
"Vander?"
Lara yang awalnya kesal langsung tampak gembira dan melompat memeluk erat pria yang sudah sejak lama ditunggunya itu.
"Kau agak kurusan ya?" Tanya Vander saat memeluk sambil mengangkat tubuh Lara.
"Tidak kok, mungkin kau yang makin kuat!"
Van menghidu aroma tubuh Lara lalu melepaskan pelukannnya. "Kau habis masak ya?"
"Iya," jawabnya mengangguk. "Kenapa bauku tidak enak ya?"
"Baumu selalu enak," goda Vander.
"Oh iya tadi itu ada orang kurang kerjaan mengirimiku bunga-bunga ini, kau lihat!?" Lara memperlihatkan bunga-bunga kiriman dari orang tanpa nama itu yang ia letakan di meja ruang tamu.
"Kurang kerjaan kau bilang?"
"Iya kurang kerjaan, karena mengirim bunga tapi tidak kasih tau namanya, bikin susah orang saja!" Gerutu Lara.
Vander tiba-tiba memandangi Lara dengan tatapannya yang mengintimidasi hingga Lara salah tingkah dibuatnya.
"A- ada apa sih melihatku begitu?"
Vander tiba-tiba menggigit kecil telinga Lara, hingga gadis itu pun menjerit kaget. "Vander kau kenapa sih!"
"Aku sedang memarahimu, karena bisa-bisanya kau mengatakan aku kurang kerjaan!"
"Eh?" Lara terksiap. "Ja- jadi maksudmu bunga-bunga tadi itu darimu?"
Van mengangguk dengan wajah kesal.
"Ma- maaf aku tidak tahu, habisnya tidak ada nama pengirimnya, ditambah kenapa banyak sekali...?"
"Tujuh buket mawar dengan warna berbeda itu padahal mewakili seluruh warna di hatiku, yang aku rasakan saat bertemu dirimu lagi, bisa-bisanya kau bilang aku tidak ada kerjaan!" Vander besungut-sungut.
"Maaf tapi, aku tidak menyangka kau seromantis ini," ucap Lara tersenyum malu-malu. "Memang tujuh mawar itu artinya apa?"
"Putih aku rindu padamu, merah aku sangat mencintaimu, merah jambu aku ingin melihatmu, orens aku menyayangimu, jingga kau selalu dipikiranku, kuning kau kebahagiaanku, dan ungu artinya aku sungguh tergila-gila padamu."
Desiran lembut seketika hadir di hati Lara, wajahnya terasa panas karena senang bercampur malu. Vander kau benar-benar menyanderaku dalam perangkap cinta yang kau tebarkan.
"Sayang terima kasih bunga-bunganya dan... maafkan aku karena tidak tahu," Lara membujuk Vander. Namun Vander bukan pria bodoh dirinya yang manipulatif justru memanfaatkan rasa bersalah Lara. Pria itu lalu meraup tubuh gadisnya dan membawanya ke kamar.
"Eh ke- kenapa kau menggendongku tiba-tiba?" Lara bingung dan panik.
"Aku kesal padamu, jadi kau wajib meredam kekesalanku padamu."
"Kan aku sudah minta maaf...!"
"Maaf tidak cukup harus diselesaikan di atas ranjang!" Ucap Vander lalu menutup pintu kamar dengan menendangnya.
"Vander kita bisa makan siang terlebih dulu," ucap Lara mencari alasan.
"Aku lebih ingin makan dirimu!" Seru pria itu tak memberi kesempatan sama sekali Lara kabur.
"Vander pelan-pelan," pekik Lara terdengar dari dalam kamar.
**
__ADS_1
Mira dan Gavin memutuskan mampir untuk makan siang bersama. Melihat Miranda sepertinya marah sekali pada Lara sejak kemarin membuat Gavin jadi canggung rasanya, ia pun memutuskan untuk menanyakan hal itu pada Mira langsung.
"Oh iya Miranda, kau masih marah ya dengan kak Lara?"
Mira yang baru saja ingin menyumpit dumpling langsung tidak jadi. Wanita itu malah menghela nafas, "Sebenarnya aku marah padanya karena aku menyayanginya. Aku kesal dengan sikapnya yang kadang suka tidak pikir panjang dan berujung membahayakan dirinya sendiri!" Ungkap Mira.
