Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kembali Mesra


__ADS_3

Dua bulan pasca kelahiran Khaizer. Kehadiran Khai membuat warna baru di kehidupan keluarga Liuzen. Lara yang masih cuti dari pekerjaannya sebagai desainer di Lavioletta, kini tengah menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari dua orang putranya yang manis dan menggemaskan. Dalam merawat Khai, Lara biasanya dibantu oleh bibi Frida. Tapi selain bibi Frida, Lara juga terkadang suka dibantu oleh suaminya, ya meskipun suka tidak sesuai ekspektasi sih bantuannya


...🍁🍁🍁...


Hari itu di ruangannya Vander terlihat meminta Naomi sang sekretaris untuk mengambilkan segelas kopi.


"Tapi Tuan, bukankah anda sudah minum kopi tiga gelas hari ini? Kenapa masih mau tambah lag?" Ucap Naomi khawatir karena bosnya itu sudah terlalu banyak minum kopi akhir-akhir ini.


"Kau ini cerewet sekali, sudah ambilkan saja!" Titah Vander.


Kalau sudah maunya tuan Vander, Naomi mana mungkin bisa melawannya. Akhirnya ia pun begegas pergi ke pantry untuk mengambilkan segelas kopi untuk bosnya.


Saat Naomi datang untuk mengantarkan segelas kopi lagi untuk tuannya, tak sengaj ia malah berpapasan dengan Robert di depan ruangan Vander.


"Nona Naomi, itu kopi untuk siapa?" Tanya Robert yang kebetulan memang ingin masuk menemui Vander.


"Oh, kopi ini untuk tuan Vander."


"Apa?! Bukankah tadi tuan sudah minum kopi tiga gelas, kenapa kau beri lagi? Itu kan tidak baik untuk lambungnya."


Naomi menghela nafas, "Aku juga sudah bilang pada tuan kalau mengkonsumsi kopi terlalu banyak itu tidak baik, tapi tuan malah marah, dan aku kan tidak berani untuk membantahnya. Tuan Robert tolong aku, aku takut kena marah nyonya Lara kalau tau suaminya minum kopi berlebihan, tapi disatu sisi aku juga takut membantah perintah tuan Vander. Aku serba salah.... huhu...."


Kasihan dengan Naomi yang tertekan, akhirnya Robert berinisiatif menawarkan diri untuk membawakan kopi itu kepada Vander, sekalian ia memang ingin bertemu dengan tuannya itu.


"Terima kasih tuan Robert, kau memang malaikat penolongku."


Robert lalu masuk ke ruangan Vander sambil membawa kopi.


"Taruh sa— Robert? Kenapa kau yang malah bawa kopiku? Mana Naomi?! Anak itu..." Vander terlihat kesal ingin memarahi Naomi.


"Tuan sabarlah... aku memang yang ingin antarkan kopi buat anda kali ini."


Dari yang Robert lihat saat ini, raut wajah Vander memang terlihat lelah dan tidak segar. Sepertinya sejak tuan Khai lahir, tuan Vander terlalu memaksakan diri untuk mengurus perusahaan dan putranya sampai-sampai ia kurang tidur dan istirahat.


"Tuan, sepertinya lebih baik anda istirahat dulu saja sebentar," ucap Robert.


"Huh? Istirahat? Robert ini jam kerja dan kau minta aku istirahat, jangan gila!"


"Tapi anda terlihat sekali kelelahan. Bagaimana pun juga manusia, pasti punya rasa lelah. Jadi kumohon istirahatlah sebentar."


Vander paham dengan ucapan asistennya tersebut, akhirnya setelah terus dipengaruhi ia pun menuruti kata Robert dan langsung bersandar di sofa melemaskan tubuhnya. Robert pun tiba-tiba dengan sukarela memijat pundak tuannya.


"Ah... Robert ini pijatanmu enak sekali..."


"Tuan tubuh anda kelehalan, ditambah anda kurang istirahat akhir-akhir ini."


"Ya kau benar, aku memang kurang istirahat. Itu karena sejak Khai lahir, dia selalu saja menangis dan terbangun di tengah malam sampai menjelang pagi. Alhasil aku tak bisa tidur."


"Kenapa anda tidak ke kamar lain, apartemen anda sangat luas san banyak kamarnya bukan?"


