
Setibanya di Laizen, Emika, dan Rey pun bermaksud lansung menuju ke ruangan Vander. Kebetulan Rey sudah pernah ke ruangan Vander jadi dirinya tahu dimana ruangan tersebut berada. Sayangnya saat mereka baru saja mau masuk lift, keduanya malah langsung dihadang oleh staf penjaga dan langsung diinterogasi. Hal itu dikarenakan baik Rey maupun Emika, keduanya sama-sama tidak punya id card pengunjung resmi Laizen tower, alhasil mereka dianggap sebagai tamu gelap.
"Tuan penjaga, aku dan anak disebelahku ini, kamil kenal kok dengan tuan Vander."
"Maaf Nona, tapi setiap hari banyak sekali orang-orang sepertimu yang datang dan mengaku kenal dengan tuan, nyatanya saat kami periksa mereka semua hanyalah penipu. Motifnya pun selalu terbaca, entah mengaku jadi adiknya, mengaku simpanannya, istrinya, dan banyak lagi. Jadi tolong silakan kau pergi dari sini dan bawa putra anda."
Putra? Padahal aku masih duapuluh tahun dan belum menikah! Penjaga ini menyebalkan!
"Paman penjaga," usik Rey menarik baju si penjaga itu.
"Iya adik kecil?"
"Paman penjaga, aku ini cuma mau bertemu dengan tuan Vander sebentar saja, masa tidak boleh?"
"Maaf tapi ini sudah jadi peraturan perusahaan ini."
"Paman aku mohon, mamaku juga bekerja disini kok!"
Penjaga itu mengusap dagunya. "Memang ibumu siapa?"
"Mamaku bernama Lara Hazel, dia— dia bekerja sebagai sekretarisnya tuan Vander."
"Kalau begitu coba telepon ibumu sekarang," desak si penjaga yang tetap tidak mau percaya ucapan Rey.
"Mama— dia sedang tidak dikantor, jadinya—"
"Sudahlah, aku tahu kalian berdua adalah penipu, jadi lebih baik sekarang kalian segera pergi atau aku paksa keluar," ancamnya sembil menggiring Rey dan Emika keluar.
"Tolong jangan usir aku— aku tidak mau pergi!" Seru Rey langsung mencoba kabur dari penjaga itu.
"Heh! Dasar anak nakal! Beraninya kau mencoba kabur?!" Penjaga itu pun meminta rekannya menahan Emika, sementara dirinya mengejar Rey yang kini berlari mencoba menyusup. Saking sulitnya menangkap Rey yang larinya cepat, ditambah kantoe yang sangat luas penjaga tersebut sampai meminta rekan penjaga lainnya untuk ikut menangkap Rey yang mau kabur menerobos masuk. Sayangnya saat mencoba kabur, Rey malah menabrak tubuh seorang pria hingga hampir terpental. Beruntung ia tidak terjatuh, karena tubuhnya langsung dipegangi oleh tangan pria yang ditubruknya itu.
Rey yang memejamkan mata karena mengira sudah jatuh ke lantai, malah kaget saat membuka matanya dan mendongak."Eh?"
"Kau kenapa disini?" Ujar pria yang tidak lain adalah pemilik Laizen grup itu sendiri.
"Nah kesini kau anak nakal! Tuan Vander maaf anak itu—"
Takut ditangkap Rey pun langsung bersembunyi dibalik tubuh Vander dan mengadu padanya, "Tuan Vander, paman-paman penjaga itu jahat, mereka mau menangkapku dan bibi Emi!"
"Apa?" Vander langsung menatap keempat orang penjaga kantornya dengan tatapannya yang serius.
"Tu-,tuan, kami hanya— menjalankan tugas, anak itu dan ibunya ini tidak bawa tanda pengenal sebagai tamu, jadinya kami—"
"Aduh aku bukan ibunya! Lepaskan aku!" Emika melepaskan dirinya dan langsung ikut bersembunyi dibelakang Vander mencari perlindungan. "Tuan mereka tidak ramah, penjaga kantor Laizen menyebalkan!"
