Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Pacarnya?


__ADS_3

Akhirnya Van dan Lara pergi jalan-jalan keluar namun, selama menyetir Van tidak tahu akan kemana, pasalnya ia hanya mengikuti arahan dari Lara yang duduk disebelahnya. Beberapa kali Van melirik Lara, dan sejak berangakat hingga sudah hampir dua puluh menit berada di perjalanan, Lara tak bicara apa-apa. Van pun lantas bertanya, "Nona, kita mau kemana?"


Suara Lara menghela nafas pun terdengar.


"Kemana saja, yang penting tidak di sekitar kantor."


Raut wajah gadis cantik itu jelas menggambarkan kalau saat ini pikirannya tengah terganggu hingga membuatnya tidak senang.


Apa yang harus Van lakukan untuk menghibur Nonanya itu?


"Nona, suasana hatimu sedang tidak baik ya, apa ada masalah dengan pekerjaan di kantor?" Tanya Van.


Lara tersenyum pilu. Ia kemudianya bertanya pada pengawalnya itu, "Van menurutmu apa aku adalah bos yang baik?"


"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?"


"Jawab saja, aku bos yang baik atau tidak. Dan menurutmu apa saat ini aku pantas menduduki jabatan tertinggi di Miracle menggantikan kakek dan ayahku?"


Van tiba-tiba menghentikan mobilnya di dekat sebuah taman kota. Ia menoleh dan menatap bos di hadapannya itu dengan tatapan serius namun lembut.


"Nona, apa ada yang mengatakan hal buruk tentangmu?"


Lara diam saja.


"Pasti ada yang mengatakan hal tidak menyenangkan tentangmu ya?" Van merasa Lara tengah dalam fase banyak tekanan di posisinya saat ini di perusahaan.


"Kau belum jawab pertanyaanku tadi Van," Lara mengingatkan.


Van pun ktersenyum kecil lalu berkata, "Nona, seumur hidup selama aku bekerja, aku belum pernah punya bos sebaik dirimu memperlakukan bawahannya. Bahkan aku sering berpikir kalau kau terlalu baik sehingga membuat bawahan Nona jadi banyak yang tidak tahu diri!" Van teringat akan Jeden dan pegawai bersih-bersih tadi. Mengingat apa yang mereka lakukan terhadap Lara membuat Van ingin meledak rasanya.


"Begitu ya? Tapi kau bicara begitu bukan hanya karena sedang bersamaku kan?"


"Kalau tidak percaya Nona bisa membelah dadaku dan lihat sendiri isi hatiku."


"Eh?" Lara tercengang dengan jawaban Van. "Aku hanya bercanda kok, kau ini kenapa kaku sih," ucap Lara sambil sedikit terkekeh.


Mendengar suara Nonanya mulai sedikit ceria lagi Van jadi lega rasanya.


"Lagipula memang ada orang yang lebih pantas menduduki kursi CEO selain Nona Lara Hazel?" Tanya Van.


"Ada."


"Siapa?"


"Kau!"


"Aku?" Van tercengang.

__ADS_1


Lara pun jadi tertawa dibuatnya melihat ekspresi wajah pengawalnya itu. Van ikut senang melihat Lara tertawa seperti itu di hadapannya. Tak berselang lama setelah puas tertawa, Lara merasa tenggorokannya kering hingga membuatnya ingin minum sesuatu yang segar, dan kebetulan di dekat taman itu ada truk penjual es krim dan minuman.


"Van aku mau beli minuman itu!" Kata Lara sambil menunjuk truk penjual minuman itu dari dalam mobil.


"Baiklah aku akan belikan buat Nona." Van membuka sabuk pengamannya Lalu bergegas untuk keluar. Namun oleh Lara lengan Van ditahan. "Tunggu dulu!"


"Ada apa Nona?"


"Aku tidak mau ditinggal sendirian. Lebih baik kita sama-sama beli saja ya," pinta Lara dengan raut wajah yang entah kenapa jadi imut sekali dimata Van. Tentu saja Van langsung mengiyakannya dengan mudah.


**


Van dan Lara pun berjalan mengahampiri truk penjual bebagai macam minuman itu. Disana juga ada beberapa remaja sekolah putri yang tengah membeli minuman.


"Nona mau rasa apa biar aku pesankan," tanya Van.


Lara melihat menu yang tertera di truk minuman tersebut.


"Mmm... Aku mau smoothies dengan topping ice cream vanilla. Kalau kau mau minum apa?" Tanya Lara.


"Sejujurnya aku tidak terlalu suka minum minuman seperti ini," jelas Van.


"Kenapa? Minuman di pinggir jalan begini justru enak sekali loh... Kau harus beli juga, aku tidak mau minum sendirian!" Pungkas Lara seolah memaksa Van memesan juga.


"Baiklah kalau begitu aku akan pesan soft drink saja."


Saat Van tengah memesan minuman, beberapa remaja putri yang tengah membeli minuman pun menggoda dirinya.


"Hai paman, paman tampan sekali deh!" Ujar salah satu remaja putri itu.


