
Di kantor, saat Lara tengah menikmati waktu break time-nya di kantin bersama Jeha dan Olga, tiba-tiba saja kedua temannya itu langsung heboh membicarakan soal video klarifikasi Cindy kemarin. Sebenaranya bukan cuma mereka berdua yang heboh, tapi hampir semua karyawan Laizen Grup kini memang tengah heboh-hebohnya saling membicarakan hal tersebut.
"Kalian sudah lihat kan videonya? Jujur saja aku tidak habis pikir, kok bisa dia sampai segila itu hanya karena sakit hati. Padahal kalau dipikir, untuk apa dia sakit hati toh tuan Vander saja tidak pernah tahu kalau dirinya ada," pungkas Jeha.
"Namanya juga cinta berbalut obsesi, makanya tidak sehat. Padahal lebih baik seperti Jeha, walau usia sudah tiga puluh enam dan belum punya pasangan, tetap santai tuh," tandas Olga diikuti tawa meledek.
"Sialan kau Olga!"
Sementara Lara yang ada duduk bersama kedua wanita itu malah terlihat hanya ikut tertawa sambil menikmati segelas smoothies.
"Lara kau dari tadi hanya tertawa saja, apa tidak mau ikut berkomentar? Padahal Cindy itu kan rivalmu di kantor ini," ujar Jeha.
"Iyakah? Tapi aku tidak pernah berpikir dia rival," jawab Lara tersenyum sambil membatin. Tentu saja dia bukan rivalku karena sejak awal kan aku sudah menang.
"Iya juga sih, apalagi dari semua sisi kau jauh lebih unggul dibanding Cindy, tidak pantas juga dibilang rival."
"Maksudku, Rival dalam mendapatkan cinta bos kita yang tampan itu loh Olga, kau begitu saja masa tidak paham?"
"Iya aku tahu, tapi tetap saja dari sisi manapun Lara yang menang kan?"
"Iya sih, eh tapi Lara jawab jujur, kau itu selama jadi sekretarisnya tuan Vander benar tidak ada apa-apa?" Tanya Jeha penasaran.
Kedua wanita itu tampak ingin tahu sekali hubungan Lara dan bosnya itu. Pasalnya beberapa minggu terakhir ini, selain Emily, Lara juga disebut-sebut oleh orang kantor tengah memiliki hubungan khusus dengan CEO Laizen tersebut.
"Jadi, kau dengan tuan Vander sudah sejauh apa?" Telisik Olga dan Jeha yang semakin menggebu-gebu ingin tahu.
"Em- i- itu aku..." Ya ampun, bagaimana ini? Aku harus sebut apa, dibilang tidak ada hubungan jelas aku dan Vander punya hubungan, dibilang punya tapi tidak bisa seenaknya orang tahu. Huft, membuat pusing saja! "Sebenarnya aku dan tuan Vander— kami hanya dekat biasa saja kok."
"Ah masa? Mana mungkin ada pria setampan dia kau tidak ada rasa tertarik sama sekali? Ayolah mengaku saja, kita sudah sama-sama dewasa kok!"
Aduh mereka ini jiwa ingin tahunya kenapa besar sekali sih!
"Ti- tidak kok kak, aku dan Vander, eh maksudku tuan Vander, kami— hanya sekedar—"
"Nah kan, buktinya saja kau barusan menyebut tuan Vander cuma namanya, apa itu yang namanya dekat biasa saja? Sudah cepat cerita hubunganmu dengannya." Jeha semakin mencecar Lara.
Sementara Olga malah tertawa karena melihat Lara yang jadi gugup dan salah tingkah dibuatnya. "Jeha, coba lihat wajah gugup Lara kita, manis sekali kan, pasti tuan Vander kalau lihat langsung ingin menerkamnya."
"Kalian ini jangan begitu, tidak enak kalau pegawai lain dengar, nanti aku dikira karyawan yang suka menggoda bosnya," keluh Lara sedikit ngambek.
"Aduh Lara kecil kita sepertinya ngambek, yasudah maafkan kami deh..."
"Iya maaf kan kami. Aku dan Jeha cuma menggodamu saja kok, habisnya siapa yang tidak penasaran. Mengingat kau adalah sekretaris pertama dan satu-satunya tuan Vander yang bisa bertahan sampai berbulan-bulan. Sebelumnya mana ada, yang ada mereka malah diusir, dipecat atau malah mengundurkan diri saking tidak kuatnya. Sementara kau terlihat baik-baik saja sampai detik ini."