"Tuan kami hanya—"
"Kalian semua kembali saja kerja, dua orang ini aku. kenal mereka, jadi kalian tidak usah cemas, mereka bukan orang jahat."
"Ba- baik tuan! Kami akan kembali kerja lagi!" Jawab kelima penjaga dengan serempak.
"Tunggu!" Seru Vander hingga membuat kelima penjaga itu kembali berbalik badan dengan raut wajah ketakutan.
"Tuan ampuni kami. Kami kurang peka kalau mereka—"
"Minta maaf pada dua orang ini!" Titah Vander menyuruh pegawainya itu minta maaf pada Rey dan Emika.
"Baik!" Dan akhirnya mereka pun minta maaf.
Dan setelah itu, Vander pun langsung mengajak Rey dan Emika untuk ke ruangannya. Sayangnya Emika menolak, karena merasa tidak enak karena takut orang dikantor ini akan berpikir kalau dirinya...
"Itu tidak mungkin, kau bukan seleraku kok!"
"Iya tuan, selera anda itu yang cantik dan berkelas seperti mamanya Rey. Sudahlah aku tunggu di lobi bawah saja," ucap Emika menyuruh Van dan Rey pergi saja berdua.
Setibanya di ruangan Vander, dirinya langsung menyuruh Rey untuk duduk dan memberikannya minuman kaleng.
"Terima kasih, pa- paman," ucap Rey menerima sekaleng jus dari Vander.
Anak ini kenapa tidak memanggilku papa lagi? Pikir Van yang entah kenapa merasa tidak senang dipanggil paman oleh Rey.
Rey sebenarnya bukanya tidak mau memanggilnya papa, tapi dia takut Vander sebenarnya tidak suka dipanggil begitu.
"Hei, ada apa kemari? Katakan saja," ujar Vander langsung duduk disebelah Rey.
"Um— sebenarnya aku kemari untuk—" Rey akhirnya bercerita kepada Vander kalau akan ada pertemuan anak dan keluarga disekolah, dan ia secara khusus meminta Van untuk jadi perwakilan sebagai papanya. "Aku tahu paman belum tentu mau, tapi setidaknya aku sudah katakan itu padamu, jadi semuanya terserah padamu," ungkap Rey pasrah.
Seketika pria itu pun malah tertawa kecil. Vander lalu menyuruh Rey angkat kepalanya dan semangat. "Jangan pasang wajah pasrah begitu, aku tidak suka pria yang mudah pasrah dan lemah."
"Em apa maksudnya—"
"Tenang saja, lusa aku akan datang sebagai papamu."
"Benarkah?"
"Ya!"
__ADS_1
"Ah aku senang sekali!" Ujar Rey kegirangan lalu langsung memeluk Vander dan berkata, "terima kasih ya papa."
Van pun langsung tersenyum lagi mendengar Rey memanggilnya papa.
Dan tak lama kemudian, masuklah Lara yang baru saja kembali dari Lavioletta, wanita itu tampak terengah-engah hingga membuat Van dan Rey bingung.
"Mama kenapa?"
"Kau kenapa Nona?"
"Tidak aku— tadi kukira ada hal buruk yang terjadi, karena di lobi tadi aku bertemu Emika dan katanya Rey kemari, jadi—"
"Aku tidak buat onar kok mama, aku cuma sedang menemani papa bekerja saja."
"Eh? Papa?" Lara membulatkan kelopak matanya saking kaget mendengar Rey memanggil papanya dengan sebutan yang memang seharusnya.
"Mama ayo sini duduk disebelahku!" Pinta Rey. Tentu saja Lara pun langsung datang dan duduk disebelah Rey.
"Mama, papa, aku ingin kalian berdua lusa pergi menemaniku di pertemuan orang tua dan anak di sekolah," jelas Rey.
Jadi dia datang kemarin untuk ini? Lara langsung mengusap kepala putranya sambil tersenyum dan berkata, "Tentu sayang, mama pasti akan datang."
"Kalau papa?" Rey menoleh ke arah Vander berusaha meyakinkan kalau papanya juga akan datang.
"Ya, aku juga pasti datang," jawabnya santai.
"Asyik!" Rey terlihat begitu gembira, akhirnya kali ini dia akan lengkap ditemani orang tuanya. Lara dan Vander pun sama-sama memeluk putra mereka.
