
Lara seketika tertunduk diam dengan mata yang berkaca-kaca.
Gavin yang khawatir pun langsung menanyakan kepada Lara ada apa sebenarnya?
Dengan mata yang sudah berlinangan air mata, Lara meminta Gavin mengantarkannya ke kediaman Hazel segera. "Cepat Gavin!" Pekiknya sambil menangis.
Pria itu ingin bertanya apa yang telah telah terjadi, namun Lara yang terus menangis membuatnya urung melakukannya.
Akhirnya Gavin hampir tiba di kawasan kediaman Hazel. Namuj setibanya disana ada pemandangan tak terbiasa terlihat, diimana di sepanjang area dekat kediaman itu tampak banyak orang berkerumun dan muncul banyak kabut asap hitam. Gavin bingung apa yang sebenarnya terjadi, sementarq Lara yang tanpa aba-aba malah langsung keluar dari mobil, dan berlari ke arah menuju kediamannya.
"Kak Lara tunggu!" Gavin ikut keluar mobil dan memekik keras namun wanita itu tak menghiraukannya, Lara tetap berlari menerabas kerumunan warga sekitar.
"Maaf ini ada apa sebenarnya, kenapa warga ramai berkerumun disini?" Tanya Gavin pada salah seorang warga.
"Ini karena terjadi kebarakan di kediaman Hazel, dan sudah bampir satu jam pemadam melakukan pemadaman namun belum juga padam sepenuhnya," jelasnya.
"Apa?!" Jadi ini yang membuat kak Lara menangis dan memintaku secepatnya membawanya kemari? .
"Astaga, bagaimana ini bisa sampai terjadi?" ucapnya.
Tak berselang lama datanglah Vander yang langsung menemui Gavin dan bertanya dimana istrinya.
"Kak Lara berlari ke kediamannya!"
Tanpa banyak basa basi, dengan perasaan cemas Vander pun menyusul Lara dan mencari dimana istrinya itu berada, diantara kerumunan orang-orang yang menyaksikan pemadaman api.
Sampai pada akhirnya mata pria itu berhasil menemukannya. Matanya langsung tertuju pada wanita berambut panjang yang kini bersimpuh sendirian sambil menangis terisak, menyaksikan rumah yang bertahun-tahun menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya habis dilahap api. Bagi Lara kediaman itu bukan sekedar empat tinggal, tempat itu telah menyimpa jutaan kenangan masa kecilnya bersama-sama orang terkasihnya, hingga tumbuh dewasa seperti sekarang. Kediaman itu pula satu-satunya peninggalan keluarganya.
Kenapa? Kenapa setiap kali aku memiliki yakin menjalani hidupku dengan harapan baru, selalu ada kejadian yang menyedihkan, hiks!
Vander yang tak tega melihat Lara bersedih sendirian langsung berjalan menghampiri sang istri.
"Lara..."
Gadis itu menoleh dan langsung memeluk Vander sambil menagis sekencang-kencangnya.
Dari suara tangisnya, Vander bisa merasakan betapa hancur hati wanita yang dipeluknya saat ini. Tubuh Lara yang gemetar bersamaan suara isak tangis yang bergema, seperti ranting berduri yang menyayat batin Vander. Ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk wanita yang paling ia cintainya itu. Rumah yang telah menyimpan semua kenangan hidupnya selama ini seketika hancur dilahap api dalam semalam, dan itu semua karena keegoisan dirinya.
Akhirnya kobaran api pun berhasil dipadamkan. Lara yang masih kalut dalam kesedihannya pun langsung menyempatkan diri mendatangi rumah yang sudah hangus terbakar itu untuk mengambil sisa bingkai foto keluarganya yang sudah hangus terbakar. Ia lalu menangis sambil memeluk bingkai itu dan meminta maaf, "Maaf ayah ibu... Aku gagal! Aku gagal menjaga apa yang kalian tinggalkan padaku. Aku tidak bisa aku— aku gagal! Aku tidak berguna!"