"Um- mungkin karena kerjaku cepat dan sesuai standarnya."
"Tentu saja standarnya CEO kita itukan yang cantik dan punya badan bagus seperti Lara," goda Olga lagi.
"Tolong hentikan..."
"Sudah-sudah jangan digoda lagi, tapi bicara soal standar. Standar priamu seperti apa sih Lara? Aku penasaran, wanita secantik dirimu standar prianya seperti apa sih?" Tanya Jeha.
"Standar, yang jelas dia baik dan mencintaiku apa adanya."
Olga dan Jeha menganga seolah tak percaya. "Mana mungkin!"
"Loh memang kenapa?"
"Lara, kau itu secara fisik sempurna, masih muda dan kau juga pintar, mana mungkin standarmu hanya begitu. Pasti kau bohong kan? Oh, atau jangan-jangan standarmu itu si arsitek tampan dari Revoir alias tuan Eiji Hartman iya kan?"
"Eh- bu- bukan kok, kalau kak Eiji dia itu teman masa kecilku, aku sudah menganggapnya seperti kakak."
"Benar hanya kau anggap kakak? Berarti Jeha punya kesempatan dong!" Ujar Olga mencolek temannya itu.
"Memang, kak Jeha suka pada Eiji?"
"Ucapan Olga tidak usah kau anggap, mulutnya memang suka asal bicara! Tapi— kalau tuan Eiji mau denganku yang sudah cukup berumur sih aku tak menolak."
Lara tertawa, "Kak Eiji sudah tiga puluh tahun tahun ini, kak Jeha berapa?"
"Aku tiga puluh enam."
"Tidak apa, mungkin saja tuan Eiji suka sama yang lebih tuan hahaha..."
Bicara soal Eiji, Lara jadi teringingat hubungan dirinya dengan Eiji yang saat ini tidak terlalu baik sejak kemarin. Rasanya jadi seperti ada yang mengganjal.
"Hei Lara kok melamun, oh iya ini ada beberapa bingkisan coklat dan surat untukmu." Olga memberikan tas tentengan berisi beberapa coklat, boneka, dan surat kepada Lara.
"Eh ini apa?"
"Itu dari penggemarmu, lebih tepatnya pemujamu dari divisiku. Pria single disana semua bertanya padaku apa kau masih single atau tidak? Dan mereka titip itu semua padaku."
"Enak ya jadi Lara, sudah cantik, masih muda, banyak yang suka, sementara aku? Huft!" Keluh Jeha yang agak iri pada Lara.
"Tenang kak Jeha, aku yakin kau pasti juga banyak yang suka kin."
"Jangan menghiburku Lara..."
Mereka bertiga pun tertawa, dan disaat yang sama, tiba-tiba saja ponsel Lara berbunyi tanda pesan masuk. Ia pun langsung membuka pesan itu lalu membacanya. Panjang umur, baru saja Eiji dibicarakan orangnya tiba-tiba malah mengirim pesan.
Dari Eiji.
^^^Lara, soal kemarin aku minta maaf. Sebagai ucapan maaf, maukah kau bertemu denganku besok untuk ku traktir makan siang bersama?^^^
__ADS_1
Lara sebenarnya sudah tidak terlalu marah pada Eiji, toh Eiji pun tak sepenuhnya salah. Akhirnya Lara pun membalas.
"Aku sudah memaafkanmu. Oke, besok kita ketemuan di kafe Oliver."
^^^Dari Eiji^^^
^^^Terima kasih sudah memaafkanku, dan sampai jumpa besok.^^^
...🍁🍁🍁...
Di ruangan Vander, terlihat Robert yang tengah menemuinya untuk memberitahukan kalau, dokumen pengalihan hak kekuasaan atas seluruh aset dan harta milik Vander sudah selesai diurus di kantor hukum, dan sisanya hanya tinggal ditanda tangani saja oleh Vander dan juga Lara.
"Ini tuan dokumennya." Robert menyerahkan dokumen tersebut kepada tuannya.
Pria itu membuka dokumen tersebut lalu membacanya. Dan setelah itu Vander pun tampak tersenyum mengambil bolpoin berwarna hitam emas miliknya, kemudian menanda tanganinya.
"Oke, setelah ini aku tinggal minta Lara menandatanganinya," ungkap Vander dengan raut wajah seolah tanpa beban.
