Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Undangan pesta


__ADS_3

Pagi harinya Vander terlihat keluar dari unit apartemen Lara. Vander yang mengenakan kaos polos berlengan pendek berwarna abu-abu, membuat lengan serta bentuk tubuhnya yang berotot nampak jelas. Hal itu membuat Vander semakin terlihat hot dibuatnya.


Sebelum pergi Vander mencium bibir sang istri dan bergurau. "Padahal aku masih mau tidur, kalau bisa main dua sampai tiga ronde lagi, tapi kau malah menyuruhku kembali, tega sekali istriku ini."


"Astaga semalaman sampai hampir pagi apa belum puas juga, apa kau mau buatku terkapar tak berdaya huh?" Keluh wanita itu.


Vander pun langsung tertawa geli melihat ekspresi istrinya yang mengomel itu. Dan siapa sangka, saat Vander dan Lara tengah bergurau disana, tiba-tiba datang Emily yang dari pakaiannya sepertinya baru saja selesai fitnes, ia langsung menghampiri Lara dan juga Vander. Sontak Lara pun langsung dibuat terkesiap dan gelagapan, namun segera Vander menepuk pundaknya seolah memberi isyarat, serahkan saja padaku!


"Selamat pagi tuan Vander, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini, kupikir kau tidak akan berada di lantai ini?"


Emily terlihat ramah sekali terhadap Vander, berbeda saat menatap Lara, sorot matanya tiba-tiba saja langsung berubah sinis, seolah tidak senang dengan keberadaan orang lain selain dirinya dan Vander. Emily malah seperti tidak menganggap keberadaan istri Vander tersebut. Hal itu pun membuat Lara tidak nyaman.


"Tuan Vander kau habis olahraga ya?" Emily memperhatikan tampiln Vander yang hanya mengenakan kaos polos nan ketat yang membuat tubuh bidang nan berototnya tampak semakin hot dan membuat Emily ingin berteriak rasanya. Astaga! Pria ini badannya sungguhan sempurna sekali, ah ini gila! Aku benar-benar menginginkan dia!


"Oh iya nona Emily, aku baru tahu kalau kau tinggal disini juga ternyata, semoga kau nyaman menghuni apartemen ini," ujar Vander selaku pemiliki kawasan apartemen Caelestis Garden.


"Iya. Dan tuan Vander apa kau suka olahraga?"


"Ya!"


"Bagus! Bagaimana kalau kita kapan-kapan olahraga bersama?"


Melihat Emily sok akrab pada suaminya membuat hati Lara jadi kian panas. Ia pun merasa tak bisa diam saja dan akhirnya pun buka suara. "Ehem! Maaf ya, tapi kalau kalian berdua mau mengobrol panjang lebar tolong jangan didepan apartemenku!" Pukas Lara dengan nada tidak senang.


"Duh, ternyata ada orang. Sorry aku dan tuan Vander terlalu asyik ngobrol jadi lupa kalau ada parasit ternyata," ucap Emily seraya mengolok Lara.


"Siapa yang kau bilang parasit?" sahut Vander dengan raut wajah tidak senang.


"Eh Tuan, ma- maksudku bukan kau tapiβ€”"


"Kau menyindir Lara sebagai parasit kan?".


"Eh ituβ€”" tuan Vander kenapa marah begitu ya mendengarku menyebut wanita ini parasit, memang ada hubungan apa mereka? Dan kenapa dia ada di depan sini pagi-pagi, apa wanita bernama Lara ini kenalannya?


"Jangan pernah mengolok Lara, karena di keluargaku!"


"Ke- keluarga maksudnya?"


Lara diam saja karena iya juga tidak tahu harus jawab apa, mengingat tidak mungkin kan ia jawab kalau dia istrinya Vander.


"Lara dia adalah adik sepupuku."


"Apa?" Emily langsung syok, wajahnya seketika pucat. Astaga jadi selama ini wanita yang kuhina-hina itu sepupunya Vander? Gawat!


Lara langsunt menyeringai puas melihat ekspresi Emily saat ini. "Jadi Nona Emily, sekarang kau sudah tau kan siapa aku sebenarnya? Karena sudah tau jadi aku sarankan kau lebih sopan padaku, atau kalau tidak aku akan minta sepupuku ini untuk memutus kontrak denganmu dan mengusirmu dari sini!"


