
Selesai membersihkan noda dipakaiannya Lara pun kembali ke bangku taman tempat dimana Miranda menunggunya.
"Sudah bersih?" Ucap Mira.
"Sudah, lalu kita kemana lagi sekarang?" Tanya Lara.
"Bagaimana kalau kita pulang saja?"
"Um— kalau memang maumu begitu yasudah," ucap Lara yang sebenarnya tampak belum mau kembali. Karena bagi Lara jika ia kembali pulang pasti ia akan kesepian di rumah.
"Lara coba kau telepon suamimu minta dia menjemputmu."
Seketika Lara langsung dibuat tertegun mendengar Mira tiba-tiba bicara begitu.
"Kenapa kau diam saja, biasanya kau paling suka bermanja-manja menelepon suamimu. Ayo cepat telepon dia," desak Miranda.
"Itu— "Bibir Lara terasa kelu, seolah tak mampu berkata apa-apa saat ini.
"Kalau kau minta Vander datang menjemputmu, pasti dia akan datang kan?"
"Miranda—" Lara yang tertunduk pilu, ia menggigit bibir sambil mengepalkan kedua tanganya diatas pangkuan untuk menahan tangisnya yang mulai tak terbendung.
Sementara Mira malah terus menghujani Lara dengan segala perkataan terkait suaminya yang hingga kini tidak jelas dimana keberadaannya. Lara sendiri takut mengatakan kalau Vander telah pergi, ia tidak sanggup mendengar orang lain mengatakan kalau ia sudah ditinggalkan oleh suaminya. Lara tidak mau dianggap wanita malang yang dicampakan.
"Lara!" Mira memekik kesal. "Lara kau sebenarnya kenapa sih? Jawab aku jangan diam saja, ada apa sebenarnya antara dirimu dan Vander!?" Emosi Mira membuncah, dan akhirnya tangis Lara pun pecah dihadapan Mira.
"Lara ada sebenarnya?" Ucap Mira dengan nada Lirih.
Sambil menangis tersedu-sedu Lara memeluk Miranda dan mengatakan, "Mira Vander- Vander sudah pergi hu..." Isak tangis Lara semakin memuncak setelah mengatakan hal tersebut, seolah beban berat yang ia tahan dihatinya selama ini akhirnya bisa ia tumpahkan.
Miranda masih belum paham maksud Lara namun ia tak mau memaksanya bicara dan malah memilih untuk membiarkannya menangis sampai lega.
Setelah puas menangis keras, Lara yang sudah merasa cukup stabil emosinya pada akhirnya menceritakan kepada Miranda kalau sebenarnya, Vander sudah dua minggu tidak pulang dan tidak ada menghubunginya sama sekali.
"Si brengsek itu!" Mira mengepalkan tangannya merasa geram. "Kenapa kau tidak bilang padaku dari kemarin!"
__ADS_1
Lara hanya tersenyum dalam sembilu "Aku takut Mira, aku takut kalau ada yang tahu, kalian pasti akan berpikir kalau Vander telah mencampakanku, aku tidak mau itu terjadi Mira, aku tidak mau orang melihatku begitu huhu..." Air mata Lara kembali berlinang.
"Tapi kenyataannya dia memang meninggalkanmu kan?"
"Aku juga tidak tahu kenapa dia pergi. Apa mungkin karena aku istri yang buruk oleh sebab itu dia pergi? Mira sebenarnya apa kesalahanku? Kalau aku salah aku akan memperbaikinya, tapi aku tidak tahu apa salahku hingga membuatnya meninggalkanku? Beritahu aku Mira..." Lara menangis menyalahkan dirinya sendiri.
Mendengar Lara menyalahkan diri sendiri membuat batin Mira marah tak terima. "Tidak Lara, ini bukan salahmu! Kau sama sekali tidak bersalah, si baj¡ngan itu yang patut disalahkan. Kau wanita yang baik bahkan kau hampir sempurna sebagai seorang wanita, pria itu saja yang tidak tahu diri!" Miranda benar-benar geram saat ini pada Vander. Ia sungguh tidak menyangka Vander yang ia pikir bisa menjaga Lara, kenyataannya malah berbuat setega ini. Miranda jadi ikut merasa bersalah karena ikut mendukung hubungannya dengan Vander brengsek itu. Bagaimana mungkin seorang suami tega meninggalkan istrinya yang sedang mengandung anaknya. Baj¡ngan itu memang tidak pantas untuk Lara.
"Seandainya aku menyadari kehamilanku lebih cepat, mungkin Vander tidak akan pergi, pasti dia akan disini bersamaku. Heh, aku ini memang istri yang bodoh sekali," tutur Lara meyalahkan dirinya lagi.
"Sudah, kumohon berhenti menyalahkan dirimu dan hal yang sudah terjadi. Ini bukan salahmu, ini semua bukan salahmu Lara. Baj¡ngan itu yang nyatanya tidak pantas untuk wanita sebaik dirimu." Mira memeluk Lara yang kini berderai air mata.
