Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Tidak peduli


__ADS_3

Pagi harinya Vander yang kini terbaring tidur diatas ranjangnya akhirnya membuka matanya dan tersadar dari tidurnya. Sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing, pria itu bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Tak lama kemudian, datanglah Robert ke  kamar Vander dengan membawa nampan yang berisi air putih, air lemon, sarapan dan juga obat.


"Tuan kebetulan anda sudah bangun, ini aku bawakan anda sarapan."


"Robert, apa semalam aku—"


"Iya Tuan, semalam trauma anda kumat, untungnya aku cepat melihat anda di kamar, jadinya aku segera memanggil dokter Rebecca kemari."


Vander tidak ingat sepenuhnya kejadian semalam, yang ia ingat sebagian hanyalah, saat dirinya baru pulang mengantar Lara, ia langsung masuk ke kamarnya dan minum anggur, dan saat itu tiba-tiba saja rasa tidak nyaman muncul di diri Van bersamaan dengan rasa takut saat mengingat bagaimana Lara menangis di depannya. Pikiran Vander yang carut marut membuatnya gelisah tak terkontrol. Jantungnya berdegup kencang, dan keringat dingin membasahi tubuhnya yang gemetar takut. Dan setelah itu aku Vander tidak


Ingat apa-apa lagi.


"Tuan sebenarnya apa yang sudah terjadi antara anda dan Nona Lara? Karena yang aku tahu, trauma anda muncul setelah anda pulang dari mengantar wanita itu, sebelumnya trauma anda hampir jarang sekali muncul, tapi kenapa semalam itu—"


"Aku juga tidak tahu Robert, yang aku tahu setiap kali aku bersama wanita itu aku merasakan suatu perasaan yang bahkan aku tidak bisa jelaskan dan mengerti. Bersama Lara, aku merasa hati dan pikiranku seperti sempurna, aku juga tidak paham kenapa itu Robert!" Van lagi-lagi memegangi kepalanya yang agak berdenyut.


"Tuan lebih baik anda minum air lemon ini dulu untuk menetralkan tubuh anda dari pengaruh alkohol." Robert memberikan segelas air lemon itu pada tuannya, dan langsung diminumnya oleh Van.


Sebenarnya bagaimana hubungan Tuan Vander dan Nona Lara? Robert merasa sejak ada Lara tuannya itu jadi agak berbeda, padahal selama empat tahun lebih dirinya mengabdikan diri untuk Vander, Robert tidak pernah melihat Van seperti ini hanya karena seseorang.


Aku jadi penasaran dengan wanita itu, terlebih saat aku baru mengetahui kenyataan kalau dia ternyata sudah punya anak.


"Um— tuan, ada yang aku ingin laporkan pada anda."


"Katakan!"


"Tentang Nona Lara kemarin, anda memerintahkanku mengikutinya bukan?"


"Lalu kemana dia kemarin?"


"Nona— Nona Lara pergi ke sebuah taman kanak-kanak tuan."


Apa? Vander langsung memicingkan matanya yang tajam. "Untuk apa dia ke tempat itu?"


"Entah, tapi aku lihat kemarin Nona Lara keluar dari sekolah itu dengan menggandeng seorang anak laki-laki yang usianya sekitar empat tahun atau lebih. Dan aku dengar anak itu kemarin memanggilnya Mama."


"Tunggu, maksudmu Lara, dia sudah..."


"Kemungkinan besar iya. Hanya saja karena di CV dan portofolionya tidak wajib menuliskan keterangan soal pribadinya jadi tidak ditulis. Tapi jika anda ingin aku mencaritahu lebih dalam soal Nona Lara aku bisa melakukannya untuk anda."


"Tidak perlu, aku sendiri yang akan membuatnya berkata yang sebenarnya." Aku mau tahu sifat aslinya, apakah dia seekor rubah betina licik atau kelinci yang manis.


...🍁🍁🍁...