"Tuan maaf tapi, bukankah setelah nona Lara tanda tangan, itu tandanya anda benar-benar tidak akan punya apa-apa lagi? Tapi kenapa wajah anda malah tampak senang?" Robert sampai terheran-heran dibuatnya dengan tuannya itu.
"Memang aku harus apa? Justru aku merasa sangat lega, karena akhirnya aku tahu sudah mengambil langkah tepat. Mengingat, Lara itu ibu dari garis keturunanku yang sah. Setidaknya sampai Rey dewasa nanti semua aset Laizen dan hartaku akan aman ditangan Lara yang notabennya adalah ibu kandung Reynder, dan sebagai jaga-jaga kalau seandainya aku tiba-tiba saja mati."
"Ternyata anda sudah memikirkan semua hal sejauh itu."
"Lalu penyelidikan soal Jeden bagaimana?"
"Kalau soal itu, aku sudah minta tolong pada tuan Gavin dan juga beberapa orang dari Crux. Dan dari semua laporan yang aku terima, mereka semua mengatakan kalau jejak Jeden tiba-tiba saja hilang saat melarikan diri tepat di hari yang sama dimana anda menangkap nona Cindy."
"Kau yakin?" Vander tampak tidak yakin.
"Sejauh ini hanya itu info yang aku dapatkan Tuan."
Dengan sorot matanya yang tajam, Vander menatap serius seraya berpikir tentang kejangalan menghilangnya Jeden secara tiba-tiba. Jika Jeden ke luar kota atau ke luar negeri, tentu akan lebih mudah dilacak lewat catatan migrasi, atau bahkan bisa lewat akses data penduduk saat ini. "Tapi apa kalian sudah melacak di pendataan kantor migrasi dan sejenisnya?"
"Tim dari Crux bahkan sudah melakukan hal itu tuan, tapi sama sekali tidak ada identitas Jeden Lee disana."
Apa mungkin Jeden mengganti identitasnya? Tidak, kalaupun ia mengganti identitas tidak mungkin dalam sehari, aku pernah melakukan itu dulu saat di Crux. Apa mungkin...?
"Mungkinkah dia..." Vander seketika terpikirkan sesuatu hal.
"Mungkin apa tuan?"
"Ini masih dugaan sementaraku, tapi kemungkinannya lima puluh persen. Aku berpikir Jeden diculik seseorang."
"Di- diculik? Oleh siapa?"
"Itu yang aku belum tahu, tapi bisa jadi orang itu justru musuhku. Musuh yang ingin memanfaatkan musuhku yang lainnya."
"Tuan, ma- maksud anda Gauren?"
"Baik tuan, kalau begitu aku permisi."
Vander berpikir, kalau benar Jeden ada hubungannya dengan Gauren sudah pasti ini akan jadi masalah yang lebih besar. "Sial, kalau memang begitu, itu tandanya aku harus semakin waspada dan lebih ektra lagi menjaga istri dan anakku."
...🍁🍁🍁...
Disebuah ruangan yang redup dan sepi, Jeden yang baru saja sadar dari pingsannya seketika kaget menyadari kalau kaki dan tangannya diikat, dan mulutnya dibungkam. Pria itu lalu meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan ditangan dan kakinya. Namun sayang, simpul ikatannya terlalu kuat sehingga sama sekali tak bisa dilonggarkan.
Sial! Lepaskan aku! Siapa yang berani menculikku begini! Hey brengsek! Seperti itulah sekiranya suara jeritan Jeden saat ini, namun karena tidak bisa berteriak, akhirnya ia pun hanya bisa mengerahkan suaranya sampai tenggorokan.
Tak lama kemudian, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Dari ambang pintu tersebut, Jeden melihat orang-orang berpakaian jas serba hitam bertubuh tinggi tegap layaknya pengawal, datang mengiringi seorang pria yang wajahnya tak terlalu jelas terlihat dikarenakan penerangan yang minim. Meski begitu Jeden bisa melihat perawakannya, pria itu bertubuh lumayan tinggi, mengenakan setelan jas berwarna putih dengan jas hitam panjang yang menutupi bahunya sambil membawa sebilah tongkat perunggu berbentuk ular.
Siapa pria itu? Yang jelas dari tampilannya pria itu pasti bosnya.
Pria itu lalu berjalan mendekati Jeden yang kini terbujur dilantai dengan kondisi tak bisa apa-apa. Semakin dekat, hingga akhirnya Jeden bisa melihat jelas wajah pria itu. Dia ternyata seorang pria yang sudah cukup berumur, mungkin sekitar lima puluhan, namun tubuhnya masih tampak tegap dan gagah.
"Apa kabar tuan Jeden Lee?"
Seketika raut wajah Jeden langsung tegang dan matanya terbelalak kaget mendengar pria itu buka suara. Su- suara ini? Marion Gauren? Ja- jadi dia...?
Jeden tampak ketakutan melihat Gauren, tubuhnya pun langsung panas dingin dibuatnya. Tentu bukan tanpa alasan Jeden ketakutan, mengingat setelah ia meminjam uang sebanyak dua ratus juta dollar amerika pada pria berumur ini, Jeden malah seolah menghilangkan jejak.
"Kenapa kau kaget begitu melihatku nak? Bukankah, beberapa waktu lalu saat kau meneleponku meminta pinjaman dana kau terdengar angkuh sekali?" Ucap Gauren dengan wajah ramah, namun jelas wajah ramahnya itu berbanding terbalik dengan isi kepalanya.
Pria ini, di- dia auranya sangat mengerikan! Pekik Jeden dalam hati.
"Lepas penutup mulutnya!" Seru Gauren.
"Baik tuan!"
Dengan kasar penutup mulut Jeden pun dibuka. Tapi meski begitu, mulut Jeden seolah tetap tak bisa mengatakan apa-apa, dirinya seperti tersihir dengan aura mengerikan sosok Gauren hingga sulit bicara.
"Tidak mau bicara ya?" Gauren mengangkat alisnya lalu memerintahkan anak buahnya, "Kalau begitu potong lidahnya, lalu beri makan tubuhnya pada singa kelaparan!"
Jeden yang langsung ketakutan pun pada akhirnya memaksa bicara dengan suara bergetar memohon pengampunan. "K- ku- kumohon ampuni aku tuan Gauren, a- aku akan lalukan apa saja asal kau ampuni aku...!"
Gauren tersenyum hambar. "Kukira kau bisu." Gauren lalu memandangi Jeden yang saat ini tengah dalam posisi berlutut.
"Kau ternyata memang lemah, aku jadi menyesal meminjamkanmu uang. Kalau dibanding Vander kau tidak ada seujung kukunya anak itu."
"Aku tidak lemah! Aku tidak sudi kalah dari pria itu!" Pekik Jeden yang sangat tidak suka dibandingkan dengan Vander.
"Wah kau sepertinya benci sekali pada Vander ya?" Tanya Gauren sambil berjalan mengitari Jeden.
__ADS_1
"Iya aku benci, tidak bahkan aku sangat membenci pria itu! Dia— dia pantas mati saja!"
"Wah... kebencian yang mendalam berselimut dendam, aku suka sekali ini," ucap Gauren sambil bertepuk tangan. Ia lalu mendekati Jeden dan berkata, "Tapi sayangnya kau tidak akan pernah bisa mengalahkan Vander, kau itu lemah dan cengeng!"
"Aku tidak lemah aku—"
BUGH!
Gauren tiba-tiba menendang kepala Jeden hingga pria itu tersungkur dan muntah darah.
"Bangun anak cengeng!" Seru Gauren.
"Uhuk! Uhuk! Eeuhghh..." Jeden yang pelipisnya terluka masih tersungkur dan batuk-batuk darah karena kesakitan. Tak Lama Jeden yang berusaha kembali bangun pun berhasil bangung. Setelahnya ia kembali di tendang oleh Gauren, dan sayangnya kali ini Jeden sama sekali tak berdaya untuk kembali bangun.
Gauren pun langsung sentengah tertawa seraya mengejek Jeden. "Ternyata memang sangat lemah! Memang benar, cuma Vander kesayanganku yang paling kuat!"
Jeden yang mendengarnya dihina dan dibandingkan dengan Vander ingin sekali marah namun tidak bisa, ia justru akhirnya malah pingsan.
"Bawa anak itu ke lab!" Titah Gauren.
"Baik tuan!"
...🍁🍁🍁...
Lara yang baru saja kembali ke ruangan setelah mengambil dokumen di divisi keuangan, tiba-tiba saja malah dikagetkan oleh suaminya sendiri yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya.
"Vander! Kau mau membunuh istrimu ya!" Pekik Lara sambil memegangi dadanya karena kaget.
Vander tertawa lalu memeluk sang istri dari belakang dan minta maaf. "Maaf ya sayang, jangan marah begitu aku kan hanya bercanda," sesal pria itu.
"Kau ini kan tau kalau aku gampang kaget!"
