Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Mengembalikan ingatannya


__ADS_3

Setelah selesai makan malam dan berbincang, Rey yang sudah lelah pun tampak tertidur di sofa. Untungnya ada Andy yang kemudian menggendong Rey kembali ke kamarnya.


Sementara Rey tidur, dan Emika sibuk membereskan dapur. Lara yang saat ini duduk di sofa terlihat menatap ke arah luar jendela, sambil menikmati segelas wine ditangannya. Dari jauhwajah Lara tampak sendu memandangi langit gelap dari balik jendela, sambil memikirkan pria itu. Pria yang sangat ia cintai tapi sayangnya pria itu kini malah lupa padanya.


"Hufft..." Lara menghela nafas. "Ini sungguh tidak adil. Saat aku sudah bisa bertemu dengan raganya, tapi kenapa jiwanya malah hilang entah kemana, kenapa Tuhan?" Ucapnya lirih.


"Ehem! Kalau kau duduk disini lama-lama tanpa pakai selimut nanti bisa kena flu loh," ucap Andy yang tiba-tiba datang dan menyelimuti pundak Lara.


Lara pun menoleh dan berterima kasih pada Andy karena telah membawakannya selimut.


"Kenapa kau sendirian disini?"


"Aku sedang menikmati pemandangan langit malam yang gelap, dingin, dan tanpa bintang," ucap Lara terdengar melankolis.


"Aku boleh kan duduk disebelahmu?" tanya Andy.


"Tentu saja silakan," jawab Lara tak keberatan.


Andy pun duduk disebelah Lara. Dari tempatnya duduk, Andy yang melihat wajah Lara dari samping pun dibuat terpesona oleh kecantikannya. Siapa sangka, diam-diam ternyata Andy menyukai Lara sejak pertama kali bertemu di bandara waktu itu.


Nona Lara sungguh cantik! Andai saja dia tahu kalau aku menyukainya, ucap Andy dalam hati sambil terus menatap Lara. Hingga akhirnya Andy malah jadi salah tingkah dibuatnya, saat Lara tiba-tiba saja menoleh ke arahnya dan menatapnya.


"Hei, kenapa wajahmu jadi merah? Apa kau sakit?" Pungkas Lara yang sepertinya mulai terpengaruh efek alkohol.


"Hei Andy, kalau menurutmu aku ini bagaimana? Apa aku kurang cantik?" Ungkap Lara tiba-tiba dengan nada putus asa.


"Apa yang kau bicarakan, kau wanita paling cantik yang pernah aku lihat secara langsung."


"Tapi kenapa dia lupa padaku? Apa baginya aku ini tidak menarik lagi, makanya dia melupakan aku? Apa karena aku sudah punya anak? Hikkeu!"


"Dia...? Dia siapa maksudmu?"


"Dia itu si brengsek itu... loh!"


"Nona Lara, sepertinya kau mabuk ya?" Ujar Andy melihat Lara bicaranya mulai kesana kemari.


"Hei Andy, kalau kau punya pasanga nanti, jangan jadi pria brengsek seperti dia, Oke....!"


Andy semakin bingung dibuatnya, melihat Lara yang mabuk dan sepertinya tengah membicarakan seseorang yang telah membuatnya sedih.


"Nona sebaiknya kau istirahat saja ya, sini biar aku bantu kau—."


"Heh stop, jangan sentuh aku!" Tegas Lara menolak tangannya dipegang Andy.


"Tapi aku cuma mau membantumu saja kok."


"Tidak! Sebab... kata dia... Aku tidak boleh mabuk di depan pria lain, tapi... Tapi... Dia sekarang malah tidak ada bersamaku... Huhu..." Lara tiba-tiba menangis.


"Astaga bagaimana ini? Nona kenapa malah nangis?" Andy semakin kebingungan dibuatnya.


"Hei kau," Lara menatap Andy.


"Ke- kenapa malah menatapku begitu?" Andy kikuk melihat Lara menatapnya serius.


"Bagaimana kalau kau jadi selingkuhanku saja?"


