Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Menghilangkan Memori.


__ADS_3

Akhirnya helikopter yang dinaiki Vander mendarat di Crux. Mengenakan sweater turtleneck berwarna coklat tua dibalut matel hitam, Vander melangkah keluar dari helikopter. Seperti biasa pria itu disambut oleh orang-orang disana dengan penuh rasa hormat layaknya pemimpin.


"Selamat datang Tuan Vander," sapa orang-orang yang melihat Vander.


Ditemani Robert yang berjalan dibelakangnya, Vander pun berjalan memasuki mansion besar yang menjadi simbol kedigdayaan Crux tersebut. Di dalam, Vander terlihat menyusuri tiap ruangan yang ada memastikan semua baik-baik saja selama dirinya pergi.


Kali ini Vander mendatangi ruangan keterampilan pertarung..


Di ruangan itu terlihat orang-orang yang sedang sibuk latihan sebagai dasar menjadi agent Crux yang profesional.


Melihat anak-anak itu berlatih keras, Vander pun merasa tertarik untuk menyaksikan mereka. Ia pun segera memasuki ruangan itu dengan penuh semangat.


" Um Tuan maaf, bukankah anda harus menemui dokter Dominic segera,"Β  ucap Robert mengingat jadwal Vander. "Lebih baik kau saja duluan yang menemui dokter cerewet itu!" Titah Vander sambil terus memasuki ruangan.


Melihat Vander datang, orang-orang yang ada ditempat latihan itu pun bersorak senang menyambutnya.


"Aku sengaja kemari karena ingin melihat kalian berlatih," ucap Vander.


"Tuan Vander, suatu kehormatan jika anda mau mendemostrasikan cara bertarung di situasi tak terduga pada kami," pinta salah salah seorang anggota.


Karena sudah jarang sekali bertarung sejak menjabat menjadi CEO dan leader Crux, Vander pun bersedia melakukannya. "Kebetulan aku sedang ingin pamer," ucap Vander dengan wajah tengilnya sambil melepas matel dari badannya.


Disana Vander mengatakan, jika seorang agent harus bisa memanfaatkan semua situasi dan benda apapun yang ada disekitar mereka. "Itu sebabnya kapanpun kau berada, intuisimu harus selalu bekerja dan tetap waspada, karena bisa jadi pergerakan kita sudah dibaca oleh musuh sejak awal." jelasnya.


Disana Vander memilih senjata sederhana, yakni belati kecil untuk melakukan demostrasi. Dibanding pistol, senapan dan senjata lainnya, Van sengaja tidak memilih pistol padahal pistol jauh lebih menguntungkan dan berguna saat dipakai bertarung.


Alasannya karena pistol lebih mudah digunakan baik dari jarak dekat maupun jauh. Akan tetap Vander mau mencontohkan bagaimana cara bertarung disituasi yang kiranya mendesak sekali, karena semakin terdesak manusia, maka secara alami daya kerja otaknya pun akan semakin cepat dalam mencari celah untuk lepas dari desakan musuh.


Vander pun mulai mendemonstrasikannya gaya bertarungya, ia tampak berlari melewati berbagai situasi buatan disana. Lima orang anggota diminta menyerangnya terlihat menyerangnya bersamaan, dan dengan mudah pria itu pun melarikan diri menggunakan jebakan yang berefek domino yang akhirnya bisa mempersingkat waktu pelarian diri. Dan tidak sampai satu menit, Vander pun berhasil menunjukan demonstrasi melawan musuh disituasi mendesak dengan sangat baik, orang-orang diruang latihan pun bersorak dan berdecak kagum padanya. Sebenarnya ia masih ingin disana mengingat sejak jadi CEO Laizen Vander sudah jarang sekali bertarung fisik, karena dirinya sekarang lebih sibuk bertarung di bursa saham dunia.


Untuk anggota Crux kemampuan fisik, ketangkasan, serta intuisi adalah hal utama, mengingat Crux sendiri adalah perserikatan non resmi yang bebas, yang mana organisasi tersebut bisa bekerja secara rahasia untuk banyak afiliansi di semua bidang. Mata-mata Crux juga secara rahasia bekerja sama dengan federasi buronan international (FBI) untuk menyitas kriminal ditingkat internasional terutama di wilaya asia. Sebelum dipegang oleh Vander, perserikatan Crux di pegang oleh Mario Gauren sebagai atau yang sering disebut Mister M sebagai pimpinannya. Saat dipegang Gauren, Crux adalah sebuah perserikatan yang di lebih mengutamakan kegiatan ilegal seperti perdagangan manusia, pembuatan senjata api ilegal, dan yang paling sering adalah pembuatan obat-obatan terlarang. Sementara saat ini, meski masih menjalankan sebagian bisnis ilegal diatas kecuali perdagangan manusia, Crux yang kini dipegang oleh Vander sudah berubah menjadi organisasi yang lebih manusiawi. Crux juga saat ini diam-diam menjadi salah satu donatur program beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu di negeri ini.


...🍁🍁🍁...


Di kediamannya, Lara yang malas keluar karena cuaca dingin di malam hari akhirnya memilih menghabiskan akhir pekannya di dalam rumah, dengan membuat shabu-shabu ala rumahan untuk santap makan malam bersama putranya dan Emika.


"Air liurku sudah sampai ujung," ungkap Emika yang terlihat sudah tidak sabar untuk menyantap aneka daging dan sayuran dengan kuah hangat manis gurih di hadapannya itu.


"Kak Emika jangan terlalu barbar begitu ekspresinya, kalau paman Andy lihat kau begitu, dia jadi tidak mau denganmu loh," celetuk Rey melihat ekspresi Emika yang seperti manusia tidak makan berhari-hari saat makanan.


Setelah semua siap, Lara yang juga sudah bersiap makan malam pun mengajak semua makan. "Mari kita makan...!"


Namun baru saja mau mulai menyumpit daging, dering bel malah berbunyi, alhasil mereka pun menunda makannya.


"Siapa sih mengganggu saja!" Gerutu Emika kesal.


"Mama, biar aku saja yang bukakan pintu!" Seru Rey yang kemudian langsung beranjak pergi membukakan pintu.


Tak lama Rey pun kembali ke ruang makan bersama seorang pria, yang tidak lain adalah Andy sang anak pemilik apartemen yang juga pria pujaan hati Emika. Mengetahui Andy datang, Emika pun langsung salah tingkah dan gugup dibuatnya.

__ADS_1


"Wah ternyata Andy yang datang, kebetulan sekali kami sedang mau makan shabu-shabu, kalau kau mau kau bisa bergabung bersama kami." tandas Lara sengaja mengundang Andy agar Emika bisa dekat dengan pria pujaannya itu.


"Emβ€” tadinya aku hanya mau mengecek keran air saja, karena ibuku bilang sudah waktunya diganti. Tapi ditawari makan enak aku tentu sulit untuk menolaknya," pungkas Andy yang kemudian ikut bergabung makan bersama.


Mereka berempat akhirnya makan bersama. Saat tengah makan Emika terlihat beberapa kali mencuri pandang pada Andy. Rey yang menyadari hal itu pun menoleh ke arah Andy yang terlihat malah fokus pada mamanya.


Sepertinya ini akan merepotkan, pikir pria kecil itu melihat sepertinya terjadi cinta segitiga yang bertepuk sebelah tangan. Bibi Emika suka pada paman Rey, Paman Rey suka sama Mama, sementara Mama sendiri, suka sama siapa aku tidak tahu. Rey pun hanya bisa menghela nafas dan kembali mengunyah makanannya.


...🍁🍁🍁...


Di Crux, tepatnya di laboratorium dokter Dominic, Vander terlihat sudah membuka pakaiannya dan duduk diatas ranjang pasien. Sementara dokter Dominic yang tengah membawa suntikan berisi cairan entah apa namanya itu pun, langsung menyuntikan cairan itu ke lengan Vander.


"Selesai, setelah ini aku masih harus ambil sampel darahmu Tuan muda," ucap Dominic yang usianya sebenarnya hanya beberapa tahun lebih tua dari Vander.


Vander hanya menyeringai kecil lalu seraya mengeluh. "Sampai kapan aku harus bolak balik ke lab sialan milikmu ini Dominic!?"


"Sampai serum antibodi untuk tubuhmu berhasil aku temukan!" Jawab Dominic sambil mengambil darah dari tubuh Vander itu.


Vander memakai kembali sweaternya, disana Dominic melihat bekas-bekas luka di punggung Vander. Dominic yang tau persis dari mana luka-luka ditubuh Vander itu didapat, seketika ingin tahu tentang bagaimana progress pencarian Gauren saat ini?


"Aku masih belum menemukannya, pria itu sangat licik dan manipulatif, aku harus bekerja lebih keras mendapatkan jejaknya dan membunuhnya dengan tanganku sendiri," ucap Vander dengan tatapan penuh dendam dan kesakitan di sorot matanya.


Tentu bukan hal aneh jika Van begitu dendam dan mengutuk pria bernama Mario Gauren itu, mengingat apa yang telah dilakukannya kepada Vander sungguh sangat tidak manusiawi. Dominic yang saat itu belum bisa berbuat banyak untuk Van karena dirinya juga dibawah tekanan Gauren hanya bisa melihat, bagaimana lima tahun lalu Vander dibawa ke dalam ruangangan mengerikan itu.


Vander dipaksa melakukan apa yang diminta Gauren kalau tidak istrinya akan disiksa dan dibunuh. Vander saat itu tidak punya apa-apa, bahkan satu pun senjata untuk melawan Vandar tidak punya.


Masih terekam jelas diotak Dominic bagaimana tersiksanya Vander kala itu. Di ruangan itu tubuhnya diikat dikursi dengan kawat baja. Disana Vander dijadikan kelinci percobaan, untuk menguji coba serum buatan Gauren yang dibuat oleh Elijah ilmuan gila yang tidak lain adalah saudara kembar Dominic.


Selama hampir 45 hari Vander berada di ruangan itu, hampir setiap hari pula pria itu disuntikan cairan asing yang bisa jadi itu adalah racun ke dalam tubuhnya berulang kali. Belum lagi Vander tak segan-segan di setrum dan sayat tubuhnya jika berani melawan atau berontak. Melihat kejadian itu sebagai dokter yang masih memiliki hati nurani, Dominic pun tidak kuat melihatnya. Akhirnya dengan keberaniannya ia mencoba mencari cara menolong Vander keluar dari ruangan itu.


[Flashback]


Kebetulan saat itu Elijah saudara kembar Dominic tengah pergi meninggalkan ruangan penyikasaan itu untuk mengambil sesuatu di labnya. Dan ternyata Elijah lupa tidak mengunci ruangannya dengan benar.


Tidak mau membuang kesempatan itu, Dominic yang memang berniat menolong Vander pun menyelinap masuk ke dalam. Di dalam ruangan itu tidak banyak cahaya, hanya ada lampu yang kusus menyoroti satu titik dimana Vander berada saat ini.


Vander terlihat duduk dikursi baja, tangan dan kakinya pun diikat dengan tali baja. Disana Vander tidak mengenakan pakaian atasan sama sekali, sehingga dari jauh Dominic bisa melihat banyak luka sayatan ditubuhnya yang belum kering. Mata sayu dengan tatapan mata kosong, tampak tergambar di wajah Vander yang tanpa ekspresi. Bagi Dominic, dibanding disebut manusia, Vander saat ini lebih mirip seperti Zombie perawakannya.


Dominic menghampiri Vander, ia memanggil Vander yang sepertinya hampir hilang akal meski jasadnya jelas masih hidup.


"Vander kau harus bertahan, aku akan mengeluarkanmu dari sini!" Tandas Dominic sambil melepaskan ikatan di tangan dan kaki Vander.


Setelah terbuka Vander masih terus saja diam tanpa ekspresi. Dominic jadi bingung harus apa, ia pun menyiramkan air kewajah pria yang wajahnya sudah ditumbuhi kumis dan jenggot tersebut.


"Kau harus pergi dari sini! Kau tidak seharusnya jadi kelinci percobaan Tuan Gauren dan Elijah, yang mereka lakukan padamu sungguh tidak manusiawi!" ujar Dominic merasa miris.


" La- ra..." ucap Vander dengan terbata.


"Lara? Apa dia nama istrimu? Kau harus pergi dari sini cepat!"

__ADS_1


Vander tiba-tiba memengangi kepalanya, dan berteriak meraung seperti orang kehilangan kendali. Dan tak lama Elijah dan Tuan Gauren datang bersama para pengawalnya.


Pria berusia lima puluhan berbadan tegap itu memerintahkan bawahannya menangkap dirinya dan Vander.


