rey yang diantar sang papa menuju kelas tampak berjalan dengan penuh semangat dan rasa bangga. Bagi Reynder, Vander adalah sosok pria paling hebat dimatanya, dan ia ingin seperti dia kalau sudah besar nanti.


Akhirnya sampai di depan kelas Rey, disana Rey pun pamit berpisah dengan papanya.


"Papa, terima kasih sudah mengantarku."


"Sama-sama, belajar yang benar ya jagoan!"


"Oke!"


Melihat Vander mengatar Rey, para ibu wali murid lain pun cukup heboh dibuatnya.


Hei lihat, itu kan CEO Laizen yang terkenal itu? Wah dia mengantar anaknya sendiri ke sekolah keren sekali!


Dia tampan sekali ya, andai suamiku setampan dia, aku rela dirumah terus.


Tapi kasihan hanya sendiri, mana istrinya?


Istrinya kan wanita yang jadi perancang busana Lavioletta di acara fashion waktu itu kan? Kemana dia?


Sibuk mungkin, istrinya kan wanita karir pasti jarang dirumah dan mengurus suami serta anaknya.


Biasanya sih begitu, istrinya juga masih muda kan, pasti masih suka kelayapan diluar rumah.


Kasihan sekali punya suami setampan dan sehot itu malah sukanya diangguri!


"Tapi nyonya-nyonya kalian salah, istriku yang cantik dan masih muda itu sebaliknya sangat telaten mengurusku dan anakku. Dia tidak bisa ikut mengantar karena dia terlalu sibuk mengurus keluarga serta pekerjaannya, jadi tidak ada waktu untuk bergosip seperti kalian," tandas Vander yang tiba-tiba saja muncul menghampiri para ibu penggosip itu.


Ehβ€” tu- tuan kami hanya...


"Sebaiknya kalian jaga kata-kata kalian tentang keluargaku, atau kubuat kalian tidak bisa bicara selamanya," tandas Vander dengan nada mengancam.


Ma- maafkan kami tuan, kami permisi. Para ibu itu pun ketakitan dann akhirnya bubar.


...🍁🍁🍁...


Di labnya, Gauren menghampiri anak buahnya yakni dokter Rena, menanyakan tentang hasil kecocokan DNA Vander dengan Rey.


"Jadi bagaimana hasilnya?" Tanya pria berambut putih yang mengenakan jas semi formal itu.


"Hasilnya seperti yang kau duga, dia jelas anak kandungnya Vander," tandas Rena.


"Apa golongan darah mereka sama?"


"Golongan darah Vander AB rhesus negatif, anaknya AB rhesus positif, sebenarnya tidak masalah bagi anaknya, tapi bagi Vander masalah karena dia punya Rh- yang mana hanya lima belas persen dibelahan dunia ini manusia dengan Rh negatif."


"Serum buatanku itu aku cocokan dengan darah Vander, karena aku punya darah yang sama dengannya. Andai anak itu tidak kabur aku sudah menjadikannya dia ahli warisku dalam membuat dunia baru yang bisa menjadikan manusia sebagai budak kita yang patuh, sayangnya dia itu malah membelot dan merebut pulau Crux milikku."


"Kenapa kau terobsesi membuat negara sendiri dengan serum gilamu itu? Lalu kenapa juga kau berencana buat obat terlarang yang bisa merusak jaringan otak manusia, bukankah itu kriminal?" Tanya Rena.


"Aku ingin buat mesin penghancur berupa manusia. Dan lewat serum produksi masal itu nanti, aku akan buat penangkalnya sehingga orang yang kecanduan obatku akan terus memesan dariku, dan dari situ aku akan dapat banyak uang. Sistemnya seperti kecanduan narkotika dan sejenisnya."


"Kau memang sinting tuan!"


"Kau sendiri tiba-tiba mau membantuku kenapa?'


"Ya ingin saja, aku hanya ingin buktikan aku tidak kalah dari Dominic dalam bidang medis."


Gauren tertawa lalu berkata, "Rasa ingin balas dendam memang membuat orang lebih punya obsesi."


"Lalu si pria tidak berguna itu mau kau apakan?" Tanya Rena.


"Jeden? Dia bisa dimanfaatkan dengan cara kita cuci otaknya."


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2