"Tapi dengan kau diam begitu pasti kak Lara akan merasa bingung."
"Aku ingin dia menyadari kesalahannya, dia tidak bisa selalu ceroboh dan naif terus. Dia harus sadar, disekelilingnya banyak musuh yang bahkan bisa saja sewktu-waktu mengancamnya tanpa diduga, kalau dia tidak waspada dan berpikir panjang dia akan mudah diperdaya. Aku tau ada Vander di dekatnya tapi... pria itu juga tidak mungkin bisa setiap detik ada didekatnya kan...?"
"Iya sih kau benar, tapi sifat kak Lara kan memang begitu, mungkin maksudnya baik tapi dia tidak berpikir akibatnya untuk orang lain."
"Huft! Gadis itu memang terlalu bodoh kadang-kadang! Aku jadi suka kesal sendiri."
Gavin senyum-senyum kecil mendengar keluh kesah Miranda.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu? Menertawakanku?" Tandas Mira dengan wajah galak.
"Galak sekali sih! Aku senyum-senyum kerena... Aku tidak menyangka dibalik sifatmu yang kaku, to the point dan jutek, ternyata kau sangat peduli dan peka terhadap orang disekitarmu."
"Aku anggap itu pujian," tukas Mira tersenyum kecil. "Aku dan Lara, entah kenapa meski kami tidak ada hubungan darah tapi aku sangat sayang pada gadis itu. Mungkin karena kami sudah bersama sejak kecil jadi rasa saling menyayangi itu tumbuh begitu saja," ungkap Mira lalu menyumpit makannya.
Gavin lagi-lagi tertawa geli. "Kau tau Mira, aku merasa sifatmu itu sedikit mirip sama kak Vander," terang Gavin.
"Tidak mungkin, aku tidak selicik dia!" Ucap Mira seolah tak terima.
"Ya memang, tapi mendengarmu cerita begitu, aku jadi merasa Kak Vander juga seperti itu terhadapku. Dia memang mulutnya suka tajam tapi apa yang dikatakannya semua kebenaran. Dia suka tiba-tiba memukulku, tapi itu supaya aku tidak jadi pria cengeng dan paham kalau hidup itu keras. Dia juga suka marah padaku, bahkan pernah mengunciku digudang lapuk seharian saat aku salah. Awalnya aku selalu berpikir dia pria kejam dan sangat dingin. Tapi perlahan aku sadar, kalau apa yang dia lakukan padaku semua itu demi mengajariku caranya bertahan hidup di dunia yang keras ini. Kak Vander dia pria yang baik dan bertanggung jawab dibalik sikap dan auranya yang dingin."
"Sepertinya kau sangat kagum pada Vander?"
Gavin tersenyum. "Ya, dia sudah seperti ayah sekaligus kakak untukku. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana aku sekarang kalau tidak ada dia yang mengulurkan tangannya buatku."
"Ya itulah cinta sulit ditebak, makanya kau jatuh cinta," ujar Gavin.
"Hizz, kau sendiri juga tidak pernah jatuh cinta kan!?" Balas Miranda.
**
Setelah seharian dikamar melakukan 'aktifitas fisik' bersama Vander, Lara merasa tubuhnya terasa lengket dan ingin bersih bersih. Gadis itupun perlahan melepaskan diri dari dekapan Vander dan bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil kemeja hitam Vander yang baginya kebesaran untuk menutupi tubuh rampingnya. Lara pelan-pelan keluar kamar dan pergi ke dapur untuk minum, sekaligus memakan sisa fetuccini buatannya tadi. Setelah selesai membersihkan piring bekas makannya, Lara langsunt melihat jam di ponselnya.
"Sudah pukul sepuluh malam, dua jam lagi Vander akan berulang tahun." Kebetulan tadi pagi Lara juga sudah membuat kue ulang tahun sederhana buat Van. Ia juga sengaja tidak membangunkan kekasihnya itu sekarang, karena dirinya mau buat kejutan tepat pukul dua belas nanti.
"Sambil menunggu lebih baik aku bersih-bersih dulu deh!" Lara pun pergi ke kamar mandi.