Setelah mengatakan maksud kedatangannya, Lara pun meminta Rey agar segera pulang, mengingat ia dan Vander masih harus menyelesaikan pekerjaan. Reynder pun menurut. Akhirnya dengan diantar Robert, Rey dan Emika pun akhirnya kembali pulang.
Pekerjaan pun berlanjut, kali ini Lara harus menyerahkan proposal dari beberapa perusahaan yang ingin mengajak bekerjasama. Wanita itu pun langsung menghampiri meja kerja bosnya dan menyerahkannya.
"Ini tuan beberapa proposal dari perusahaan yang ingin mengajak anda kerja sama," tutur Lara kemudian meletakan tumpukan proposal itu diatas meja Vander.
"Tunggu!"
Vander tiba-tiba saja memegang pergelangan Lara karena melihat ada gelang yang melingkar disana.
"Em, ada apa tuan Vander?"
"Gelang ini? Apa aku juga dulu memberimu gelang seperti ini?" Tanya Vander melihat ke arah Lara dengan raut wajah penasaran.
"... Bukan, gelang ini—" Lara akhirnya memberitahukan kepada sang suami itu kalau, gelang tersebut adalah hadiah pemberian dari Eiji. Mendengarnya tentu saja jiwa posesif Vander langsung bergejolak, ia pun segera menyuruh Lara melepaskan gelang itu saat itu juga.
"Ta- tapi Vander, ini kan hanya hadiah biasa. Kenapa...?"
"Tapi..." Lara nampak agak bimbang. Bagaimana ini? Aku hanya menghargai pemberian kak Eiji, tapi suamiku dia sangat posesif dan cemburuan, aku harus apa?
"Lara lepas, atau aku yang lepaskan?!" ucapnya pelan namun terasa mengancam.
"Ah i- iya baiklah," akhirnya Lara pun melepaskan gelang tersebut. Vander langsung menarik sang istri duduk diatas pangkuannya. Pria itu pun berbisik ditelinga sang istri, "Kalau kau mau gelang, aku akan belikan gelang yang seratus kali lebih bagus daripada itu."
Lara tersenyum hambar lalu menjelaskan kalau dia memakai gelang itu hanya untuk menghargai Eiji, karena selama ini sudah baik dan peduli padanya.
"Kenapa aku rasanya kesal sekali kalau kau membicarakan kebaikan pria lain saat bersamaku?" Ucap Vander.
Lara tertawa lalu menepuk pipi suaminya itu dan berkata, "Kau terlalu posesif tuan Vander."
"Ya aku memang posesif, karena aku tidak mau wanitaku memikirkan pria lain selain aku."
Lara menatap Vander dengan tatapan seolah menggodanya. "Kau tergila-gila padaku Vander?"
"Ya, aku gila setiap kali memikirkanmu," jawab Vander merapatkan kelapanya kedekapan dada sang istri.
"Lalu apa kau sudah ingat kenangan kita dulu?"
"Belum, tapi aku bisa merasakan perasaan nyaman yang seperti sudah terbiasa, setiap kali bersamamu."
Ternyata dia belum ingat juga, apa aku harus biarkan saja ingatannya tidak kembali? Toh saat ini dia sudah mau menerima Rey kan? Tapi tidak, bagaimanapun Vander berhak dan harus tau semua memori miliknya. Terutama tentangku, dia harus ingat itu lagi.
Lara mendorong wajah Vander dari dekapanya dan berkata sambil membelai wajah tampannya. "Dengar, aku masih menunggumu mengingat semuanya. Kau tahu, sejak pertama kali kita berhubungan, kau selalu mencoba mewujudkan apapun yang aku inginkan. Aku tidak tahu, apa saat ini kau akan sama seperti dulu, tapi aku berharap kau tetap mencintaiku melebihi aku mencintaimu. Mungkin terdengar egois, tapi begitulah yang aku tahu tentang suamiku. Aku begitu mencintainya karena dia yang sangat-sangat mencintaiku. Jadi... Jangan kecewakan aku ya, sayang?"