Dari tempatnya berdiri, Vander seolah merasa tak berdaya, pria itu hanya bisa memadangi istrinya yang masih menangis sedih mengenang peninggalan keluarganya di kediamannya. Ingin rasanya ia memaki dan menghukum dirinya sendiri atas semua yang menimpa Lara.
__ADS_1
Setelah ini apa yang akan dia terima lagi karena keegoisan dan kebodohanku? Vander tau kalau semua kekacauan ini terjadi karenanya. Jika saja dirinya tidak dengan jumawa mengabaikan ancaman disekelilingnya mungkin hal ini tidak akan terjadi.
Maafkan aku Lara, maaf... Maaf...! Orang yang seharusnya menajadi pelindung dan menjagamu nyatanya, dialah yang malah selalu menarikmu ke dalam bahaya. Aku bukan suami yang baik, bahkan aku sudah gagal sejak sebelum menjadi suamimu. Dan idiotnya, aku yang sudah mengira akan begitu malaj masih dengan tidak tau dirinya berani memintamu menjadi bagian dari hidupku. Aku gagal menjagamu Lara...! Aku yang gagal bukan kau.
Mata pria itu berkaca-kaca, hatinya terasa sakit dan lemah saat ini. Ia ingin marah namun rasa kecewa pada dirinya sendiri terlalu kuat menggerogoti relung hatinya yang tercekat oleh kenyataan pahit akan apa yang ia telah pilih.
**
"Huft!" Miranda menghela nafas.
"Ini minumlah dulu," ucap Gavin memberikan segelas kopi hangat yang baru saja ia beli.
Miranda menggenggam gelas kopi hangat itu dan menyesapnya perlahan.
"Ini semua pasti berat sekali untuk kak Lara," ujar Gavin yang masih tidak percaya kalau kediaman yang sudah ditinggali Lara selama bertahun-tahun pada akhirnya harus hangus terbakar tanpa sisa.
"Ya, kau benar. Kediaman itu juga punya kenangan tersendiri untuku," ungkap Miranda yang juga turut berduka. Tentu saja karena Mira sendiri memiliki cukup banyak memori di kediaman itu bersama Lara.
Sungguh menyakitkan memang apabila sesuatu yang berharga itu harus tiba-tiba hancur dan hilang tiba-tiba tanpa kita kira.
**
"Aku sudah tak memiliki apa-apa lagi Vander."
Dengan suaranya yang seolah telah hilang harapan, wanita itu berpikir masa depannya sudah berubah. Baginya kini semua kenangan keluarga dan masa lalunya hanya bisa dikenang dalam angan yang tak nampak..Tak ada lagi rumah masa kecil, tak ada lagi kediaman mewah, tidak ada lagi istana tempat dirinya diperlakukan bagai putri. Semua sudah musnah bersamaan kobaran api yang menghanguskan segalanya.
"Aku— aku sudah gagal Vander! Aku tidak berguna!" Lagi-lagi Lara menangis terisak menyesali apa yang telah terjadi.
Dengan lembut Vander menyeka air mata sang istri dan mencium keningnya. "Jangan bicara seperti itu lagi. Kau tidak gagal, dan kalaupun gagal, tidak semua kegagalan itu adalah hal buruk. Jadi berhentilah berkata kau anak yang gagal dan tidak berguna."
Lara memeluk erat sang suami dan berkata dengan penuh harap. "Sekarang satu-satunya keluarga yang aku miliki hanya kau Vander. Berjanjilah kau akan setia padaku, karena kau dulu pernah mengatakan sejak pertama kali kau bekerja untukku, kau akan selalu berasamaku dan menyerahkan hidupmu ditanganku. Kau ingat kan?"
"Em!"
"Vander tetaplah bersamaku sampai selamanya dan dikehidupan selanjutnya."
"Aku selamanya akan mencintaimu Lara."
"Ya Vander, mari kita buat keluarga baru kita dan berbahagia bersama."
