Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Memergoki


__ADS_3

Robert menemui Vander yang tengah menikmati sebatang rokok di atap gedung Laizen tower.


"Jadi bagaimana hasil penyelidikanmu kemarin?" Ucap Vander sambil sedikit menoleh kebelakang menantap asistennya tersebut.


Robert pun akhirnya menjelaskan kepada tuannya kalau, untuk konsumsi dapat dipastikan mereka sama sekali tidak menyediakan menu makan ataupun minuman yang terdapat kandungan nanas di dalamnya. "Aku sudah mengeceknya satu persatu, dan benar memang sama sekali tidak ada unsur buah nanas di menu mereka. Aku juga telah menginterogasi chef dan para bawahannya, dan dari semua yang aku interogasi itu juga terbukti kalau tidak ada diantara mereka yang merasa membuatkan jus dengan campuran nanas."


"Apa kau sudah yakin?" Telisik Vander lalu kembali menghisap rokoknya.


"Sebenarnya tuanku, masih ada satu staf pelayan yang tidak bisa aku temui. Pelayan itu bekerja sebagai pembantu di unit dapur yang bertugas menyiapkan bahan baku masakan. Aku rasa orang itu perlu dicari karena bisa jadi saksi atau tersangka baru."


"Ya kau benar, dan orang itu pasti sudah melarikan diri atas perintah pelaku utama yang menyuruhnya." Vander yakin seratus persenย  jika orang yang berniat menyelakai anaknya itu pasti bukan orang biasa.ย  "Tapi meski begitu Robert, aku mau kau tetap beri pelajaran kepada orang-orang yang bertanggung jawab di bagian konsumsi, serta chef dan juga bawahannya. Bagaimanapun mereka harus diberi ganjaran, karena sudah lalai dan menyebabkan anakku jadi dalam bahaya."


"Baik tuan akan aku lakukan."


"....."


"Oh iya tuan, sebelum aku pergi. Aku ingin katakan padamu sesuatu."


"Apa?"


"Aku merasa sejak anda dan nona Emily kemarin disorot penuh oleh awak media, hal itu mengakibatkan jadi banyak wartawan yang menunggu anda diluar gedung. Sepertinya mereka ingin meminta klarifikasi terkait hubungan anda dengan nona Emily."


Vander menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "... Aku heran, kenapa para awak media itu suka sekali menggoreng berita bodoh serta tidak mendasar."


"Ya mau bagaimana lagi, anda dan nona Emily adalah figur besar, bukan hal aneh jikaโ€” mereka pasti menyoroti anda."


Vander tesenyum dingin. "Usir wartawan itu, kalau tidak mau pargi siram saja dengan water canon.


"T- ta-tapi tuan,"


"Lakukan saja yang aku minta!"


"Baik tuan," tidak berani lagi membantah, akhirnya Robert pun melakukan apa yang diperintahkan bosnya tersebut.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di studio tempat syuting iklan, saat ini Emily yang berada di ruang ganti sendirian terlihat baru saja selesai menelepon seseorang. Setelah itu ia juga terlihat tengah menghapus pesan dari ponselnya. Wanita itu tampaknya terlihat lebih tenang setelah ia menghapus pesan tersebut. "Huft! Untung saja aku sudah memberi pegawai dapur itu uang cukup banyak, kalau tidak dia pasti masih akan berada di kota ini dan mengadu pada Vander dengan bilang, kalau akulah yang meminta dirinya untuk buat jus nanas untuk bocah kecil nakal itu!"


"Emily?"


"Huh?" Emily seketika gelagapan saat tiba-tiba saja manajernya itu datang.


"Hei Emily, kenapa kau malah memasang wajah terkejut? Cepatlah kau keluar, diruang make up kau sudah ditunggu penata rias."


"I- iya, iya dasar cerewet!"


Setelah tiba di ruang tata rias, Emily pun langsung di rias, disana juga nampak beberapa model figuran iklan yang tengah membicarakan Emily. Mereka sepertinya tengah membicarakan soal gosip kedekatan Emily dengan CEO Laizen grup.


Menurut kalian berita Emily dan Tuan Vander benar tidak sih?


Entahlah, tapi tuan Vander itu memang impian semua wanita.


Ya aku pun begitu. Tapi kalau dipikir aku agak tidak percaya juga, karena seorang Vander Liuzen yang misterius soal kisah asmaranya tiba-tiba malah kena gosip pacaran sama model.


Padahal Emily tidak terlalu cantik juga kalau dilihat-lihat!