"Apa?" Andy seketika terlihat sok mendengar ucapan ngelantur Lara.


"Iya ayo kita berselingkuh, supaya dia cemburu dan—" Lara kembali menantap Andy samar-samar. "Uh tapi tidak, jadi deh! Soalnya mana mungkin dia cemburu denganmu, kau itu bukan levelnya," pungkas Lara.


"Apa maksudmu Nona?"


"Maksudku... dia tidak mungkin cemburu pada bocah sepertimu."


"Nona Lara kau ini mabuk! Dan aku juga tidak tahu 'Dia" yang kau maksud itu siapa?!" "Tapi- kalau kau memang mau denganku aku- aku ingin kita—"


"Sstt...!" Lara menyuruh Andy diam. "Maaf Andy, tapo lebih baik kutarik kata-kataku soal selingkuh itu, lagipula kau bukan tipeku, karena aku tidak tertarik pada pria lebih muda."


"Tapi, aku hanya beberapa tahun saja lebih muda darimu, jadi bukan masalah bukan?"


Lara tertawa, "Tidak tidak! Bukan itu masalah utamanya, aku tidak bisa suka padamu karena aku— hikeu! Aku... masih suka padanya..."


Seketika Andy langsung tertampar kenyataan, mengetahui dirinya yang bahkan belum sempat menyatakan suka, malah sudah seolah ditolak duluan oleh ucapan Lara barusan.


"Andy aku harus apa...?" ujar Lara sedih.


"Nona Lara kau ini mabuk, tapi kau tidak mau kupegang, lalu aku harus bagaimana?" keluh Andy yang jadi bingung sendiri.


Tak lama, datang Emika dan bertanya ada apa?


"Emika... Kau- suka pada Andy kan...?" Ujar Lara secara tiba dan blak-blakan, hingga membuat Emika langsung panik dibuatnya. Astaga! Kak Lara kau ini sudah gila ya! Bisa-bisanya dia mabuk malah tidak terkendali ucapanya begini!

__ADS_1


Karena takut Lara makin bicara ngelantur, Emika dibantu Andy akhirnya membawa Lara ke kamarnya.


Emika pun lega setelah membawa Lara ke kamarnya, namun ia seketika jadi malu untuk menatap Andy saat ini. Ia takut, pria itu berpikir aneh tentangnya akibat celotehan Lara tadi.


"Um— Andy soal...."


"Aku ditolak bahkan sebelum menyatakan cinta," terang Andy tiba-tiba.


"Eh, apa maksudmu Andy?"


"Aku suka pada Nona Lara tapi dia bilang sendiri, kalau aku bukan tipenya dan tidak suka pria yang lebih muda,dan bilang kalau aku bukan level pria yang dia bicarakannya tadi.."


"Begitu ya?" Emika tampak sedih mengetahui pria yang ia sukai ternyata malah menyukai orang lain. Nasibku dan Andy ternyata sama, sama-sama cinta sepihak!


...🍁🍁🍁...


Jam istirahat pun tiba, Lara yang baru saja selesai menyiapkan materi proyek yang akan dibawa Vander meeting lusa pun tampak kelelahan dan lapar.


Karena kebetulan hari ini Lara membawa bekal sendiri dari rumah, jadinya ia tidak perlu lagi capek-capek pergi keluar untuk membeli makan. Ia pun langsung membuka kotak bekalnya yang berisi fetuccini smoked beef dan menyantapnya dengan suka cita.


Sementara di lain sisi, Vander yang meja kerjanya tidak jauh dari Lara, terlihat tengah memandangi sekretarisnya yang tengah melahap bekalnya dengan nikmat. Melihat sekretarisnya makan, sepertinya membuat Vander jadi ikut merasa lapar juga.


Lara yang seketika sadar kalau dirinya diperhatikan oleh bosnya pun langsung menatap balik Vander. Alhasil, pria itu malah langsung pura-pura tidak melihatnya.