Di kantin kantor nampak Lara bersama kedua teman kantornya Olga dan Jeha, disana ketiga wanita itu tampak sedang menikmati waktu senggang sambil menikmati minuman dan camilan ringan. Saat itu Lara tiba-tiba saja cerita, kalau dirinya baru saja mendapati undangan dari pihak Lavioletta untuk mengikuti seleksi pemilihan desainer beruntung yang karyanya akan ditampilkan di fashion week nanti.


"Waw benarkah? Itu gila!" Ujar kedua teman Lara itu tak menyangka. Pasalnya menurut info yang terdengar, Lavioletta hanya mengirimi 17 pesan eksklusif dari jutaan manusia yang mendiami negara ini.


"Dan kau jadi satu dari tujuh belas orang itu, bukankah itu sangat luar biasa!" Tandas Jeha.


"Ya, aku saja tidak menyangka, ini benar-benar impianku! Kalau desainku yang terpilih nanti aku akan berkolaborasi dengan Yuna Vergara yang keren itu!" Ujar Lara tampak sumringah dan tidak sabar.


"Kami doakan kau terpilih ya Lara!" Ucap Olga memberi semangat. "Semangat!"


Sayangnya, kesenangan itu harus terusik kala wanita menyebalkan bernama Cindy itu muncul sambil berkata, "Wow sepertinya ada yang sedang senang? Apa aku melewatkan sesuatu?"


Lara langsung memutar matanya seketika mengetahui Cindy muncul.


"Aduh kau mau apa sih Cindy, mau mengganggu Lara iya?" Sahut Olga.


"Mengganggunya? Untuk apa!?"


"Sudahlah kita pergi saja, aku malas mendengar polusi suara!"

__ADS_1


"Hei, apa katamua barusan!" Cindy menarik Lara yang baru saja bergegas ingin pergi darisana. "Berani sekali kau mengatai aku seperti itu!"


"Kau merasa?" Sahut Lara dengan santainya kepada Cindy.


Cindy yang tidak suka dengan sikap bicara Lara padanya pun kesal dan malam mencari ribut dengan mengatakan jika Lara tampak sombong dan menyebalkan hanya karena dia sekretarisnya CEO.


"Astaga Cindy, sepertinya rasa irimu pada Lara sudah level akut ya, sampai sudah tidak bisa diselamatkan lagi," sindir Jeha.


"Diam kau Jeha!"


Sementara Lara hanya bisa menghela nafas, saking dirinya yang benar-benar sudah merasa muak dengan segala celotehan Cindy yang tidak penting itu.


"Cindy cukup! Daripada kau terus-menerus mempertontonkan rasa irimu terhadapku, lebih baik kau banyak berkaca dan berbenah diri. Sebab, kau semakin hari semakin menyedihkan," ucap Lara seraya menegur wanita tersebut.


"Cih! Beraninya kau bicara begitu padaku, sini kutampar mulutmu!"


Untungnya Lara langsung sigap menahan tangan Cindy yang ingin menamparnya.


"Lepaskan tanganku!" Seru Cindy dengan tampang marah.


Lara pun langsung melepaskan tangan Cindy dan berkata, "Sudah kubilang waktu itu padamu, aku ini diam bukan berarti aku takut padamu, jadi aku harap ini terakhir kalinya kau ganggu aku. Karena jika kau berani ganggu aku lagi, aku bisa pastikan aku akan balasmu lebih, permisi!" Lara langsung melenggang pergi.


...🍁🍁🍁...


Sementara itu di atas atap Laizen tower nampak sosok Vander yang tengah berbicara dengan Yuna via telepon, sambil menikmati menghisap sebatang rokok di mulutnya.


Yuna : Jadi alasanmu ngotot minta padaku untuk tambah kuota perserta seleksi Lavioletta adalah, demi Lara Hazel sekretarismu itu?


Vander : Ya!


Yuna : Hem, aku mencium aroma pria yang sedang tergila-gila. Tapi terlepas dari itu, desain buatannya memang bagus.


Vander :... Sudah kutebak.


Yuna : Tapi kau jangan senang dulu, bagaimanapun penilaianku ini tetap akan objektif. Peserta lain juga desainnya bagus, jadi aku tidak akan pilih kasih dalam penilaian. Sekalipun kau bosku aku menjujung tinggi integritas dan profesionalisme.