Vander tersenyum dan membalas, "Yes! I love you Lara."
"I love you too." Dan mereka pun berciuman.
...🍁🍁🍁...
Di hotel Caliente tempat Emily menginap saat ini, wanita itu tampak sedang bersantai dipinggir kolam. Memakai bikini super seksi dan kacamata hitam, wanita itu terlihat sedang berjemur sambil menikmati segelas jus. Tak lama manajernya yang bernama Naomi itu pun muncul menghampirinya.
"So, Naomi jadi bagaimana? Apa tuan Vander dia sudah punya kekasih atau semacamnya?"
"Dari info yang aku tahu sih belum, pria itu justru kerap sekali suka berada di kelab malam bersama para wanita cantik sambil minum-minum."
"Begitu ya? Ya wajar saja, siapa juga yang mau menolak pria sesempurna dia?"
"Hei Emily, aku rasa kau tidak usah mendekati tuan Vander, aku takut sekali kau malah akan kecewa dibuatnya. Pria itu sepertinya agak brengsek dan pastinya dia berbahaya. Dia bukan orang sembarangan, dia bisa menghancurkanmu dan karirmu bahkan hanya dengan sekali menjentikan jari."
__ADS_1
"Aku suka dengannya, dia memiliki apa yang aku cari pada semua pria selama ini. Aku tidak mau mundur, aku yakin dia akan bertekuk lutut padaku nantinya."
"Huft... Terserah kau sajalah!" Balas Naomi pasrah.
...🍁🍁🍁...
Hari pertemuan pun tiba, hari itu Lara terlihat datang ke sekolah bersama putranya diantar oleh supir suruhan Vander. Di dalam mobil Rey tampak agak gelisah, mengingat Vander tidak datang bersama dengannya dan Lara, karena harus menyelesaikan urusan penting terlebih dahulu. Oleh sebab itu Vander memutuskan akan menyusul nanti setelah pekerjaannya selesai.
"Mama, apa papa akan datang?" Tanya Rey khawatir.
Lara sendiri tidak bisa memastikannya dengan seratus persen, disisi lain dirinya pun tidak mau melihat putranya bersedih. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya juga tidak ingin memberikan harapan terlalu tinggi pada putranya.
"Pasti kemungkinan tidak datang, aku kan bukan anak aslinya pasti dia—"
"No Reynder! Jangan bicara begitu, Vander dia itu akan selalu menepati janjinya. Jadi teruslah yakin kalau papamu akan datang," ucap Lara meyakinkan anaknya.
Rey mengangguk pelan. Tampaknya pria kecil itu tidak bisa bohong kalau kini ia sangat gelisah dan ragu kalau papanya akan datang.
...🍁🍁🍁...
Setibanya di sekolah, Rey dan mamanya pun langsung menuju ke aula. Disana Rey terlihat murung, apalagi saat ia melihat semua anak bersama papa dan mamanya, sementara Rey? Ya, lagi-lagi dirinya hanya ditemani oleh mamanya seorang diri. Rey menatap ke seluruh anak yang ada disana, tak terkecuali Leo yang kini seraya tengah menatapnya dengan tatapan mengejek. Alhasil Rey semakin memuncak emosinya kala itu. Kenapa kau tidak juga datang? Kau bilang mau datang? Mama bilang kau selalu menepati janji, tapi mana? Kau bohong! Aku sungguh ingin kau jadi papaku, tapi kenapa kau malah seperti ini?
Selama acara berlangsung Rey seperti tidak bisa lagi menahan perasaannya, ia pun tiba-tiba saja bangkit dari kursinya dan erlari keluar aula ditengah-tengah acara.
"Rey? Kau mau kemana?" pungkas Lara.
"Nyonya ada apa?" Tanya ibu kepala sekolah melihat Rey berlari keluar aula.
"Tidak apa ibu guru, anda teruskan saja acaranya aku akan kejar anakku dulu."
Lara akhirnya mengejar putranya tersebut. Diarea sekitaran taman sekolah, dirinya menoleh kesana kemari mencari putranya berada.
"Itu dia!" Lara langsung bergerak menghampiri Rey yang saat itu duduk bersedih diatas ayunan seorang diri.
