
"Kenapa tiba-tiba Nona bicara begitu?"
"Karena aku merasa lebih tenang jika berada di dekatmu. Sebab sejak penyerangan dan teror-teror itu mendatangiku, aku jadi sering merasa tiba-tiba ketakutan, was was, dan gelisah. Hanya saat bersamamu saja aku merasa aman," ungkap Lara.
Melihat raut wajah Lara saat ini, Vander pun jadi tidak tega sama sekali. Mengingat ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana gadis itu ketakutan hingga tubuhnya gemetar. "Apa Nona ingin tinggal disini denganku?" Tanya Vander.
"Aku mau, itupun kalau kau mengizikan," balas Lara malu-malu.
Tentu saja mengizinkan, toh ini apartemen milik Lara. Hanya saja, yang jadi masalah bagi Vander sendiri adalah dirinya takut tidak bisa menahan diri. Ia khawatir dirinya yang justru malah jadi acaman buat Lara. Mengingat Vander yang dengan hanya mencium aroma pakaian Lara saja, seringkali sudah membuat dirinya berg*irah, apalagi kalau sampai Lara satu tempat tinggal dengannya. Tapi mengingat kembali bagimana raut wajah Lara saat ketakutan, ditambah pengakuannya kali ini Van seolah tidak punya pilihan lain.
"Kalau kau tidak mengizinkan juga tidak apa-apa Vander, aku akan pulang saja," ucap Lara kemudian melangkah melewati Vander yang masih diam aja.
"Nona kau tinggalah disini!" Seru Vander.
Langkah Lara terhenti, ia pun menoleh kebelakang dan langsung berjalan mendekati Vander kemudian memeluk pria itu. "Terima kasih," ungkap Lara sambil berjinjit memeluk Vander. Van sendiri malah syok dan bingung harus apa, tangannya bahkan tidak berani untuk balas memeluk Lara.
Lara Baru sadar akan apa yang dilakukannya, ia pun segera melepas pelukannya dari Vander dan minta maaf karena sudah refleks memeluknya.
"Tidak apa-apa Nona," balas Van agak kikuk. Sebenarnya Vander senang dipeluk seperti itu.
**
Miranda yang baru saja bersiap makan malam di ruang makan malah dapat telepon dari Lara tiba-tiba.
Mira : Halo, ada apa Nona?
Lara : Mira hari ini aku akan menginap di rumah Van.
Mira : Apa?! Tu- tunggu kau sedang tidak bercanda kan Nona?
Lara : Tidak kok, aku sudah beritahu pelayan dirumah juga. Um— pokoknya kau tenang saja aku akan baik-baik saja disini jadi jangan khawatir ya. Bye!
Mira : Nona! Halo Nona Lara!
*tut...
"Dasar menyebalkan, malah dimatikan teleponnya!" Ungkap Mira kesal.
Melihat putrinya marah-marah Pak Jah yang juga sudah ada di ruang makan bertanya, "Nak, kenapa kau marah-marah?"
"Ayah, Nona Lara dia menginap di apartemen Van!" Jelas Mira.
"Lalu apa yang salah? Bukankah Nona Lara kemarin sudah pernah bermalam di apartemen tuan Van?" Terang Pak Jah dengan santainya.
__ADS_1
"Iya juga sih, tapi..." Mira masih terlihat tidak tenang.
"Nak, Ayah tau kau menganggap Nona Lara sudah seperti adikmu sendiri tapi kau juga harus ingat, Nona Lara sudah dewasa sekarang, ia berhak menentukan apapun pilihan untuk dirinya. Jadi kau juga harus menghargai itu."
Mendengar penjelasan bijak dari sang ayah Mira pun mulai memahami. "Iya Ayah aku mengerti."
**
Lara akhirnya memutuskan bermalam di apartemen Van. Jujur saja gadis itu merasa senang sekali bisa bermalam di apartemen Van, dengan begitu ia bisa melihat kebiasaan-kebiasaan Van kalau sedang tidak bekerja. Aku senang sekali! Ujar Lara dalam hati.
"Nona kenapa?" Tanya Van melihat bosnya senyum-senyum sendiri.
"Eh ti- tidak apa-apa kok. Aku hanya— sedang berpikir, nanti aku tidur dimana ya?" Lara bingung mengingat di apartemen ini hanya ada satu kamar.
"Soal itu Nona silakan tidur di kamar, biar aku tidur di sofa."
"Eh ta- tapi masa kau tidur di sofa?" Lara jadi merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa aku sudah biasa kok! Lagipula kalau tidak di sofa aku harus tidur dimana? Memangnya Nona Lara mau berbagi kamar denganku?" Terang Vander.