Yuna : Oke, tapi tuan Vander kalau aku boleh tahu, kenapa kau peduli sekali pada sekretarismu itu?


Vander : Entahlah..., baiklah kalau begitu aku tutup teleponnya.


Vander langsung mematikan ponselnya dan kembali menghisap rokoknya.


...🍁🍁🍁...


Di ruangannya Lara tampak hanya sendirian disana, kebetulan bosnya hari ini memang sibuk sejak pagi jadi sejak pagi Lara belum melihat Vander sama sekali.


"Sepi juga kalau tidak ada dia disini," ungkap Lara merasa sepi karena tidak ada bosnya itu. Sepertinya Lara mulai merindukan kehadiran bosnya tersebut, melihat sejak dari tadi wanita itu terus saja beberapa kali memandangi kursi kerja, tempat Vander biasanya duduk.


Tidak lama kemudian, Vander pun datang memasuki ruangan. Tentunya perasaan Lara pun langsung dibuat senang rasanya melihat bosnya datang. Tapi karena sedang jam kerja, ia pun berusaha agar tidak terlalu menampakan ekspresi senangnya dengan menyapa senormal mungkin bosnya itu.


"Selamat datang Tuan Vander, kau sudah—" Lara seketika seolah syok saat ia melihat Vander malah seperti tidak peduli padanya.


Biasanya dia akan berhenti lalu menggodaku atau. menjahiliku setelah mendengar aku memberi ucapan sambutan, tapi kali ini kenapa—?


Lara langsung jadi merasa sedih dan tidak enak hati dibuatnya, melihat sikap Vander yang seperti tidak peduli Lara kali ini kemudian memandangi Vander yang sudah duduk disinggasanannya, namun sayang kali ini Van juga sama sekali tak memperdulikannya bahkan menoleh pun tidak. Lara jadi berpikir, apa mungkin Vander masih marah soal dirinya kemarin yang tidak mau melayaninya? Tapi semalam dia tampak lembut saat mengatarku pulang dan memintaku agar jangan menangis, tapi kenapa saat ini malah? Lara sungguh tidak tahu alasan kenapa Vander diam.


Sudah hampir dua jam di ruangan yang sama, namun baik Lara maupun Vander, benar-benar tidak saling bicara sama sekali. Disana keduanya hanya saling diam seolah pura-pura sibuk sendiri. Sampai pada akhirnya Lara ada kesempatan mendatangi meja kerja Vander untuk memberikan sebuah dokumen untuk ditanda tangani.


"Tuan Vander, silakan tanda tangani ini," Lara menyerahkan dokumen tersebut kepada bosnya untuk ditanda tangani. Namun lagi-lagi sama seperti sebelumnya, Vander tidak bicara apapun dan hanya menandatangani berkasnya tanpa menoleh pada Lara.


Merasa kesal dan tidak tahan dengan keadaan ini, Lara pun memberanikan diri untuk bertanya pada Vander, ada apa sebenarnya, "Kalau Tuan masih marah soal kemarin aku minta maaf, aku- aku tidak bisa— karena, huh?" Lara tampak terkesiap kaget saat melihat Vander tiba-tiba bangkit dari kursi dan langsung menatapnya serius dengan kedua matanya yang tajam.


"Jawab aku, saat kau izin kemarin kemana sebenarnya kau pergi?!"


Lara tidak tahu kenapa Van tiba-tiba bertanya begitu. Bagaimana ini, aku harus jawab apa?

__ADS_1


"Kenapa diam? Jawab aku." Vander mendongakan wajah Lara menghadap ke wajah pria itu.


"Itu, aku sebenaranya pergi ke—"


"Kenana?" Dengan suaranya yang dalam dan berat Vander terus mendesak Lara mengatakan kebenarannya. Vander ingin tahu apakah Lara akan jujur padanya atau malah berbohong.


Bagaimana ini? Apa aku bohong saja, tapi bukankah berbohong pun percuma, karena cepat atau lambat Vander pasti akan tahu juga kalau dirinya sudah punya anak.


