Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Berbaikan...


__ADS_3

Langkah cepat Vander membawanya datang ke depan ruangan kerja Lara. Dan seperti biasanya, pria itu langsung masuk saja tanpa permisi untuk menemui kekasihnya didalam. Dari sudutnya berdiri, Vander bisa melihat jelas Lara yang tengah duduk menatapnya dengan tatapan mata sayu miliknya.


Apa dia habis menangis? Pikir Vander melihat mata kekasihnya itu agak sembab. Ia pun langsung menghampiri sang gadis yang masih duduk bergeming dan terus menatapnya.


"Hei, ada apa?" Suara Vander yang berat terdengar begitu lembut menanyai gadisnya yang tampak bersedih.


Lara yang masih duduk dikursinya langsung memeluk Vander yang berdiri dihadapannya. "Vander aku mint maaf, tolong kau jangan salahkan Gavin, dia tidak salah aku yang salah karena pergi seenaknya tanpa berpikir panjang."


Van bisa merasakan tubuh Lara gemetar memeluk pinggangnya sambil menangis. Tangannya bahkan memeras kuat jas dibagian belakang Vander. Kenapa dia begitu sedih?


Vander melepaskan pelukan Lara, dan menegadahkan wajah wanitanya yang merona ke arahnya. "Kenapa kau menangis, aku memang kesal padamu tapi jangan menangis begini, aku tidak sanggup melihat kesayanganku menangis." Van merunduk mengecup pipi Lara lalu menyeka dengan lembut air mata dipipinya.


Lara sedikit lega mendengar ucapan Vander padanya.


Mereka pun duduk mengobrol di sofa. Setelah minum air putih, Lara menceritakan semua alasannya pergi sendirian saat itu. "Aku tau aku salah karena tidak minta Gavin menemaniku.


"Jadi gara-gara jam tangan ini kau rela pergi sendiri?" Van melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Van tersenyum kecil.


"Kau marah padaku Van?"


"Ya tadinya, tapi sekarang aku mencoba memahami posisimu."


"Tapi Mira dia pasti masih marah padaku," ucap Lara sedih.


"Mira mungkin hanya marah karena dia sayang padamu. Setauku dia sangat protektif padamu, mungkin dia merasa terlalu khawatir sehingga dia merasa marah dan kesal."


"Aku harap Mira segera memaafkanku," pungkasnya penuh harap.


Vander mengusap kepala Lara layaknya anak kecil. "Sudahlah jangan sedih, dia pasti segara memaafkanmu!"


"Jangan mengacak rambutku seperti itu aku bukan anak kecil!" Protes Lara.


"Iya kau bukan anak kecil, kau wanita dewasa yang hobi nangis," ledek Vander mencairkan suasana.


"Oh iya, kau harus segera minta maaf pada Gavin, dia adalah korban disini!" Ujar Lara.


"Iya..."


"Janji?"


"Iya...! Lagipula aku hanya memukulnya pelan."


"Pelan katamu?! Dia memar dan berdarah kau bilang pelan!" Lara tidak terima.


"Bagi Gavin itu hal biasa, aku dulu sering mengajaknya sparing tinju jadi tidak usah terlalu memanjakan dia. Lagipula pacarmu itu kan aku bukan dia, kenapa terlalu mengkhawatirkannya? Gavin kan sudah ada Miranda!" Vander tampak tidak suka Lara terlalu mengkhawatirkan Gavin.


"Bukan begitu, masalahnya aku merasa bersalah pada Gavin," ungkap Lara merasa bersalah.


"Iya aku paham..., sudah jangan sedih lagi," Vander memeluk Lara kedalam dekapan dadanya.


Setelah merasa Lara sudah lebih baik, Vander pun pamit pergi. Ia minta agar wanitanya itu tidak terlalu banyak membaca komentar di media sosial, dan jangan pergi kemana-mana tanpa izin.


"Tapi—"


"Ssttt...." Vander meletakkan jemarinya dibibir Lara. "Kali ini jadilah gadis baik dan menurutlah padaku."


Lara mengangguk paham.


"Gadis pintar!" Ucap Vander menempelkan keningnya ke jidat Lara.


"Aku pergi dulu ya..."


"Iya," Lara tersenyum.


"Oh aku lupa sesuatu!"


Vander lalu kembali berbalik menghampiri Lara dan langsung mengecup bibir manisnya. "Aku lupa jatah ciumanku," ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Membuat Lara senyum tersipu dibuatnya. "Terima kasih sudah membuatku tenang Vander."


