Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kampung halaman.


__ADS_3

Di mobil, Lara yang masih belum tau sebenarnya suaminya itu akan mengajaknya kemana pun lagi-lagi bertanya. "Van sebenarnya kau mau mengajakku kemana sih?"


"Nanti kau juga akan tau kok!" Balas Vander bersikukuh tetap tidak mau bilang.


"Huh menyebalkan!" Gerutu Lara jengkel.


Vander yang tengah menyetir, hanya tersenyum dan melirik istrinya yang agaknya ngambek itu. "Lebih baik kau tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan."


"Terserah kau saja!" ucap Lara bersungut-sungut memalingkan wajah.


**


Setelah hampir lima jam berkendara, akhirnya Vander tiba juga disuatu kota yang lingkungannya masih cukup asri, dan tidak terlalu terjangkau hingar bingar kebisingan kota yang padat. Ia pun segera membangunkan sang istri yang sejak tadi tertidur. "Sayang ayo bangun, kita sudah sampai."


Lara membuka kedua matanya yang berat. "Sudah sampai ya?" Ucap gadis itu sambil mengucek kedua matanya.


Vander pun keluar duluan dari mobil. Ia kemudian membukakan pintu untuk istrinya.


Keluar dari mobil, Lara langsung memandangi dan menikmati pemandangan alam disekitarnya.


"Vander kita ada dimana? Disini sepertinya masih terasa suasana pedesaan?" Lara yang sama sekali belum pernah mengunjungi kota itu pun, dibuat merasa asing dan senang dibuatnya, karena bisa melihat pemandangan nan asri kota tersebut.


"Kita ada di kota NV ini kampung halamanku," ungkap Vander.


"Huh? Jadi kau berasal dari kota ini?" Lara tidak menyangka kalau suaminya itu akan membawanya ke kota tempat kelahirannya.


"Ayo!" Vander menggenggam erat tangan istrinya, dan berjalan menuntunnya pergi ke suatu tempat.


"Eh mau kemana?"


"Ikut saja," ucap Vander sambil terus saja berjalan dan menuntun istrinya itu dengan hati-hati.


Loh, ini kan area pemakaman? Lara heran kenapa tiba-tiba Vander malah membawanya ke area pemakaman umum?


"Vander apa kau mau berziarah?" Tanya Lara melihat Vander yang kemudian membeli seikat bunga daffodil. Sayangnya suaminya itu tak menjawab, dirinya malah terus saja berjalan menggandeng tanganya menuju ke satu makan yang bertuliskan nama seorang wanita di nisannya. Lara jadi semakin penasaran makam siapa ini sebenarnya?


"Vander ini makam—"


"Ibu... Aku pulang," Ucap Vander di depan makam tersebut.

__ADS_1


Lara langsung kaget mendengar Vander menyebut 'Ibu' di depan makam. Ja- jadi ini makan ibunya? Ya Tuhan aku tidak tahu sama sekali.


"Bu, apa kau lihat wanita disebelahku? Dia sekarang menantu ibu, dia cantik bukan? Namanya Lara dia tidak hanya cantik, tapi dia juga sangat baik dan super perhatian pada putramu ini. Oleh karena itu aku kemari mengunjungimu, karena ingin mengenalkan istriku pada ibu."


Lara pun berdiri di depan makam bertuliskan nama 'ANIKA' itu, dan memberi hormat serta salam. "Halo ibu mertua aku Lara istri putramu Vander salam kenal, mohon beri restumu padaku."


"Lihat Bu, istriku sangat cantik kan? Sama seperti ibu dia juga sangat baik."


Lara menatap suaminya. Dari sorot matanya memandang nisan, ia bisa merasakan betapa suaminya itu seolah merindukan ibunya.


"Vander ayo kita segera bersihkan makam ibu, setelah itu kita taruh bunganya," ajak Lara.


Akhirnya mereka berdua pun bersama-sama membersihkan makam Anika, kemudian meletakan bunga-bunga yang sudah dibeli Vander tadi didekat batu nisannya.


*


Hari ini Gavin dan Miranda terlihat berkencan disebuah mall mewah. Disana sepasang kekasih yang baru jadian itu jalan sambil bergandengan tangan.


"Jadi akan kemana lagi kita sekarang?" Tanya Mira.


"Bagaimana kalau kita cari cemilan sambil minum kopi?" Usul Gavin.


Saat tengah memilah-milah cemilan untuk teman minum kopi, tiba-tiba saja datang beberapa mahasiswi lewat di samping Gavin. Dan tidak sengaja salah satu diantara mahasiswi itu tersandung. Gavin pun dengan sigap langsung menolong gadis itu berdiri.