Aku hanya berharap malam ini bukan jadi malam terakhir kita. Vander melepaskan semua kain yang menutupi tubuh istrinya. Begitupun Lara yang satu persatu melepaskan kacing kemeja sang suami. Kecupan mesra dan rasa hanya seolah mengalir ditubuh keduanya.
__ADS_1
Aku ingin kita menyatu selamanya, saling mengikat dan bertaut sampai pada akhirnya hanya maut yang mampu memisahkan. Bahkan jika maut yan memisahkan sekalipun, aku akan minta agar bisa dilahirkan kembali dan tetap bersamamu, dan menjadi satu-satunya pria yang ada di hati dan pikiranmu Lara.
**
Keesokan paginya, Lara yang masing bertubuh polos dan bergelung selimut membuka matanya. Tangannya meraba mencari pria yang harusnya ada disebelahnya namun tidak ada.
Kemana Vander? Wanita itu mengucek kedua matanya yang masih sayup-sayup dan bengkak akibat menangis sepanjang malam. "Semalam itu..." Lara tersenyum kecil mengingat Vander mencumbunya dengan sangat lembut.
Tak mau berlama-lama diatas ranjang, Lara langsung mengambil kemeja suaminya yang ada didekatnya. Lara lalu mengenakan kemeja bekas Vander yang beraroma musk bercampur anggur, dan sedikit aroma tembakau. Dengan keadaan rambut berantakan, wanita yang mengenakan kemeja kebesaran untuk menutupi tubuhnya itu berjalan ke luar kamar menuju dapur.
Ia masih berpikir kemana suaminya pergi pagi-pagi? Apa mungkin lari pagi? Atau pergi ada urusan? Atau! Dia meninggalkanmu?
Lara seketika menggelengkan kepalanya seraya menghalau pikiran negatifnya. Tidak! Vander tidak mungkin meninggalkanku! Dia kan sudah berjanji!
Setelah meneguk air putih, Lara kemudian duduk di depan meja makan dan membuka tudung saji.
"Roti? Teh?"
Lara agak kaget melihat dibalik tudung saji sudah tersedia sepiring roti panggang, dan secangkir teh kamomil kesukaannya.
"Apa Van yang khusus membuatkannya untukku?" Lara langsung tersenyum dibuatnya.
"Eh ada pesannya juga ya?" Ternyata Vander juga menuliskan sebuat catatan di kertas yang ditaruhnya di dekat cangkir teh. Ia pun langsung. Membaca isi pesan dari sang suami tersebut yang bertuliskan ;
Dear my wife Lara
Pertama aku ingin minta maaf karena bangun dan pergi tanpa memberitahumu. Kau tau hari ini aku buat roti panggang untukmu? Sudah kau makan? Bagaimana rasanya? Maaf mungkin sedikit hangus ya, tapi sudah coba yang terbaik yang aku bisa, karena aku ingin setidaknya sekali seumur pernah membuatkanmu sarapan.
Sayang... Jangan lupa untuk makan yang banyak dan jangan banyak bersedih lagi, aku tau kau wanita luar biasa, itu sebabnya aku bisa sangat jatuh cinta padamu.
Lara setelah kau baca ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu. Kau satu-satunya wanita yang kupuja, kau hidupku dan akan selalu begitu. Kau bukan cinta pertama buatku tapi aku tau kau adalah takdir cintaku untuk selamanya. Lara aku akan terus mencintaimu kapanpun dan dimanapun. I love you my life.
^^^Vander L^^^
Lara seketika menitikan air matanya, ia begitu tersentuh dan bahagia membaca pesan dari sang suami yang begitu manis, namun disisi lain ia juga merasa tulisan Vander kali ini seolah pertanda hal yang tak ia inginkan akan terjadi.
"Tidak! Aku tidak boleh berpikiran macam-macam. Aku yakin... Vander dia akan selalu menepati janjinya. Aku percaya itu." Lara mengepalkan tangannya di depan dada seraya meyakinkan hatinya kalau kekhawatirannya itu adalah salah.
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜
__ADS_1