"Eh, ap- apa maksudmu?" Wajah Lara memerah mendengar Vander mengatakan hal itu.
"Bu- bukan begitu maksudku... Um—"
"Hais, tadi aku reflek bicara seperti itu," sesal Vander.
Di kamarnya Lara memeriksa sprei dan keadaan ruangannya. Kamar tersebut cukup rapi tapi seperti agak berdebu, sepertinya Van jarang membersihkan kamarnya. Kemudian Lara memeriksa lemari pakaian Van, disana pakaian yang tergantung juga rata-rata kemeja dan jas kerja untuk kerja, sisanya kaos dan celana non formal serta jaket.
"Hem, dia bukan tipe pria yang suka rapi-rapi sepertinya?" Pikir Lara melihat keadaan isi lemari Van yang agak berantakan. "Eh tunggu, bicara soal pakaian...?" Lara baru ingat kalau dirinya tidak punya baju ganti. "Astaga bodohnya aku, bagaimana bisa aku sampai tidak kepikiran soal pakaian!" Lara memegangi kepalanya.
Lara pun keluar dari kamar dan memanggil Van.
"Iya Nona ada apa?" Sahut Van datang menghampiri.
"Vander aku tidak punya pakaian ganti, jadi aku berniat untuk membelinya. Kau mau kan antar aku berbelanja pakaian?"
"Tentu saja, kebetulan juga sudah jam tujuh malam bagaimana kalau kita cari makan sekalian," ucap Vander.
"Oh iya kau benar." Tapi Lara bilang ia tidak mau makan malam di restoran, ia mau makan malam dengan menu masakan rumahan. "Jadi lebih baik sehabis belanja pakaian kita mampir ke supermarket dulu membeli bahan makanan untuk dimasak disini," saran Lara.
"Kalau mau Nona seperti itu baiklah."
"Yasudah kalau begitu aku ambil tas dulu dan setelah itu kita berangkat," ujar Lara kemudian pergi mengambil tasnya.
__ADS_1
**
Jeden terlihat tengah minum-minum di bar di temani wanita-wanita cantik. Tiba-tiba saja ada seorang wanita tinggi bertubuh ramping mengenakan dress ketat berwarna biru datang menghampirinya.
"Selamat malam Jeden Lee," sapa wanita yang kemudian duduk disebelah Jeden.
Jeden memicingkan matanya menatap wanita cantik berusia sekitar 30 tahun itu. "Kau siapa Nona? Apa kau tertarik denganku?" Tanya Jeden sambil menggodanya.
Wanita itu memesan segelas minuman sebelum akhirnya mengajak Jeden bicara.
"Tuan Jeden sebelum kita bicara, bisakah kau menyuruh wanita-wanita disekelilingmu itu pergi?"
Jeden tersenyum kecil lalu menyuruh wanita-wanita disebelahnya itu untuk pergi seperti apa yang diminta oleh wanita itu. "Jadi ada apa Nona—"
"Eva, namaku Eva aku dari organisasi Crux."
[Crux sendiri adalah organisasi hitam, yang jasanya sering disewa untuk membantu orang-orang yang melakukan kegiatan terlarang seperti, perdagangan senjata ilegal, pengedaran obat-obatan terlarang, hingga misi khusus melenyapkan oranglain]
"Lalu apa yang bisa aku bantu?"
"Aku dengar kau kemarin meminta jasa orang untuk menghabisi pria bernama Van, betulkah?"
Jeden yang awalnya santai mendadak serius saat wanita itu menyebut nama Van.
"Kau kenal Van?" Tanya Jeden.
"Iya aku sangat mengenal dan tau siapa pria itu. Dan jika kau setuju aku ingin membuat penawaran kerjasama denganmu," terang Eva.
"Penawaran seperti apa yang kau maksud?"
Eva tersenyum simpul lalu menjelaskan kerjasama yang ia maksud pada Jeden.
"Jadi kau ingin agar Van kembali ke Crux?"
"Ya! Meski Tuan Jeden tak pandai bertarung tapi otakmu cukup licik, jadi aku rasa kita bisa bekerjasama," tutur Eva.
Jeden terlihat tengah mempertimbangkan penawaran dari Eva itu. "Baik, aku mau membantumu Nona Eva asal, kau tidak mencampuri urusan pribadiku."
"Setuju!" Balas Eva.
Keduanya pun saling bersalaman tanda persetujuan.
Bersambung...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