"Kau tidak apa-apa kan Nona?"


Gadis itu pun agak salah tingkah jadinya didepan Gavin. Sementara itu, Mira yang merasa kalau para mahasiswi itu agaknya mencari perhatian pada pacarnya pun merasa cemburu dibuatnya. 


"Ehem!" Mira berdeham memberi kode.


"Eh, apa dia bibimu?" Celetuk salah seorang mahasiswi tersebut melihat ke arah Mira.


Disebut bibi oleh mahasiswi Miranda pun merasa jengkel dibuatnya. Ia pun langsung tertunduk kesal dan tiba-tiba saja minta izin ke toilet. "Aku mau ke toilet dulu!"


"Miranda tunggu!" Gavin yang takut Mira sedih pun segera bermaksud menyusul sang kekasih, namun oleh para mahasiswi itu dirinya malah ditahan. Kesal melihat tingkah para mahasiswi tersebut, Gavin pun memarahin mereka. "Dengar ya, kalian itu sangat mengganggu tahu! Asal kalian tau saja, wanita tadi yang kalian sebut bibi dia adalah pacarku! Dan juga meski tampangku muda usiaku diatas kalian nona-nona jadi tolong hormati aku dan minggir! Aku mau mengejar pacarku!"


Gavin pun mengejar Miranda yang dilihatnya masuk ke toilet. Pria itu dengan sabar menunggu kekasihnya hingga akhirnya Miranda keluar dari sana.


"Hei Mira kau baik-baik saja kan?" Gavin menarik Mira, memastikan pacarnya itu baik-baik saja atau tidak.

__ADS_1


"Ya, aku baik-baik saja!" Jawabnya singkat dengan agak ketus.


"Mira kau tidak usah ambil hati ucapan—"


"Tapi ucapan mereka benar, meski usia kita masih sepantaran tapi penampilan tak bisa menipu, kau memang terlihat jauh lebih muda dariku jadi wajar saja kalau—"


Gavin langsung menggenggam tangan Miranda dan berkata, "Aku tidak peduli yang orang lain pikirkan tentang aku, kau, ataupun kita, yang jelas aku lebih kenal dirimu dibanding mereka. Dan soal penampilan aku rasa itu hanya perbedaan perspektif tiap orang saja jadi tidak perlu dimasukan ke hati."


Miranda langsung merasa tesentuh dengan ucapan Gavin barusan. Ia tidak menyangka kalau kekasihnya itu ternyata bisa sedewasa itu bicaranya. "Gavin, terima kasih. Ucapanmu benar."


"Ya! Kalau begitu sekarang ayo kita lanjut jalan lagi," ajak Gavin menggenggam tangan Mira.


**


Setelah selesai berziarah ke makam mendiang ibunya, Vander lalu mengajak Lara ke sebuah tempat di kota NV. Ia membawa istrinya itu ke sebuah penginapan sederhana yang mana disekelilingnya terdapat toko, serta restoran yang saling berjejer. Vander pun segera memarkirkan mobilnya diarea parkir dan mengajak Lara keluar.


"Um — ini dimana? Apa kau mau mengajakku menginap di penginapan ini?" Tanya Lara penasaran.


"Ya kita menginap disini. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin, tapi seingatku memang ini tempatnya. Wilayah ini dulu adalah tempat dimana aku tinggal," ungkap Vander yang sudah agak lupa tata ruang tempat tersebut, mengingat sudah lama sekali dirinya tidak pernah kembali ke kampung halamannya.


Kemudian Vander pun mengajak Lara masuk ke penginapan yang bernama La Rosean tersebut untuk memesan kamar.


Setibanya di dalam, resepsionis wanita di penginapan tersebut pun langsung menyambut pasangan suami istri itu dengan ramah. "Selamat datang di tempat kami, ada yang bisa kami bantu Tuan dan Nyonya?"


"Ya kami mau pesan satu kamar."


"Baik, atas nama Tuan siapa?"


"Vander Liuzen," ucap Vander.


"Vander? kau kah itu!?" ujar seorang wanita berusia lima puluha tahun itu dengan nada terkejut. Tak lama wanita itu pun datang menghampiri Vander dengan ekspresi kaget dan tak menyangka.


"Ka- kau sungguh Vander putranya Zenry dan Anika?" Kata wanita tua itu memandangi Vander dengan tatapan tak percaya.


Vander sendiri langsung mengerutkan alisnya melihat tajam kearah wanita tua itu lalu bertanya,


"Apa kau Zoe?"


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜


__ADS_2