"Paman mau tidak traktir kami," goda remaja yang lainnya.


"Paman, nama paman siapa? Umur paman berapa, aku enam belas tahun. Paman sudah punya pasangan atau belum?" Sahutnya lagi.


Dari tempatnya menunggu, Lara yang melihat remaja-remaja itu menggoda Van langsung dibuat kesal. "Dasar bocah genit! Masih kecil sudah merayu om-om asing!" Gerutu Lara sambil terus memberi tatapan tidak suka pada remaja-remaja itu.


Van sendiri tidak nyaman dengan para remaja putri yang kini mengganggunya. Sontak ia pun menoleh ke arah Lara dan benar saja, Van langsung mendapat tatapan sinis dari bosnya. Astaga...! Van tau persis kalau tatapan Lara begitu tandanya ia tidak senang. Van pun akhirnya meminta para remaja itu untuk tak mengganggunya, ia juga bilang kalau dirinya sudah punya pacar.


"Oh jadi paman sudah punya pacar?" Kata remaja itu.


Van mengangguk satu kali. Sebenarnya ia hanya bohong bilang punya pacar supaya mereka berhenti mengganggu Van.


Kemudian salah satu remaja itu melihat ke arah Lara yang tengah duduk menunggu tidak jauh dari mereka.


"Pacar paman itu kakak cantik yang duduk disitu ya?" Tanya salah seorang remaja sambil melihat ke arah Lara.


Van tidak berani mengiyakan, pasalnya ia tadi bilang punya pacar juga hanya alasan saja.

__ADS_1


"Huft kecewa, ternyata paman ini sudah punya pacar, yasudah ayo kita pergi saja!" Ajak ketua geng mereka.


Para remaja itu pun pergi meninggalkan Van dan malah berjalan mendekati Lara.


"Mau apa mereka mendekati Nona?" Tanya Van melihatnya was was.


"Hai Nona!" Sapa remaja itu.


"Ada apa?" Tanya Lara.


"Paman itu pacar Nona kan?" Ujar remaja itu sambil menunjuk Van


Lara seketika kaget ditanya begitu. "Um anu ituโ€”"


"Nona harus jaga pacar Nona kalau tidak nanti bisa direbut wanita lain. Meskipun nona sangat cantik, tapi tetap harus hati-hati dengan para wanita-wanita ****** di luaran sana," terang salah satu remaja itu. "Yasudah kalau begitu kami duluan ya kakak cantik, bye..." Ujar para remaja itu kemudian pergi.


"Aku pacarnya Van?" Lara memegangi pipinya, wajah Lara memerah karena malu. Lara melihat langsung ke arah Van yang tengah membeli minuman."Jadi tadi dia bilang aku ini pacarnya?" Lara jadi senyum-senyum tipis dibuatnya.


Tak lama berselang Van akhirnya datang membawakan minuman Lara.


Dia kesini!


Lara pun langsung kembali bertingkah biasa. Sebenarnya ia ingin tanya soal yang dirinya dikira pacar Van, tapi Lara agak malu untuk menanyakannya.


"Ini Nona!" Van memberikan minuman pesanan Lara.


"Terima kasih," balas Lara.


Keduanya pun kini sama-sama duduk. Tiba-tiba Van bertanya pada Lara apa yang dikatakan para remaja tadi saat menghampirinya.


"Sebenarnya..." Lara pun mengatakan soal dirinya yang dikira pacar Van.


Van pun jadi malu dan minta maaf. "Nona maafkan aku karena sudah membuatmu dikira yang aneh-aneh oleh mereka."


Lara tertawa melihat Van yang panik dan berkeringat. "Sudahlah tidak apa-apa, aku tidak marah atau kesal sama sekali kok!" Justru di dalam hati Lara malah senang.


"Aku hanya tidak ingin Nona marah karena aku didekati gadis-gadis itu makanya aku bilang aku sudah punya pacar, tapi malah mereka langsung mengira kalau pacarku itu Nona,"ungkap Van sambil menahan malu.


Lara senyum kecil, melihat Van yang malu dan agak jaga gengsi seperti ini di hadapannya benar-benar membuatnya gemas.


Di sisi lain ternyata ada Karina Foster yang tak sengaja lewat taman dan melihat keakraban Lara dan Van dari dalam mobil. "Jadi Lara juga mengenal Van?" Ujarnya tidak senang.


"Sial! Kenapa harus ada Lara diantara aku dan pria incaranku! Lagipula Van itu siapanya Lara?" Karina yang tentu tidak mau mengalah sedikitpun pada Lara memikirkan cara supaya dirinya bisa dekat dengan Van. "Bagaimana pun aku harus bisa medekati dan mendapatkan Van. Tapi bagaimana caranya?" Karina mencoha memutar otak, tak lama ia pun medapatkan sebuah ide. "Hem sepertinya aku tau caranya," ucap Karina diikuti senyum penuh intrik.


Bersambung....


Jangan lupa, vote, like commentnya ya ๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2