Sial! Beraninya wanita ini mengancamku! "Um- Nona Lara sebelumnya aku minta maaf danβ€”


"Oh maaf aku ada urusan lain di dalam, kalau begitu sudah ya, aku mau masuk dulu, kalau kalian masih mau mengobrol silakan saja, permisi!" Pungkas Lara lalu masuk ke dalam.


Dan tak lama kemudian Vander pun juga melengod pergi meninggalkan Emily.


"Tuan Vander anda mau kemana, tuan!"


Sayangnya Vander sama sekali tak menggubris dan terus saja berjalan pergi. Kesal diabaikan, Emily langsung mengepalkan tangannya. "Ini semua karena Lara! Kenapa sih harus wanita itu yang jadi sepupunya!"


Emily pun kini jadi merasa cemas. "Bagaimana ini? Bagaimana kalau si Lara itu cerita ke Vander kalau aku sudah beberapa kali menghinanya? Tidak! Bagaimana pun Vander harus jadi miliku, dan soal sepupunya ini aku akan coba untuk perlahan membuatnya berbalik menjadi suka padaku!"


...🍁🍁🍁...


Di apartemennya, Lara yang baru saja selesai membuatkan sarapan untuk Rey tiba-tiba mendapati telepon dari suaminya.


Lara : Halo! (Terdengar agak kesal)


Vander : Sayang apa kau marah padaku?


Lara : Menurutmu?


Vander : Istriku sayang kau tidak perlu cemburu pada Emily. Kau satu-satunya pemilik hati dan ragaku, lagipula aku tidak suka wanita yang tubuhnya sudah banyak digores pisau bedah.


Lara : Ya, ya, ya tuan Vander yang tampan, resiko punya suami sepertimu adalah pasti banyak wanita-wanita sana yang menggodamu.


Vander : Kau tahu, aku senang sekali kalau kau cemburu.


Lara : Jadi kau sengaja mau buatku cemburu?


Vander : Tidak kok, aku tidak bermaksud begitu.


Lara : Baguslah, soalnya aku tidak terlalu suka pada. model itu. Kau juga, jangan sampai tergoda rayuannya!


Vander : Baik yang mulia ratu. Atau kau mau aku memutus kontrak dengannya saja? Atau kau inyin aku membuang wanita itu ke dasar jurang?


Lara : (tertawa geli) Vander sepertinya aku tidak bisa segila dirimu deh meski cemburu.

__ADS_1


Vander : Aku hanya ingin kau tahu, kalau aku akan lakukan apapun yang kau minta. Jadi jangan berpikir kalau aku akan berpaling.


Lara : Baik aku percaya, oh iya kau bilang akan lakukan apapun untukku kan? Kalau begitu aku minta kau segera sarapan lalu minun obatmu, dan jangan melawanku.


Vander : Baik yang mulia ratu.


Lara : Good boy! Sudah ya aku harus membangunkan Rey dulu, i love you.


Vander : Love you too.


...🍁🍁🍁...


"Apa? Jadi Lara sudah tidak tinggal di apartemen itu lagi?" Pekiknya saat menerima telepon dari anak buahnya.


....


"Aku tidak mau tahu, pokoknya saat ini juga kalian harus mencari tahu dimana wanita itu tinggal."


Jeden langsung menutup teleponnya dengan wajah marah. "Sial! Kalau sudah begini sepertinya memng aku yang harus turun tangan langsung menyelidiki Lara."


...🍁🍁🍁...


Di lobi lantai dasar saat itu nampak Rey yang sudah berseragam sekolah berjalan bersama sang mama menuju ke mobil. Dan saat itu juga tiba-tiba saja ada yang memanggil Lara dari belakang, sontak Lara dan Rey pun langsung segera menoleh kebelakang, dan ternyata yang memanggilnya adalah Emily hasaki.


Lara mengerutkan keningnya seraya heran kenapa tiba-tiba wanita itu memanggilnya?


"Nona Lara dan Rey kalian mau kemana? Apa kau mau ke Lavioletta?" Tanya Emily dengan nada ramah, hal itu pun membuat Lara dan Rey jadi semakin curiga saja.


"Bibi! Kau kenal mamaku?" Ujar Rey menatap Emily.


"Oh iya Rey kecil, aku juga baru tahu kau anaknya Lara keponakan Vander, aku kenal mamamu. Kami berteman hehehe..."


Berteman? Apa iya? Rey tampaknya ragu dengan ucapan wanita itu.


"Jadi kau kenal dengan anakku?'


"Tentu saja, putramu sangat manis dan lucu," ujar Emily berbohong.


Dasar bibi serba palsu tukang bohong!


Emily ini sedang merencanakan apa sih sebenarnya? Kenapa sejak dia percaya kalau aku ini adik sepupunya Vander, dia jadi tiba-tiba ramah padaku?


"Rey sayang, kau bisa duluan saja ke mobil. Mama ada urusan sebentar dengan bibi Emily," pinta Lara agar putranya duluan masuk mobil.


Rey pun menurut lalu pergi ke mobil duluan, sementara Lara yang curiga dengan tingkah Emily pun langsung bertanya, sebenarnya apa tujuan wanita itu?


Dan bukannya menjawab Emily malah tertawa lalu berkata, "Ya ampun nona Lara kau kenapa sih! Memangnya aku salah kalau baik padamu, lagipula tidak baik kan jika kita terus-terusan tidak akur, apalagi sebentar lagi di acara fashion nanti aku akan pakai gaun buatanmu. Oleh karena itu aku putuskan untuk tidak meremehkanmu lagi dan menjadi temanmu."


"Umβ€” kau yakin hanya itu alasannya? Kok aku ragu ya?" Telisik Lara yang masih tidak percaya.


"Em ya- tentu saja." Sial! Wanita itu kenapa tidak percaya sekali padaku sih! Dasar! Tidak anak, tidak mamanya, sama-sama merepotkan!


Lara menghela nafas, "Baiklah kalau memang itu alasannya, tapi ingat! Jika aku tahu ternyata kau punya maksud lain padaku dan anakku, aku tidak akan memaafkanmu!"


"Tenang saja Nona Lara."


"Oke, kalau begitu aku duluan, permisi!" ucap Lara lalu pergi.


"Hati-hati ya Lara!" Emily tersenyum penuh intrik sambil melihat ke arah Lara yang kini berjalan pergi, "Dasar bodoh, kau kira aku sudi bersikap baik padamu dan anakmu yang sial itu! Kalau bukan karena tuan Vanderku tercinta juga aku tidak sudi! Lihat saja, saat aku nanti berhasil dapatkan Vander, akau kubuat sepasang ibu dan anak itu tersiksa!"


...🍁🍁🍁...


Di dalam mobil saat menuju ke sekolah Rey, tiba-tiba Lara bertanya kepada anaknya tentang bagaimana bisa dia mengenal Emily?


Rey pun langsung menceritakan kronologi pertama kali dirinya kenal Emily di dekat kolam renang waktu itu. "Mama aku tidak suka bibi Emily itu, dia itu tidak baik. Dia itu menyebalkan!"


Bahkan Rey yang seorang anak kecil pun tidak suka dengan wanita itu. Lara jadi semakin yakin kalau Emily memang punya maksud lain.


"Mama apa tadi bibi jahat itu menganggu mama?"


"Oh tidak kok sayang, tenang saja lagipula siapa yang berani mengganggu mama kalau ada dua jagoan yang melindungiku," pungkas Lara.


"Pokoknya kalau sampai ada yang membuat mama bersedih dan tidak senang, akan aku beri pelajaran dia!" Ujar Rey tidak mau mamanya disakiti siapapun.


Lara membelai putranya lalu tersenyum, "Terima kasih ya anakku, karena sudah selalu melindungiku."


...🍁🍁🍁...


Di sebuah studio foto terlihat Emily yang baru saja selesai melakukan sesi foto untuk salah satu sampul manjalah fashion. Dan setelah model itu selesai melakukan pemotretan, lanjut ia pun melakakukan sesi wawancara dengan pihak media. Dari petanyaan yang dilontarkn, kebanyakan menanyakannya soal kerjasamanya dengan Lavioletta.