"Sayang...kenapa kau kemari? Acaranya kan belum selesai."
"Aku tidak mau berada disana! Mereka semua terutama Leo pasti sedang berpikir kalau aku ini memang pembohong. Aku kan sudah terlanjur bilang kalau aku akan bawa papaku hari ini, tapi nyatanya apa? Dia tidak datang ma... Huu..." tangis Rey pecah saat itu juga. Melihat putranya manangis seperti itu, Lara pun langsung tak tega dan sedih dibuatnya. Ia pun segera mencoba menangkan Rey dengan berkata, "Sayang, kau tidak perlu menangis, kan masih ada mama disini."
"Tapi aku kan cuma ingin seperti anak lain. Aku ingin orang lain tahu kalau aku juga punya papa, walau cuma sekali saja, aku— aku tidak mau lagi dibilang anak pungut terus mama, huhu..."
Lara pun tak kuasa menahan air matanya, ia pun menangis lalu memeluk putranya itu. "Maafkan mama sayang, mama tidak bisa memberikan apa yang kau butuhkan."
"Eh? Mama jangan menangis, maafkan aku sudah buat mama menangis." Tidak mau membuat Lara menangis terus, Rey pun seketika berhenti menangis dan segera menghapus air matanya. "Mama aku sudah tidak apa-apa, sekarang kita kembali ke aula ya... Sama mama saja juga sudah cukup kok!" Ujar Rey berusaha tampak baik-baik saja agar sang mama tidak bersedih lagi.
"Rey memang anak baik," ucap Lara terharu lalu menggandeng putranya kembali ke aula.
Di aula akhirnya dimulai sesi setiap anak menceritakan keluarga mereka. Rey yang sejatinya masih sedih pun berusaha kuat menghadapi keadaan saat ini.
"Baiklah, kali ini giliran Reynder bersama orang tuanya maju ke panggung, mari kita beri tepuk tangan," sambut bu guru mempersilakan Rey.
Rey menghela nafas, Lara pun langsung menyemangati putranya itu sebelum naik panggung.
"Mama aku..."
"Kau bisa sayang, karena kau anak mama yang hebat!"
"Em!" Angguk Rey kemudian melangkah ke atas panggung dengan yakin.
Vander kuharap kau tidak mengecewakan putramu hari ini!
Diatas panggung, Rey pun mulai bicara dengan microphone ditangannya. "Hai semua, namaku Reynder. Hari ini aku akan menceritakan tentang keluargaku. Aku punya mama yang sangat baik, dia juga sangat cantik dan dia duduk disana. Mama setiap hari mengurusku, membuatkanku berbagai macam masakan lezat dan dia juga mengajariku banyak pelajaran. Mama— dia sangat sayang padaku, saking sayangnya dia padaku dia rela lakukan apapun demi aku. Dia juga...."
"Nak, dari tadi kau terus cerita soal mama, mama, dan mama. Apa selain mama kau tidak punya orang lain untuk diceritakan?" Ujar ibunya Leo yang sengaja mengatakan hal itu karena masih dendam dengan Lara.
"Ah iya, nak papamu bagaimana? Apa dia bekerja terus sampai kau tak tahu wujudnya?" sambar orang tua murid lainnya.
Eh iya kalau tidak salah, anak ini tidak punya ayah kan?
Wah padahal mamanya cantik sekali, jangan-jangan anak hasil merebut suami orang?
Lihat ibunya masih tampak sangat muda tapi anaknya sudah sebesar ini.
Ya, nyonya itu seusia adikku tapi adikku baru saja menikah tahun ini.
Apa anaknya hasil hubungan gelap ya?
Lara yang bisa mendengar para orang tua murid lain saling berbisik membicarakan dirinya dengan konotasi negatif langsung membuatnya risih.
Aku harus apa? Bagaimana aku membela putraku? Kenapa mereka serendah itu menilaiku? Kenapa mulut mereka jahat sekali!
"Sudahlah turun saja, dia itu anak pungut makanya sampai kapanpun juga tidak akan punya ayah!"
"Siapa yang kau sebut anak pungut!"
Huh suara ini kan, Vander?
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS