
Setelah selesai mandi dengan istrinya, Vander langsung mengeringkan rambut Lara. Keduanya saat itu masih mengenakan bathrobe mengingat mereka tak memiliki pakaian ganti disana. Tapi untungnya pelayan disana paham dan tiba-tiba saja sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Vander dan juga Lara.
Setelah rambutnya kering, Lara melihat di dirinya sendiri di cermin kecil yang ia pegang. Ia melihat dirinya sedikit berbeda karena belum terbiasa dengan rambutnya yang kini pendek. Ternyata setelah rambutnya agak dirapikan oleh sang suami Lara merasa dirinya tidak terlalu buruk dengan rambut sependek ini.
"Kau sudah cantik sejak lahir, jadi gaya rambut apapun tidak akan mengurangi kecantikanmu," ucap Vander seraya ingin membuat sang istri semakin percaya diri dengan tampilannya saat ini.
"Benarkah? Lalu kau sendiri lebih suka yang mana? Aku berambut panjang atau pendek?"
"Apapun tentangmu aku pasti suka," jawab pria itu lalu mencium pipi sang istri.
Tak lama, tiba-tiba saja datang seoramg pelayan mengetuk pintu ruangan.
"Ada apa?!" Seru Vander dari dalam ruangan.
"Tuan maaf mengganggu anda, aku hanya ingin memberitahukan kalau dokter yang akan memeriksa nyonya sudah datang."
"Baiklah aku dan istriku akan bersiap sebentar lagi."
"Baik tuan, aku permisi."
Lara tidak tahu kalau Vander memanggil seorang dokter.
"Kapan kau memanggil dokter?"
Vander mencubit lembut hidung Lara yang mancung. "Itu tidak penting, yang terpenting sekarang mari kita berpakaian lalu biarkan dokter memeriksa keadaanmu. Atau..." Vander berbisik di telinga Lara. "Atau kau ingin aku memakaikanmu baju juga?"
"Eh- ti- tidak usah, aku bisa sendiri kok!" Jawab Lara agak malu.
Di ruangan itu Lara akhirnya diperiksa oleh dokter, mulai dari suhu tubuh, tekanan darah, detak jantung, hingga semua lukanya diperiksa. Dan untungnya tidak ada ditemukan luka serius ditubuh Lara.
"Jadi istriku baik-baik saja?"
"Iya tuan, nyonya sejauh ini baik-baik saja. Kondisi tubuhnya juga sudah mulai stabil. Untuk memar-memarnya nanti akan sembuh sendiri, dan luka dikaki nyonya akan segera sembuh asal jangan terlalu sering kena air dan jangan banyak berjalan dulu."
"Kalau kandunganku bagaimana dokter?"
"Kandungan anda juga baik-baik saja, tapi meski begitu tetap tidak boleh lalai menjaganya, karena sebentar lagi anda sudah memasuki usia minggu-minggu persalinan. Jadi tolong tuan jaga istri anda baik-baik."
"Aku mengerti dokter."
"Karena aku juga sudah berikan obat dan vitamin untuk nyonya. Kalau begitu aku pamit," ucap dokter yang kemudian pamit pergi.
Setelah Lara diperiksa dan diberi obat-obatan, Vander meminta pelayan disana untuk membuatkan sup daging dengan jahe ntuk ibu hamil.
"Oh iya nona pelayan tolong kau masak sup ayam herbal juga."
"Baik nyonya aku akan segera buatkan," ucap pelayan yang kemudian langsung bergegas ke dapur.
Vander mengerutkan keningnya dan bertanya pada sang istri, "Apa kau selapar itu sayang sampai mau makan dua jenis sup?"
__ADS_1
Lara tersenyum membelai wajah suaminya. "Yang tadi itu bukan buatku, tapi untukmu. Kau pasti lelah kan?" Meski Lara tahu daya tahan dan stamina suaminya lebih kuat dari kebanyakan orang tapi tubuhnya juga pasti butuh nutrisi. Ia tidak mau Vander mengabaikan kesehatannya demi dirinya.
"Kau yang harusnya dapat perhatian lebih, tapi kenapa masih saja memikirkanku?"
"Karena kau suamiku, sebagai istri aku tetap harus memperhatikanmu."
Vender tersenyum dan memuji Lara. "Kau memang istri terbaik, terima kasih istriku..."
"Sama-sama." Keduanya pun berciuman mesra.
...πππ...
Di laboratoriumnya Dominic, Reki yang sudah sadarkan diri terlihat mengamuk di dalam ruangan isolasi. Disana ia terus saja berteriak-teriak minta dilepaskan borgolnya.
"Lepaskan aku! Sialan kalian semua!"
Sejak siuman, Reki memang langsung mengamuk. Ia berteriak dan memberontak diatas tempat tidur sambil mengeluarkan bergai umpatan dan sumpah serakah.
Dan sebagai orang yang bertanggung jawab membawa Reki ke lab, Eiji pun masuk ke ruang isolasi untuk melihat langsung keadaan Reki.
"Miris!" Kata itu satu-satunya yang ada dibenak Eiji saat melihat pria malang dihadapannya saat ini.
"Brengsek! Lepaskan aku! Sialan kau, aku akan membunuhnya, aku akan membunuh Vander!" Umpat Reki seperti orang tidak waras.
"Kau masih terjebak dalam obsesi dan rasa benci Reki, aku sarankan kau agar merelakan dan menerima semuanya agar kau tenang."
"Berisik! Kau itu pria lemah, aku bukan kau yang dengan bodoh mau merelakan Lara dengan si busuk Vander itu!"
Karena Reki terus-terusam berteriak dan mengamuk, alhasil Eiji terpaksa menyuruh dokter untuk menyuntikan obat penenang pada Reki.
Setelah Reki tenang dan tertidur, Eiji pun keluar meninggalkannya. Saat baru keluar ruangan tiba-tiba Eiji malah berpapasan dengan Gavin.
"Tuan Gavin?"
"Oh tuan Eiji, kau habisβ?"
"Iya, aku habis melihat keadaan Reki."
"Bagaimana dia, apa semakin parah?"
"Ya begitulah, pria itu tetap saja dengan rasa dendam dan obsesinya. Entah apa yang akan Vander lakukan saat ia tahu kalau Reki sudah menyiksa Lara selama diculik."
"Apa?! Jadi Reki sialan itu menyiksa kak Lara? Astaga... aku bertaruh kak Vander pasti akan murka sekali padanya."
"Itu sudah pasti. Oh iya kau habis darimana tuan Gavin?"
"Oh aku baru saja selesai menelepon istriku," jawab Gavin malu-malu.
"Mira ya, apa dia baik-baik saja? Kudengar dia tengah mengandung bukan?"
__ADS_1
"Iya kau benar."
"Kau pasti akan jadi ayah yang hebat!" Ucap Eiji sambil menepuk pundak Gavin.
"Terima kasih. Dan kau sendiri tuan Eiji, aku rasa kau harus menemukan kebahagiaanmu juga segera."
Eiji tersenyum kecil. Bagi Eiji sampai detik ini belum ada satupun wanita yang bisa menggeser posisi Lara dari relung hatinya. Tapi setidaknya Eiji sudah bisa merelakan wanita yang dicintainya itu pada pria yang tepat.
"Sudahlah Gavin, sepertinya aku harus pergi. Akibat kekacauan di sebagian kota ZR kemarin, pemerintah bagian tata ruang kota meminta bantuanku untuk meninjau kerusakan pada fasilitas umum."
"Kau selalu produktif ya tuan Eiji, kau memang keren!"
"Terima kasih pujiannya, kalau begitu aku pergi dulu. Oh iya sampaikan juga salamku pada Mira saat kau bertemu dengannya."
"Tentu saja!" Gavin melambaikan tanganya ke arah Eiji yang sudah berjalan pergi. Sejujurnya Gavin merasa kasihan pada Eiji. Melihat pria sebaik dan seperhatian dia malah tidak beruntung dalam kisah cintanya. "Huft! Karena pada akhirnya tuan putri lebih memilih pengawalnya yang bermasalah dibanding teman lamanya yang hidup damai. Lucunya drama kehidupan ini..."
...πππ...
Setelah selesai makan dan beristirahat sebentar, akhirnya Lara dan Vander tiba waktunya untuk kembali ke kota tempat tinggal mereka dan meninggalkan rumah milik mendiang Gauren tersebut. Vander juga sudah meminta helikopter untuk datang menjemputnya dan Lara.
Sebelum pergi, Lara dan Vander terlihat penghormatan terakhir untuk mendiang Gauren di rumah tersebut. Di ujung ruangan dekat perapian, Lara dan Vander terlihat berdoa bersama didepan foto mendiang Gauren untuk mengantar kepergiannya.
Paman Gauren, aku tak sempat berterima kasih padamu. Tapi aku yakin kau bisa mendengar suara hatiku. Aku tak mengenalmu dengan baik, tapi aku bisa merasakan dirumah ini, kalau kau adalah tuan yang baik bagi para pelayanmu disini. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku disisa hidupmu. Sekarang pergilah dengan tenang dikeabadian aku Lara mendoakanmu.
Kau memang bukan pria baik, sama halnya aku. Tapi satu hal paman, aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu dan menganggapmu sebagai figur ayah. Bagaimanapun kau yang telah mengajariku banyak hal, dan menjadikanku pria yang kuat sampai saat ini. Terima kasih atas semuanya, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu padaku, jadi sekarang tidurlah dengan tenang disana paman.
Setelah selesai memberikan penghormatan terakhir, Lara dan Vander pun bersiap pergi mengingat helikopter yang menjemput mereka sudah tiba. Disana Lara berpamitan pada semua pelayan dan anak buah Gauren.
"Terima kasih kalian sudah mau merawatku."
"Sama-sama nyonya, kami senang mengenal anda. Setelah ini kami juga akan pergi dari rumah ini."
Vander tiba-tiba menyerahkan kunci pada pelayan perempuan itu dan berpesan. "Kalian bisa tinggal disini, rumah ini akan tetap ada jadi tolong rawat. Anggap saja rumah ini adalah tempat peristirahatan terakhir tuan kalian, jadi jagalah baik-baik."
Semua anak buah Gauren terharu dan berterima kasih pada Vander.
"Sudah ya semuanya, kami pergi dulu," Tandas Lara yang kemudian dibantu Vander naik helikopter diikuti dirinya.
"Hati-hati tuan dan nyonya...!"
Lara dan Vander akhirnya naik helikopter meninggalkan rumah Gauren yang ada di perbukitan itu. Keduanya saling tersenyum dan berpegangan tangan.
"Vander, setelah ini apa kita bisa hidup tenang dengan damai?"
"Tentu saja, setelah ini kita akan hidup bahagia."
"Bernjanjilah kau akan selalu menjagaku dan keluarga kita."
"Aku janji Lara, setelah semuanya yang terjadi, aku akan membuatmu jadi wanita paling bahagia didunia."
__ADS_1
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π