"Tangkap dua-duanya! Terutama Vander dia harus terus jadi bahan penelitianku!" Ujar Gauren tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Vander yang sudah kehilangan kendali pun memberontak dan seolah dengan mudah menghantam orang-orang suruhan Gauren itu. Vander lalu mengambil sebuah senapan diruangan itu dan menembaki semua orang disana.


"Kau pergilah selamatkan diri, aku tidak bisa mengontrol diriku lebih lama lagi!" ujar Vander.


Dominic kaget Vander tampak sadar saat itu. "Tapi kau disiniβ€”"


"Pergi! Aku tidak bisa mengendalikan diriku lebih lama lagi! Aku akan membunuh pria itu dan saudaramu, jadi kau jangan kaget kalau saudaramu mati nanti!"


Dominic pun mengangguk kalaupun saudaranya mati itu lebih baik, dibanding dia jadi ilmuan gila yang dikendalikan oleh Gauren.


Dan setelelah itu Mansion Crux berubah jadi lautan darah. Semua mati terbunuh hanya tersisa hidup hanya Vander dan Robert, pelayan setia Crux yang tak sejalan dengan Gauren yang kini melarikan diri.


Akhirnya Dominic merawat mereka. Robert yang lukanya tak terlalu parah pun sadar dalam waktu tiga hari.


Sementara Vander dirinya koma hampir 21 hari. Dan setelah dirinya sadar, Van bercerita kepada Dominic tentang dirinya yang ingin balas dendam pada Gauren, dengan catatan dirinya ingin Dominic membantunya menghapus semua memori diotaknya tentang orang terkasihnya.


Vander bilang, alasannya melakukan hal itu adalah agar balas dendamnya pada Gauren tercapai. Dan untuk melakukan aksinya itu ia harus jadi manusia yang kejam dan tanpa ampun.


"Kau yakin ingin lakukan itu? Kau tau, menghapus memori baik di ingatan manusia dengan sengaja itu sebuah hal yang tabu!" Seru Dominic.


"Aku tau, tapi aku harus lakukan. Karena jika aku ingat istriku, aku tidak akan bisa leluasa untuk melakukan hal keji. Istriku bukan sepertiku, dia wanita yang terlalu baik. Membawanya terlalu jauh ke kehidupanku, sama saja mengajak malaikat tinggal di jurang neraka." Dan Van tidak mau itu terjadi.


"Aku tidak bisa lagi menemuinya dengan keadaanku yang sekarang ini Dom, aku sudah tidak bisa lagi kembali, aku ini monster pembunuh yang akan membahayakannya."


Dengan berlinangan air mata, Vander memohon pada Dominic. "Aku mohon Dominc, tolong lakukan! Meski aku tahu aku akan menyesal sekali nantinya, tapi setidaknya dengan cara menghapus Lara dari ingatanku, aku bisa membuatnya jauh dari bahaya kedepannya. Aku sungguh tidak pantas untuknya,"


[Flashback off]


Waktu itu jadi pertama dan terakhir kalinya, Dominic melihat Vander menangis sebagai seorang pria. Vander, kau seharusnya tidak perlu menyiksa dirimu seperti ini. Kau berhak bahagia dengan orang yang kau cintai. Sungguh, aku kadang merasa berdosa karena sudah mengabulkan permintaan gilamu itu.


"Hei, kenapa kau menatapku begitu dokter?" Pungkas Vander melihat Dominic menatapnya dengan tatapan iba.


"Tidak, aku hanya merasa kau ini bukan manusia. Kauβ€” ah sudahlah, aku tidak mau memicu traumamu," ucap Dominic yang juga tahu kalau Vander mengalami trauma kompleks akibat penyiksaan yang dialaminya beberapa tahun lalu. Dan meski traumannya mulai membaik, tapi itu belum sembuh sepenuhnya.


"Jangan memandangku seolah aku anjing kecil yang terlantar, itu sama saja kau menghinaku bodoh!" Sela Vander yang tidak suka dipandang kasihan oleh orang lain.


"Sudahlah, karena sudah tidak ada lagi yang dilakukan aku mau pergi dari sini, aku benci bau obat-obatan!" Pungkas Vander lalu pergi.


"Selalu begitu! Selalu saja bersikap sok kuat sendirian!" ujar Dominic menggeleng pasrah dengan sikap temannya itu.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, VOTE, DAN KASIH GIFT, PLIS PLIS PLIS πŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2