Disana Emily pun menjawab kalau dirinya senang sekali bisa menjadi Global ambassador brand lokal sekelas Lavioletta yang sudah terkenal dibanyak negara.


Oh iya nona Emily, kalau boleh tau bagaimana proses sampai pada akhirnya kau yang dipilih dan setuju jadi Global ambassador Lavioletta? Bukankah ada kandidat lain yang tidak sedang di luar negeri, kenapa harus anda?

__ADS_1


"Um soal itu..." Emily tersenyum. "Sebenarnya aku jadi GA itu karena keinginan khusus tuan Vander selaku CEO Laizen."


Benarkah itu? Wah apa anda sespesial itu sampai tuan Vander sendiri yang lansung meminta anda?


"Umβ€” bagaimana bilangnya ya, itu kan rahasia. Intinya tuan Vander menemuiku secara pribadi dan setelah itu kami pendekatan dan akhirnya aku setuju.."


Apa nona punya hubungan khusus dengan tuan Vander? Bukankah anda gosipnya berpacaran dengan salah satu model internasional luar negeri?


"Bukankah itu cuma gosip yang dibuat media supaya beritanya laku?"


Jadi semua gosip selama ini bohong, lalu kalau dengan tuan Vander apa itu benar?


"Kalau itu hanya aku dan tuan Vander yang tahu. Untuk saat ini aku rasa public tidak perlu terlalu banyak tahu."


Tapi Nona Emily, tuan Vander selama ini yang kami tahu beliau sangat menjaga privasi hubungan asmaranya. Kalau anda benar dengan tuan Vander, bukankah kalian akan jadi pasangan paling menggemparkan di negara?


"Soal itu aku tak bisa jawab di interview ini, lain kali saja," ucap Emily tersenyum puas karena melihat sepertinya awak media mulai penasaran dengan hubungannya dengan Vander. Aku yakin, setelah ini berita kedekatanku dengan pria itu tak lama lagi akan tersebar luas, aku rasa rencanaku sukses!


...🍁🍁🍁...


Sementara itu, di ruangannya Lara terlihat menghampiri Vander di mejanya untuk memberikan sebuah kartu undangan dari walikota ZR, yang kabarnya akan mengadakan pesta mewah peringatan ulang tahunnya yang ke-55 di ballroom hotel Caliente lusa nanti. Dan sebagai pemilik hotel itu, tentu saja Vander pun mendapat undangan vip dari pihak walikota.


Lara kemudian bertanya, apa Vander akan datang kesana?


Vander menatap istrinya dan berakata, "Tergantung, apakah istriku mengizinkan atau tidak."


Sebenarnya Lara tidak terlalu ingin suaminya itu pergi ke pesta tersebut, karena Lara tahu disana pasti akan ada banyak wanita yang menggoda suaminya. Tapi kalau tidak datang, suaminya akan dinilai buruk dan tidak mengharagai pimpinan kota. Lara tidak mau reputasi suaminya jelek dimata umum.


Vander menarik tubuh sang istri dan merapatkannya ke tubuhnya lalu bertanya. "Jadi istriku, aku boleh datang atau tidak?"


"Boleh sih, tapi dengan syarat, kau harus segera pulang sebelum tengah malam."


Vander tertawa geli, "Ya ampun, kau kira aku ini cinderella? Sayangku, kalau kau tidak mau aku datang katakan saja. Aku tidak masalah, karena paling disana juga yang dibahas tidak jauh dari kampanye politik dan bisnis. Memang sih aku perlu orang-orang politik juga untuk kemajuan bisnisku, tapi its okey, karena bagiku perintahmu jauh lebih penting."


Vander begitu menghargainya, bahkan selalu menuruti apa yang Lara minta dan inginkan. Hal itu membuat Lara jadi berpikir, kalau dirinya seharusnya tidak boleh egois dan mementingkan diri sendiri. Lara tiba-tiba mencium kening suaminya dan berkata, "Pergilah sayang, aku tidak apa-apa. Aku memang cemburuan tapi bagaimanapun kalau dipikir lagi, tidak baik juga terlalu mudah cemburu. Lagipula secara fisik aku sudah hampir sempurna, bagaimana mungkin kau berpaling dariku, memang aku kurang apa lagi?" pungkas wanita itu seraya meyakinkan suaminya kalau sungguh mengizinkannya pergi.