Ssttt!! Kau ini kalau bicara jangan asal saja, kalau nona Emily dengar bagaimana? Dia kan ada di ruangan ini juga. Kau mau kena masalah dengan wanita itu?


"Aku sudah dengar, kalian membicarakanku kan!"


Para model figuran itu pun tampak pucat. "No-na tapi kami tidak bermaksud untuk..."


"Diam! Aku tidak butuh alasan dari model rendahan dan tidak berguna seperti kalian. Setelah ini aku akan minta produser untuk memecat kalian semua dari project iklan ini!" Ujar Emily tanpa rasa kasihan dan langsung pergi.


Nona Emily jangan, maafkan kami Nona... Maaf...


Sayangnya Emily tetap saja tak peduli.


Dan akhirnya para model itu pun hanya bisa pasrah menerimanya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Eiji yang tengah menikmati tehnya dipagi hari sambil menonton berita di televisi, tiba-tiba saja berubah serius ketika melihat berita tentang Emily dan Vander yang kini santer dibicarakan memiliki hubungan khusus. Tentu saja hal itu membuat kening Eiji berkerut dan tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Vander yang berlagak di depan dirinya tampak peduli sekali pada Lara, pada kenyataanya malah diberitakan memiliki hubungan khusus dengan wanita lain.


Tentu saja jika hal yang dikatakan oleh media tentang Vander itu benar, Eiji tidak akan tinggal diam. Ia tidak mau kalau sampai Lara dekat dengan pria bajยกngan yang suka main banyak wanita.


"Tampan, bergelimang harta, dan punya kekuasaan besar. Bukan tidak mungkin Vander Liuzen memiliki banyak wanita," pungkas Eiji seraya yakin kalau berita yang beredar di media saat ini adalah benar adanya. Ditambah lagi ada cuplikan kalimat dalam interview Emily dengan salah satu majalah ternama. Di interview Emily seolah mengatakan kalau, dirinya memang sudah sejak lama menjalin hubungan dengan Vander dan sering diam-diam bertemu di luar negeri. Tentu saja hal itu langsung mematik amarah Eiji yang tidak terima akan hal itu.


"Tidak akan aku biarkan pria manapun menyakiti Lara. Cukup suaminya saja yang bajยกngan, aku tidak mau lagi melihat Lara dekat dengan pria bajยกngan lain. Terutama Vander, dia tidak pantas untuk Lara!" Gumamnya.

__ADS_1


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di depan apartemen Lara, Vander yang baru saja selesai makan malam disana terlihat masih ada di depan apartemen sang istri.


Disana Lara nampak memegangi lengan berotot suaminya, seolah masih tidak mau membiarkan suaminya itu pergi.


"Kenapa kau harus pergi sekarang, apa kau sudah bosan melihatku?" Pungkas Lara dengan nada manja sambil bergelendot di lengan Vander.


Vander terkekeh kecil, "Ucapan bodoh apa itu, bagaimana mungkin aku bosan melihat istriku yang luaar biasa cantik."


"Masa sih? Aku malah yakin, pasti kau diam-diam kalau sendirk suka melihati foto model-model cantik dan membayangkannya kan?"


Vander lagi-lagi tertawa kecil. "Kau sudah sempurna untuk apa aku membayangkan wanita lain." Vander lalu memeluk Lara dan berkata, "Dengar, memilikimu adalah sebuah berkat terbaik dalam hidupku jadi jangan takut aku akan mengkhianatimu."


"Oh ya?"


"Tentu saja."


Lara tersenyum lalu mereka pun berciuman untuk beberapa saat, hingga akhirnya Vander melepaskan ciumannya karena merasa seperti sedang dimata-matai.


"Ada apa?" Tanya Lara yang tidak sadar sama sekali.


Ternyata saat mereka tadi berciuman ada Naomi manajer Lara yang tak sengaja memergoki mereka. Seketika wajah Naomi pun syok dan kaget hingga hampir berteriak, namun ia segera menutup mulutnya dan bersembunyi karena takut ketahuan dan takut Vander menyadari ada dirinya disini.


Naomi benar-benar syok sampai tidak tahu harus apa, yang ada di benak wanita itu saat ini hanyalah rasa takut dan tak percaya, mengingat yang ia tahu Lara adalah sepupunya Vander, tapi melihat kejadian tadi tentu saja membuatnya kaget.


Vander menajamkan matanya dan memutar pandanganya kesegala arah.


Lara baru sadar dan berkata, "Vander, apa ada yang melihat kita?"


"Aku tidak tahu, tapi aku rasa begitu."


Wanita itu pun seketika jadi merasa cemas dan bersalah karena merasa dirinya yang tak bisa menahan diri.


"Sudah ini bukan salahmu, aku pergi dulu.. Kau masuklah..."


"Maaf ya Vander,"


"Tidak sayang, aku tekankan lagi, ini bukan salahmu sama sekali, aku yang salah."


"Aku masuk dulu," ucap sang istri lalu? masuk kedalam.


Sementara Vander masih disana memastikan tidak ada orang, setelah itu barulah ia pergi.


"Itu tadi hampir saja, tapi..." Naomi masih tak habis pikir. "Tuan Vander dan nona Lara bukankah mereka sepupu, ta- tapi kenapaโ€” kenapa mereka berciuman seperti tadi?"


"Naomi kau kenapa? Kenapa wajahmu seperti orang baru dikejar hantu?" Ujar Emily yang baru selesai mandi.


"Emily, kau harus tau apa yang aku lihat barusan!" Seru Naomi.


"Apa?"


"Tadi itu aku melihat..."


"Apa?! Hei jangan bercanda, itu tidak lucu!", sahut Emily


"Aku tidak bercanda Emily, aku melihatnya dengan jelas kalau tuan Vander dan nona Lara itu berciuman tadi. Dan ciuman mereka sangat hot danโ€”"


"Stop! Cukup, aku tidak mau lagi dengar dan membayangkannya. Sudah cukup, sekarang aku mau ke kamar!" Emily yang tidak mau percaya dan menyangkalnya pun memilih ke kamarnya.


"Dasar Emily, dia itu kenapa tidak mau percaya sih! Jelas-jelas tadi itu mereka ciuman dengan sangat hot dan mesra. Aku yakin mereka punya hubungan yang sulit dijelaskan."


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di kediamannya, Mira yang terlihat tengah menikmati kopi sambil membaca berita, tidak sengaja malah menemukan potongan interview Emily dengan salah satu media terkait dirinya yang dipilih sebagai global ambassador Lavioletta. Karena agak penasaran, Mira akhirnya membaca potongan wawancaranya tersebut, dan sontak saja setelah membaca potongan interview itu, Mira langsung mengerutkan kening dan memasang raut wajah tidak senang sambil mengumpat.


"Ada apa istriku?" Tanya Gavin yang baru saja selesai berganti pakaian, karena harus pergi kerja di bengkelnya.


"Ini! Coba kau lihat interview si Emily! Kau tahu apa yang dia katakan? Didalam wawancaranya dia mengatakan hal yang penuh sensasi."


"Apa isinya?"


"Ini kau baca saja!" Mira menyuruh suaminya itu membaca sendiri. Dan tak lama reaksi Gavin setelah membacanya punย  tidak beda jauh seperti ekspresi Miranda tadi.


"Ini kalau sampai kak Vander tahu, pasti mereka tidak akan senang," ungkap Gavin yang sudah paham persis watak Vander.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Sehabis meeting, tiba-tiba saja Robert datang ke ruangan Vander, ia membawakan sebuah majalah fashion ternama terbitan terbaru yang dimana gambar covernya adalah Emily. Melihat hal tersebut Vander pun jadi bingung lalu bertanya, "Ada apa dan kenapa kau bawa majalah itu Robert?"

__ADS_1


"Oh ini aku bawakan majalah ini agar tuan membacanya."


Vander mengerutkan keningnya. "Untuk apa aku baca majalah tidak penting itu. Lagipula gambar sampulnya sangat jelek!"


"Eh, ma- maksudku anda silakan baca di kolom interviewnya, setelah itu tuan pasti akan tahu."


Dengan tatapan penuh aura intimidasi ke arah asistennya, Van yang awalnya tampak mempertimbangkannya akhirnya mau membaca majalah tersebut. "Baik, sini berikan padaku!" Vander kemudian membuka majalah itu dan membacanya.


Dan setelah membacanya, seketika aura kemarahan pun nampak di ekspresinya saat ini. "Sial, beraninya wanita itu mengatakan kebohongan sampah macam itu di wawancaranya!"


"Tuan sepertinya rumor kedekatan anda dengan nona Emily akan semakin liar, aku khawatir hal ini akan berdampak tidak baik untuk perusahaan. Terutama Lavioletta," ungkap Robert.


Yang dikatakan oleh Robert memang benar sekali, saat ini Vander sendiri rasanya ingin murka karena ulah wanita itu.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di sebuah kafe, Lara yang baru saja selesai beristirahat sebentar tiba-tiba saja mendapati telepon dari temannya yakni Mira, ia pun langsung mengangkatnya.


Lara : Ya halo Mira.


Mira : Lara apa kau sudah baca wawancara Emily di majalah GLAMORY yang tebaru.


Lara : Belum, memang ada apa?


Mira : Kau harus baca, karena isi wawancara di majalah itu semua jawaban Emily adalah omong kosong.


Lara : Mira aku sungguh tidak mengerti maksudmu.


Mira : Intinya di interviewnya dengan majalah itu, si Emily seolah seperti menggiring opini pembaca agar percaya, kalau ia punya hubungan spesial dengaย Vander.


Lara : Apa? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Beraninya dia itu... (Terdengar kesal)


Mira : Yasudah aku hanya mau bilang itu.


Lara : Oke, thank you Miranda.


Lara mematikan sambungan teleponnya, saat itu wajahnya menunjukan rasa jengkel yang memekak. Ditambah saat dirinya membuka media sosial, disana sudah banyak berita tentang kedekatan Vander dan Emily yang bertebaran dan dijadikan topik perbincangan netizen.


"Emily kau benar-benar tidak tahu malu! Lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merebut suamiku dariku!" Ungkap Lara seraya bertekad.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Di pinggir kolam renang, Emily yang tengah bersantai minum jus sambil memantau media sosial nampaknya penuh senyum kali ini. Pasalnya rencananya untuk menggiring opini agar dirinya digosipkan menjalin cinta dengan Vander pun kian merebak dan ramai diyakini orang-orang. Apalagi setelah majalah yang memuat eksklusif interviewnya rilis, seketika media massa jadi seperti dipenuhi dengan beritanya. "Emily kau memang cerdas!" Pujinya pada diri sendiri.


Tidak lama kemudian, ponsel miliknya yang berada di atas meja yang ada di sebelahnya pun berbunyi. Dan saat ia melihat nama kontak yang memanggilnya adalah Vander, Emily langsung tersenyum dan menjawab panggilannya.


Emily : Halo tuanโ€”


Vander : Apa maksudmu bicara begitu di wawancara majalah?!


Emily : Wah kau baca ya tuan, senangnya.....


Vander : Cepat jawab!


Emily : Ya sebenarnya idak ada maksudnya sih, aku hanya bicara seperti yang aku pikirkan saja.


Vander : Dengar, sekarang juga kau buat klarifikasi atas wawancaramu yang mengatakan aku mendekatimu atauโ€”


Emily : Atau apa? Tuan Vander, aku heran kenapa kau marah? Bukannya kau sendiri tidak punya ikatan resmi dengan wanita manapun. Dan bukakah rumor kedekatanmu dengan wanita sudah cukup banyak sebelum ini. Tapi kenapa baru sekarang kau sepertinya tidak terima sekali. Apa ada hati yang kau jaga saat ini?


Vander :... Jangan mengalihkan pembicaraan. Lakukan saja atau kubuat karirmu hancur.


Emily : Waw aku takut sekali. Okey kalau kau ingin aku klarifikasi. Tapi jangan salahkan aku kalau ada berita bergulir lain tentang dirimu. Mungkin isu percintaan dengan kerabat sendiri, atau isu hubungan gelap dengan sekretarismu, atau bahkan isu dengan wanita yang sudah punya anak.


Vander : Apa maksudmu?


Emily : Apa ya... mungkin kau bisa tanya Lara, kalian kan sepupuan. Oh atau sepupu dari sepupu lain, jadi bisa saling menikung.


Vander : Terdiam (Vander sadar Emily sepertinya sudah tahu kalau hubungan Lara dan dirinya adalah hubungan yang dilakukan oleh pria dan wanita dewasa)


Emily : Tuan Vander yang terhormat, kenapa anda diam? Bukannya tadi anda garang sekali menekanku?


Vander : Aku beri waktu kau satu minggu, jika tidak juga kau selesaikan salah paham isu ini. Jangan salahkan aku jika aku berbuat kejam padamu.


*Bip Vander langsung mematika panggilannya.


"Uh mengerikan sekali," ucap Emily.


"Ah semakin jelas, dari sikap dan ucapannya saja, Vander memang menyembunyikan hubungan terlarangnya dengan wanita itu. Tapi tenang, aku tidak akan menyerah. Justru dengan keadaan ini, aku akan buat semua balik berpihak padaku, bagaimanapun tuan Vander kau pasti akan jadi milikku. Dan kau Lara berserta putranya, aku akan buat para benalu itu jauh-jauh dari Vander!"

__ADS_1


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS ๐Ÿ™


__ADS_2