"Iya maafkan aku, jangan marah lagi ya istriku yang cantik, please...!" Ungkap Vander dengan mata memelas.
"Kau ini memang paling bisa kalau merayuku pakai tampang melas begitu," Kesal Lara yang sebenarnya sudah memaafkan suaminya sejak awal.
Vander lalu tersenyum dan seketika menyuruh sang istri duduk di kursi kerja miliknya.
"Tu-tunggu, kenapa kau tiba-tiba menyuruhku duduk ditempatmu?" Lara tampak keheranan.
"Sudah duduk saja," jawab Vander
Lara pun akhirnya duduk disana, sayangnya ia malah jadi semakin bingung melihat sang suami malah memberikannya sebuah bolpoin. "Vander ini ada apa sih sebenarnya? Aku semakin tidak mengerti," keluh Lara yang kebingungan.
Namun Vander sama sekali tak menghiraukan ucapan Lara, dirinya justru malah meletakan sebuah berkas dokumen dihadapan sang istri dan memintanya untuk tanda tangan.
"Tu- tunggu dulu, tanda tangan apa? Ini berkas apa sebernarnya Vander?!"
Vander menghela nafas lalu berkata dengan lembut. "Kau tanda tangan dulu disini dan disini, setelah itu kau bisa baca sendiri isi yang tertulis di lembaran kertas-kertas itu."
Karena malas berdebat dengan suaminya, Lara pun akhirnya menurut dan menandantangani berkas tersebut. "Sudah kutanda tangani," pungkas Lara.
Vander lalu tersenyum, dan menyuruh sang istri membaca lembaran kertas yang telah ia tanda tanganinya tersebut.
Dengan pelan Lara pun membaca isi berkas tersebut. "Surat pemindahan hak kepemilikan aset Laizen grup atas nama Vander Liuzen kepada Lara Haz-" Lara seketika kehabisan kata-kata. Ia lalu langsung menoleh menatap sang suami yang kini berdiri sambil tersenyum disebelahnya.
"Va- Vander kau sungguhan lakukan ini, ka- kau menjadikan semua aset yang kau punya atas namaku? Ka- kau..."
"Sttt... Ini sudah keputusanku, mulai hari ini kau pemilik Laizen Grup beserta seratus lima puluh milyar dollar kekayaanku, maksudku kekayaanmu."
Mata Lara tak kuasa berkaca-kaca menatap suaminya saat ini. Entah ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan, yang ia ingin lakukan hanya langsung memeluk pria yang ia cintai itu sambil berterima kasih, "Terima kasih."
Vander yang mengetahui sang istri menitikan air mata pun langsung menghapusnya dan berkata. "Kenapa kau menangis? Kau itu harusnya senang karena jadi milyarder dadakan."
"Iya aku senang karena aku tiba-tiba kaya mendadak, hanya saja kukira kau tidak serius mengatakan ingin memberikan semua hartamu ini padaku."
"Memang kapan aku tidak serius padamu? Kan sudah kubilang, apapun yang kau inginkan akan kulakukan untukmu, sekalipun itu mustahil pasti akan aku coba lakukan."
Lara membelai wajah Vander dan tersenyum menatapnya. "Terima kasih sudah menjadi suami terbaik di dunia."
"Sama-sama."
"Jadi mulai hari ini aku bosnya kan?"
Vander mengangguk. "Ya, jadi ibu bos, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Um— menurutku, karena tuan Vander sudah bekerja keras maka dia pantas dapat hadiah."
"Benarkah? Apa aku boleh minta hadiah apapun?'
"Tentu saja"
Vander berbisik, "Kalau begitu aku minta ibu bos menemaniku bermain sampai puas boleh?"
Lara langsung mengecup bibir suaminya. "Apapun boleh untuk karyawanku yang satu ini."
"Terima kasih bosku yang cantik, sekarang sudah cukup basa basinya." Vander langsung menggedong istrinya dan membawanya berbaring di sofa sementara dirinya berada diatasnya menatap sang istri dengan tatapan seolah ingin menerkam. Jemarinya yang panjang dan lihat seketika sudah melepaskan satu persatu kaitan kancing di kemeja Lara.
"Um— Vander apa kita tidak sebaikanya—"
"Sttt...! Maaf sayang, tapi kalau untuk yang satu ini bosnya tetap aku, jadi menurutlah..."
Lara pun tak bisa berkutik sama sekali kali ini. Mereka terhanyut dalam buaian kenikmatan cinta yang terajut mesra oleh tiap helaian kasih sayang.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS