Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Menjalankan Misi


__ADS_3

Dengan mengendarai mobil, Vander dan Gavin akhirnya pergi menuju ke tempat seseorang yang dimaksud Vander.


Karena tidak tahu siapa orang yang ingin ditemui oleh Vander, Gavin pun jadi semakin penasaran dibuatnya. "Kak sebenarnya pria yang mau kau temui siapa sih?" Tanya Gavin yang duduk di sebelah Vander yang sejak tadi sibuk menyetir sambil membaca denah. (meski Gavin memang sangat handal memyetir kendaraan, tapi dia buruk dalam membaca denah)


"Vasquez Garcia, kita akan menemui dia."


"Apa? Vasquez Garcia di- dia kan bos kartel narkoba yang terkenal itu? Jadi kau mau minta bantuan orang itu?" Gavin merasa langkah Vander ini berbahaya sekali.


"Pria itu sangat bisa membantuku mencari Gauren. Dia punya seluruh koneksi di negara ini."


"Tapi kak— dia kan."


"Kau tenang saja, aku sudah pernah bertemu Vasquez."


"Ya terserahlah... Tapi aku belum mau mati aku belum punya anak, jadi kau harus menjamin keselamatan nyawaku di negeri ini loh," gerutu Gavin yang tampak cemas dengan keselamatannya.


Sementara Vander hanya tertawa. "Kau takut? Kenapa ikut terbang denganku kesini?"


"Kau yang meminta, kalau aku tidak mau juga pasti kau akan tetap memaksa."


"Nah kau tahu. Sudah jangan cerewet!"


Setelah empat puluh menit perjalanan, Vander akhirnya berhenti disebuah parkiran dekat kawasan pemukiman. Mereka pun segera turun dari mobil, mengenakan kaos putih dengan jacket kulit panjang warna hitam Vander terlihat turun dari mobil. Disusul Gavin yang saat itu memakai kaos abu-abu dan bomber warna coklat.


"Kak, kenapa kita berhenti disini? Ini kan pemukiman warga?" Tanya Gavin sambil melihat kesekelilingnya dengan raut wajah penuh heran.


"Kita masih harus jalan, dari sini. Dan untuk ke wilayah markas Vasquez kendaraan selain milik anggota serikatnya, tidak diizinkan masuk. Oh iya pegang ini!"


Vander melemparkan sebuh alat peledek berupa granat ukuran kecil ke arah Gavin.


"Eh ini..."


"Untuk jaga-jaga saja, kau bawa itu."


"Ya ampun sepertinya berbahaya sekali ya," Gavin merasa agak cemas mengingat selain granat tadi, ia juga bawa pistol. Sepertinya akan ada baku hantam? "Aku sudah lama tidak melakukan kegiatan seperti ini. Apa aku masih hebat ya dalam bertarung seperti ini?"


"Asal kau masih punya kemampuan dan mental untuk bertarung dengan tanpa merasa kasihan kau cukup aman!" Tandas Vander lalu mengajak Gavin segera berangkat menuju markas Vasquez.


Saat berjalan menuju wilayah markas Vasquez, Gavin melihat beberapa wanita muda lokal sana yang tampak melihat ke arah dirinya dan Vander. Mereka terlihat senyum-senyum sambil mengatakan sesuatu dengan bahasa yang ia tak mengerti.


Es tan guapo y caliente. (Lihat dua pria itu, sangat tampan dan hot)


Sí él es tan guapo (Ya tampan sekali, terumata yang jaket kulit sangat hot, siapa mereka?")


Karena tidak tahu, Gavin pun bertanya pada Vander, "Kak, kenapa wanita-wanita itu melihat kearah kita sambil tersenyum begitu?"


"Tidak usah pedulikan, lagipula mereka tidak mengatakan hal buruk."


Gavin akhirnya hanya garuk-garuk kepala dibuat, karena masih penasaran mereka bilang apa.


"Sudah kau jangan banyak tingkah, ingat ini bukan negara kita aku tidak bisa menjamin nyawamu sepenuhnya."


"I- iya kak..."


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kedua pria itu tiba di kawasan markas Vasquez. Disana terlihat sepi, namun jangan salah, selain kedua pengawal yang memakai pakaian serba hitam itu, pasti ada penjaga lain dan jebakan tersembunyi. Jadi Vander meminta Gavin untuk tetap waspada.


Dan benar saja, tak lama selang beberapa langkah, tiba-tiba saja muncul beberapa orang yang sepertinya penjaga disana muncul dan langsung menyerang ke arah Vander dan Gavin.


"Ck! Para hama kecil pengganggu! Gavin!"


"Ya kak!"


Kedua pria itu pun menghadapi mereka. Untungnya para penjaga itu hanya penjaga biasa, jadi mereka bisa dengan mudah membereskannya.


"Huft, kak sepertinya mereka terlalu ikan teri buatmu yang ikan hiu."


"Jangan banyak bicara ayo masuk!"


Akhirnya setelah menghadapi gerombolan-gerombolan penjaga kecil itu Vander dan Gavin tiba di depan pintu masuk markas Vasquez. Disana mereka dihadang penjaga yang lebih berbahaya, melihat kali ini penjaganya membawa senapan laras panjang yang sudah pasti sangat parah efeknya.


"Siapa kalian, ada perlu apa kesini? Menjauh atau kutembak lalian!" Ancam penjaga itu dengan nada kasar.


Gavin dibuat emosi melihatnya, tapi melihat gestur tangan Vander seolah memintanya tenang ia pun menahan diri. Ditambah ia tidak terlalu paham bahasanya, jadi Gavin hanya bisa menurut saja.


"Aku ingin bertemu tuan Vasquez. Katakan pada bos kalian aku Vander Liuzen datang menemuinya untuk uruasan bisnis."


"Omong kosong! Tuan Vasquez tidak memberitahukan apapun pada kami soal tamunya. Kau penyusup kan!" Tuduh mereka.


"Kak, mereka menuduh kita ya!"


"Tenang," Vander menahan Gavin agar tidak terpancing emosi.


"Kalau kalian tidak percaya, tanyakan saja pada bos kalian. Apa aku bohong atau tidak?"


Penjaga itu lalu menelepon Vasquez.


"Halo bos, ada yang mengaku ingin bertemu denganmu diluar."


....


"Dia bilang namanya Vander Liuzen dan temannya."


....


"Baik!"


Setelah menelepon bos mereka, keduannya pun akhirnya percaya kalau Vander tidak bohong. "Tapi sebelum kau masuk kami harus menggeledah kalian."

__ADS_1


"Tidak masalah."


Vander dan Gavin mengangkat kedua tangannya sementara kedua penjaga itu menggeledah tubuh mereka. Vander seketika menyeringai dan langsung menghantam wajah penjaga itu dengan lututnya dan langsung merebut senapan laras panjang itu dari si penjaga dan menembak keduanya sampai pingsan.


Tak ayal Gavin pun sampai kaget dibuatnya. "Kak, kau bilang jangan melawan tapi kau malah menembak mereka."


"Aku butuh senjata mereka. Lagipula mereka sepertinya mati."


"Ah masa?"


"Tidak tahu, sudah ayo lanjut masuk!"


Setelah melewati gerbang, Vander dan Gavin akhirnya sampai di markas. Dia dalam markas yang bernuansa gelap itu tercium bau alkohol dan asap rokok yang menyengat, ditiap sudut ruangan.


Saat Vander masuk ia dan Gavin disambut oleh seorang wanita bertubuh tinggi, berkulit eksotis dengan pakaian membetuk tubuh. Wanita itu lalu mengajak kedua pria itu mengikutinya untuk bertemu Vasquez.


"Bos ini tamu anda," ucap wanita itu dengan bahasa spanyol.


"Ah, hola comó estas?" Sambut Vasquez yang duduk diantara para wanita seksi yang mengelilinginya sambil memegang botol liquor. "Duduklah..." Pinta Vasquez pada Vander dan Gavin. Mereka pun duduk menghadap pria berusia 40-an tersebut.


"Jadi bagaimana perjalananmu Vander?"


"Lumayan, maaf ya aku main-main dengan para penjagamu dan akhirnya nyawa mereka malah harus melayang."


Vasquez tertawa. "Tidak masalah, aku senang dapat tamu yang sepertimu. Melihatmu mengalahkan penjaga tak berguna itu membuatku sadar, kemampuanmu mereka memang jelek sebagai penjaga."


"Begitu ya?"


Kali ini mereka pakai bahasa inggris jadinya Gavin lumayan mengerti pembicaraan mereka.


"Oh kalian pasti lelah, apa kalian mau bersantai dulu. Disini ada para wanita koleksiku yang siap melayani kalian kapanpun."


Para wanita di sekitar Vasquez itu tampak berpose dengan mimik wajah seolah menggoda Vander dan Gavin.


Ya ampun tempat ini penuh godaan, tapi ingat Miranda aku takut jadinya... Gumam Gavin.


Sementara Vander hanya menyeringai kecil. "Para wanitamu memang cantik, tapi istriku jauh lebih cantik dan menggoda."


"Ahaha kau dingin sekali, terakhir kita bertemu di Las vegas kau masih mau ditemani minum para pelayanku. Apa istrimu semenarik itu sampai menolak mereka, aku jadi ingin lihat istrimu."


"Maaf tapi aku tidak akan biarkan kau tahu dan lihat istriku."


"Lalu apa tujuanmu kemari Vander Liuzen?"


"Membuat penawaran."


Vasquez mengernyitkan keningnya. "Penawaran apa? Apakah menarik?"


"Kalau kau mau tahu, mari kita bicara serius."


"Oke, ikut ke ruanganku."


Di dalam ruangan itu, Vander yang tanpa basa basi langsung menjelaskan maksud kedatangannya kepada Vasquez.


"Jadi kau ingin tahu dimana Gauren?"


"Ya, karena aku tahu kau pasti salah satu yang membantunya disini kan?"


"Memang, tapi sudah tidak lagi. Mengingat kerjasama dengannya sama sekali tak memberiku untung besar. Dan kau, apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan mau membantumu?"


"Kita barter."


"Huh?"


Vander mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dan membukanya. Di dalam kotak itu ternyata berisi batu permata hitam langka yang hanya ada sepasang dimuka bumi. Vasquez sangat suka sekali benda langka nan antik, oleh karena itu Vander berniat akan memberikan permata itu dengan cuma-cuma jika Vasquez mau membantunya.


Melihat benda langka itu tentu saja jiwa kolektor Vasquez langsung menggelora. "Kau yakin permata itu asli?"


"Ya, aku mendapatkannya langsung dari pewaris terkhirnya. Dan kau sendiri tentu bisa pastikan kan itu asli atau palsu."


"Oke, jadi kau mau bantuan apa?"


"Aku mau kau beritahu aku dimana markas Gauren dan rencananya saat ini." Vander mulai bicara serius.


"Gauren punya lab di kota ini tepatnya di dekat gereja tua pinggir kota. Dan dalam mengekspor barang, ia memintaku membantunya dengan memanfaatkan jalur dagang para usahawan kecil menengah untuk menyebarkan barang dagangannya ke luar negeri. Dan jujur saja, aku tak terlalu tahu obat apa itu yang ia perdagangkan itu. Tapi melihat dirinya yang terus menolak mengembangkan bisnis obat terlarang denganku jadinya aku stop bekerjasama dengannya."


"Hanya itu?"


"Dan kudengar terakhir adalah, sejak seminggu lalu Gauren sudah tidak di kolombia. Dia akhirnya sudah punya akses menuju kembali ke negara asalnya"


"Apa?" Vander kaget.


"Tapi sepertinya dia akan mampir ke swiss dulu untuk mengamankan beberapa aset pentingnya. Jadi kemungkinan dia belum kembali ke ZR sekarang, mungkin masih di Swiss."


"Sial!"


"Kau sepertinya masih kalah licik darinya, tapi mau bagaimana lagi. Nyatanya pengalaman hidupnya jauh lebih banyak darimu jadi tidak heran si tua itu bisa melakukan hal macam. itu"


"Baiklah..." Vander ingin mengambil lagi permata miliknya namun tak dibiarkan oleh Vasquez.


"Kau tidak bisa mengambilnya lagi!"


"Kau tak banyak membantuku, kenapa aku harus berikan benda itu padamu?"


"Kau sudah janji jad—"


Tiba-tiba saja Vander menyergap Vasquez dan menodong leher pria itu dengan kunai tajam. "Aku peringatkan padamu jangan permainkan aku, kalau kau tidak mau mati sia-sia. Karen setengah senti saja kau bergerak, kunai ini akan menembus kerongkonganmu!"

__ADS_1


"Va- Vander, kau mau membunuhku pun percuma. Nyatanya pria itu memang sudah meninggalkan negara ini. Gauren itu licik dan punya banyak cara untuk bisa kabur."


Vander melepaskan pria itu dan mengambil kembali permata tersebut. "Jika kau masih mau benda ini, bekerjasamalah denganku! Sebelum ada hasilnya aku tidak akan berikan padamu permata ini!" Vander memberikan tatapan tanjamnya yang mengintimidasi. "Dan jangan pernah berani mengancamku, karena aku tahu rahasiamu soal anak perempuan yang kau sembunyikan selama ini!"


Vasquez bergidik ngeri. "Ka- kau bagaimana kau tahu soal putriku?"


"Kau pikir aku orang baru dalam dunia hitam seperti ini? Kenyataannya aku sudah lebih jauh didepanmu Vasquez."


Pria itu mengepalkan tangannya menahan marah terhadap Vander. "Baiklah aku katakan satu hal, Gauren berniat kembali ke negara asalnya bersama anak buahnya yang sudah ia perintahkan. Kau harus kembali ke negaramu segera, karena aku yakin anak buahnya sudah ada disana saat ini."


Vander merasa kali ini info Vasquez meyakinkan. Ia pun melemparkan kotak berisi permata itu kepada Vasquez. "Kuberikan itu padamu, tapi kalau kau berani bohong, aku pastikan putrimu mati!"


"Aku bertaruh nyawa kalau yang kutakakan adalah benar."


"Oke.. Aku pergi." Vander pun pergi dari ruangan itu dan mengajak Gavin segera meninggalkan tempat tersebut.


Namun saat mau meninggalkan markas, keduanya malah diserang habis-habisan oleh anak buah Vasquez, alhasil tak ada pilihan selain bertarung.


"Kak bagaimana ini?"


Vander tersenyum kecil. "Mau bagaimana, ya bunuh saja semuanya yang menghalangi."


"Baik..."


Untungnya Vander sudah mengira akan ada kejadian macam ini, jadi ia pun sudah tahu apa yang harus ia lakukan dengan Gavin saat bertarung melawan anak buah Gauren yang super banyak.


"Sial! Banyak sekali mereka!" Gumam Gavin yang mulai kelelahan menghadapi banyaknya anak buah Vasquez.


"Awas!" Vander melindungi Gavin yang hampir tertembak.


"Kak aku—"


"Kau cepat pergi dari sini! Segera cari kendaraan apapun dan tunggu aku diluar."


"Tapi kak kau—"


"Aku bisa tangani semua orang disini. Dengar, kau lebih handal berkendara daripada bertempur, jadi lakukan perintahku cepat!"


"Baik kak!"


Gavin pun pergi. Secepat yang ia bisa mencari kendaraan apapun yang bisa ia kendarai. "Kak, kau harus baik-baik saja."


"Sialan kau Vasquez!" Vander tidak punya cara lain, kalau terus bertarung dengan cara begini maka hanya akan menghabiskan waktu. Ia pun terpaksa melepaskan gas disana dan membakar markas itu lalu pergi secepat mungkin.


"Kak cepat naik!" Seru Gavin yang sudah berhasil membawa kabur mobil di garasi markas Vasquez.


Vander pun langsung masuk ke mobil.


"Kak, apa kau gila? Padahal kau sendiri yang bilang jangan buat masalah di negara orang, tapi nyatanya kau malah meledekan markas orang lain."


"Ya mau bagaimana lagi, dalam misiku memang tidak pernah mungkin berakhir damai. Sudah cepat ngebut ke tempat luas yang sepi lalu bakar mobil ini segera!"


"Eh dibakar?"


"Iya, sudah jangan banyak tanya!"


"Baik kak."


Setelah itu Vander tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalung permata biru langka dari dalam saku jasnya dan tertawa.


"Kenapa kau tertawa?"


"Aku senang, si bodoh Vasquez ternyata punya kalung ini. Biarlah dia ambil permata itu toh aku dapat yang lebih berharga." Ternyata saat mengancam Vazquez tadi, Vander diam-diam mencuri kalung miliknya sebagai ganti atas permatanya yang dibawa.


Sementara di dalam mobil saat melarikan diri dari kebarakan, Vasquez yang baru sadar kecurian pun hanya bisa menghela nafas pasrah. "Ternyata dia memang terlalu sulit dibohingi, sudahlah aku tak mau berurusan lagi dengan si Vander itu lagi," keluh Vasquez yang saat itu sudah berada duduk bersebelahan bersama putri kecilnya yang ia sayangi. Bagi pria itu nyawa putrinya jauh lebih berharga dibanding kalung permata.


...🍁🍁🍁...


Di sebuah club malam, tampak Reki yang tengah minum bir sambil ditemani para wanita. Tak lama kemudian muncul seorang pria menghampiri Reki dan mengajaknya bicara.


"Hei Reki, aku harus bicara denganmu!"


"Oh kau Mez, ada apa?"


"Sudah ikut aku saja!" Tandas Mez yang tidak lain adalah pesuruh setia Gauren.


Reki pun ikut dengan Mez dan mereka pun bicara di sudut tempat yang cukup sepi.


"Jadi kau sudah cari orang yang akan dibawa ke markas untuk disuntikan serum milik tuan Gauren?"


"Oh itu, sudah ada beberapa kudapatkan. Kenapa memangnya?"


"Aku hanya ingin mengingatkan tugasmu saja, jangan sampai kau terlena pada masa lalumu dengan wanita itu. Kau bilang mau balas dendam ke Vander kan?"


Reki seketika menatap penuh rasa dendam dan kebencian dimatanya.


"Ingat ya, kau itu bukan lagi Jeden Lee tapi Reki Helian. Jadi prioritasmu saat ini adalah untuk balas dendam, dan mengabdi pada tuan Gauren. Bukan lagi untuk mengejar wanita yang sedang hamil itu."


"Aku paham, dasar cerewet!"


"Baiklah kalau begitu aku pergi!" Tandas Mez meninggalkan Reki yang ternyata adalah identitas baru Jeden setelah ia melakukan operasi plastik dan pita suara beberapa bulan lalu.


"Aku akan balas dendam, tapi bukan hanya untuk si tua itu. Aku akan ambil apa yang yang seharusnya jadi milikku dari tangan Vander!"


Dendam, rasa sakit hati yang timbul karena kesalahan sediri apa akan selalu berujung petaka?


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏


__ADS_2