"Kau sempurna dalam segala hal, itu sebabnya hanya aku yang boleh memilikimu," bisik Vander ditelinga istrinya.


Mereka pun saling memantap lalu berciuman mesra.


...🍁🍁🍁...


Di Lavioletta, Lara yang akhirnya selesai mengerjakan rancangannya pun terlihat puas melihat hasilnya. Gaun berwarna rose gold dengan sentuhan kilau berlian di bagian depannya, membuat gaun rancangan Lara itu terlihat sangat cantik meski belum dipakai.


"Wow, kau benar-benar berbakat!" Seru Yuna kagum melihat hasil rancangan Lara. "Aku yakin gaun ini akan jadi trend setelahnya, dan kau tahu, harus aku akui selera fashionmu sangat bagus. Seleramu fashionmu yang classy dan agak feminim sangat cocok dengan auramu yang tampak elegant dan seksi. Jadi kau tidak perlu terlalu pakai pakaian terbuka untuk menonjolkan kesan seksi itu."


"Aku hanya pakai yang kurasa nyaman dan membuatku percaya diri saja kok."


"Ah akui saja kau itu sadar kalau cantik dan punya bentuk tubuh bagus, oleh karena itu auramu tampak sangat percaya diri, iya kan?"


Lara tertawa malu-malu, "Oh ya?"


"Ngomong-ngomong Lara, apa kau diundang ke pesta tuan walikota nanti malam?" Tanya Yuna tiba-tiba.


Oh iya, Lara pun baru ingat kalau malam ini Vander juga akan pergi kesana. Saking sibuk dua hari ini menyelesaikan desain, Lara jadi lupa dengan pesta itu.


"Hei kenapa diam?"


"Oh i- itu nona Yuna, aku tidak diundang. Ya aku kan bukan siapa-siapa, jadi mana mungkin dapat undangan dari pemimpin kota ini," ucap Lara dengan nada bercanda.


"Wah kebetulan sekali, kalau begitu ini!" Tiba-tiba Yuna memberikan undangan pesta walikota miliknya kepada Lara.


"Eh tu-tunggu, kenapa ini diberikan padaku?"


Yuna bilang hari ini dirinya ada urusan pribadi yang mendadak dan harus diselesaikan, oleh sebab itu Ia pun meminta Lara untuk menggantikan dirinya datang sebagai perwakilan Lavioletta.


"Eh tap- tapikan Nona akuβ€”"


"Please Lara... aku mohon padamu kali ini saja, istrinya walikota sangat suka rancanganku dan sudah tiga tahun ini dia selalu menggunakan jasaku, jadi aku tidak mau mengecewakan mereka jika aku tidak datang. Oleh karena itu tolong kau gantikan aku disana, kumohon Lara, aku janji kalau kau mau datang, aku akan berikan gaun khusus rancanganku yang terbaru untukmu secara cuma-cuma, jadi mau ya, ya, ya!"


Melihat nona Yuna sudah memohon sampai seperti itu, Lara pun jadi merasa sulit sekali untuk menolaknya. Dan akhirnya ia pun setuju untuk menggantikannya datang ke acara pesta tersebut.


"Wah Lara thank you so much, kau memang selalu bisa diandalkan! Kalau begitu ini gaun dan sepatu khusus untuk kau pakai nanti malam." Yuna memberikan kotak berisi gaun dan satunya kotak berisi sepatu untuk Lara pakai ke pesta nanti malam.


"Eh ta- tapi kanβ€”"


"Kau tenang saja, ukuran baju dan sepatunya sudah pasti pas denganmu. Aku ini tidak akan salah mengukur orang!"


"Huft yasudahlah kalau memang begitu," ucap Lara yang sebenarnya cukup senang juga, hal itu karena membuatnya pada akhirnya bisa melihat Vander di pesta yang sama nanti malam.


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DUKUNGANNYA... LIKE, COMMENT, LOVE DAN DI VOTE YA BUAT BANTU AUTHOR PROMO, MAKASIHπŸ™

__ADS_1


__ADS_2