
"Sabar!" Van pun membukakan pintu. Ternyata benar Miranda yang datang dengan berbagai macam tentengan di tangannya.
"Si- silakan masuk," ucap Van seolah tidak ada kejadian apa-apa.
Miranda masuk dan bertanya dimana Lara.
"Dia sedang di kamar mandi."
Tiba-tiba Mira memicingkan matanya ke arah Van.
"A- ada apa Nona Miranda kau melihatku begitu?"
"Tidak, aku hanya mau tanya kau itu pria normal kan?"
"Huh? Tentu saja memang kenapa?"
"Tidak apa-apa," Mira masih memperhatikan Van dari kepala hingga kaki. Kenapa kedua tangannya seperti menutupi belalai dibalik celananya? Eh jangan-jangan?
Mira langsung melotot dan mencecar Van. "Hei kau semalam tidak macam-macam kan pada Nona? Kau tidak melakukan hal-hal aneh kan saat dia tidur?"
"Tenang saja! Aku tidak akan berani melakukannya— kecuali kalau dia yang memprovokasiku duluan."
"Heh apa kau bilang!" Omel Miranda.
"Tidak tidak... Kenapa kau itu galak sekali sih! Jika galak begitu kau bisa-bisa susah dapat pacar tau!"
"Sudahlah, sekarang aku mau menemui Nona, kau tolong panaskan sandwich ini untuk kita sarapan!" Mira memberikan tentengan berisi sandwich itu kepada Van lalu pergi.
**
Setelah bersiap Lara, Van dan Mira sarapan bersama di meja makan menikmati sandwich yang dibawakan Miranda tadi.
"Ini enak! Kau memang paling tau kalau aku suka sekali sandwich tuna," ujar Lara.
"Ibuku langsung buatkan itu saat tau kau minta dibawakan sarapan."
"Nyonya Jah memang yang terbaik!" Puji Lara.
Sememtara itu, Van dengan tatapan polosnya malah terus saja memandangi sandwich yang dipegangnya. Jadi begini rasanya sarapan bersama? Ujar batinnya. Bagi Van momen makan di meja makan bersama adalah hal yang tak biasa, apalagi dirinya yang sudah beberapa tahun ini hidup jadi gelandangan.
Lara yang duduk disebelah Van melihat pengawalnya diam saja begitu langsung menegurnya. "Van kau kenapa tidak makan?"
"Oh ti- tidak Nona, ini aku baru mau makan," Van lalu memakan sandwich itu. "Ini enak," tuturnya dengan wajah bahagia.
Lara ikut senang melihatnya. Entah apa yang dia pikirkan, tapi hanya dengan melihat pria di sampingku makan dengan bahagia hatiku jadi ikut merasa senang.
"Enak sekali ya?" ucap Lara.
"Iya," jawab Van sambil mengunyah.
Ya ampun, dia kok kalau lagi makan begini terlihat menggemaskan sekali sih? Aku jadi ingin menyuapinya, pikir Lara ketika memandangi Van yang tengah makan.
Disisi Lain Miranda yang duduk melihat mereka berdua seolah merasa hanya jadi nyamuk. "Ehem!"
__ADS_1
"Oh iya Mira maaf ya, kami—"
"Tidak masalah, aku tau kok kalian berdua makin akrab. Tapi yang lebih penting aku ingin tanya adalah soal kejadian semalam, sebenarnya bagaimana kronoligisnya?"
Van pun menceritakan kejadian semalam sedetail mungkin kepada Miranda.
"Lalu, setelah mereka kalah?"
"Aku menghubungi polisi dan langsung pergi buru-buru membawa Nona Lara yang pingsan kesini."
"Dan lalu kau menelponku agar mendatangkan dokter Yose ke apartemenmu?"
"Jadi semalam dokter Yose datang?" Tanya Lara yang baru mengetahuinya. Lara jadi merasa tidak enak karena sudah merepotkan Van dan Mira.
"Tidak apa-apa Nona Lara, aku dan Nona Mira sama sekali tidak merasa kau repotkan kok!"
"Itu benar, yang penting kau selamat, dan kita harus segera mencari tahu dalang dibalik semua teror dan penyerangan-penyerangan ini. Aku takut jika kita tidak segera bertindak, hal itu akan semakin membahayakan Nona Lara dan orang-orang disekitarnya."
"Kau benar Nona Miranda." Tapi sejauh ini tidak ada info apa-apa dari polisi tentang penyelidikan kejadian itu. Van yakin sekali orang dibalik penyerangan semalam pasti bukan orang sebarangan dan dia mengenal Van. Sepertinya dia mau main petak umpet denganku ya? Van menyeringai kecil, seolah sudah punya nama tersangkanya.
**
Sesampainya di Miracle Lara langsung ke ruang meeting. Hari ini memang ada jadwal evaluasi perusahaan yang dilakukan setiap dua minggu sekali. Selain membahas tentang kerjasama dengan beberapa perusahaan yang harus gencar dilakukan. Lara juga membahas soal saham Miracle yang belakangan ini bergerak fluktuatif, dan itu menyebabkan Miracle akan sulit mendapatkan kepercayaan dari para pemain saham. Belum lagi masalah internal yang terjadi di Miracle beberapa bulan terakhir ini.
"Nona!"
"Iya Tuan Park dari divisi keuangan."
Tuan Park melaporkan pada Lara jika dua bulan terakhir ini tercatat pengeluaran tidak sesuai dengan laporan bulanan perusahaan.
Jeden sadar Lara memperhatikannya. Gadis ini sedang mencoba menekanku?
"Tuan Jeden Lee, apa ada yang ingin kau sampaikan di meeting kali ini?" Ujar Lara.
Semua yang hadir melihat ke arah Jeden. Sudah pasti Jeden merasa bingung ingin mengatakan hal apa, secara memang tidak ada yang bisa dilaporkan.
"Aku..."
"Mungkin membahas tentang kegiatan marketing di Tokyo beberapa waktu lalu?" Sindir Lara.
"Oh iya maaf Nona,"
"Silakan Tuan Park."
Tuan Park menjelaskan jika dilaporan rekening yang ia terima, ada beberapa aliran dana yang keluar ke rekening jepang. Sedangkan dilaporan bulanan perusahaan, anggaran itu tidak tertulis.
"Mungkin Tuan Jeden bisa jelaskan?" Desak Lara diikuti seringai kecil.
Sial aku terpojok! Tidak, reputasiku bisa hancur kalau begini, aku harus mengalihkan pembicaraan ini. "Soal itu aku rasa divisi keuangan harus lebih teliti lagi, karena nyatanya aku selalu memberikan laporan lengkap lewat sekretarisku."
"Jadi maksud Tuan Jeden secara tidak langsung mengatakan, kalau orang-orang di divisiku tidak kompeten begitu?" Sahut Tuan Park tak terima.
"Lho aku tidak bilang begitu, tapi kalau anda merasa— ya terserah," ujar Jeden dengan angkuhnya.
__ADS_1
"Tuan, aku bekerja untuk Miracle sudah hampir lima belas tahun. Selama itu juga aku memimpin divisiku dengan sangat baik, jadi tolong jaga ucapan anda!"
Suasana meeting mulai tidak kondusif pimpinan divisi jadi saling menyindir hingga membuat Lara sedikit kebingungan. Ia tidak mengira Jeden akan berkelit seperti ini. Miranda pun akhirnya memberitahu Lara agar menkondusifkan suasana.
"Semuanya tolong tenang, ini ruang meeting!" Ucap Lara.
Jeden yang licik akhirnya menggunakan kesempatan ini untuk meng-counter Lara. "Nona Lara Hazel, aku rasa Miracle jadi menurun itu juga karena performamu dalam memimpin perusahaan ini."
"Apa maksudmu?" Lara tersinggung.
"Maksudku... semua masalah akhir-akhir ini di Miracle terjadi sejak kau yang belum matang dalam memimpin perusahaan, tapi malah sudah naik ke kursi pemimpin. Nyatanya kau menjabat jadi CEO baru tahun lalu saat kau baru saja lulus. Kalau aku boleh jujur, pengalaman kerjamu kurang dibanding ayah dan kakekmu."
Lara mengepalkan kedua tangannya, gerahamnya mengatup tanda menahan luapan emosi.
Miranda yang melihatnya pun tahu hal itu. Ucapan Jeden yang seolah meragukan kemampuan Nona di depan pegawai lain, ditambah sebagian divisi sepertinya mulai termakan ucapan Jeden. Sebaliknya pria itu malah memasang tatapan puas karena merasa telah berhasil membuat reputasi Lara sebagai pimpinan mulai diragukan.
Aku harus kontrol amarahku. Pada akhirnya Lara terpaksa memutuskan mengakhiri meeting hari ini karena ia tidak mungkin meneruskan meeting dengan perasaan buruk. Setelah orang-orang dari divisi masing-masing meninggalkan ruangan, tersisa hanya Mira, Jeden dan Lara disana. Jeden memang sengaja keluar terakhir karena ingin mengingatkan Lara agar tidak macam-macam padanya.
"Dengar ya Nona Lara, setinggi apapun jabatanmu di kantor ini, tapi tetap saja jika dibandingkan kemampuanmu tidak sebanding denganku sayang..." Ucap Jeden sambil mencolek dagu Lara. "Aku sarankan lebih baik kau turun dan menikahlah denganku dengan begitu kau—"
"Tutup mulutmu Jeden! Aku tidak butuh saran murahanmu. Lagipula siapa yang mau jadi istri pria tidak bertanggung jawab sepertimu?!"
Jeden marah lalu mendongakkan dagu Lara. "Dengar Nona Lara! Meski tangan satuku cedera tapi aku bisa saja kejam padamu jika—?"
"Jika apa!" Lara memberontak menatap tajam penuh rasa tak suka pada Jeden.
Miranda yang khawatir akhirnya membantu menyudahi perseteruan Lara dan Jeden. "Tuan Jeden lebih baik kau pergi dari sini segera!" Tukas Mira serius.
Jeden tertawa geli dan memandang remeh Lara dan Mira. "Menyedihkan melihat kalian berdua, yang satu hanya bermodalkan anak pemilik perusahaan, yang satu lagi hanya bermodalkan kedekatan dengan keluarga pemilik perusahaan, benar-benar menyedihkan!"
"Jeden!" Seru Lara emosi.
Jeden tertawa meledek. "Baiklah-baiklah aku pergi, tapi kau harus ingat Lara, cepat atau lambat kau pasti akan jadi istriku," ujar Jeden lalu pergi dengan sombongnya.
Lara menatap penuh rasa marah sekaligus kecewa.
"Mira?"
"Ya Nona?"
"Apa mungkin sebagian yang diucapkan Jeden tadi itu benar, aku memang belum pantas menggantikan ayah ataupun kakek."
"Nona jangan termakan ucapannya. Orang seperti Jeden tidak pantas bicara begitu tentangmu." Mira yakin setelah mendengar perkataan Jeden tadi, pasti saat ini Lara merasa kalau dirinya telah gagal sebagai pemimpin.
"Kau hanya perlu lebih berjuang dan percaya diri lagi Nona, semangat!" Ujar Miranda berusahan menyemangati Lara.
Lara tersenyum getir. Terima kasih Mira, tapi kau tidak perlu menutupinya, aku sendiri sadar kalau sebagian ucapan Jeden itu benar. Saat ini aku memang merasa belum pantas untuk jabatan CEO.
**
Van yang baru saja kembali dari rooftop gedung. Di perjalanan menuruni tangga ia melihat seseorang berseragam cleaning service tampak mengutak atik panel listrik di lantai delapan. Melihatnya Van langsung curiga, pasalnya untuk apa seorang cleaning service mengutak atik panel listrik yang jelas bukan tugasnya?
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, COMMENTNYA TEMAN-TEMAN💜