"Memang, tapi sebagai suami aku merasa bertanggung jawab menemani Lara saat terjaga dimalam hari." Semenjak Khai lahir Vander memang kurang tidur, karena ketika malam ia terjaga, dan saat Khai tidur lelap dan dirinya ingin tidur lagi, dirinya malah sudah harus segera berangkat meeting. Dan sudah hampir dua bulan siklus seperti itu berlangsung, saat Vander pulang Lara dan Khai sudah tidur, tengah malam sampai subuh mereka terbangun, dan paginya Vander sudah harus pergi lagi.


"Tuan anda harus bilang pada nyonya kalau anda kelelahan, dan—"


"Jangan! Lara akan kecewa padaku kalau tau aku mengeluh hanya karena alasan kelelahan membantunya mengurus anak."


"Tapi tuan..."


"Aku bilang jangan! Lagipula kelelahanku tak sebanding dengan pengorbanannya sebagai seorang ibu. Apalagi mengingat dirinya beberapa tahun lalu melahirkan dan membesarkan Rey sendirian, aku tak mau membuatnya sedih."


"Tuan, aku bangga padamu. Kau memang suami dan ayah yang hebat," tandas Robert terharu.


Tak terasa Vander yang menikmati pijatan Robert malah ketiduran di sofa. Tadinya Robert ini membangunkannya, namun melihat tuannya itu terlihat begitu pulasnya ia jadi tak tega untuk membangunkannya.


"Mungkin lebih baik aku biarkan saja dulu tuan tertidur. Nanti saja kalau meeting sudah mau mulai baru aku bangunkan."


...🍁🍁🍁...


Di kamar Lara yang baru saja selesai mandi, saat keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe dibuat kaget, karena tiba-tiba saja melihat sang suami yang ternyata sudah pulang kerja dan terlihat di kamar sedang menimang bayi kecil mereka.


Pemandangan itu membuat senyuman manis Lara seketika mengembang dari bibirnya yang merona. Melihat suaminya begitu perhatian dengan putranya, membuat Lara semakin jatuh cinta saja rasanya pada sang suami. Dengan langkah pelan Lara pun menghampiri Vander dan menutup kedua mata suaminya dari belakang. "Tebak siapa aku?"


"Bau harum yang segar dan manis, tentu saja istriku," ucap Vander.


Lara tertawa. Ia pun bertanya kepada suaminya, "Apakah Khai menangis makanya kau menggendongnya?"


"Iya, saat aku masuk tadi dia masih tertidur di tempat tidurnya, tapi tak lama kemudian tiba-tiba saja dia menangis. Lalu karena aku tahu kau sedang mandi jadi aku mencoba menggendongnya agar tenang, dan akhirnya dia tertidur lagi."


Lara tampak senang sekali melihat Vander begitu perhatian dan mau membantunya langsung merawat Khai.


Setelah tahu putranya sudah tertidur lelap, Vander kembali meletakan putranya itu lagi ke ranjang tidurnya. Ia lalu memandangi Khai sambil tersenyum dan berkata, "Khai sangat manis saat tidur."


"Iya, mirip papanya," sahut Lara.


"Apa maksudmu aku juga manis?" Tanya Vander menarik sang istri menempel kepadanya.


"Tentu saja suami manis," balas Lara melingkarkan tanganya dileher suaminya lalu perlahan melepaskan satu persatu kancing kemeja Vander.


"Lara kau...?" Pria itu agak tidak paham dengan maksud sang istri yang tiba-tiba membuka kancingnya.


"Kenapa kau menatap bingung begitu? Apakah salah seorang istri membantu membukakan kemeja suaminya?

__ADS_1


"Tidak, hanya saj— mm..."


Lara tiba-tiba berjinjit dan mencium bibir suaminya. Ia lalu meraba dada bidang di hadapannya itu dan menciuminya.


"Lara... gghh..." Melihat sang istri agresif begitu, Vander jadi tak bisa lagi menahan hasrat biologisnya sebagai seorang pria. Terlebih dirinya dan sang istri memang sudah hampir dua bulan belum berhubungan.


Vander memegangi kedua tangan Lara dan berkata, "Kau jangan menggodaku, kau tahu sebesar apa keinginanku untuk memakanmu."