Aneh! Gumam Lara lalu melanjutkan makannya. Dan tak lama lagi-lagi ia mendapati melihat bosnya itu menatap ke arahnya. Tidak suka dilihati saat sedang makan, Lara pun protes kepada pada Vander.


"Kalau mau makan, ya makan saja!" Balas Vander seraya tidak peduli.


"Bagaimana mau makan, Tuan dari tadi terus menatapku ketika aku makan!"


"Jadi kau kesal denganku?" ucap Vander menatap Lara seraya menantangnya.


"Um— iya, aku kesal!" Jawab Lara spontan. Eh? Aduh aku salah bicara tidak sih?


Vander hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sekretarisnya barusan. Ia kemudian bangkit dari kursinya, dan berjalan ke arah tempat Lara berada.


Eh? Ke- kenapa dia kesini? Apa dia mau marah? Lara seketika jadi takut sendiri.


Vander menghampiri Lara dan menatap sekretarisnya itu lamat-lamat dengan jarak dekat.


"Tu- tuan Vander aku minta maaf, soal itu aku tidak bermaksud—"


"Tapi- tapi aku hanya bawa satu bekal."


"Aku tidak peduli, aku mau makananmu! Cepat suapi aku!"


"Heh?" Lara terngaga dibuatnya.


Bagaimana bisa dia minta makananku, lalu minta disuapi juga, seperti anak kecil saja!


Tapi... melihat tingkah Vander yang seperti anak kecil begitu, membuat Lara jadi merasa semakin yakin kalau pria dihadapannya sekarang, memang benar masih suaminya yang sama seperti dulu, meski ingatan tentang dirinya hilang.


Tidak mau tambah runyam, Lara pun akhirnya menyuapi bosnya itu makan bekal buatannya.


"Hem, ini enak! Apa kau masak sendiri?" Ucap Vander setelah menikmati bekal buatan Lara.


"Iya aku masak sendiri."


"Bagus, mulai besok bawa lebih banyak untukku! Dan ini sisanya buatku saja!" Vander lalu mengambil kotak bekal Lara itu dan dibawanya ke meja kerjanya untuk ia makan.


"Hei tu bekalku, kenapa dibawa!" Seru Lara protes. Ia pun jengkel dan langsung menghampiri meja bosnya itu untuk mengambil kembali bekal makan siangnya.


"Tuan, anda ini milyarder muda terkaya di benua ini loh, bagaimana mungkin demi sekotak makan siang tidak seberapa ini, kau sampai harus tega mengambilnya dari rakyat jelata sepertiku!"


"Oh kau kau ini rakyat jelata ya? Kasian sekali," ucap Vander kembali memakan bekal makan siang Lara tanpa bersalah.


"Tuan tolong pengertianmu ya, kembalikan cepat!" Lara masih berusaha mengambil kotak bekalnya, namun hal itu sulit mengingat tangan Vander jauh lebih panjang dan lebih besar darinya jadi susah digapai.


"Aku bilang kembalikan cepat!" Seru Lara semakin emosi.


"Ini!" Vander akhirnya mengembalikan kotak bekal, namun dalam keadaan kosong.


"Kau ini benar-benar ya!" Lara yang telanjur kesal pun tiba-tiba menarik dasi bosnya itu dan menatapnya dengan kesal lalu berkata, "Tuan Vander kau tau, aku ini sengaja buat bekal makan siang dirumah supaya, aku tidak perlu keluar banyak uang untuk beli makan di kantin perusahaanmu, yang harganya tidak manusiawi itu!"


Vander yang awalnya diam saja tak berekspresi melihat Lara memarahinya pun tiba-tiba tersenyum nakal dan berkata pada sang sekretaris itu kalau, "Kau tau tidak Nona Lara, dirimu jadi semakin cantik dan terlihat seksi kalau marah."


Seketika wajah Lara pun jadi memerah dibuatnya.


"Tuan kau ini sudah gila!" Gumam Lara lalu melepaskan dasi bosnya itu dan bermaksud kembali ke tempat duduknya. Namun saat Lara berbalik badan, Vander malah menarik tangan Lara dan menarik wanita itu agar duduk diatas pangkuannya.


"Tuan lepaskan aku! Jangan seperti ini nanti ada yang lihat!" Lara berusaha melepaskan diri dari atas pangkuan bosnya itu. Sayangnya tenaga Lara tidak sebanding dengan tenanga Vander yang bahkan dengan mudah memegangi pinggangnya supaya tidak bisa kabur.

__ADS_1


"Tuan lepaskan aku! Ini kantor, jadi tolong jaga sikapmu!"


Lara berusaha melepaskan diri dari pria berbahaya yang kini mengikatnya.


Vander memegang wajah Lara dengan satu tangannya dan mengarahkan wajah cantiknya itu ke hadapan wajahnya dan berkata, "Dengar, tiga alasan kenapa aku tidak perlu menjaga sikapku. Pertama ini kantorku, kedua aku bosnya, dan yang ketiga, aku bebas melakukan apapun karena aku yang berkuasa disini, kau paham Nona Lara?"


"Ka- kau!" Lara menatap wajah Vander yang saat ini menatapnya dengan tatapan matanya yang tajam dan mengintimidasi. Membuat Lara seolah malu dan kikuh hingha tak bisa banyak berkutik dihadapannya.


"Kau tau Nona Lara, melihat ekspresi wajahmu seperti saat ini, membuatku jadi semakin bergairah rasanya."


"Huh? Tu- tua mmhhh...."


Tiba-tiba Vander mengecup bibir Lara.


Ke- keapa dia tiba-tiba menciumku? Lara terperagai melihat Vander yang kini tengah mencium bibirnya.


Bibirnya yang terasa hangat menyentuh bibirku, ini sudah lama sekali tidak aku rasakan.


Lara bisa merasakan perlahan pria itu, mendorong lidahnya masuk lewat sela-sela bibirnya seolaj memaksa Lara agar segera membuka lebar mulutnya.


Dirinya masih terus berusaha mendorong Vander agar melepaskan dirinya, namun apa daya kedua tangan Lara malah dicengkeram dengan satu tangannya yang besar dan kuat.


Tubuh Lara yang semakin panas dan semakin tak berdaya pun pada akhirnya tak mampu lagi menahan, permainan lidah Vander yang semakin liar di dalam mulutnya, hingga membuat Lara akhirnya terbuai dalam kecupan panas bersama pria yang kini duduk memangkunya.


Keduanya pun larut dalam ciuman panas selama beberapa saat, Lara bahkan tak sadar kalau tangannya kini sudah melingkar nyaman dileher bosnya itu. Hingga Lara mulai tersadar saat dirinya merasakan jemari Vander kini sudah mulai membuka satu persatu kacing kemejanya.


Tak ayal Lara pun langsung melepaskan ciumannya dan mengehtikam tangan Vander membuka kemejanya yang kini sudah setengah terbuka.


Dengan nafas tak beraturan Lara menatap Vander yang seolah masih belum mau melepaskannya.


"Nona Lara kita belum—"


"Tidak tuan! Aku mohon jangan lakukan lebih dari ini," ucap Lara dengan mata berkaca-kaca.


Vander yang sejatinya masih tidak ingin melepaskan Lara pun, seketika tidak tega melihat sekretarisnya itu menatapnya dengan sorot mata seperti itu. Ia pun akhirnya melepaskan sang sekretaris dari pangkuannya.


Sambil memegangi kemejanya sudah setengah terbuka, Lara pun pergi kedalam ruangan lamanya yang terpisah dari ruangan Vander.


Dibalik pintu wanita itu menangis sambil mendekap dadanya yang terasa sakit. "Aku sungguh merindukan setuhannya, tapi bagaimana bisa ini terjadi sementara dia masih tidak ingat padaku?"


Lara menyentuh bibirnya. "Dan ciuman tadi, apa artinya itu baginya? Apa maksudnya menciumku begitu, jika dirinya saat ini bahkan tidak memiliki perasaan cinta padaku." Lara menangis sedih, "Aku ingin suamiku mengingatku...!"