**
Hari demi hari berganti, sudah sebulan lebih sejak Lara menerima fakta kalau suaminya memang telah pergi meninggalkannya. Meski berat, Lara harus tetap menjalani kehidupannya sebaik mungkin, karena bagaimana pun saat ini ada kehidupan lain yang ia bawa di dalam rahimnya.
"Halo Gavin, nanti tolong kau jemput aku dirumah sakit ya," ucap Lara lewat telepon.
...
Lara mematikan teleponnya dan kembali berjalan melewati koridor rumah sakit. Dengan mengenakan dress selutut yang pinggangnya agak longgar, wanita itu berjalan menuju ruangan dokter Ilana untuk kontrol kandungan.
Setibanya di ruang tunggu Lara langsung duduk dan menunggu gilirannya diperiksa. Sambil menunggu dirinya dipanggil masuk, Lara pun menyibukan diri dengan membaca buku tentang kesehatan ibu dan bayi.
Saat tengah asyik membaca, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang juga tengah hamil besar duduk disebelah Lara ditemani pasangannya. Seketika Lara langsung melihat keadaan di sekelilingnya, wajah cantiknya langsung berubah sedih melihat para wanita yang datang cek kandungan semuanya ditemani oleh pasangan mereka, sementara dirinya satu-satunya yang datang sendirian. Jujur di dalam lubuk hatinya, Lara merasa iri, sedih, dan juga kecewa melihat keadaannya yang seperti saat ini. Ingin rasanya menyerah pada keadaan, tapi itu tidak mungkin, karena bagaimana pun dirinya ingin tetap kuat demi anak yang ada didalam perutnya.
"Nona Lara Hazel, silakan masuk!" Seru perawat memanggil namanya. Lara pun bergegas masuk ke ruangan dokter untuk kontrol.
Di dalam ia melakukan cek USG karena kandungan Lara sudah memasuki minggu ke-13 dimana itu fase trimester ke-2 bentuknya anaknya pun sudah semakin besar. Lara tampak tersenyum melihat tumbuh kembang bayinya di layar monitor, dokter bilang bayi Lara sangat sehat dan perkembangannya sangat bagus.
"Kau sepertinya menjaga pola makan dengan sangat baik," puji dokter.
Ya, sejak Lara memutuskan untuk fokus menjaga kehamilannya ia memang sangat memperhatikan asupan dan nutrisi yang ia konsumsi.
Setelah melakukan berbagai prosedur pemeriksaan, dokter pun hanya memberi saran Lara untuk terus jaga kesehatan dan jangan terlalu stress.
__ADS_1
Saat tengah menunggu catatan pemeriksaanya di tanda tangani, dokter Ilana tiba-tiba bertanya, "Nak, kalau aku boleh aku tau dimana ayah dari bayimu? Maaf jika aku lancang, tapi aku perhatikan beberapa kali kemari kau selalu sendirian."
"Um— suamiku..., dia- dia sedang ada urusan di luar kota jadi tidak bisa mengantarku," terang Lara terpaksa berbohong karena ia tidak mau orang sampai berpikir kalau anaknya tidak memiliki ayah.
"Oh begitu. Yasudah, maaf ya atas pertanyaan lancangku."
"Iya dokter, kalau begitu aku permisi."
Setelah selesai cek kandungan, Lara segera menuju keluar rumah sakit ternyata disana suda ada Gavin yang datang menjemputnya.
"Kakak sudah selesai? Bagaimana kata dokter," tanya Gavin penasaran.
"Nanti saja diperjalanan aku jelaskan."
Sambil menyetir Gavin pun bertanya lagi soal keadaan bayi Lara. Lara kemudian menjelaskan kalau bayinya sehat dan tumbuh dengan baik.
"Oh iya Gavin bisakah kau bawa aku ke makan keluargaku? Tiba-tiba saja aku ingin berziarah ke makam mereka."
"Baik,"
Setibanya di pemakaman, Lara langsung membeli bunga untuk dibawa ke makan kedua orang tua dan kakek neneknya. Sementara Lara berziarah, Gavin pun menunggu di mobil.
Setibanya dimakan keluarganya, Lara langsung membersihkan makam-makam tersebut dan meletakan bunga-bunga yang dibawanya di atas makam, dan kemudian mendoakan keluarganya.
"Ibu, Ayah, Kakek, Nenek, hari ini aku habis melihat calon anakku semakin tumbuh besar. Aku kemari ingin kalian tau kalau cucu dan cicit kalian sehat sekali."
Setelah selesai berziarah Lara pun pergi meninggalkan makam, namun saat dirinya hendak berjalan pergi tiba-tiba saja ada suara pria terdengar memanggil namanya dari belakang.
"Lara?"
Langkah wanita itu pun berhenti dan langsung membalikan badannya seraya memastikan siapa pria yang barusan menanggilnya itu.
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜
__ADS_1