Wanita itu kemudian berbisik, "Aku tahu maumu, tapi sekarang ini lebih baik kau pergi mandi dulu, kebetulan aku sudah siapkan air hangat dengan aroma terapi untukmu berendam."


Sayangnya Vander keburu bernafsu untuk menerkam istrinya. Tapi oleh Lara dihentikannya, ia tetap memaksa sang suami mandi dulu agar bersih dan tubuhnya lebih rileks setelah seharian beraktifitas.


"Lara kumohon satu kali saja, aku sudah tegang!" Pinta suaminya memaksa.


Namun Lara tetap menggeleng. "Tidak sayang, kau turuti saja apa yang aku katakan. Terlebih tubuhmu butuh berendam dulu agar bersih dan segar."


Alhasil mau tak mau Vander mengikuti kata istrinya. Pria itu pun akhirnya pergi ke kamar mandi dan langsung berendam di bathup yang sudah diisi air dengan aroma terapi oleh istrinya tadi. Dan ternyata ucapan Lara benar, saat berendam disana, tubuh Vander seketika jadi terasa lebih segar dan rileks, ditambah aroma terapinya sanga menenangkan pikiran dan jiwanya.


Setelah Vander selesai mandi, Lara langsung menghampirinya dan langsung meminta Vander duduk agar ia bisa mengeringkan rambut sang suami yang masih basah. Vander pun langsung menurut tanpa protes


"Nah sudah..." Lara selesai mengeringkan rambut suaminya.


"Terima kasih sudah mengeringkan rambut, oh iya kenapa kau hari ini aktif sekali istriku?"


Dari belakang Lara langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Vander dan memeluknya.


"Aku hanya ingin memanjakan suamiku apa tidak boleh?" Ucap Lara di telinga suaminya.


"Huh?"


"Vander, aku tahu kau belakangan ini merasa sangat lelah, dan suka tertidur kalau di kantor kan?"


Vander mengerutkan keningnya. "Pasti Robert yang sudah memberitahumu?"


"Iya."


"Si bodoh itu sudah ku..."


"Ssst, jangan marah. Aku justru berterima kasih pada Robert karena memberitahuku tentang dirimu. Vander tolong jangan sembunyikan apapun dariku lagi... Aku ingin kau selalu jujur padaku, jika kau lelah katakan saja padaku," pinta Lara.


"Tapi aku takut mengecewakanmu, aku tidak ingin kau berpikir aku suami yang tidak becus dan tidak mau membantumu mengurus anak," ungkap Vander.


Lara tertawa kecil dan berkata, "Dengar, bagiku kau adalah ayah terbaik untuk anak-anakku. Dan lagi aku tidak ingin jadi istri yang buruk karena membiarkan suaminya tak terurus hanya karena punya bayi. Jadi lain kali jangan seperti itu ya?"


"Baiklah."


"Anak pintar," puji Lara lalu mencium pipi suaminya.


Lara kemudian duduk di atas ranjang dan meminta suaminya tiduran diatas pangkuannya. Lara tahu persis kalau suaminya suka sekali berbaring dipangkuanya sambil kepalanya diusap-usap.


Setelah hampir dua jam tak terasa, akhirnya Vander bangun  dari tidurnya. Saat membuka mata ia langsung disambut oleh senyum manis istrinya yang ternyata masih memangku kepalanya.


"Selamat malam sayang, sudah puas tidurnya?"


"Ah Lara, kau sejak tadi terus memangkuku yang tertidur?"


"Ya..."


Vander segera bergegas bangun dan merasa khawatir istrinya kelelahan dan kram karena memangkunya sejak tadi.


"Ka- kau baik-baik saja, apa otot pahamu kram atau tubuhmu sakit?"


Lara membelai pipi suaminya itu. "Tidak apa-apa aku baik-baik saja, aku justru senang bisa melihatmu tidur tenang dan pulas seperti tadi."


Vander tersenyum senang mendengar ucapan istrinya itu.


Keduanya pun langsung berciuman mesra. Tangan besar Vander sudah mulai menjamah bagian sensitif istrinya. Perlahan kimono tidur yang menutupi tubuh Lara pun terlepas, hingga tubuh indahnya yang dibalut lingerie tipis pun terpampang nyata.