Tak terasa dua menit lagi sudah mau pukul dua belas malam, Lara yang sudah bersiap mau membangungkan Vander malah gagal, karena ternyata dia sudah bangun duluan. Sambil memakai kaos hitamnya Vander keluar kamar dan memanggil-manggil Lara.
"Lara...! Sayang, kau dimana? Lara Hazel, Nona Lara...!"
"Surprise!" Lara yang sudah bersih dan ganti baju tiba-tiba muncul dengan membawa kue sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk kekasihnya itu.
Perasaan apa aneh apa ini? Hati Vander seketika merasa hangat, namun disaat yang sama entah kenapa ia juga ingin meneteskan air mata.
"Vander, ayo cepat tiup lilinnya!" Ucap Lara menyodorkan lilin angka 29 itu ke Van untuk ditiupnya.
Wuss! Vander meniup mati lilin itu.
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Lara memberi selamat lalu mencium pipi sang pria. Karena berat ia lalu meletakan kue ulang tahun itu diatas meja, lalu megajak Vander duduk di sofa. "Sini kau duduk disebelahku!"
Bagi Vander yang baru pertama kali seumur hidup dapat kejutan ulang tahun, rasanya seperti tidak tau harus melakukan apa saat ini. Yang ia lakukan hanya menuruti semua ucapan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Sekarang kau tutup matamu."
"Huh? Sekarang?" Ucap Vander dengan tanpang polos.
"Iya sekarang..."
Pria itu pun menutup matanya dan tidak boleh dibuka sampai Lara menyuruhnya buka mata.
"Sekarang buka matamu."
Vander membuka perlahan matanya dan,
"Tada...!" Di hadapannya, Lara memberikan sebuah kotak hitam berhiaskan pita emas.
"Ini— untukku?" Tanya Vander ragu-ragu menerimanya.
"Iya buatmu, cepat buka!"
Perlahan Vander pun membuka ikatan pita itu dan melihat isinya. Seketika pria itu tertunduk diam memandangi jam tangan klasik berwarna gelap itu dengan tatapan sulit dijelaskan.
"Van... Kau tidak suka ya? Kalau tidak suka..."
"Suka! Qku suka sekali," Vander tiba-tiba memeluk Lara, "Aku sangat suka hadiahnya, terima kasih, ini hadiah yang paling berharga yang pernah aku terima dari seseorang seumur hidupku."
Lara menatap Vander dengan lembut dan membelai pipinya. "Sayang...," tuturnya.
Tatapan Vander yang biasanya tajam seketika berubah sendu. Matanya seperti berkaca-kaca menatap Lara saat ini.
"Van... kau sebenarnya kenapa?" Tanya Lara bingung.
Pria itu pun langsung menyeka matanya yang hampir aja keluar air mata. "Aku... aku senang, sedih, terharu, dan entah perasaan lainya yang aku tidak bisa jelaskan. Yang jelas ini pertama kalinya dalam hidupku mendapat kejutan di hari ulang tahunku," ungkapnya.
"Sejak kecil aku kehilangan ibuku, ayahku pun tidak peduli padaku. Jangankan ingat ulang tahunku, ingat dia punya anak saja mungkin tidak."
Pria ini, aku tidak tau apa dia punya kenangan indah dimasa lalu atau tidak. Setiap bercerita tentang dirinya keluarganya, matanya selalu menyimpan banyak kesedihan yang seperti tak bisa ia ungkapkan.
"Kalau begitu mulai sekarang, setiap ulang tahunmu aku akan jadi orang pertama yang mengucapkannya dan memberimu hadiah," tutur Lara tersenyum.
Aku bisa merasakan ketulusan disenyum Lara. Vander lalu meraih kedua tangan Lara dan mengecupnya. "Terima kasih, terima kasih atas semua cinta dan ketulusan yang telah kau berikan padaku sampai detik ini."
Dan hari itu adalah ulang tahun terbaik untuk Vander.
Lara...
Dia adalah segalanya untukku saat ini, besok dan selamanya. Dia yang seperti musim yang menyuguhkan semua yang manusia butuhkan.
Bunga sakura dimusim semi.
Matahari cerah dimusim panas.
Dedauan rimbun di musim gugur
Dan selembut salju dimusim dingin.
Lara sayangku... teruslah buatku jatuh cinta
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1