Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Pengganti Lara


__ADS_3

Rey yang mau berangkat ke sekolah terlihat wajahnya sumringah dan berseri-seri. Hal itu karena hari ini ia akan diantar oleh papa dan mamanya pergi ke sekolah. Mungkin terdengar biasa bagi anak lain, namun bagi Rey momen seperti ini cukup langka, mengingat papa dan mamanya sama-sama bekerja.


Setibanya di sekolah, baik Lara dan juga Vander sama-sama turun untuk mengantar putra mereka sampai ke depan kelas. Reynder berjalan sambil menggandeng tangan papa dan mamanya. Pria kecil itu terlihat senang bercampur bangga, berjalan digandeng kedua orang tua yang baginya sangatlah luar biasa. Bahkan tak jarang yang melihatnya pun memuji keluarga Rey sangat ideal.


Saat sudah didepan kelas, Reyder pun pamit masuk kelas pada kedua orang tuanya.


"Sayang, belajarlah yang rajin dan menurutlah pada ibu guru okey."


"Iya mama, aku janji."


"Papa, kalau nanti aku dapat nilai bagus boleh tidak aku minta hadiah?"


Vander berjongkok lalu mengusap kepala Rey. "Tentu saja, pesanku hanya satu. Jadilah pria yang berani dan bertanggung jawab, kau paham?"


"Em!"


"Itu baru putraku," ujar Vander mengajak tos.


"Yasudah aku masuk dulu ya, bye mama dan papa..."


"Bye sayang..."


Setelah mengantar Rey, Lara dan suaminya pun kembali ke mobil dan menuju Laizen Tower. Di dalam perjalanan menuju kantor, Lara yang tengah mengenakan maskara tiba-tiba saja membahas soal Emily yang kabarnya kena gangguan jiwa, dikarenakan depresi yang tak berkesudahan.


"Wanita itu gila karena ulahnya," ujar Vander sambil menatap layar laptopnya.


"Tapi aku jadi agak merasa bersalah," ungkap Lara.


Tidak mau istrinya berpikir begitu, Vander pun menggenggam tangan sang istri dan langsung meyakinkannya, kalau apa yang tejadi pada Emily sama sekali bukan salahnya. "Jangan salahkan dirimu, kau sama sekali tidak bersalah, justru kau adalah korban dari kepicikan wanita ular itu."


Lara tersenyum lega, ia merasa beruntung sekali memiliki suami yang begitu menyayangi dan mendukungnya. "Terima kasih Vander, kau selalu tau cara menenangkanku."


"Itu gunanya suami," ucapnya lalu mecium tangan Lara.


"Oh iya Vander, aku ingin memberitahu dirimu kalau aku sudah memiliki kandidat yang cocok untuk menjadi sekretaris yang akan menggantikanku."


"Oh ya? Siapa?" Vander tampak penasaran.


"Nanti di kantor kau juga akan tahu. Soalnya aku sudah meminta dia untuk datang ke Laizen tower pagi ini."


Vander mengangguk santai, "Ya kita lihat bagaimana pilihanmu apa sesuai standarku."


"Kalau kau cari yang seperti aku tentu saja tidak mungkin ada. Tapi kalau yang mendekatiku cara kerjanya aku yakin orang pilihanku ini adalah yang paling tepat," ungkap Lara merasa begitu percaya diri.


...🍁🍁🍁...


Sesampainya di kantor, baik Lara maupun Vander langsung bergegas masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruangan mereka. Dan setibanya di sana, ternyata di lobi atas dekat ruangan Vander berada, terlihat seorang wanita berpakaian formal yang tidak lain adalah Naomi. Melihatnya, Lara pun segera menyapa wanita itu dan menghampirinya.


"Naomi, kau sudah lama menunggu ya?"


"Oh tidak kok Nona, aku belum lama menunggu."


Vander yang melihat kehadiran Naomi pun menatap Lara dan bertanya, "Apa kandidat yang kau maksud adalah dia?" Menunjuk Naomi.


Lara mengangguk. "Vander kau harus tau betapa kompetennya Naomi. Dia selama menjadi manajernya Emily, aku sudah mengobservasi track record kerjanya. Dia sangat detail, tepat waktu, dan juga loyal. Aku yakin sekali dia bisa mengimbangi cara kerjamu," jelas Lara seolah memuji kinerja Naomi.


Naomi pun jadi agak tersipu malu. "Nona, kau terlalu berlebihan."


"Tidak, aku mengatakan begitu murni atas dasar fakta yang ada."


Vander lalu menatap Naomi seraya mengobservasinya. Tentu saja wanita itu agak gugup sampai tidak berani menatap wajah Vander balik.


Setelah menatapnya Vander kemudian mempertimbangkannya. Dari ucapan Lara terdengar bagus, tapi beda bos beda cara kerja, dan Vander harus memutuskannya dengan bijak. "Baiklah, aku beri kesempatan. Tapi sebelum itu kau harus mengikuti prosedur cara melamar kerja yang sudah ada. Karena meskipun kau adalah rekomendasi langsung dari istriku, kau tetap harus di test."


"Baik tuan, aku mengerti," jawab Naomi.


"Kalau begitu Robert!"


"Iya tuan?" sahut Robert yang sejak tadi berdiri di dekat Vander.


"Sekarang juga kau bawa nona Naomi ini untuk menjalani prosedur test penerimaan karyawan pada umumnya. Dan setelah kau baca CV serta portofolionya, kau serahkan padaku."


"Baik tuan, aku mengerti. Kalau begitu aku permisi dulu tuan, dan nona Lara. Nona Naomi silakan ikut aku."


"Aku juga permisi dulu tuan, nona," ucap Naomi yang kemudian langsung ikut dengan Robert untuk melakukan berbagai tes dan wawancara.


...----------------...


Di dalam ruangannya, Vander tiba-tiba saja memeluk Lara dari belakang. Dengan gestur dan gelagat manjanya, pria itu mengeluh layaknya anak-anak yang tengah merajuk. "Setelah kau pergi, aku pasti akan jadi kesepian dan tidak bisa lagi bermanja-manja seperti ini. Nanti kalau aku telat makan siapa yang mengingatkanku? Kalau aku sedang sibuk tidak sempat makan siapa yang menyuapiku? Lara... sejujurnya aku tidak mau kau pergi."

__ADS_1


Lara menghela nafas dan berbalik badan. Ia kemudian menatap wajah suaminya dan membelainya. "Kau ini kenapa tiba-tiba jadi bertingkah seperti Reynder yang ngambek kalau mau kutinggal pergi?"


"Akuβ€” aku kan juga anakmu Lara," ucap Vander dengan wajahnya yang membuat Lara jadi merasa gemas.


"Hahaha... Dasar manja, sini ikut aku..." Lara mengajak suaminya yang sedang merajuk manja itu duduk di sofa untuk mengajaknya bicara.


"Hei dengar, kau sendiri kan yang sudah mengizinkanku keluar waktu itu? Lalu kenapa sekarang begini?"


"Aku ingin kau bahagia mewujudkan cita-citamu, tapi aku juga ingin selalu bersamamu..."


Lara tersenyum lalu mengecup bibir suaminya. "Jangan sedih sayang, aku kan tetap istrimu. Dan kau jangan khawatir meski kita akan beda kantor, perhatianku padamu tidak akan kurang. Kau pikir aku akan biarkan wanita lain mengurus suamiku, tentu tidak. Mau siapapun wanita itu, tetap saja kau hanya boleh manja padaku, paham?"


"Huft!" Vander menghela nafas lalu minta maaf pada Lara karena sudah bersikap kekanak-kanakan. "Aku seharusnya tidak membebanimu dengan berkata begini, maaf ya istriku," tandas Vander tersenyum polos.


"Tidak apa-apa, aku suka kok melihatmu yang suka bergantung padaku," Lara memeluk sang suami ke dekapannya. "Aku suka sekali Vander yang tegas, pemberani, lembut, serta manja hanya kepadaku. Jangan berubah ya suamiku sayang."


"Aku tidak akan berubah, asal kau selalu sayang padaku.,"


"Tentu saja, selain Reynder kau satu-satunya pria kesayanganku."


"Tapi aku nomor satu kan?" Tandas Vander tidak mau kalah.


"Buatku kalian sama-sama nomor satu."


"Tidak! Aku nomor satu, karena aku lebih dulu lahir."


Berdebat dengan Vander yang saat ini Lara akhirnya hanya bisa pasrah saja dan mengiyakannya. "Iya kau nomor satu."


"Memang harusnya begitu," jawab Vander senang.


"Oh iya Vander, tiba-tiba aku punya ide. Bagaimana kalau kita berlibur? Ya setidaknya dua atau tiga hari, minimal kita keluar kota. Kita belum pernah pergi liburan dengan Rey kan? Aku sudah pastikan di jadwalmu minggu ini kau punya dua hari jadwal kosong."


"Jadi kau ingin liburan?"


"Iya, kumohon kau mau kan ajak aku liburan?" bujuk Lara.