"Bepakaian begini, ternyata kau memang bermaksud ingin menggoda suamimu sejak tadi ya?" Bisik Vander lalu menciumi leher jenjang istrinya.


Sejak Lara melahirkan mereka memang belum pernah melakukan hubungan suami istri. Alasanya tentu saja karena beberapa minggu setelah melahirkan, Lara ttidak diperbolehkan oleh dokter melakukan hubungan dengan sang suami.


"Lara... bisakah kita melakukannya? Aku sungguh tak bisa menahannya lagi."


"Ya."


Setiap sentuhan jemari panjang Vander di tiap bagian tubuhnya membuat Lara tak bisa lagi menolak hasrat yang sama seperti suaminya. Mereka pun akhirnya saling bercumbu mesra, suara ******* kecil mulai terdengar dari bibir merona ibu dua anak itu tatkala sang suami melahap habis seluruh tubuhnya. Semakin keras suara ******* itu saat wajah Vander menenggelamkan berada diantara kedua selangkanya.


"Lara kau basah sekali," ucapnya sambil terus menjilatinya.


"Vander... A- aku tidak tahan lagi."


Vander yang selesai melahap bagian sensitif Lara langsung mengelap bibirnya yang basah. Ia menatap sang istri yang kini tengah berada persis di hadapannya berbaring dengn posisi menggoda diatas ranjang sambil menatap dengan mimik wajah tanpa perlawanan.


Pria itu pun bersiap memasuki tubuh istrinya "Lara hari ini aku tidak akan melepaskanmu..."


"Oeeekkk Oeekkk..."


Seketika raut wajah Vander dan Lara berubah panik mendengar tangisan Khai. Tadinya Vander ingin tetap melakukannya, sayangnya Lara malah langsung bangkit duluan, memakai kimononya lagi dan menghampiri ranjang tidur putranya.


Dan Vander pun hanya bisa gigit jari. Nak... Kenapa kau menggangguku dan istriku disaat yang tidak tepat sih!

__ADS_1


Lara mengambil Khai dari tempat tidurnya, memastikan apa yang membuat putranya tiba-tiba menangis. Dan ternyata putranya itu buang air, segera ia pun bergegas untuk menggatikan popok putranya itu. Sementara Vander, pria itu malah terlihat hanya duduk di atas kasur sambil memasang raut wajah masam. "Anak ini sungguh tidak kooperatif dengaku, dia tidak tahu apa aku sudah hampir menuju tak terbatas tadi," gerutu ayah dua anak itu.


"Sayang, tolong kemari bantu aku ganti popok Khai," pinta Lara pada suaminya.


Dengan raut wajah seperti anak kecil yang tidak dapat permen, pria itu datang mendekati Lara yang tengah sibuk menggatikan popok anak mereka. Tadinya Vander agak kesal, namun melihat sang istri dan buah hatinya yang sangat manis, seketika rasa jengkel Vander hilang. Ia malah berubah jadi menatap kagum melihat ke arah sang istri yang begitu terampil menggantikan popok.


"Istriku sangat lihai mengurus bayi, aku benar-benar beruntung," ungkap Vander memuji.


Lara hanya tersenyum kecil. "Tentu saja, aku ini kan ibu dengan dua orang anak bagaimana mungkin aku tidak lihai melakukan hal dasar seperti ini?"


"Waktu itu pasti berat ya buatmu?" Ucap Vander yang seketika ingat dimana dulu dirinya tidak ada disisi Lara saat membesarkan Rey.


"Ya, tapi sudahlah itukan sudah lewat."


"Tapi rasa bersalahku tak akan bisa hilang begitu saja, kalau ingat itu aku jadi merasa gagal sebagai suami sekaligus ayah."


"Masa lalu itu tidak bisa dirubah, tapi masa depan bisa direncanakan. Jadi daripada kau selalu merasa bersalah, bukankah lebih baik kau terus berusaha jadi suami dan ayah yang baik untukku dan anak-anak kita?"


"Ya kau benar," ucap Vander yang jadi semakin kagum dan cinta pada istrinya.


"Nah sudah selesai, sekarang waktunya kau tidur lagi pangeran kecil," ucap Lara menggendong putranya untuk disusui dan ditidurkan lagi.