🍁🍁🍁


Di Adante Night Club, salah satu tempat hiburan malam milik Laizen group, terlihat Vander bersama Dominic dan Rebecca sedang minum bersama.


"Vander kau sedang sakit ya?" Ucap Dominic melihat Vander hari ini agak berbeda dari biasanya. Karena menurut Dominic biasanya Vander kalau ke kelab malam pasti minum di lounge bersama para wanita, tapi kali ini ia malah hanya duduk di depan meja bar dan sesekali terlihat melamun.


"Memangnya dia bisa sakit, bukannya dia itu manusia berbadan robot yang anti sakit?" Kelakar Rebecca yang tidak lain adalah dokter psikolog yang membantu Vander menangani trauma kompleks yang di deritanya.


Dominic menepuk pundak Vander dan berkata, "Hei kau kenapa sebenarnya? Dari tadi hanya minum saja. Kau tidak lihat dibelakang sana, banyak perempuan cantik yang berharap kau minta mereka untuk menemanimu minum."


Vander menenggak minumanya lagi dan berkata, "Entah kenapa wanita disini semuanya tidak ada yang menarik dimataku."


Rebecca dan Dominic saling menatap dengan wajah heran.


"Tumben sekali bicara begitu, apa Tuan Vander Liuzen sudah tidak tertarik pada perempuan?" goda Dominic diikuti tawa renyahnya.


"Atau jangan-jangan kau lebih tertarik pada Dominic ya sekarang?" Kelakar Rebecca yang juga ingin menggoda Vander.


"Semua itu gara-gara dia," ucap Vander.


"Dia...? Dia siapa?" Ucap kedua teman Vander secara bersamaan.


Vander pun hanya tersenyum kecil membayangkan wajah orang yang dia maksud saat ini.


...🍁🍁🍁...


Di kamarnya Lara yang kebetulan hari ini tidak tidur dengan putranya tampak gelisah, dan tidak bisa tidur. Pikiran Lara saat ini benar-benar masih terbayang dengan kejadian di kantor tadi siang. "Bahkan rasanya sampai saat ini masih terasa," ucap Lara sambil memegangi bibirnya.


"Aduh apa sih aku ini! Meski dia lupa ingatan, tapi dia itu kan tetap suamiku. Lagipula sebelumnya kami sudah melakukan lebih dari sekedar berciuman bahkan sampai bisa menghasilkan Reynder, tapi kenapa rasanya ini seperti baru buatku? Apa karena sudah lama tidak melakukannya jadi canggung begini ya?"


Lara jadi frustasi sendiri sampai memukul-mukul bantalnya karena kesal. "Lagipula kenapa sih dia harus lupa segala padaku. Kalau saja dia tidak lupa padaku, diminta melayaninya dikantor juga aku berikan! Salah sendiri tidak ingat istri!" Gerutu Lara kesal pada Vander.


Lara menghela nafas lalu terdiam dan tiba-tiba berpikir kalau, hubungannya dengan Vander ini tidak bisa dibiarkan begini terus-menerus. Karena bagaimana pun status dirinya dan Vander masih sah suami istri. "Ya! Aku tidak boleh diam saja, karena bagaimanapun, Vander masih sah suamiku dan ayah dari anakku. Aku tidak mau kalau sampai keabu-abuan ini malah akan membuat Vander jadi berpaling ke wanita lain. Apalagi sekarang ini Vander kan super kaya raya, aku ingin warisannya nanti semua jatuh ke tangan anak-anakku!"


Akhirnya Lara pun memutuskan untuk mencari tahu penyebab amnesia Van dan membuatnya ingat lagi padanya. "Tuan Vander Liuzen, kau lihat saja! Aku akan membuatmu perlahan-lahan ingat lagi padaku. Karena bagaimanapun, kau hanya boleh jadi suamiku!" ucap Lara tersenyum penuh rasa percaya diri.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DI LIKE, COMMENT, VOTE, DAN KASIH GIFT YA... MAKASIH🙏

__ADS_1


__ADS_2