"Okey, kita ke villaku di kota BR. Kebetulan disana aku mau meninjau lahan yang kemungkinan akan kujadikan tempat untuk membangun proyek baru."


"Huh? Kota BR? Aku baru dengar."


"Itu memang bukan kota besar seperti ZR, disana wilayahnya juga masih pedesaan sejuk dan banyak perkebunan, jadi suasananya masih sangat asri. Disana juga banyak hutan dan sungai, dan vilaku letaknya dekat danau dan hutan yang strategis. Bagaimana menurutmu?"


"Aku setuju, aku dulu di Kanada juga tinggal di kota kecil yang masih asri, suasana seperti itu memang cocok untuk penyegaran. Oh iya villamu luas tidak?"


"Ah bagus, kita ajak lainnya juga ya. Seperti Robert, Naomi dan lain-lain supaya seru!"


Vander mengangkat dagu Lara dan berkata, "Istriku sayang, kau bosnya dan kau atur saja sesukamu. Aku disini hanya menunggu perintahmu saja."


"Oke kalau begitu artinya kau setuju, Vander kau memang baik sekali! Aku cinta padamu sangat sangat," tandasnya dengan sumringah sambil memeluk suaminya.


...🍁🍁🍁...


Di Labnya yang berada di pulau Crux. Dominic yang akhirnya bisa menyelesaikan serum buatannya pun tampak puas sekali. "Akhirnya setelah dua tahun aku berhasil menyelesaikan serum ini." Karena serumnya sudah berhasil ia temukan, Dominic pun langsung menelepon Vander untuk memberitahunya.


Dominic : Halo Vander


Vander : Ada apa?


Dominic : Vander, aku sudah berhasil membuat serum penangkal untuk racun yang dibuat oleh Gauren.


Vander : Jadi begitu. Lalu apa sudah bisa diuji coba pada manusia?


Dominic : Iya bisa, kau datanglah ke Crux minggu depan aku akan menyuntikannya ke tubuhmu.


Vander : Baiklah...


Dominic : Tapi Vander, kau yakin kan, akan melakukannya? Aku tidak mau melakukan uji coba terhadap manusia secara terpaksa.


Vander : Memang kapan aku tidak yakin memutuskan sesuatu?


Dominic : Baik kalau memang kau sudah yakin, kalau begitu sampai bertemu minggu depan!


Vander : Ya!


"Semoga semuanya berjalan lancar," ujar Dominic.


...🍁🍁🍁...


Di sebuah pusat perbelanjaan, terlihat Lara yang sedang berbelanja bersama Miranda. Disana kedua istri itu nampak sedang sibuk memilih buah-buahan.

__ADS_1


"Lara, baiknya aku buat jus apa setiap pagi untuk Gavin?" Tanya Miranda meminta tips pada Lara mengingat suaminya tidak terlalu suka mengkonsumsi buah.


"Buatkan saja jus wortel dan jeruk, atau bisa juga jus strawberry dicampur apel segar itu juga sehat," tandas Lara yang baru saja selesai memilih beberapa buah kiwi.


"Ah begitu ya?"


"Memang kenapa kau tanya begitu?"


"Soalnya Gavin itu agak susah disuruh makan buah, jadinya aku harus buatkan jus agar dia mau mengkonsumsi buah. Itu pun dia pilih-pilih buahnya," jelas Miranda. "Kalau Vander, dia apa juga susah dalam hal makanan?"


"Kalau suamiku untungnya tidak pilih-pilih makanan orangnya, dia hanya tidak suka daun seledri, selebihnya dia makan segalanya."


"Wah beruntung sekali, si Gavin itu susah makan buah dan sayuran. Dan kau tahu kan, aku ini tidak pandai masak, ditambah aku memang tidak terlalu suka masak. Tapi Gavin hari ini tiba-tiba saja memaksa minta aku masak makan malam," ungkap Miranda.


"Loh memangnya selama menikah, kau belum pernah masak buat dia?"


Miranda menggeleng. "Soalnya setiap pagi kami selalu dikirimi sarapan oleh ibu, sementara makan siangnya sendiri-sendiri, kalau malam paling cari makan diluar atau pesan," jelas Miranda yang bingung harus masak apa untuk suaminya malam ini.


"Aku rasa Gavin ingin sesekali mencicipi masakan istrinya. Tidak ada salahnya kan kau buatkan dia masakan."


"Iya sih... masalahnya aku hanya bisa masak nasi dan menggoreng daging beku instan saja."


"Kenapa kau tidak minta ajari bibi untuk mengajarimu memasak, setidaknya satu atau dua menu yang mudah."


"Aku malu minta tolong pada ibuku terus. Lagipula ibuku itu kan agak tidak sabaran kalau mengajari. Aku sih berencana buat sup kaldu ayam jamur saja yang mudah."


"Ide bagus! Bahannya mudah dan bumbunya juga sangat sederhana. Ayo Mira, demi suamimu yang imut itu, berusahalah...!" Lara memberi semangat.


...----------------...


Setelah selesai berbelanja, nampak Lara dan Miranda mampir ke kedai eskrim untuk sekedar menikmati segelas es krim. Saat tengah menyantap eskrim dingin yang lembut itu, tiba-tiba saja Lara teringat putranya yang hari ini ada les berenang. Ia pun menelepon Frida untuk mengingatkannya.


Lara : Bibi, jangan lupa juga tolong berikan vitamin pada Rey karena hari ini jadwalnya cukup padat. Dan satu lagi, tolong untuk makan malam nanti masak ikan asam manis dan juga sup gingseng buat tuan ya...


Frida : Baik Nyonya.


"Kau ini istri dan ibu yang hebat ya," puji Miranda sambil menatap kagum temannya itu.


"Ah biasa saja, bukannya semua ibu seperti yang aku lakukan?"


"Tidak juga, dari survei yang aku baca mengatakan, hanpir enam puluh persen seorang ibu pekerja di negara kita, mereka lepas tangan pada anaknya dan menyerahkan sepenuhnya pada pengasuh. Alasannya, karena mereka sudah repot dan pusing karena pekerjaan jadi tidak mau pusing soal anak juga."


Lara tersenyum kecil, "Aku rasa itu hanya tergantung pilihan saja, kalau aku pribadi aku ingin tetap bisa merawat anak-anakku. Lagipula dari Rey bayi aku terbiasa merawat dan mengasuhnya sendiri, makanya Rey lengket sekali denganku."


"Anak-anakku, memang kau mau punya anak lagi?"


"Iya tentu saja, kebetulan Rey sudah minta adik tuh."


"Ya ampun Lara kau ini tangguh juga ya."


"Hehehe, kau sendiri?"


"Jujur saja aku agak takut punya anak?"


"Eh kenapa?"


"Ya, aku takut tidak bisa jadi ibu yang baik sepertimu. Kau tahu aku ini kan orangnya tidak suka direpotkan. Ini saja punya suami ternyata tidak semudah itu, kalau tambah anakβ€” aku tidak bisa bayangkan."


"Jadi kau tidak ingin punya anak?"


"Ingin sih, tapi tidak terlalu. Mungkin dua tiga tahun lagi. Ya intinya aku masih bimbang."


"Kalau Gavin?"


"Justru sepertinya dia yang sudah mau punya anak, tapi dia selalu mengatakan terserah aku kapan siapnya."


"Gavin suami yang sangat baik, dia tidak memaksakan kehendaknya padamu. Tapi kalau aku boleh saran. Apa tidak kau pertimbangkan saja untuk punya anak dalam waktu dekat ini? Mumpung usiamu masih kepala dua, kalau dua tiga tahun lagi usiamu sudah kepala tiga. Maksudku, jika kau khawatir soal dirimu yang bisa tidak jadi ibu yang baik, aku rasa tidak akan ada jawabannya sampai kau benar-benar punya anak."


Mira menatap Lara penuh tanya.


"Kau tahu, saat aku tahu aku hamil, aku juga tidak pernah merasa siap jadi ibu. Tapi seiring berjalannya waktu bersama Rey yang tumbuh didalam rahimku, sampai dia akhirnya lahir. Perasaan dan naluri seorang ibu itu muncul begitu saja. Rasa ingin melihat darah daging kita tumbuh dengan sehat dan bahagia, membuat kita berusaha untuk menjadi versi ibu terbaik semampu kita. Karena aku sadar, didunia ini tidak ada yang namanya ibu sempurna, yang ada hanya ibu terbaik bagi setiap anaknya. Jadi jangan takut untuk menjadi ibu."


"Lara... kau benar-benar sudah sedewasa ini ya, padahal aku lebih tua darimu tapi kau begitu bijak," ungkap Mira terharu.


Lara tertawa tersipu malu dipuji begitu. "Oh iya ngomong-ngomong, lusa nanti kau dan Gavin ikut saja denganku liburan ke villanya Vander, disana sangat asri dan indah suasananya. Barangakali saja setelah dari sana kau tiba-tiba jadi ingin punya momongan."


"Liburan ya? Boleh juga, sudah lama aku tidak berlibur. Oke aku ikut!"


"Asyik!"

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2