Setelah kenyang Khai pun akhirnya kembali tidur pulas di keranjang tidurnya. Karena melihat waktu sudah menunjukan pukul satu pagi, Vander pun berpikir untuk mengajak Lara istirahat karena pasti ia kelelahan.


"Lara sebaiknya kita tidur sa— huh?"


Alih-alih mengiyakan suaminy, Lara malah mendorong suaminya ke atas ranjang, ia lalu membuka lagi kimononya dan langsung duduk diatas perut suaminya yang berotot.


Vander sampai agak tekejut melihat istrinya saat ini menatapnya dengan tatapan menggoda. "Lara... apa kau—"


"Kita kan belum selesai melakukannya tadi, jadi biar aku yang selesaikan, kau cukup menikmatinya saja," ucap Lara dengan nada bicara yang terdengar nakal.


Vander pun tersenyum menatap istri yang kini berada diatasnya. "Kau tahu, sudah lama aku tak melihatmu seagresif ini."


"Kau suka aku yang begini?"


"Aku suka semua tentangmu dan apapun yang istriku lakukan."


"Jadi malam ini bolehkan aku yang memimpin, tuan Vander?"


"Lakukan apapun yang kau suka yang mulia."


Dan setelah sekian lama mereka pun akhirnya bercinta lagi.


Setelah puas memadu kasih dengan penuh gairah dan cinta, keduanya pun berpelukan mesra diatas ranjang dengan berselimutkan selimut tebal yang membungkus tubuh polos keduanya. Lara menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya. Bagi Lara posisi berada didekapan suaminya adalah posisi ternyaman dan teraman untuknya.


"Vander, apa kau sudah tidur?"


"Belum, ada apa? Kau ingin melakukannya sekali lagi sayang? Aku masih sangguh sampai tiga ronde."


"Jangan gila! Kau pikir aku ini apa!"


"Lalu ada apa?"


"Menurutmu apa kita akan bahagia selamanya?"


"Kau bicara apa Lara, tentu saja."


"Tapi..." Lara tiba-tiba seperti ingin mengatakan sesuatu namun ragu. Merasakan hal itu, Vander pun membelai rambut istrinya yang kini sudah mulai panjang lagi, dan membujuknya agar mengatakan apa yang sebenarnya ia ingin katakan.


Lara tiba-tiba saja bangun.


"Sayang sebenarnya kau ingin bilang apa?" Tanya Vander yang ikut bangkit.


"Vander, aku— " Aku harus mengatakannya, bagaimanapun aku seorang wanita dengan dua anak yang perlu dapat pengakuan secara jelas dan sah.


"Vander, bisakah kita publikasikan hubungan kita sekarang? Aku— ingin semua orang tahu kalau aku satu-satunya istri yang kau cintai, dan kau satu-satunya suamiku. Aku juga ini semua orang tahu kalau Rey dan Khai adalah putramu pewaris semua yang kau punya saat ini."


Vander tergelak kecil. "Hanya itu?"


"Iya, memang kenapa?"


"Kupikir kau mau bilang apa, ternyata cuma soal itu."


"Apa maksudmu cuma?"


"Kalau soal itu sebelum kau bilang pun aku sudah berencana melakukan konferensi pers besar-besaran untuk mempublikasikan hubungan kita."


"Benarkah?" Lara tak menyangka.


"Ya, dan asal kau tahu saja, semua pegawai Laizen Group juga sudah tahu kalau aku punya istri dan anak."


"Tu- tunggu, apa maksudnya?" Lara masih agak bingung dengan ucapan suaminya itu.


"Intinya semua pegawaiku sebagian besar sudah tahu soal aku yang sudah punya istri, hanya saja mereka belum tahu siapa sosok istriku. Oleh karena itu aku sudah meminta Robert untuk mengatur jadwal konfers untuk kita."


Seketika mata Lara berkaca-kaca karena saking senangnya hingga terharu. Ia pun langsung memeluk suaminya dan berterima kasih. "Sekali lagi terima kasih Vander."


Vander menggenggam tangan Lara dan menciumnya. "Tidak perlu berterima kasih, kau memang berhak atas semua pengakuan itu."


"Aku mencintaimu Vander." Mereka lalu kembali berciuman mesra.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


HAI JANGAN LUPA DI VOTE, LIKE, COMMENT YA...


__ADS_2