Lara seraya menarik nafas dan menghembuskannya seraya memantapkan hati. Sementara Vander sendiri masih berdiri menatap Lara sambil menunggu pengakuannya langsung.


"Kemarin itu sebenarnya aku pergi ke sekolah anakku," ungkap Lara pada akhirnya mengaku.


Vander langsung sentengah tersenyum, ia puas Lara sudah jujur namun Van kembali menegaskan. "Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau sudah punya anak?"


"Itu karena—"


"Karena kau mau menggodaku, mau mendekatiku, dan menginginkan uangku begitu?"


PLAK!


Lara seketika mendaratkan tamparan keras di pipi Vander, matanya penuh kemarahan dan berkaca-kaca. "Serendah itukah aku dimatamu tuan, sampai kau berpikir begitu padaku!?"


"Aku tidak—" Vander seketika merasa sangat bersalah melihat Lara yang saat ini tampak sedih sekali.


"Kalau aku ingin uangmu, sudah sejak awal aku menggodamu. Kenapa kau jahat sekali Tuan Vander!" Tangis Lara pecah seketika hatinya perih mendengar suaminya bisa berpikir begitu padanya.


Vander tiba-tiba memeluk Lara. "Aku minta maaf tapi kumohon jangan menangis lagi, aku tidak mau melihatmu menangis."


Kenapa kau harus lupa padaku Vander, kenapa? Padahal aku sangat merindukanmu saat ini.


Setelah Lara selesai menangis dan menghapus air matanya, lagi-lagi Vander minta maaf pada Lara. "Jika kata maafku belum cukup juga, aku akan lakukan yang lain agar kau memaafkanku."


"Tidak perlu tuan, sebenarnya ini juga salahku karena aku tidak jujur padamu dari awal," terang Lara yang sebenarnya terpaksa tidak bicara jujur karena keadaan Vander yang kini tidak ingat tentangnya sama sekali.


"Lalu dimana suamimu?" Tanya Vander tiba-tiba


Dia ada disini tapi terasa sangat jauh, ungkap Lara dalam hati. "Dia... belum kembali."


"Nona Lara..." Vander tiba-tiba memegang kedua tangan sekretarisnya. "Aku tidak peduli kalaupun kau punya suami atau anak, yang aku tahu kau adalah karyawanku dan tanggung jawabku disini. Jadi kedepannya, aku ingin kau jangan sembunyikan apapun dariku."


Meski tidak ingat Lara, namun Vander masih memiliki sisi lembutnya yang tak berubah dari dulu. Lara tiba-tiba menarik tangannya dari genggaman Vander dan berbalik badan memunggungi bosnya itu.


"Tuan kau tahu aku ini kan sudah punya anak dan, uh!"


Vander tiba-tiba memeluk tubuh Lara dari belakang dan berkata, "Aku tidak peduli hal itu, yang aku pedulikan hanya dirimu, karena aku merasa nyaman tiap bersamamu."


"Tapi..."


"Jangan bergerak, biarkan aku memelukmu begini lebih lama."


Lara pun menurut dan tak bergerak, dalam hatinya ia hanya berharap, meski perlahan aku berharap dirimu akan mengingatku lagi. Dan saat itu terjadi aku akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini.


...🍁🍁🍁...


Kesesokan harinya Rey mendadak rewel tidak mau sekolah, alhasil Lara yang mau berangkat ke kantor pun jadi bingung dibuatnya, ditambah hari ini Emika sibuk sekali di kampusnya sehingga ia tidak bisa menjaga Reynder.


"Mama tidak usah bekerja!" Rey merengek pada mamanya supaya tidak berangkat kerja.


"Tapi kalau mama tidak bekerja kita makan apa? Begini saja, mama antar Rey dulu ke rumah sakit baru setelah itu mama antar kau pulang dan kembali ke kantor untuk izin bagaimana?"


"Tidak mau, tidak! Mama... aku mau sama mama saja, atau— bagaimana kalau aku ikut saja mama ke kantor!"


"Apa?"


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏


__ADS_2