**


Di toko Osthetic Vander datang menemui Aron.


"Kau datang kemari akhirnya," sapa Aron yang kemudian langsung membalik papan pemberitahuan pintu masuk menjadi 'tutup' .


Aron memberikan sekaleng minuman dingin untuk Vander yang sudah duduk dengan kaki terbuka lebar di salah satu kursi kayu antik, tempat biasanya para pengunjung dan pembeli di tokonya duduk menunggu.


"Jadi sekarang kau sudah tau soal kejadian Lara kemarin itu kan?" Aron lalu duduk menghadap Vander.

__ADS_1


"Ya," ucapnya sambil membuka kaleng minumannya.


"Lalu?"


"Aku akan mencari tahu siapa orang yang sudah berani menjebak Lara saat itu," pungkas Vander terdengar serius.


"Caranya?"


Seketika Vander memberikan tatapan tajam pada Aron yang baginya seolah tengah meremehkan dirinya.


"Em— bu- bukan aku meremehkan kemampuanmu. Hanya saja Van kau harus realistis. Dengan keadaanmu sekarang pasti akan sulit dalam waktu cepat mencari pelaku kejahatan seseorang, apalagi jika seseorang itu berasal dari kalangan elit."


Apa yang dikatakan Aron memang benar, musuh Lara pasti bukanlah kalangan sembarangan yang tanpa perlindungan dibelakangnya.


"Kau tau Van, foto Lara saat ditempat kemarin sudah merebak di dunia maya, dan jujur saja aku membaca komentar netizen di kolom kementar tidak tega rasanya, bagaimana dengan Lara?"


"Aku sudah minta dia agar tidak banyak melihat media sosial untuk saat ini."


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, fotonya sudah terlanjur disebar di dunia maya."


"Kalau soal foto tersebar sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, karena kalau pun diriku adalah hacker terhebat di dunia sekalipun percuma, karena jejaknya pasti sudah terlihat oleh ribuan bahkan puluhan ribu manusia. Kalaupun aku bunuh mereka yang sudah melihatnya satu persatu pun jejak digitalnya tidak akan hilang sama sekali, karena memori manusia itu tajam dan pasti mereka sudah punya salinanya." Vander lalu meneguk habis minuman kalengnya.


"Hei Van jangan tersinggung ya, tapi aku pikir jika keadaanmu hanya seperti ini, Lara tidak akan pernah bisa terlindungi dengan seaman mungkin," ungkap Aron.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku adalah, untuk melindungi Lara kau tidak cukup jika hanya mengandalkan kekuatan atau kemampuanmu saja, bagaimanapun kau harus memiliki kekuasaan dan takhta tertinggi hingga kau yakin tidak ada yang bisa dengan mudah menjatuhkanmu."


Vander terdiam, mata tajamnya menatap ke satu arah. Ia lalu meremukan kaleng minuman ditangannya dengan satu tangan.


"Kau benar Ron!" ucapnya singkat.


"Oh iya, kalau dari intuisimu sendiri kira-kira siapa orang yang menjebak Nona Lara kemarin?" Pungkas Aron penasaran.


Dengan wajahnya yang tampak serius Vander seolah tengah memutar otaknya, mencerna info dan potongan petunjuk, yang kemungkinan bisa membawanya pada satu nama yang ia curigai.


"Tidak salah lagi pasti rubah betina sialan itu!" mata tajam Vander seolah memberi keyakinan atas jawabannya.


"Eh siapa maksudmu?" Aron penasaran.


**


Bagi Karina melihat Lara terpuruk dihujani kebencian adalah kebahagiaan untuknya. "Tapi ini baru permulaan, setelah ini aku akan buat wanita itu lebih merana lagi." Wajah Karina yang licik seolah menyiratkan kalau dirinya sudah memiliki rencana berikutnya untuk menjatuhkan Lara.


Tak lama kemudian tiba-tiba saja sekretaris Karina masuk dan memberitahukan Karina kalau ada orang yang ingin bertemu dengannya.


"Siapa?"


"Tuan Vander Nona," ungkap sekretarisnya.


"Vander?" Raut wajah Karina seketika sumringah dan bibirnya tersenyum lebar mengetahui pria yang disukainya itu datang langsung menghampirinya.


"Baiklah, langsung suruh dia ke ruanganku," titah Karina.


Sekretaris Karina pun langsung permisi dan memanggilkan Vander. Hingga tak lama kemudian Vander pun masuk ke ruangan Karina.


Wanita itu terlihat sudah membawa sebotol anggur mewah untuk ia sugguhkan kepada pria pujaan hatinya.


"Halo tuan tampanku, apa kabar?" Karina berjalan mendekati pria itu seraya mengajaknya duduk. "Mari kita duduk sambil minum anggur."


Vander pun duduk, wajahnya yang tampak dingin dengan sorot mata yang tidak tertebak pria itu menatap Karina yang ada di depannya tengah menuang anggur ke gelas.


"Silakan," Karina mempersilakan Vander minum anggur. Vander tentu suka sekali anggur, ia pun langsung menenggaknya sampai habis.


"Jadi... Ada apa kau datang kesini sayang?" Ucap Karina dengan nada sensual seraya menggoda pria diruangannya itu.


"Kenapa kau menjebak Lara?" Tanya Vander langsung ke intinya.


"Karena aku ingin!" Balasnya santai tak merasa bersalah sama sekali.


"Kalian sudah tidak ada kerjasama lagi lalu kenapa kau masih saja mengganggunya? Tidak bisakah kau berhenti mengganggu Lara!?" Ujar Vander dengan tenang namun penuh penekanan.


"Tidak, aku hanya akan berhenti jika sudah melihat Lara benar-benar terpuruk! Atau... aku bisa saja berhenti sih—" Karina menghampiri Van dan duduk disebelahnya.


"Asalkan kau meninggalkan Lara dan datang kepadaku," bisik Karina di telinga Vander.


Van setengah tertawa lalu bangkit dari duduknya. "Nona Karina, aku ini hanya seorang pengawal yang statusnya jelas dibawahmu, untuk apa kau menginginkanku?" Pungkas Vander.


"Karena kau memiliki semua yang aku inginkan dari seorang pria." Karina ikut berdiri.


"Aku bukan pria yang cocok untukmu," Van bermaksud menjauh dari Karina namun tiba-tiba saja...

__ADS_1


"Vander," Karina memeluk Van dari belakang.


Pria itupun jadi terhenti. "Nona Karina lepaskan aku, aku tidak ingin kasar pada wanita," ucap Vander dengan suaranya yang berat dan dalam.


"Tidak mau, aku suka padamu Vander sejak pertama bertemu aku sudah jatuh cinta padamu, aku mencintaimu!"


Vander tidak bereaksi apa-apa, ia justru melepaskan tangan Karina yang memeluk tubuhnya dan bergeser menjauh.


"Kenapa kau tidak mau denganku?! Memang apa kurangnya aku dibanding Lara itu!? Kau mau uang aku bisa berikan, kau mau jabatan akan aku berikan, apapun asal kau tinggalkan dia dan datang padaku!" Ujar Karina penuh emosi.


"Aku tidak butuh semua yang kau sebutkan itu, aku hanya minta kau berhenti mengganggu Lara—"


"Berisik!" Pekik Karina. "Aku sungguh muak mendengarmu menyebut nama gadis binal itu, aku muak melihat banyak orang memujinya, aku muak melihat tingkahnya yang seolah seperti putri aku muak segala tentangnya! Dan aku muak mengetahui kau memilihnya dibanding aku!" Karina mendekatkan tubuhnya kehadapan Vander dan menatapnya.


"Kau mau apa?!" Ucap Vander heran melihat Karina dihadapannya tiba-tiba saja membuka restleting bajunya.


"Vander aku mau kau tidur denganku!" Ucap Karina yang tinggal mengenakan bra.


Vander menghela nafasnya. "Pakai bajumu lagi karena aku tidak tertarik sama sekali!" Pungkas Van lalu melengos pergi namun tangannya malah ditarik Karina. "Kenapa?Apa tubuhku tidak lebih bagus dari Lara, aku bisa memuaskanmu lebih dari yang gadis murahan itu lakukan!"


Vander langsung melepaskan tangannya dari Karina dengan kasar dan memperingatkan wanita itu, "Jangan pernah menyebut hal buruk tentang Lara di depanku!"


Karina tertawa mengejek. "Padahal kau sendiri tidak tau kan apa yang dilakukan Lara di tempat pelacuran itu kemarin, bisa jadi dia sudah digilir oleh banyak pria dan— eghh!" Vander tiba-tiba mencekik leher Karina, tatapan matanya yang tajam seolah memberi peringatan pada wanita itu. "Aku tidak akan biarkan siapapun berani menghina Nona Laraku paham!" Vander melepaskan cengkramannya dari leher wanita itu dengan kasar lalu berbalik badan dan melenggang pergi.


Leher Karina sakit, ia pun tidak terima hal itu dan berteriak, "Vander dengar, sampai kapanpun aku tidak akan berhenti mengacaukan hidup Lara sebelum melihatnya benar-benar jatuh terpuruk, dan kau yang seperti sekarang ini tidak akan pernah bisa menghentikanku, ingat itu!"


Van mengepalkan tangannya lalu pergi meninggalkan ruangan Karina.


**


Sementara itu, Miranda yang baru saja punya waktu santai menyempatkan diri membuka media sosialnya. Diberandanya, ia melihat banyak muncul berita foto-foto Lara yang tengah berada di tempat pelacuran waktu itu. Merasa penasaran ia pun membuka foto itu dan ternyata isi komentarnya sudah seribu lebih. Miranda lalu membuka kolom komentarnya dan ia pun tersentak kaget membaca isi komentarnya banyak ujaran buruk ;


- "Wanita j@lang!"🤮🤮


-  "CEO wanita yang buruk!"


-  "bisakah aku membookingnya hahaha!"


-  "Cantik tapi memalukan."


-  "percuma cantik kalau tidak punya harga diri."


- "apa dia player?" 🤮


- aku pria berusia 19 apa nona Lara mau denganku?* lol* tertawa mengejek.


- sebagai seorang ibu aku malu melihatnya!


- turunkan saja jabatannya dia tidak pantas jadi CEO!


"Ya Tuhan, kenapa jahat sekali ketikan mereka? Bahkan sebagian besar yang berkomentar juga wanita." Miranda jadi semakin merasa bersalah pada Lara karena tadi sudah membentak dan menyudutkannya.


"Dia pasti sedang terpuruk saat ini, dan aku tidak ada untuknya?" Miranda benar-benar merasa menyesal. "Aku harus segera menemui Lara dan minta maaf padanya..." Karena merasa begitu menyesal, Miranda pun begegas pergi ke ruangan Lara untuk minta maaf.


Lara yang ada di ruangannya pun tiba-tiba kaget melihat Mira yang datang ke ruangannya dan menatapnya penuh arti.


"Miranda ada apa?" Tanya Lara bingung.


Mira lalu menangis dan langsung memeluk Lara. "Maafkan aku ya... Maaf karena sudah memarahimu tadi. Aku yang lebih dewasa darimu seharusnya bisa lebih bijak, seharusnya aku menasehatimu bukan malah memarahimu dengan penuh emosi."


Lara merasa ikut terharu dengan perkataan Mira. "Sudahlah Mira tidak apa-apa itu bukan salahmu."


Miranda melepaskan pelukannya lalu membuka kacamatanya dan mengusap air matanya.


"Sudah Mira jangan menangis, aku jadi ikut sedih rasanya," ungkap Lara sambil mengusap air mata di pipi Miranda.


Miranda akhirnya berhenti menangis dan memakai lagi kacamatanya. "Sekali lagi aku minta maaf padamu."


Lara menggeleng, "Justru aku berterima kasih padamu, karena berkatmu aku jadi semakin belajar untuk tidak ceroboh dan lebih hati-hati dalam bertindak, terima kasih ya Mira aku sayang padamu." Lara pun tersenyum manis pada Miranda yang sudah seperti kakak baginya. Mereka berdua pun akhirnya berpelukan.


"Oh iya, kau... Kau belum buka media sosial kan hari ini?" Miranda berharap Lara belum sempat membaca komentar buruk tentang dirinya di sosial media.


Mata Lara tampak sendu. "Aku sudah tau, dan aku sudah sempat sedikit membaca beberapa komentar buruk yang dilontarkan padaku."


Miranda langsung memeluk Lara lagi. "Kau tenang saja, netizen sialan yang berkomentar buruk itu kan tidak mengenalmu jadi jangan kau pikirkan!" Miranda berusaha membuat Lara santai menanggapi apa yang ada, karena ia tau temannya itu tipe orang yang lumayan mudah overthinking.


"Aku tidak baik-baik saja kok Mira..." Ucap Lara santai, meskipun sebenarnya ia memang cukup terganggu dengan opini di media sosial, tapi Lara berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜

__ADS_1


__ADS_2